World of Dytra

Ketika Rasa Kehilangan Terjadi

2 Juli 2009 · & Komentar

brokenheartSaya tidak menyangka ketika bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak saling berhubungan. Posturnya tampak lebih kurus dan wajahnya begitu kuyu, kelihatan bahwa ia sedang menderita. Apa yang terjadi?

Siang itu kami mengunjungi rumah makan yang menyediakan bakmi favorit kami, di bilangan Kota. Sajian yang seharusnya membangkitkan kenangan lama dan menghadirkan kegembiraan masa-masa muda kami menjadi terasa hambar. Ia tampak tidak berselera meskipun mencoba tersenyum setiap saya melemparkan lelucon-lelucon dari cerita-cerita lama kami. Akhirnya saya menyadari, ia memang benar-benar sedang dalam masalah, saat ia berkata, “Bro, boleh kita beralih sebentar, saya ingin menceritakan sedikit masalah pribadi…”

Sahabat saya ini telah menikah hampir sepuluh tahun dan telah memiliki dua putra yang umurnya hampir sama dengan anak-anak saya. Setahu saya pasangan mereka selama ini baik-baik saja, bahkan beberapa kali kami sempat makan bersama antar keluarga. Tetapi yang diceritakannya sungguh-sungguh membuat saya terkejut. Ternyata pernikahannya telah kandas sejak setahun lebih dan anak-anaknya ikut dia. Penyebabnya samar, karena ia tidak menceritakan secara detail, tetapi kelihatannya adalah karena masalah ekonomi. Sejak terakhir saya bertemu dengannya tiga tahun lalu, usahanya sedang dalam masalah karena hutang bisnis yang cukup besar, sehingga dengan penghasilannya ia tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Akibatnya pertengkaran demi pertengkaran terjadi yang akhirnya berbuah perceraian.

Tetapi ternyata bukan perceraian itu yang membuatnya begitu berduka. Ia memang sangat menyesali perpecahan keluarganya dan sangat mengkhawatirkan perkembangan kedua putranya yang sekarang ia titipkan ke orang tuanya. Justru yang membuatnya bersedih adalah kenyataan yang ditemuinya beberapa minggu lalu. Ia bertemu dengan mantan istrinya di sebuah pusat perbelanjaan. Ia menceritakan cukup detail peristiwa yang menyakitkan hatinya itu.

Siang itu ia berjalan-jalan di mal yang berada di sekitar Jakarta Barat itu sekadar untuk melepaskan diri dari rasa tertekan, karena kondisi bisnisnya sama sekali belum pulih, sedangkan di sisi lain, ia harus membayar hutang-hutangnya yang semakin menumpuk. Di salah satu toko tanpa diduganya, ia bertemu dengan mantan istrinya yang sudah tidak bertemu dengannya sejak perpisahan mereka. Setelah bertegur sapa dengan kaku, mantan istrinya mengatakan ia sedang berbelanja untuk beberapa barang dalam mempersiapkan pernikahannya. Teman saya terhenyak. Wanita yang ada di hadapannya bukanlah seorang wanita yang berpenampilan sederhana seperti saat mendampinginya dulu. Yang ia temukan adalah seorang wanita berpenampilan anggun dan mempesona. Sebelum ia bertanya lebih jauh tentang calon suaminya, seorang pria tinggi atletis dan tampan menghampiri dan menggenggam tangan mantan istrinya dengan mesra. “Kenalkan, ini calon suamiku.” Pria itu mengulurkan tangan dengan hangat, dan teman saya menyadari, yang di hadapannya ini adalah seorang pengusaha muda yang cukup terkenal dan sering diliput di berbagai majalah bisnis. Saat mereka berlalu, teman saya melihat bahwa mantan istrinya tampak begitu bahagia, menyandarkan kepalanya ke bahu calon suaminya.

