Singapore

Setiap kali saya mengunjungi negara tetangga ini saya selalu kagum, karena selalu ada saja yang baru dan berubah. Negara kecil ini begitu hebat dalam mengembangkan kemampuannya sehingga meskipun terletak di kawasan yang berkembang, mereka sudah menyejajarkan diri dengan negara maju. Ketika selama seminggu saya berkunjung, menjelajah ke berbagai sudut dengan menggunakan transportasi massalnya, bahkan sampai ke daerah pemukiman di Jurong saya juga terpesona dengan berbagai fasilitas umum yang saya temukan. Hampir di setiap lokasi kompleks pemukiman yang terdiri atas flat-flat subsidi, tersedia tempat berbelanja, makanan (hawker) dan akses yang mudah ke transportasi massal, baik bus maupun kereta (MRT).

Transportasi massal Singapura merupakan salah satu yang saya kagumi. Negara pulau kecil ini hampir setiap sudutnya bisa dijangkau dengan MRT maupun bus. Saat kunjungan terakhir ini, saya mencoba menempuh jarak yang agak lumayan jauh, menuju daerah pemukiman di Jurong dengan bus. Saya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan yang terhitung sederhana untuk ukuran Singapura, karena lebih ditujukan untuk kebutuhan warga lokal, namun cukup lumayan bagus. Setelah makan siang dan berkeliling sebentar, saya melanjutkan perjalanan dengan MRT setelah sebelumnya menggunakan sarana shuttle bus gratis yang disediakan pusat perbelanjaan tersebut. Nah, di stasiun MRT yang ‘jauh dari mana-mana’ inilah  yang pertama membuat saya kagum, karena sungguh bersih meskipun tidak tampak satu orang petugaspun. Tiket cukup dibeli di mesin otomatis, selanjutnya tinggal menunggu kedatangan MRT yang estimasinyapun ditampilkan di layar monitor yang jelas. Jika tidak tahu arah, cukup melihat ke peta yang tersedia. Bersih, teratur, mudah dan informatif.

Di sepanjang perjalanan dengan MRT yang cukup lama, tampak pemandangan perumahan susun yang berjajar rapi dan teratatur, dengan diselingi taman, jalan yang menampakkan marka yang jelas dan serta tempat perbelanjaan. Inilah tempat tinggal warga menengah bawah. Saya sempat mendengar keluhan sopir taksi yang mengantar saya dari bandara, bahwa biaya hidup di Singapura cukup tinggi dan memberatkan. Belum lagi masalah perumahan yang cukup sulit untuk diperoleh. Dan meskipun fasilitas umum bagus, tetapi bisa terjadi juga kerusakan, seperti yang saya baca di Koran Strait Times, bahwa salah satu jurusan MRT terjadi kemogokan pada  bulan Desember kemarin yang mengakibatkan banyak penumpang tak terangkut. Selain itu juga ada masalah banjir di pusat perbelanjaan paling terkenal, Orchard Road, oleh karena ketidakmampuan saluran air menampung anomali curah hujan.  Namun, di atas segala hal itu, satu yang menurut saya patut dikagumi adalah kemampuan negara  kecil ini untuk memakmurkan diri meskipun memiliki sumberdaya yang sangat terbatas.

Adam Khoo, salah satu pengusaha muda Singapura mengungkapkan dalam bukunya ‘Winning The Game of Life!’ bahwa meskipun Singapura tidak memiliki sumberdaya alam yang memadai, namun dalam 30 tahun mampu melompat dari negara dunia ketiga menjadi sejajar dengan negara maju dengan pendapatan perkapita ketiga terbesar di dunia. Menurutnya, founding father Singapura, Lee Kuan Yew menggunakan role model negara Swiss yang juga negara maju tanpa memiliki sumberdaya alam. Sistem hukum dan pendidikan meniru Inggris, membuatnya menjadi salah satu tujuan utama pendidikan bagi negara-negara kawasan. Untuk sistem ekonomi dan perdagangan, yang menjadi pedoman adalah Jepang dan Amerika (tentu pada saat masa jaya kedua negara itu). Dan yang kita lihat sekarang, seperti saat menaiki Singapore Flyer, kemajuan negara tersebut tampak dari banyaknya pencakar langit dan berbagai fasilitas baru yang menakjubkan. Singapura pun menjadi  lokasi kantor regional perusahaan-perusahaan multinasional.

Seperti yang diungkapkan oleh Adam Khoo, perjalanan menempuh kesuksesan dapat menjadi contoh, seperti yang dilakukan oleh Lee Kuan Yew dalam memajukan Singapura. Cara yang sama juga dapat dilakukan oleh negara lain, bahkan oleh perusahaan dan pribadi. Saya sangat mengagumi bagaimana dengan tanpa sumberdaya, tetapi dengan memberikan layanan terbaik dan posisi strategisnya, Singapura dapat sejajar dengan negara maju.  Saya setuju dengan cara pembelajaran melalui role model ini. Oleh karena itu, tanpa ragu, saya membeli buku memoir Lee Kuan Yew, ‘From Third World to First: The Singapore Story’ dan ‘Singapore: A Biography’.  Saya yakin, ada banyak hal yang bisa saya pelajari dan terapkan untuk pengembangan pribadi maupun perusahaan saya.

Menjadi Peka

Setiap kali saya menempuh perjalanan di belantara jalanan Jakarta, pasti akan menemui pemandangan pengemis di perempatan jalan. Dari yang masih anak-anak yang tidak lagi sekadar mengamen, tetapi menadahkan tangan, kemudian wanita dewasa yang menggendong bayi sampai dengan kakek nenek yang duduk di trotoar. Menurut berita yang pernah saya baca, disinyalir bahwa mereka diorganisir dan sudah merupakan profesi terselubung. Selain itu juga, hampir setiap pagi, ketika saya berangkat ke kantor, selalu melihat pemulung-pemulung yang membawa karung-karung pengumpul sampah kertas maupun plastik. Mereka juga terdiri atas anak-anak sampai ke orang-orang tua.

Karena seringnya melihat pemandangan seperti itu, saya jadi bertanya dalam diri saya, apakah saya masih memiliki kepekaan? Bukankah musuh dari kepekaan adalah rutinitas. Ketika kita melakukan sesuatu secara rutin terus-menerus, maka kepekaan akan hilang, dan semuanya menjadi biasa-biasa saja. Secara jujur, saya harus mengatakan bahwa ketika melihat pemandangan para pengemis itu, saya sudah tidak merasa tersentuh lagi, selain karena terlalu sering, juga karena adanya informasi distorsif, yang membuat saya curiga bahwa mereka bukanlah pengemis yang benar-benar miskin. Lain halnya dengan  pemulung, karena saya masih menemukan beberapa peristiwa yang membuat kepekaan saya terusik.

