Saya tidak menyangka ketika bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak saling berhubungan. Posturnya tampak lebih kurus dan wajahnya begitu kuyu, kelihatan bahwa ia sedang menderita. Apa yang terjadi?
Siang itu kami mengunjungi rumah makan yang menyediakan bakmi favorit kami, di bilangan Kota. Sajian yang seharusnya membangkitkan kenangan lama dan menghadirkan kegembiraan masa-masa muda kami menjadi terasa hambar. Ia tampak tidak berselera meskipun mencoba tersenyum setiap saya melemparkan lelucon-lelucon dari cerita-cerita lama kami. Akhirnya saya menyadari, ia memang benar-benar sedang dalam masalah, saat ia berkata, “Bro, boleh kita beralih sebentar, saya ingin menceritakan sedikit masalah pribadi…”
Sahabat saya ini telah menikah hampir sepuluh tahun dan telah memiliki dua putra yang umurnya hampir sama dengan anak-anak saya. Setahu saya pasangan mereka selama ini baik-baik saja, bahkan beberapa kali kami sempat makan bersama antar keluarga. Tetapi yang diceritakannya sungguh-sungguh membuat saya terkejut. Ternyata pernikahannya telah kandas sejak setahun lebih dan anak-anaknya ikut dia. Penyebabnya samar, karena ia tidak menceritakan secara detail, tetapi kelihatannya adalah karena masalah ekonomi. Sejak terakhir saya bertemu dengannya tiga tahun lalu, usahanya sedang dalam masalah karena hutang bisnis yang cukup besar, sehingga dengan penghasilannya ia tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Akibatnya pertengkaran demi pertengkaran terjadi yang akhirnya berbuah perceraian.
Tetapi ternyata bukan perceraian itu yang membuatnya begitu berduka. Ia memang sangat menyesali perpecahan keluarganya dan sangat mengkhawatirkan perkembangan kedua putranya yang sekarang ia titipkan ke orang tuanya. Justru yang membuatnya bersedih adalah kenyataan yang ditemuinya beberapa minggu lalu. Ia bertemu dengan mantan istrinya di sebuah pusat perbelanjaan. Ia menceritakan cukup detail peristiwa yang menyakitkan hatinya itu.
Siang itu ia berjalan-jalan di mal yang berada di sekitar Jakarta Barat itu sekadar untuk melepaskan diri dari rasa tertekan, karena kondisi bisnisnya sama sekali belum pulih, sedangkan di sisi lain, ia harus membayar hutang-hutangnya yang semakin menumpuk. Di salah satu toko tanpa diduganya, ia bertemu dengan mantan istrinya yang sudah tidak bertemu dengannya sejak perpisahan mereka. Setelah bertegur sapa dengan kaku, mantan istrinya mengatakan ia sedang berbelanja untuk beberapa barang dalam mempersiapkan pernikahannya. Teman saya terhenyak. Wanita yang ada di hadapannya bukanlah seorang wanita yang berpenampilan sederhana seperti saat mendampinginya dulu. Yang ia temukan adalah seorang wanita berpenampilan anggun dan mempesona. Sebelum ia bertanya lebih jauh tentang calon suaminya, seorang pria tinggi atletis dan tampan menghampiri dan menggenggam tangan mantan istrinya dengan mesra. “Kenalkan, ini calon suamiku.” Pria itu mengulurkan tangan dengan hangat, dan teman saya menyadari, yang di hadapannya ini adalah seorang pengusaha muda yang cukup terkenal dan sering diliput di berbagai majalah bisnis. Saat mereka berlalu, teman saya melihat bahwa mantan istrinya tampak begitu bahagia, menyandarkan kepalanya ke bahu calon suaminya.
Begitu kontras penampilan dan keadaan mantan istrinya saat ini dibandingkan dengan saat terakhir bersamanya. Setahun yang lalu, ia adalah ibu rumah tangga yang putus asa dengan keadaan ekonomi keluarganya, yang berusaha menutupi kebutuhan rumah tangganya dengan berbagai akal dan upaya. Kini wajahnyapun tak menyiratkan sisa-sisa penderitaan masa lalunya dan ia tampak siap untuk memulai hidup barunya. Perbandingan itulah yang membuat teman saya merasa dirinya bagai pecundang, ditambah kenyataan posisi dirinya yang masih tak membaik. Dan meskipun ia memiliki hak asuh sementara untuk kedua anaknya, kini ia khawatir, karena secara ekonomi ia hampir tak mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya yang kini harus ditopang oleh orang tuanya. Hak asuh nantinya bisa saja pindah ke pihak ibunya apabila ia lebih mampu menghidupi mereka dengan keluarga barunya.