Begitu kontras penampilan dan keadaan mantan istrinya saat ini dibandingkan dengan saat terakhir bersamanya. Setahun yang lalu, ia adalah ibu rumah tangga yang putus asa dengan keadaan ekonomi keluarganya, yang berusaha menutupi kebutuhan rumah tangganya dengan berbagai akal dan upaya. Kini wajahnyapun tak menyiratkan sisa-sisa penderitaan masa lalunya dan ia tampak siap untuk memulai hidup barunya. Perbandingan itulah yang membuat teman saya merasa dirinya bagai pecundang, ditambah kenyataan posisi dirinya yang masih tak membaik. Dan meskipun ia memiliki hak asuh sementara untuk kedua anaknya, kini ia khawatir, karena secara ekonomi ia hampir tak mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya yang kini harus ditopang oleh orang tuanya. Hak asuh nantinya bisa saja pindah ke pihak ibunya apabila ia lebih mampu menghidupi mereka dengan keluarga barunya.

Matanya berkaca-kaca manakala ia bercerita tentang kekhawatirannya kalau terjadi perpisahan dengan anak-anaknya. “Saya sudah semakin tidak punya apa-apa lagi, Rud…” Ujarnya, “Kemungkinan saya akan pindah ke kota lain untuk memulai segalanya dari awal lagi.” Saya tak mampu berkata apapun selain mendengarkan semua ceritanya.  Saya menyadari sepenuhnya, untuk seorang pria, mengalami ‘kekalahan’ dan kehilangan semua miliknya adalah hal yang paling menyakitkan. Dan kenyataannya, sesama pria seakan tak mampu untuk memberi perhatian atau nasihat apapun selain hanya menjadi pendengar yang baik saja.

Ketika kami saling berpamitan setelah makan siang yang terasa tidak enak itu, ia mengatakan bahwa ia akan datang untuk menghadiri undangan pernikahan mantan istrinya dan ia juga bersiap merelakan kedua anaknya untuk kembali ke ibunya. Setidaknya ia ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki sisa ketegaran dan berani menghadapi kenyataan meskipun menyakitkan. Pada akhirnya ia menyadari bahwa ia memang harus memulai segalanya dari awal dan bangkit lagi. Ia bahkan berjanji, pada pertemuan berikutnya dengan saya, ia akan menjadi orang yang berbeda, yang lebih cerah. Benar, sahabat, jangan berhenti dengan mengasihani diri. Bangkit dan tunjukkan bahwa engkau memang seorang pria yang tangguh. Saya tak mampu menasihatinya seperti ini, tetapi ketegarannya itu lebih dari motivasi yang bisa diberikan oleh orang lain kepadanya. Ketika ia berlalu, saya memandangi punggungnya yang kurus berjalan menjauh. Saya percaya, ia pasti mampu melalui cobaan beratnya itu. Mungkin hal itulah yang terbaik yang bisa dilakukan seorang sahabat, mempercayainya.

→ 3 CommentsKategori: Opini Dytra
Ditandai: , ,

Terlalu berlebihan

12 Juni 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

serviceSiang ini sehabis meeting dengan seorang klien di bilangan Meruya, saya mampir makan siang di sebuah mal besar dekat Slipi. Setelah mencari-cari tempat makan yang cocok dengan selera, akhirnya saya mentok di foodcourt yang ada di lantai paling atas mal, memilih makanan yang paling bersahabat dengan perut. Seperti biasa, setelah membayar, saya membawa menu makan siang saya itu dengan sebuah nampan, menuju ke sebuah meja kosong. Agar tidak memenuhi meja, setelah memindahkan piring, mangkuk dan botol minuman ke atas meja, nampan kosong saya letakkan di meja sebelah yang tak berpenghuni. Tak sampai satu menit, seorang petugas cleaning menghampiri meja saya, lalu menanyakan dengan sopan, “Permisi Pak, nampannya sudah? Boleh saya ambil? Maaf ya Pak… Terima kasih.”

Saya tidak sempat menjawab apa-apa dengan sapaan dan pertanyaannya yang panjang lebar itu, hanya bisa menganggukan kepala. Setelah petugas pria itu berlalu saya merasa, kok agak berlebihan ya, cara dia memberikan pelayanan. Di foodcourt lain, biasanya yang saya temukan adalah para petugas kebersihan itu langsung mengambil nampan atau piring kosong tanpa ba bi bu lagi. Bahkan kadang-kadang botol minuman yang masih berisi setengah dan berada di atas meja juga diambilnya tanpa basa-basi, sampai kita mencegahnya. Paling-paling kalau itu terjadi, mereka minta maaf. Mungkin karena terbiasa dengan model pelayanan seperti itu, dengan bentuk layanan yang saya temukan hari ini jadi agak mengejutkan. Apakah mungkin memang standar pelayanan seharusnya seperti itu?