Seperti suatu siang yang terik di bulan Juli, saat saya sedang melaju di jalan keluar dari kompleks perkantoran saya. Sesosok pemulung tua sedang tertatih membawa sekarung besar kertas karton, tampaknya ia habis panen pulungan. Saya tidak bisa menahan rasa tersentuh, karena tahu-tahu saya sudah menghentikan mobil di depan nenek pemulung itu. Saya berusaha sesopan mungkin bertanya, “Nek, itu berat amat, mau saya bantu bawakan pakai mobil sampai ke depan?” Sang nenek tertegun, mungkin agak kaget juga, siapa ini yang tidak jelas dari mana tiba-tiba menawarkan tumpangan. Akhirnya ia tersenyum, “Tidak usah pak, ini sudah biasa…” Sudah biasa? Ya ampun, kalau saya disuruh membawa karung besar itu sampai ke jalan raya di luar kompleks di siang terik ini, pasti akan kehabisan nafas. “Ya sudah Nek, ini ada sedikit buat ongkos ya…” Saya menyelipkan beberapa puluh ribu rupiah yang diterimanya sambil terpana. Bingung, kenapa ada orang yang tidak dikenalnya memberikan uang. Saya tidak bermaksud untuk membuatnya bingung atau melepaskan ego sejenak yang menunjukkan saya sudah berderma. Tidak. Saya benar-benar tersentuh, dan merasa nenek itu lebih membutuhkan uang di kantong saya daripada saya sendiri, dan bukan untuk mengumbar keinginan berbuat kebaikan yang mengharapkan buah pujian.

Rasa kepekaan terhadap kondisi orang lain juga terjadi saat suatu hari saya dan Ben, putra saya, yang waktu itu masih berusia tujuh tahun, berbelanja di mini market pada suatu malam. Saat memasuki pintu mini market, Ben melihat seorang anak kecil yang seumurnya, menggigil kedinginan, menutupi tubuhnya dengan sarung, hanya menyisakan matanya saja, duduk di samping ruko. Saya yang mengira Ben kurang memiliki kepekaan menjadi terharu, ketika ia minta dibelikan biskuit yang sama dengan yang ia pilih bagi dirinya, untuk kemudian ia serahkan ke anak gelandangan itu. Anak itu tidak sedang mengemis, sehingga ia agak terkejut saat Ben mengulurkan sebungkus biskuit untuknya. Saya tersenyum, saat tangan kurus Ben bertemu dengan tangan kurus anak itu. Mudah-mudahan ia tetap memiiki kepekaan dalam hidupnya kelak.

Memang kita harus membuat hidup kita tetap memiliki kepekaan terhadap sekitar. Hidup ini bukan hanya rutinitas, meskipun kita mengira demikian oleh karena terjebak dalam putaran urusan pekerjaan dan rumah setiap harinya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memecahkan kebiasaan yang membuat tumpul kepekaan dalam jiwa. Dengan adanya kepekaan, jiwa kita, diri kita akan terdorong untuk berbagi, sedikit atau banyak itu relatif. Setidaknya, kita sudah memecah kebiasaan masa bodoh, dan berbuat sesuatu. Dan sesuatu itu tentunya adalah kebaikan yang sebenarnya ada dalam hati setiap manusia, yang akhirnya bisa tumbuh juga menjadi kebiasaan baru. Bukankan kita akan menghadirkan kerajaan surga ketika kita menghadirkan kebaikan dengan berbagi, apalagi dengan menjadikannya rutin.

Ketika menjumpai kesempatan untuk melakukan tindakan sosial, ketika tiba-tiba rasa iba muncul dalam hati kita, jangan tutupi dengan rasa jengah, karena tak terbiasa, atau mengabaikannya karena gengsi. Karena suatu hari nanti, seperti kata Phil Collins dalam lagu Another Day in Paradise, kita semua akan berjumpa lagi kelak di gerbang surga, maka alangkah bahagianya jika bisa membawa bekal banyak berupa kebaikan yang pernah kita tebarkan dahulu.

Langkah Pertama

Mengapa langkah pertama selalu menjadi yang paling sulit untuk dilakukan? Sadar atau tidak pertanyaan ini selalu menggangu saat suatu proyek akan saya mulai. Saya juga ingat, dulu, setiap saya mendapatkan pekerjaan baru, biasanya hari pertama, meskipun penuh antusias, terasa sangat berat. Selalu ada bayang-bayang, apakah saya bisa menangani pekerjaan baru ini, apakah saya bisa berinteraksi dengan baik dalam lingkungan kerja baru saya, apakah rekan-rekan kerja saya suportif, dan sebagainya, yang seringkali membuat langkah saya memasuki pintu kantor baru terasa sangat berat. Padahal, beratnya hari pertama itu akan terlupakan begitu saja, setelah beberapa bulan sibuk menangani pekerjaan di kantor itu.

Seperti dalam pepatah Tiongkok kuno, perjalanan 1000 li selalu dimulai dari 1 langkah pertama, demikian setiap perjalanan hidup manusia, mulai dari langkah pertama yang tertatih ketika belajar berjalan, langkah pertama memasuki sekolah, dunia kerja, bahkan termasuk saat memutuskan untuk melangkah dalam kehidupan berkeluarga. Semua pasti selalu akan ada saat pertama. Yang menjadi masalah adalah apabila langkah pertama ini menjadi sesuatu yang menakutkan sehingga menghalangi kita untuk mengambil tindakan. Setelah melalui perencanaan yang panjang dan matang, tetapi saat hendak melangkah, tiba-tiba datanglah kekhawatiran. Ketakutan akan langkah pertama membuat kita mengurungkan niat untuk melaksanakan rencana. Akhirnya, rencana tinggal rencana dan tidak ada kelanjutannya lagi. Lalu kita menyamarkannya dengan menyalahkan situasi yang tidak mendukung, atau rencana yang tidak memadai dan berbagai alasan lainnya.

Tindakan merupakan wujud nyata dari langkah pertama, karena jika tanpa tindakan maka semuanya hanya akan berhenti pada rencana. Tetapi tentu saja, saya tetap berpegang pada perencanaan yang baik sebelum melakukan tindakan. Berani melakukan langkah pertama bukan berarti secara membabi buta terjun langsung ke jurang, tetapi meperkirakan kedalaman jurang, melakukan perhitungan yang cermat dan turun ke jurang tersebut secara berhati-hati. Lalu bagaimana kiatnya agar kita dapat megambil langkah pertama dengan berani seperti itu?