Matanya berkaca-kaca manakala ia bercerita tentang kekhawatirannya kalau terjadi perpisahan dengan anak-anaknya. “Saya sudah semakin tidak punya apa-apa lagi, Rud…” Ujarnya, “Kemungkinan saya akan pindah ke kota lain untuk memulai segalanya dari awal lagi.” Saya tak mampu berkata apapun selain mendengarkan semua ceritanya. Saya menyadari sepenuhnya, untuk seorang pria, mengalami ‘kekalahan’ dan kehilangan semua miliknya adalah hal yang paling menyakitkan. Dan kenyataannya, sesama pria seakan tak mampu untuk memberi perhatian atau nasihat apapun selain hanya menjadi pendengar yang baik saja.
Ketika kami saling berpamitan setelah makan siang yang terasa tidak enak itu, ia mengatakan bahwa ia akan datang untuk menghadiri undangan pernikahan mantan istrinya dan ia juga bersiap merelakan kedua anaknya untuk kembali ke ibunya. Setidaknya ia ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki sisa ketegaran dan berani menghadapi kenyataan meskipun menyakitkan. Pada akhirnya ia menyadari bahwa ia memang harus memulai segalanya dari awal dan bangkit lagi. Ia bahkan berjanji, pada pertemuan berikutnya dengan saya, ia akan menjadi orang yang berbeda, yang lebih cerah. Benar, sahabat, jangan berhenti dengan mengasihani diri. Bangkit dan tunjukkan bahwa engkau memang seorang pria yang tangguh. Saya tak mampu menasihatinya seperti ini, tetapi ketegarannya itu lebih dari motivasi yang bisa diberikan oleh orang lain kepadanya. Ketika ia berlalu, saya memandangi punggungnya yang kurus berjalan menjauh. Saya percaya, ia pasti mampu melalui cobaan beratnya itu. Mungkin hal itulah yang terbaik yang bisa dilakukan seorang sahabat, mempercayainya.
Siang ini sehabis meeting dengan seorang klien di bilangan Meruya, saya mampir makan siang di sebuah mal besar dekat Slipi. Setelah mencari-cari tempat makan yang cocok dengan selera, akhirnya saya mentok di foodcourt yang ada di lantai paling atas mal, memilih makanan yang paling bersahabat dengan perut. Seperti biasa, setelah membayar, saya membawa menu makan siang saya itu dengan sebuah nampan, menuju ke sebuah meja kosong. Agar tidak memenuhi meja, setelah memindahkan piring, mangkuk dan botol minuman ke atas meja, nampan kosong saya letakkan di meja sebelah yang tak berpenghuni. Tak sampai satu menit, seorang petugas cleaning menghampiri meja saya, lalu menanyakan dengan sopan, “Permisi Pak, nampannya sudah? Boleh saya ambil? Maaf ya Pak… Terima kasih.”
Dalam obrolan senggang suatu sore, teman saya bercerita tentang kakak perempuannya yang begitu santai dalam menjalani hidup. Begitu santainya sehingga sehari-hari pekerjaannya hanya menonton televisi dan berbelanja saja. Anak-anaknya diurus oleh sepasukan baby sitter, sedangkan untuk urusan masak-memasak ia memiliki juru masak yang handal. Gaya hidup seperti itu ditopang oleh karena ia menikah dengan seorang pengusaha yang perusahaannya sudah beroperasi lama dan stabil. Karena perusahaannya memiliki rutinitas produksi yang sama dengan konsumen yang tetap (sehingga semua produknya pasti terserap) dan bertahan jangka panjang tanpa pernah disentuh krisis, maka sang suami inipun sehari-hari juga hanya menekuni hobinya hunting foto dan berinternet, tanpa perlu terlalu serius mengurusi perusahaannya. Karena selain ia mewarisi perusahaan keluarga, para pegawainya pun sudah puluhan tahun mengelola perusahaannya, sehingga mereka sudah tahu tugas-tugas dan keputusan yang harus dijalankannya. Hanya beberapa rapat antara perusahaan dengan konsumennya yang perlu dihadiri oleh kakak ipar teman saya ini. Singkatnya, keluarga ini benar-benar menikmati time freedom financial freedom. Jelas, mereka sudah berada di zona nyaman selama bertahun-tahun.
Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun menjalani bidang pekerjaan atau usaha, menjadikannya sebagai rutinitas. Jika sudah menjadi rutinitas, maka mungkin kita tidak merasakannya sebagai sesuatu yang menggairahkan lagi. Sekadar menjalankannya, mencapai hasil sebagaimana yang direncanakan dan melanjutkan tugas berikutnya. Terus begitu sebagai siklus yang berkesinambungan. Kadang kita bisa menyelesaikannya tepat waktu, kadang terlambat, kadang juga bisa lebih cepat dari jadwal. Karena rutin, kita tidak merasa mencapai prestasi manakala bisa menyelesaikannya lebih dari yang diharapkan. Bahkan mungkin tidak bergairah untuk mencapai lebih. Karena untuk tepat pada sasaran saja, sudah membuat kita siang malam berada dalam tekanan. Dan jika selesai, kita tidak sempat berlama-lama menikmatinya. Paling hanya merasa lega sebentar, dan tugas berikutnya sudah menanti untuk diselesaikan dengan jadwal yang sangat ketat.
Saya terkesan saat membaca data statistik mengenai penyerapan tenaga kerja Indonesia. Dari berita yang saya ikuti, sekitar 60-70% dari tenaga kerja diserap oleh sektor informal, sisanya bekerja di sektor formal. Sektor formal yang dimaksud adalah bekerja sebagai karyawan upahan dari sebuah perusahaan. Sedangkan untuk mereka yang tidak bekerja secara resmi pada satu perusahaan, dikategorikan sebagai tenaga kerja informal. Ini termasuk dari buruh tani, kuli angkut, pedagang asongan, pedagang keliling, warteg, penulis lepas maupun konsultan freelance. Lalu ada beberapa ‘pengamat’ yang justru meributkan soal rasio antara tenaga kerja formal dengan informal. Bagi mereka, amatlah riskan jika persentase tenaga kerja informal lebih tinggi dari yang formal.
Mungkin Anda masih ingat suasana hati ketika sedang jatuh cinta? Yang terjadi biasanya adalah semangat yang luar biasa, hati yang begitu menggebu dan pikiran yang sangat terfokus. Ya, jatuh cinta adalah salah satu penyemangat dalam hidup. Ketika itu, apapun yang kita kerjakan rasanya ingin kita lakukan dengan hasil yang sebaik mungkin, seakan hendak dipersembahkan kepada kekasih tercinta. Hati pun menggebu, menandakan motivasi dan gairah yang begitu besar. Pikiran terfokus hanya pada orang yang kita kasihi.
Selama ini pernahkah Anda membayangkan menjadi orang lain? Jadilah diri sendiri, demikian sebuah kata mutiara. Karena jika kita selalu berpura-pura menjadi orang lain, suatu saat kita akan lelah dengan berbagai kebohongan dan penipuan terhadap diri sendiri. Karena kita bukanlah orang yang kita perankan, maka kita juga tak akan sepenuhnya bisa menjadi seperti dirinya atau mencapai prestasi sepertinya.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa jangan membandingkan keadaan kita dengan orang lain terlebih mereka yang berada pada posisi yang lebih di atas kita. Misalnya jika kita melihat teman yang memiliki aset yang jauh melebihi kita dan kemudian membandingkannya dengan keadaan kita. Sebaiknya kita melihat orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita, dari sana kita bisa bersyukur bahwa keadaan kita masih lebih baik. Jika ini dikaitkan dengan rasa iri, saya setuju. Tetapi jika hanya untuk mencari excuse, hal ini akan membuat kita terdemotivasi. Mengapa?
Tulisan ini berhubungan dengan The Power of Small Things, tentang kekuatan hal-hal kecil dalam bisnis. Saya tertarik untuk membagikan cerita tentang hal ini, ketika membaca sebuah artikel di koran Kompas edisi Minggu. Artikelnya bukan tentang investasi tetapi tentang kuliner, yaitu sebuah rumah makan di wilayah Pantura yang menyajikan ikan bakar yang khas. Yang menarik adalah sang pemilik rumah makan, yang selain memiliki beberapa rumah makan serupa juga memiliki peternakan sapi dan ayam, kebun kangkung serta beberapa minimarket waralaba. Semua usaha yang dijalaninya itu adalah jenis UKM, tetapi banyak.
Bayangan kita tentang hero adalah seorang yang melakukan hal-hal hebat dan menakjubkan. Seperti memandang seorang pemadam kebakaran yang menggendong bayi keluar dari rumah yang terbakar. Atau saat menyaksikan seorang juru runding hebat yang berhasil mencapai kata damai antara dua pihak yang bertikai di suatu negara. Atau seorang tokoh kemanusiaan yang berhasil menyelamatkan banyak orang-orang miskin hanya dengan kasih tanpa pamrih. Pokoknya, mereka adalah orang-orang besar yang melakukan hal-hal di luar jangkauan kita. Bahkan, kadang-kadang gambaran pahlawan di pelajaran sekolah dasar masih melekat, sosok gagah yang membawa bambu runcing, berikat kepala warna bendera sambil berteriak ‘Merdeka!’