Kebetulan meeting pagi ini dengan klien adalah menyangkut masalah implementasi yang berlarut-larut. Seharusnya, sesuai dengan produk yang dibelinya, saya memberikan paket layanan termasuk dua hari pelatihan. Tetapi karena sebenarnya secara perbandingan, yang kami jual adalah 25% produk dan sisanya adalah layanan, maka saya tidak ragu untuk memberikan dukungan (support) untuk solusi masalah-masalah yang dihadapinya tanpa memberikan charge tambahan. Bukankah jika seorang klien yang puas terhadap layanan yang kami berikan tentu ia tidak akan ragu untuk merekomendasikan produk dan layanan kami kepada network-nya. Ini yang saya alami, karena, ketika di tengah meeting, ada seorang pemasoknya yang datang, dan langsung ia kenalkan dengan saya. Ah, inilah jika sorang klien menjadi pengiklan gratis untuk kita. Hal ini akan terjadi secara alamiah, bila ia puas dan hubungan kami tidak sekadar produsen-konsumen tetapi sudah seperti partnership. Mungkin inilah inti dari customer service.

Kembali ke layanan yang saya temukan di foodcourt ini. Jika sebuah layanan yang baik tetapi diberikan secara berlebihan, saya kira analoginya adalah seperti makan makanan yang enak tetapi dalam jumlah yang besar, yang lebih dari kemampuan kita menelannya. Akibatnya langsungnya adalah kekenyangan, lalu mual. Bahkan jika suatu hidangan yang lezat tetapi disajikan dalam jumlah besar di hadapan kita, tentu selera kitapun turun jadinya. Saya bukan bermaksud menganggap pelayanan seperti itu tidak baik, tetapi segala sesuatu tentu ada porsinya yang pas. Jika porsi pas tentu akan membuat kita ingin kembali dan kembali lagi, lalu memberikan rekomendasi kepada kenalan-kenalan kita.

Jadi sebaiknya sesuatu jangan sampai terlalu berlebihan. Berikan saja porsi yang pas. Bahkan, seperti kata pepatah China kuno, kalau makan cukup sampai 70% kenyang. Karena dengan perut yang tidak terlalu penuh dan rasa sedikit lapar yang tersisa akan membuat seseorang menjadi lebih bergairah untuk menikmatinya lagi. Demikian juga jika memberikan layanan, temukan porsi yang menggoda yang membuat seorang customer menjadi ingin kembali dan kembali lagi untuk mendapatkan apa yang kita tawarkan.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,

Zona Kritis vs. Zona Nyaman

8 Juni 2009 · 1 Komentar

42-20909830Dalam obrolan senggang suatu sore, teman saya bercerita tentang kakak perempuannya yang begitu santai dalam menjalani hidup. Begitu santainya sehingga sehari-hari pekerjaannya hanya menonton televisi dan berbelanja saja. Anak-anaknya diurus oleh sepasukan baby sitter, sedangkan untuk urusan masak-memasak ia memiliki juru masak yang handal. Gaya hidup seperti itu ditopang oleh karena ia menikah dengan seorang pengusaha yang perusahaannya sudah beroperasi lama dan stabil. Karena perusahaannya memiliki rutinitas produksi yang sama dengan konsumen yang tetap (sehingga semua produknya pasti terserap) dan bertahan jangka panjang tanpa pernah disentuh krisis, maka sang suami inipun sehari-hari juga hanya menekuni hobinya hunting foto dan berinternet, tanpa perlu terlalu serius mengurusi perusahaannya. Karena selain ia mewarisi perusahaan keluarga, para pegawainya pun sudah puluhan tahun mengelola perusahaannya, sehingga mereka sudah tahu tugas-tugas dan keputusan yang harus dijalankannya. Hanya beberapa rapat antara perusahaan dengan konsumennya yang perlu dihadiri oleh kakak ipar teman saya ini. Singkatnya, keluarga ini benar-benar menikmati time freedom financial freedom. Jelas, mereka sudah berada di zona nyaman selama bertahun-tahun.