Pertama, kita harus melakukan perhitungan dengan cermat. Waktu pertama kali saya memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja dan terjun sepenuhnya membangun perusahaan saya sendiri, saya berusaha melakukan perhitungan dengan hati-hati, mulai dari rencana keuangan pribadi, jaring pengaman, sampai ke plan B. Namun, ada teman saya yang mengambil cara lain, ia memakai strategi bakar kapal, mengikuti legenda tentang sepasukan penakluk yang ketika mendarat di pantai lawan, mereka membakar kapal-kapalnya, sehingga satu-satunya opsi agar bisa pulang hidup-hidup adalah menang dalam pertempuran. Saya salut padanya, karena meskipun mempersiapkan diri dengan baik, ia juga membuat keputusan pantang mundur.

Kedua, adanya dukungan dari pasangan. Ketika di masa-masa awal usaha, penghasilan masih belum menentu, sementara cadangan keuangan juga semakin menipis, sehingga harus benar-benar dikelola dengan sangat hati-hati. Saat itulah kita akan merasakan dukungan dari pasangan kita sebagai partner dalam mengelola keuangan keluarga. Dukungan yang diperlukan tidak hanya dalam hal tersebut, tetapi juga dalam hal member semangat. Ya, kadang dalam masa-masa berat, dukungan semangat agar tetap terus maju adalah energi pendorong terbesar.

Yang ketiga adalah lingkungan. Tahukah anda bahwa yang paling berbahaya saat kita melakukan langkah pertama adalah lingkungan negatif. Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berpikiran negatif dan pesimistis, maka kitapun cenderung akan tertular dengan pola pikir seperti itu. Ciri khas orang-orang seperti itu adalah sebelum melakukan langkah apapun sudah sibuk mengumpulkan hambatan-hambatannya, malah sudah memikirkan kondisi terburuk. Akhirnya, orang-orang negatif akan selalu jalan di tempat dan sibuk membicarakan keberhasilan orang lain, tetapi tidak pernah mengambil tindakan untuk bergeser dari tempatnya. Bukankah ada pepatah mengatakan, orang-orang besar membicarakan gagasan-gagasan, orang-orang yang biasa-biasa saja membahas mengenai berbagai peristiwa yang terjadi, sedangkan orang-orang kecil sibuk membicarakan orang lain, menggosipkannya atau berhenti sebatas mengagumi keberhasilan orang lain. Jadi, bergaullah dalam lingkungan yang mendukung kita, dengan orang-orang positif, dengan orang-orang bijak yang dengan berani telah mengambil tindakan dalam hidupnya.

Langkah pertama memang sulit untuk dilakukan, tetapi langkah itu yang akan membawa kita melalui gerbang yang menjadi penentu apakah kita berani melakukan tindakan untuk perubahan dalam hidup kita sendiri, tanpa dipusingkan oleh berbagai pertimbangan negatif dari sekitar kita.

Modal Awal: Mewujudkan Ide Kreatif

Ketika kita mulai menyadari ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar ide yang berputar di kepala, yaitu mewujudkannya, maka itu adalah awal dari kreativitas. Jadi, kreativitas bukan hanya berhenti pada ide, tetapi hasil kreasi itu sendiri. Karena, sadar atau tidak, hampir setiap hari selalu saja ada ide yang mampir dalam pikiran kita. Entah pada saat sibuk bekerja ataupun pada saat bersantai. Ya, saat sibuk dengan pekerjaan kita, ide bisa tiba-tiba datang. Contohnya, ide untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, atau bahkan ide untuk bisa meninggalkan pekerjaan yang sedang kita hadapi. Namun, yang sering terjadi, ide hanya berhenti pada sekadar gagasan di kepala saja, dan akhirnya hilang terlupakan begitu saja.

Sebenarnya banyak ide yang terlupakan itu mungkin bagus, sangat menarik bahkan revolusioner. Lalu mengapa akhirnya terlupakan? Semata-mata itu adalah kebiasaan kita yang menganggap remeh pemikiran kita sendiri, atau hanya bagian dari mimpi siang bolong saja. Sungguh amat disayangkan. Padahal mungkin apabila ide itu diwujudkan, maka hidup Anda tidak akan sama lagi. Contohnya, ada seorang teman di kantor yang setiap hari harus memasukkan data dari kertas-kertas kerja tim lapangan ke dalam komputernya. Ia sangat kerepotan karena satu tangannya harus memegangi kertas dalam posisi berdiri, sedangkan satu tanggannya harus mengetik data di keyboard komputernya. Suatu hari saat makan siang, Adi, rekan saya tersebut mengeluhkan kesulitannya dan berharap ada alat sederhana dari klip kertas yang bisa membantunya memegang kertas kerja tersebut.

Deni yang mendengar cerita Adi langsung berinisiatif. Menggunakan sebuah binder clip, lem super, dan tiga buah paperclip, jadilah alat pemegang kertas yang sederhana namun efektif. Esoknya, ia bahkan memperkuat alat tersebut dengan solder. Esoknya lagi, ia menambahkan dengan lampu baca dari LED dan baterai kecil. Selang tiga bulan, Deni sudah tidak bekerja di kantor itu lagi, tetapi sudah memiliki usaha kecil alat-alat penunjang pekerjaan kantor yang murah dan efektif. Contoh ini menunjukkan bahwa Deni adalah seorang yang kreatif. Ia bahkan tidak menggunakan iedenya sendiri, tetapi ide dari Adi. Sedangkan Adi, mungkin masih memiliki banyak ide-ide menarik, namun nyatanya ia masih asyik di kubikalnya dan cukup puas dengan membeli produk Deni.

Masih banyak lagi contoh lain, bahkan yang ketika diwujudkan menjadi produk revolusioner dunia. Karena, seperti kata Steven Covey, semua penemuan selalu dibuat dua kali, yang pertama dalam bentuk ide, dan yang kedua dalam bentuk nyata. Kadang-kadang yang lebih mengenaskan adalah, suatu saat Anda melihat suatu produk yang menarik dan sangat laris, dan Anda mengumpat dalam hati, bahwa Anda sudah memiliki ide produk yang sama sejak dua tahun lalu. Atau ketika Anda mengeluhkan tentang suatu keadaan dan berharap ada solusi sederhana. Tak lama kemudian solusi tersebut sudah ada yang membuatnya dan Anda cukup puas dengan membelinya saja, meskipun sebenarnya Anda memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.

Sebenarnya kadang kala suatu ide tidak perlu sampai kita harus membuat bentuk fisiknya.  Anda bisa menuliskannya dan mempostingnya di blog, atau mengirimkannya pada seorang teman yang bisa diajak kerjasaam untuk mewujudkannya. Ide juga tidak harus berupa benda, kadang bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan, artikel ataupun buku. Ada seorang teman masa SMA yang begitu pandai bercerita, sehingga sulit dibedakan antara kenyataan atau khayalan. Sekarang, dia adalah seorang penulis novel handal. Seorang teman lagi, begitu hobi meracik berbagai masakan. Saya sempat berpikir, pasti suatu saat dia akan membuka restoran. Ternyata, sekarang dia menjadi penulis dan komentator makanan. Anda juga mungkin memiliki keahlian khusus yang bisa dibagi dengan orang lain dalam bentuk buku. Jika Anda tak pandai menulis, Anda bisa bekerjasama dengan orang lain untuk menjadi co-author dalam buku Anda. Banyak jalan yang bisa Anda gunakan untuk menjadi modal awal bagi Anda untuk mulai mewujudkan impian-impian maupun ide-ide praktis Anda.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari seri artikel tentang ide untuk memulai wirausaha.

Stay Connected

Saat ini, penggunaan alat telekomunikasi sudah merupakan hal yang sangat umum. Dari kota-kota besar sampai di berbagai pelosok, selama masih terjangkau signal seluler, maka penggunaan ponsel menjadi pemandangan yang biasa. Bahkan tidak hanya percakapan maupun saling bertukar pesan singkat, tetapi juga bisa melakukan update status dan bahkan kadang-kadang menjelajah internet. Sedangkan di kota-kota besar, yang menjadi trend tidak hanya penggunaan fungsi ponsel, tetapi dengan adanya produk Blackberry, maka kesibukan jari bertambah melalui pengetikan dengan keyboard mini, untuk mengirimkan pesan-pesan BBM. Yang lain, saling bertukar foto dan klip video singkat dengan perangkat iPhone yang member kesenangan dalam ponsel cerdas seukuran genggaman. Teknologi semakin memperpendek jarak antar manusia, meskipun jarak itu semu, karena sebetulnya tidak ada pertemuan secara fisik.

Namun, semuanya itu butuh dua hal yang tidak bisa dihindari, yaitu ketersediaan energi dan jaringan. Energi dipasok dari baterai yang bisa diisi ulang, dan dengan teknologi terkini bisa bertahan beberapa hari. Sedangkan jaringan, tentu sangat tergantung dari penyedia layananan. Anda akan terus bisa terkoneksi jika berada dalam wilayah jangkauan operator penyedia layanan, yang tentu karena persaingan terus melebarkan cakupannya. Dengan bertambahnya pengguna teknologi dalam genggaman, seperti hadirnya tablet-tablet yang kemampuannya sudah menyamai komputer-komputer personal, maka tingkat utilisasi jaringan semakin hari akan semakin tinggi. Pengguna layanan tidak hanya dalam hitungan ratusan atau ribuan, tetapi sudah dalam bilangan jutaan.

Saya sendiri baru menyadari bahwa saya menggunakan banyak layanan seluler ini. Saya menggenggam satu perangkat ponsel dual-on CDMA-GSM buatan Samsung yang tentunya memiliki dua nomor ponsel. Disamping itu, saya juga memiliki perangkat Blackberry dengan satu nomor lagi yang berbeda yang khusus untuk layanan BBM dan akses internet ringkas, seperti untuk kebutuhan Yahoo! Messenger dan portofolio. Saya memiliki modem wireless dengan satu nomor jaringan CDMA EVDO untuk keperluan koneksi di luar kantor dengan notebook saya. Terakhir saya baru saja mulai menggunakan perangkat tablet dengan kemampuan koneksi 3G dari salah satu operator lagi, untuk keperluan e-mail, membuat artikel, akses remote untuk keperluan kantor dan presentasi. Total ada lima nomor telepon seluler yang tidak semuanya untuk bertelepon. Dan saya tampak seperti kantor berjalan dengan sebuah tas besar yang berisi berbagai perangkat telekomunikasi tersebut. Saya seperti sangat terikat dengan keberadaan perangkat-perangkat tersebut, dan merasa lumpuh tanpanya.

Saya yakin saya tidak sendirian, karena saya sering melihat dimana-mana di Jakarta ini, semua orang sibuk dengan perangkat selulernya masing-masing. Anda akan mudah melihat saat orang duduk di ruang tunggu, di bis kota, di café dan restoran, bahkan kadang sambil mengemudi mobil dan motor bisa sambil mengirim pesan singkat. Sungguh tindakan yang ceroboh dan sangat berbahaya. Saya juga pernah melihat satu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dan tiga orang anak, masing-masing sibuk mengetik dengan perangkat Blackberry sambil menunggu makanan di sebuah restoran. Semuanya berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain, dan tidak ada komunikasi lagi di antara keluarga. Dalam beberapa hal saya mungkin juga tidak berbeda dengan mereka, seringkali lupa bahwa ada komunikasi langsung yang seharusnya diutamakan daripada berbicara hal yang tidak penting via perangkat seluler tersebut.

Saya teringat saat masih kuliah sambil bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan. Waktu itu sekitar tahun 1993, pertama kali saya melihat wujud handphone (zaman itu masih disebut demikian), merk Motorola, milik big boss saya. Saking besarnya perangkat tersebut (seukuran botol minuman, tetapi masih lebih kecil dari telepon genggam sebesar batu bata yang sering saya lihat di film-film Hong Kong), maka yang membawakan handphone itu adalah sopir boss saya, sekalian membawa tas kerjanya. Benda itu selalu diletakkan di atas meja, berbeda dengan sekarang, kita selalu meletakkannya dalam saku. Handphone masih menjadi barang mewah waktu itu, dan memang hanya digunakan oleh para pebisnis papan atas untuk memudahkannya dalam berkomunikasi dengan sesama rekan bisnis.

Beberapa tahun kemudian, saya bekerja di salah satu importir peralatan telekomunikasi buatan Jerman. Salah satu produknya adalah handphone, yang sudah bisa masuk ke saku, meskipun masih cukup berat, sekitar setengah kilo. Karena saya berteman baik dengan kepala teknisi, maka iseng-iseng dengan menggunakan sisa-sisa komponen dari peralatan yang rusak yang diklaim pelanggan, ia merakitkan satu unit handphone yang dapat berfungsi dengan baik. Saya senang sekali memilikinya meskipun belum bisa berfungsi karena belum memiliki SIM card. Waktu itu, untuk memiliki nomor panggilan berupa SIM card, prosesnya cukup rumit, mirip seperti aplikasi kartu kredit, karena harus disurvei dan hanya berlaku untuk pelanggan pascabayar saja. Namun kesempatan untuk memilikinya akhirnya datang juga. Salah satu operator seluler mengundang perusahaan kami dalam rangka launching produknya, dan saya disuruh mewakili bos saya untuk hadir di acara tersebut. Ternyata setiap yang hadir mendapat goody bag yang salah satu isinya adalah SIM card yang bisa digunakan secara gratis dalam jangka waktu tertentu (saya lupa, mungkin sekitar 3 bulan). Akhirnya, saya memiliki handphone yang berfungsi penuh! Dan, tentu saja, sebagai anak muda, yang paling pertama dilakukan adalah memamerkannya pada teman-teman.