Tentu bagi kita sungguh sangat menyenangkan, jika bisa berada dalam zona nyaman kebebasan waktu dan finansial selama mungkin, kalau bisa selama-lamanya. Setiap saat, kita bisa pergi ke manapun kita mau tanpa memusingkan soal biaya maupun pekerjaan yang ditinggalkan. Lalu mengapa teman saya mengeluhkan apa yang diimpikan oleh banyak orang, yang telah didapatkan oleh kakaknya? Keprihatinannya adalah, menurutnya jika seseorang sudah terlalu lama berada dalam zona nyaman, maka ia tidak akan siap jika terjadi perubahan mendadak dalam hidupnya. Bukankan di dunia ini tidak ada yang abadi? Apa yang dikhawatirkannya mungkin mirip dengan yang tergambar dalam buku Who Moved My Cheese yang ditulis oleh Spencer Johnson, MD.

Dalam kehidupan kita, setiap harinya kita menghadapi perubahan, kadang kala perubahan kecil, tetapi bisa juga terjadi peristiwa yang bisa membuat perubahan besar dalam hidup kita. Apabila kita tidak siap dengan perubahan yang terjadi, gagal dalam beradaptasi, biasanya orang akan akan terjerumus dalam sikap hidup apatis, atau malah menjadi stress dan depresi. Apalagi jika perubahan terjadi secara ekstrem. Seseorang yang berada dalam zona nyaman umumnya cenderung lupa menyiapkan diri untuk beradaptasi jika terjadi perubahan. Karena, dalam zona nyaman, kita lebih bersikap menghindari terhadap segala sesuatu yang mengganggu posisi kita. Sikap hidup santai dan hanya menikmati kesenangan saja akan melumpuhkan sensor-sensor kita terhadap perubahan.

Sebaliknya, orang-orang yang sedang berada dalam zona kritis umumnya lebih peka terhadap perubahan. Dalam situasi kritis, saat sedang dihadang masalah, saat terasa segala jalan tersumbat, bila kita optimis, maka setiap saat kita akan selalu berusaha mencari peluang untuk lepas dari beban yang ada di pundak kita. Secara naluriah, biasanya kita akan berusaha mencari jalan, seperti tikus dalam labirin, yang berusaha menemukan pintu keluar. Mungkin saat seperti itu, sensor-sensor kita terhadap peluang menjadi lebih sensitif. Seperti kata Tung Desem Waringin, kemana mata kita memandang, yang terlihat adalah peluang. Tetapi memang, banyak orang masih tetap berada dalam zona kritis, karena tidak adanya action. Peluang banyak terlihat, kesempatan datang dan pergi, tetapi kita masih duduk di tempat, tanpa pernah bergerak untuk melanjutkan upaya awal kita, yaitu menindaklanjuti peluang yang terlihat di depan mata. Inilah masalah bagi orang-orang yang terlalu mudah untuk menyerah pada nasib.

Bagi mereka yang sedang berada dalam zona kritis, janganlah hanya terkunci atau berputar di tempat saja. Seperti seorang teman lama yang mengeluhkan sulitnya untuk mencari peluang karena ketiadaan modal, padahal setiap hari ia sempat untuk browsing di internet. Bagi beberapa orang yang setiap harinya mengelola blog atau web sederhana untuk berbisnis, sambungan internet itulah modal mereka. Sedangkan bagi mereka yang merasa sedang berada dalam zona nyaman, sebaiknya juga jangan menghindari perubahan ataupun akibat-akibatnya. Barangkali juga perlu mencari tantangan, dengan sedikit memasuki zona kritis orang-orang di sekitarnya. Ada banyak peluang untuk mengasah diri agar tidak terlena. Masuklah ke dalam jaringan para pekerja sosial, atau bergiatlah dalam acara-acara yang diadakan rumah-rumah ibadah. Atau kalau bisa, membentuk sendiri kegiatan sosial bersama beberapa teman dan berkaryalah. Banyak dari mereka yang terlalu lama berada dalam zona kritis yang membutuhkan uluran tangan untuk bangkit kembali.