Sekarang ini, seperti yang saya katakan tadi, setiap orang yang memiliki ponsel seakan-akan tak bisa meninggalkan rumah atau kantor tanpanya. Bahkan ada yang mengatakan, seperti tidak membawa dompet. Pokoknya semuanya harus selalu stay connected. Suatu hari, bersama dengan keluarga, kami menghadiri acara konser musik klasik. Aturan keras yang harus diterima adalah semua perangkat ponsel harus di-non-aktifkan. Maka selama konser yang luar biasa itu, ponsel saya harus benar-benar off, tidak cuma sekedar di set ke vibrasi saja. Setelah usai konser, ternyata saya lupa mengaktifkannya kembali. Maka seharian itu, tanpa saya sadari, saya hidup normal tanpa terganggu bunyi panggilan ponsel. Dan ketika menyadarinya, ternyata sepanjang hari itu ada beberapa panggilan masuk. Ketika saya mencoba menghubungi kembali, ternyata isinya adalah orang yang menawarkan kartu kredit, asuransi, dan beberapa dari klien. Namun, klien saya tidak mempermasalahkannya karena, sudah ditanggapi oleh rekan saya yang lain.

Ternyata, sesekali dalam hari-hari saya yang selama ini saya anggap harus stay connected, bisa juga dilalui dengan aman tanpa hubungan telekomunikasi. Satu hal yang saya pelajari, kadang-kadang tanpa kita sadari kita sudah begitu addicted dengan teknologi. Sebenarnya, meluangkan waktu tanpa terganggu dengan segala macam interupsi telekomunikasi justru membantu kita untuk menikmati waktu apa adanya. Semuanya toh masih bisa berjalan lancar juga.

Displin

Pagi ini, seperti biasa, saya berangkat ke kantor dengan melalui berbagai simpul kemacetan. Meskipun lokasi kantor satu kompleks dengan perumahan saya, dan berjarak sekitar hanya 2-3 kilometer, tetapi untuk mencapai kantor dengan mobil perlu waktu kurang lebih 15-20 menit. Maklum, sekarang kemacetan tidak hanya ada di lokasi-lokasi perkotaan maupun pusat-pusat bisnis, tetapi juga menyebar ke perumahan-perumahan yang dilengkapi dengan pertokoan, perkantoran dan pusat bisnis lainnya. Apalagi ditambah dengan ulah pengendara baik motor maupun mobil serta angkutan umum yang tidak pernah mau memusingkan kepentingan bersama.

Sebetulnya, kalau kita perhatikan, ini adalah bentuk ketidakdisiplinan masal. Ketika saya mengantri baik-baik dalam satu kemacetan, tiba-tiba dari samping kiri saya ada sebuah mobil yang berusaha menyalip masuk celah kecil di depan mobil saya. Bukan dengan cara sopan, tetapi dengan menggeram-geram mesin mobil seakan menunjukkan ancaman untuk menyeruduk posisi saya. Di sisi lain, ketika lampu merah masih menyala, hampir seluruh motor yang ada di persimpangan tidak memerdulikannya, tetap melanjut meskipun mendapatkan cacian dalam bentuk klakson keras dari pengendara lain yang terpaksa harus berhenti. Lalu ada juga pengendara motor lain yang melawan arah demi mencapai tujuan yang diinginkan secara singkat. Ditambah lagi dengan angkutan umum yang berhenti seenaknya. Khusus untuk angkutan umum, saya rasa hampir semua pengendara pernah bermasalah dengannya. Mereka bisa seenaknya menyalip kendaraan kita untuk kemudian berhenti mendadak menurunkan maupun menaikkan penumpang.

Akibat ketidakdisiplinan masal ini, akhirnya pengendara yan sebetulnya ingin menaati peraturan pun terpaksa harus melanggar agar kebagian jalan. Di ibukota ini, saya hampir tidak pernah melihat persimpangan yang semua pengendaranya menaati peraturan, kecuali ketika sedang dijaga oleh banyak petugas. Bahkan di jalan protokolpun, saya melihat banyak pengendara motor yang tidak mau berhenti di belakang garis persimpangan lampu merah. Mungkin karena terlalu banyak yang melanggar, tampaknya petugaspun menjadi enggan untuk melakukan tindakan.

Namun, soal ketidakdisipilinan ini tidak hanya terjadi dalam berlalu-lintas saja. Ada banyak sisi kehidupan kita dimana ketidakdisiplinan sudah menjadi bagian dari hal sehari-hari sehingga tidak dianggap melanggar peraturan lagi. Seperti misalnya kehidupan sehari-hari di tempat kerja. Saya pernah kerja di sebuah perusahaan di mana jam masuk kantor adalah jam sembilan pagi dan jam pulang sore jam enam. Tetapi, meskipun jam sembilan adalah jam masuk kerja yang cukup siang untuk ukuran Jakarta, tetap saja sebagian besar karyawan masuk di atas jam sembilan pagi, bahkan ada yang sampai mendekati jam makan siang. Sedangkan untuk waktu pulang, semuanya berusaha tepat waktu! Soal kerohanian juga kadang-kadang menunjukkan sisi ketidakdisiplinan kita. Baru-baru ini dalam satu misa sore, saya datang terlambat sekitar lima menit. Hampir bersamaan dengan saya juga ada dua orang yang terlambat memasuki gereja, yang mengenakan busana santai, cenderung seperti mau tidur. Di belakang saya masih banyak lagi yang menyusul datang terlambat. Saya membayangkan, andaikata kita diundang oleh orang penting dan berpengaruh, kita pasti tidak akan berani terlambat, apalagi berbusana seperti mau tidur, tetapi tentu datang sebelum acara dimulai dan berpakaian yang terbaik. Lucunya juga, mungkin pastor mulai kesal dengan ketidakdisiplinan jemaat, maka iapun berkomentar tentang beberapa orang yang sudah siap-siap mau pulang dan bergerombol di pintu gereja, selepas menerima Komuni. Betapa kita tidak menghargai waktu-waktu khusus beribadah dan kesempatan menyatu dengan Sang Pencipta, ketika di belahan dunia lain, ibadah masih merupakan sesuatu yang ‘mewah’.

Akhirnya, saya merasa juga perlu bercermin. Ketika melihat ketidakdisiplinan secara masal dan nasional, lalu juga pada kelompok di mana saya terlibat di dalamnya. Kenyataannya memang kedisiplinan adalah mulai dari diri sendiri. Mampukah kita tetap mengikuti aturan ketika semua orang di sekitar kita melanggarnya? Mampukah kita tetap bertahan di jalur jalan tol yang macet, ketika banyak yang mengambil jalur bahu jalan? Mampukah kita tetap bertahan di lampu merah, ketika semua orang melanggarnya karena tidak ada petugas? Mampukah kita tetap datang paling pagi di kantor dan pulang pada waktunya, ketika semua karyawan datang dan pulang seenaknya? Saya sendiri masih sulit menjawab dengan tegas, meskipun setiap hari selalu berusaha menanamkan dalam diri saya untuk berdisiplin. Karena untuk hal-hal kecil yang bersifat pribadi saya masih belum bisa menjalankannya, seperti berolah-raga secara teratur ataupun mengkonsumsi makananan sehat. Disiplin memang memerlukan ketekunan dan keteguhan dalam menjalankannya.

Why So Serious?

Sebelum memulai untuk berbisnis bersama beberapa teman, saya bekerja sebagai profesional di berbagai perusahaan. Diantaranya, saya pernah bekerja di perusahaan multinasional. Seperti yang kita ketahui, umumnya perusahaan multinasional selalu mempekerjakan tenaga ekspatriat, entah berasal dari Amerika, Australia, atau bahkan dari beberapa negara Asia tetangga, seperti Singapura, Malaysia ataupun Philipina. Saya pernah bekerja sebagai bawahan ekspat ini, atau kadang-kadang berada dalam satu tim dengan mereka dalam suatu proyek.

Mungkin kita semua sudah pernah mendengar, bahwa sebenarnya kemampuan kita sebagai Anak Bangsa Indonesia, tidaklah kalah dengan para ekspat itu. Dalam beberapa hal, bahakan kita dapat bekerja jauh lebih baik daripada mereka. Saya sendiri pernah mengalami hal seperti itu, ketika suatu saat diminta untuk menggantikan tugas salah seorang ekspat untuk menyelesaikan suatu proyek yang sudah tertunda lama. Sang ekspat dipindahtugaskan ke negara lain lagi, entah karena alasan apa, yang jelas, proyek yang tadinya ditanganinya menjadi tertunda, meskipun ketika berada di bawah pengawasannya juga tidak berjalan mulus. Ketika saya mengambil alih pekerjaan tersebut, yang pertama saya lakukan adalah menganalisa apa yang sebenarnya menjadi penghambat utamanya. Ternyata, proyek yang dilaksanakan di salah satu negara tetangga itu terbentur masalah komunikasi saja. Tim pelaksana lokal tidak memahami apa yang disampaikan oleh sang kepala proyek karena penyampaiannya yang selalu terburu-buru. Namun, ketika pelaksanaan sedang berlangsung, sang ekspat tidak turun untuk mengawasi dan membantu pelaksanaannya. Yang dilakukannya hanya menunggu update status diamatinya secara periodik pada layar komputernya saja, sedangkan ia lebih berfokus pada perencanaan. Padahal sebenarnya yang diperlukan adalah pengamatan secara terus menerus dan memberikan solusi jika ada hambatan.  Alhasil, proyek yang utamanya hanya migrasi aplikasi dan database menjadi berkepanjangan.

Setelah saya ambil alih dan terjun langsung, ternyata dalam waktu singkat proyek tersebut selesai. Ketika tim lokal diminta pendapatnya mengapa proyek akhirnya dapat diselesaikan, jawabannya sederhana, mereka merasa nyaman bekerja sama dengan saya. Bagi saya, ini hanyalah soal memahami budaya lokal dan kemauan untuk terjun langsung saja. Bukan sesuatu yang istimewa, dan tidak berarti sang ekspat berkinerja lebih buruk, hanya mungkin kurang memahami hubungan dan komunikasi saja. Berangkat dari hal ini, saya jadi lebih suka mengamati bagaimana sebenarnya kultur kerja para ekspat, terutama yang berasal dari negara Barat, seperti Amerika, Eropa maupun Australia.

Satu hal yang sangat saya kagumi dari mereka adalah budaya yang sangat disiplin, terlepas dari kinerja mereka. Saat jam kerja berlangsung, maka fokus utama adalah bekerja, demikian juga jika di luar jam kerja yang dilakukan adalah kegiatan yang berkaitan dengan hobi yang mereka nikmati. [Sedangkan mungkin ini hanya terjadi di kantor saya dulu, bahwa banyak rekan-rekan kerja yang pada jam kerja lebih banyak melakukan apa yang saya sebut desk-to-desk yaitu berpindah dari satu meja ke meja yang lain untuk ngobrol hal yang tidak penting, atau kalau tidak, forward email lelucon, atau hoax yang sama sekali tidak penting, lalu browsing berita-berita terkini dan merasa perlu untuk menginformasikannya pada rekan kerja lain. Kesibukan hanya berlangsung pada saat menerima proyek baru, atau menjelang deadline]. Selain disiplin, para pekerja asing ini juga efisien, hanya melakukan hal-hal yang perlu dan memberikan hasil, dan mendelegasikan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh staf bawahannya. Kalau pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan dengan baik oleh bawahannya, tindakan yang dilakukan bukannya mengambil alih pekerjaan itu, tetapi memberikan mentoring sehingga lain kali, pekerjaan itu bisa dilakukan oleh staf bawahannya dengan baik.

Namun ternyata hal negatif seperti itu juga saya jumpai pada perusahaan saya sekarang ini. Ada salah seorang dari tim eksekutif kami, yang juga menunjukkan gejala seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Ia menjadi bagian dari eksekutif bukan karena kemampuannya, tetapi lebih karena bagian kepemilikikannya. Kalau saya amati sebenarnya hanya ada dua masalah utama yang kalau ia bersedia memperbaikinya justru akan lebih memberikan manfaat baginya maupun pada perusahaan.

Masalah pertama adalah keengganannya untuk melakukan delegasi pekerjaan. Sehingga, 80% waktunya lebih banyak dicurahkan untuk mengerjakan pekerjaan ground work. Menurut saya ini adalah pemborosan besar, karena pekerjaan tersebut bisa ditangani oleh seorang staf dengan remunerasi seperempat dari yang diterimanya. Dengan remunerasinya yang besar, seharusnya ia melakukan pekerjaan yang lebih strategis dan sepadan dengan kapasitasnya. Tetapi dengan berbagai alasan ia selalu berkelit untuk mendelegasikan pekerjaannya. Selain itu juga masalah kualitas, dimana hasil dari pekerjaannya belakangan ini sudah tidak bisa mengikuti tren teknologi, sehingga perusahaan menerima keluhan dari beberapa klien besar pengguna produk kami, dimana hal ini juga menyebabkan inefisiensi, karena memerlukan sum berdaya tambahan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang telah terjadi.

Yang kedua, adalah kebiasaannya yang selalu seakan bertanya “Why so serious?” Setiap ada pernyataan baik dari tim kerja maupun perusahaan, selalu ditanggapinya dengan lelucon. Jika lelucon dilontarkan satu atau dua kali tentu adalah hal yang menyegarkan, tetapi jika terus menerus menjadi tidak lucu lagi. Akibatnya, segala sesuatu tidak pernah dipandang sebagai hal yang serius lagi. Lelucon ini bisa dilontarkannya di tengah-tengah rapat, di tengah perbincangan dengan rekan bisnis, atau bahkan dalam percakapan online dalam grup perusahaan, dimana lelucon ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan topik yang dibahas sehingga menjadi garing. Akibatnya, beberapa staf memandangnya sebagai personal yang tidak bisa serius sehingga tidak bisa diajak untuk berdiskusi yang menyangkut kepentingan bisnis. Yang bisa dilakukan adalah diskusi singkat yang berkaitan langsung dengan ground work yang dikerjakannya. Kadang-kadang leluconnya disadari atau tidak sudah menyerang ke pribadi. Saya saja juga pernah merasakan di status FB saya (meskipun saya jarang sekali update status). Ketika itu saya hanya menuliskan status saya yang sedang sakit sehingga bisa diketahui oleh tim saya. Ia menanggapinya dengan menuliskan sesuatu yang sangat tidak pantas. Tetapi, bagi saya, hal itu tidak penting untuk ditanggapi lebih lanjut.

Memang, dalam bekerja, tentu kita tidak bisa 100% harus berkonsentrasi penuh dan bersikap terlalu serius. Ada kalanya kita perlu melepaskan diri dari ketegangan dengan ngobrol ringan atau sedikit bergurau. Tetapi, tentunya harus dalam porsi yang tidak berlebihan. Karena, menurut saya, seperti yang saya kemukakan sebelumnya, dalam beberapa hal saya sering kagum dengan para ekspat, yang tahu kapan harus bekerja secara disiplin dan serius, dan kapan waktunya untuk bersantai. Semuanya kembali kepada satu hal saja: profesionalisme.

Impulsif

Pagi ini saya menemukan satu artikel menarik saat iseng-iseng membolak-balik majalah wanita milik istri saya. Tulisan itu bercerita tentang sang penulis yang sewaktu mudanya sangat impulsif dan suka melakukan hal-hal yang bersifat petualangan secara spontan. Sungguh menarik karena banyak hal-hal yang tak terduga baginya saat mengambil keputusan untuk perjalanan maupun cita-cita hanya berdasarkan sesuatu yang menggelitiknya pada saat itu saja. Saya pikir memang umumnya saat masih muda banyak orangg yang suka melakukan hal-hal yang impulsif, karena sebagian besar keputusan hanya ditentukan oleh emosi.

Saya sendiri menilai diri saya adalah jenis orang yang tertib dan teratur. Saya selalu patuh pada aturan dan merencanakan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan. Tetapi, ketika saya bersahabat dengan teman yang nekat, sayapun bisa ikut gila. Itu terjadi ketika masa selepas SMA dan saya berteman baik dengan Jeki. Ia teman SMP saya yang sempat masuk ke seminari menengah (sekolah calon pastor), kemudian drop-out dan meneruskan ke sekolah setingkat SMA yang gakjelas. Jeki juga menggolongkan dirinya sebagai preman tanggung yang suka berkelahi, memberontak dan pernah kabur beberapa hari sehingga orang tuanya kalang kabut dan meminta saya untuk membantu mencari. Kami berkeliling kota mencarinya, padahal ia bersembunyi di instalasi PAM dekat kompleks perumahan kami yang penjaganya berteman baik dengan saya dan Jeki. Penyebab kaburnya padahal sepele, karena kebut-kebutan, SIM motornya lalu dibakar oleh ayahnya, makanya Jekipun ngambek dan kabur.

Seperti yang pernah saya ceritakan, selepas SMA saya sempat kuliah di UGM Yogya, lalu drop-out karena alasan biaya, sehingga saya harus menganggur setahun, mengumpulkan uang untuk kembali kuliah di tempat lain. Maka di hari-hari saya berburu pekerjaan, di sela-sela waktu luang, sebagian besar waktu saya habiskan bersama Jeki yang juga pengangguran karena ia juga baru lepas sekolah setingkat SMA. Anak nekat satu ini lebih memilih tidak kuliah dan mau bekerja penuh saja. Maka seringkali kami melamar pekerjaan yang sama, yang di era delapanpuluhan masih bisa menerima tenaga selevel staf dari lulusan SMA. Kebanyakan bank-bank yang baru berekspansi membutuhkan bagian klerikal yang bisa ditangani oleh anak-anak seusia kami. Maka kegiatan kami setiap hari adalah membuka koran di bagian iklan lowongan, memilah-milah lowongan yang tersedia, meminjam mesin tik tua ayah Jeki untuk mengetik surat lamaran dan CV, lalu menyusuri rute menuju kantor yang membuka lowongan tersebut.

Saya masih ingat ketika suatu saat setelah mengikuti psikotest di satu perusahaan, kami kelaparan tetapi kehabisan uang. Yang kami miliki hanya cukup untuk ongkos bis pulang saja. Setelah mengorek-ngorek isi dompetnya, ia menemukan uang lima dolar, angpau yang ia terima dari omnya waktu ulang tahun. Maka dengan cueknya ia mencari bank, menukarkan dolar tersebut, dan kamipun bisa menikmati makan siang di KFC. Di saat lain, suatu sore, ia tiba-tiba mengajak saya untuk ke Bogor. Untuk mempermudah izin dari ortu, saya bilang saya akan menginap di rumah Jeki, demikian juga Jeki bilang ia menginap di rumah saya. Berangkatnya kami naik kereta sampai stasiun Bogor, lalu menumpang mobil bak terbuka menuju Gadog. Kami menumpang bermalam di satu rumah ibadah yang ada makam keramatnya, tempat orang-orang mencari wangsit. Karuan saja, kami tidak bisa tidur nyenyak saat ada seorang wanita tua kesurupan mengamuk.

Setelah melamar ke beberapa perusahaan dan tidak sukses, maka kami juga mencoba berbagai cara untuk mencari uang. Saya menjadi guru les dan Jeki menjadi sopir. Tapi ia malah bikin skandal dengan majikan perempuannya yang masih muda dan cantik sehingga harus kehilangan pekerjaannya. Ia lalu menjadi pedagang kaset film video keliling, membantu ortunya yang membuka warung pempek, bahkan juga mencoba jadi guru les. Setelah melalui berbagai cobaan, saya akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai staf data entry. Jeki akhirnya juga mendapat pekerjaan sebagai klerk di sebuah bank.

Setahun kemudian ketika tabungan saya sudah cukup, saya meneruskan kuliah di Binus (waktu itu masih STMIK belum menjadi Universitas seperti sekarang ini) dan mengambil kelas malam agar tetap dapat bekerja. Jeki dengan gaya hidup impulsifnya lebih memilih tetap bekerja penuh waktu dan sering lembur, katanya untuk mengejar karir. Kami kemudian lebih jarang ketemu, apalagi saya juga lebih banyak bergaul dengan teman-teman kampus. Akhirnya setelah beberapa tahun, kami tidak berhubungan lagi dan saya kehilangan jejaknya.

Tetapi dasar Jeki, dua puluh tahun kemudian, ia mengirim pesan singkat ke handphone saya, entah bagaimana ia bisa mendapatkan nomor saya. Ia mengabarkan bahwa saat ini ia ada di Banjarmasin. Suatu kebetulan yang ajaib, karena seminggu kemudian saya bertugas ke kota tersebut. Maka kamipun bertemu kembali, di sebuah resto pada malam harinya. Ia tampak sukses sebagai kepala cabang sebuah perusahaan tepung yang terkenal. Tapi haha-hihi kami hanya berlangsung sepanjang malam itu saja. Setelah itu, ia kembali tak bisa dihubungi, kabar terakhirnya, ia telah pindah ke Surabaya. Saat ini, ia hanya menjadi satu dari sekian teman saya di FB. Tetapi, saya yakin, dengan gaya impulsifnya itu, suatu saat kami pasti akan ketemuan dan bernostalgia lagi.

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,800 times in 2010. That’s about 9 full 747s.

 

In 2010, there were 14 new posts, growing the total archive of this blog to 59 posts. There were 15 pictures uploaded, taking up a total of 633kb. That’s about a picture per month.

The busiest day of the year was January 5th with 50 views. The most popular post that day was Kuliner.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were microsoft.infogue.com, infogue.com, facebook.com, id.wordpress.com, and google.co.id.

Some visitors came searching, mostly for iga bakar, siomay, salad indonesia, oase adalah, and sop kaki kambing.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Kuliner July 2008
3 comments

2

Sejarah Microsoft June 2008

3

Kekuatan Usaha Bermodal Kecil November 2008
5 comments

4

Informal May 2009

5

Tentang Saya February 2008
8 comments

Bokap

Toko Makmur

Bokap adalah seorang pensiunan swasta dari berbagai profesi yang pernah dijalaninya. Ia adalah mantan pekerja perkebunan di pedalaman Sumatra di masa Orla. Lalu jaman Orba, ia pindah ke Jakarta lebih dulu sebelum kami untuk mencari penghidupan lebih baik, dan menjadi pengawas proyek di sebuah kompleks perumahan mewah. Berkecimpung di dunia bangunan sampai lebih dari dua puluh tahun, ia ganti profesi. Sempat menjalani profesi sebagai penerjemah Mandarin (ia memang fasih berbagai dialek Mandarin) untuk tenaga ahli dari Taiwan. Di masa-masa menjelang pensiun, ia masih sempat bekerja sebagai manajer operasional dari perusahaan konfeksi milik temannya.

Setelah memasuki masa pensiun, dengan sedikit uang tabungan ia membuka toko yang menjual makanan dan minuman import di kawasan Pasar Sunter Podomoro. Sekarang toko itu telah beroperasi lebih dari lima belas tahun. Siapapun pasti kenal Toko Makmur di pasar tersebut. Apalagi bokap sudah dianggap sebagai sesepuh di sana, karena ia telah membuka toko sejak saat Pasar Sunter Podomoro masih sepi.

Bokap adalah penggemar berat negara China. Ia sangat mengagumi kemajuan di sana, bahkan sempat beberapa kali mengunjunginya. Setiap hari ia selalu menyaksikan segala macam berita mengenai perkembangan negara itu via televisi dengan antena parabola, sehingga ia tahu berita paling mutakhir di sana. Pendeknya, bokap adalah pengamat politik dan ekonomi China amatir. Ia selalu bersemangat ketika membahas mengenai Negara Tirai Bambu itu, apalagi membandingkannya dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Di usianya yang tujuh puluh tahun lebih, bokap sangat informatif, ia banyak tahu berita-berita terkini. Sering kami berdebat mengenai berbagai isu nasional maupun internasional, dan tentu saja, ia tidak kalah informasi. Dengan kakak ipar saya, ia malah suka membahas isu-isu seputar dunia saham. Mereka berdua adalah investor aktif.

Belakangan ini, karena saya harus tinggal sementara di rumahnya saat rumah saya sendiri sedang direnovasi, setiap pulang kerja selalu diajak untuk mengobrol dan membahas berbagai isu terkini. Obrolan bisa dilanjutkan sampai saat makan malam dan sebelum tidur. Ia selalu tahu berita-berita terbaru. Ia memang hobi membaca, karenanya ia berlangganan dua koran, Kompas untuk berita nasional dan internasional, serta Pos Kota untuk berita-berita lokal dan kriminalitas. Setelah pulang dari toko sekitar jam tiga-empat sore, ia beristirahat sambil menyaksikan televisi internasional berbahasa Mandarin lewat parabola. Jadi tentu saja, ia sangat well informed. Saya sendiri kadang-kadang malah kalah informasi darinya. Maklum, di tengah kesibukan, sumber informasi saya hanya berita-berita online seperti detik.com dan kompas.com.

Agar tidak kalah dalam soal informasi dan tidak tampak kosong saat berdiskusi dengannya, maka belakangan ini saya juga berusaha rajin membaca berita-berita online tersebut. Dengan bekal berita-berita terbaru, tentu obrolan tiap sore akan selalu seru. Maka ketika isu wikileaks merebak, saya tentu mengikutinya dengan antusias. Pikir saya, bokap pasti tidak mengikuti yang satu ini karena sangat berbau internet, sedangkan bokap tidak pernah mengakses internet (beliau agak-agak gaptek). Tentunya saya yang akan mendominasi obrolan kali ini. Ternyata, saya salah besar. Bokap tahu banyak tentang wikileaks. Hebat, bahkan ia lebih tahu tentang kasus pembocoran kawat diplomatik rahasia AS tersebut, lengkap dengan informasi terbarunya. Bokap memang patut diacungi jempol. Saya salut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.