→ 1 CommentKategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,

Penyemangat

3 Juni 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

42-15348831Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun menjalani bidang pekerjaan atau usaha, menjadikannya sebagai rutinitas. Jika sudah menjadi rutinitas, maka mungkin kita tidak merasakannya sebagai sesuatu yang menggairahkan lagi. Sekadar menjalankannya, mencapai hasil sebagaimana yang direncanakan dan melanjutkan tugas berikutnya. Terus begitu sebagai siklus yang berkesinambungan. Kadang kita bisa menyelesaikannya tepat waktu, kadang terlambat, kadang juga bisa lebih cepat dari jadwal. Karena rutin, kita tidak merasa mencapai prestasi manakala bisa menyelesaikannya lebih dari yang diharapkan. Bahkan mungkin tidak bergairah untuk mencapai lebih. Karena untuk tepat pada sasaran saja, sudah membuat kita siang malam berada dalam tekanan. Dan jika selesai, kita tidak sempat berlama-lama menikmatinya. Paling hanya merasa lega sebentar, dan tugas berikutnya sudah menanti untuk diselesaikan dengan jadwal yang sangat ketat.

Beberapa perusahaan berusaha menjaga agar tidak membuat team kerjanya menjalankan tugas tidak sebagai rutinitas saja. Karena hal ini akan menyebabkan penurunan kinerja secara bertahap tanpa disadari oleh mereka yang menjalankannya. Penyebabnya adalah karena sebagai rutinitas, akhirnya tidak ada tolok ukur yang bisa menyatakan selesainya suatu tugas sebagai prestasi, yang ada justru jika tidak selesai berarti kegagalan. Ada peruahaan yang memberikan pelatihan motivasi in-house. Ada yang mengirimkan team kerjanya untuk mengikuti outbound atau kelas-kelas training lainnya. Salah satu klien saya secara rutin melakukan rolling para karyawan dari satu outlet ke outlet lainnya. Intinya adalah berusaha menjaga semangat dan gairah kerja team.

Sebenarnya, kalau diperhatikan, faktor yang memberi semangat pada manusia bersifat emosional. Sebagai pemimpin, jika mampu menyentuh emosi team kerja, baik secara individu maupun kelompok, akan lebih mudah memberi motivasinya. Tengok saja team olah raga, bagaimana sang pelatih memberi semangat pada teamnya saat akan bertanding. Sang pelatih akan memberi sentuhan-sentuhan emosional lalu membakar semangat tempur mereka. Nah, dalam suatu team kerja, misalnya saat akan melaksanakan suatu proyek, situasi yang akan dialami sang manajer proyek sama seperti yang diraskan oleh pelatih saat akan memasuki arena pertandingan. Saat proyek mulai kick-off, maka segala tanggung jawab ada di pundah manajer proyek. Ia harus menjaga segala aspek, dan terutama menjaga semangat, motivasi dan kekompakan team yang dipimpinnya.

Dari pengalaman yang saya alami, biasanya jika team sudah termotivasi, maka anggota individual akan mengalami suasana termotivasi yang relatif sama satu dengan lainnya. Saat kami baru selesai pameran, hampir seluruh karyawan, baik di divisi sales, support, developer maupun proyek semuanya begitu bersemangat. Tanpa perlu kata-kata pembakar semangat, semuanya termotivasi oleh karena begitu banyak prospek positif yang kami terima. Tetapi, kira-kira satu bulan sesudahnya, tingkat motivasi mulai menurun, karena semuanya kembali ke pekerjaan rutin lagi. Salah satu partner saya lalu memberikan sebuah stimulus, yaitu reward berupa sejumlah uang bagi siapa yang mendapatkan deal pertama dari hasil pameran. Dengan suntikan seperti itu, maka tingkat kompetisi antar karyawan meningkat, yang pada akhirnya kembali meningkatkan motivasi baik kelompok maupun individual. Semuanya semangat ingin mendapatkan deal.

Jika saya perhatikan, reward uang hanyalah salah satu unsur penyemangat saja. Yang menjadi pendorong utama semangat mereka justru alasan emosional. Ya, rasa bangga jika bisa memenangkan kompetisi. Itulah yang justru dikejar mereka, selain karena hadiah uangnya yang lumayan.

Suatu ketika, di tengah-tengah rutinitas dalam minggu-minggu yang penuh kesibukan, perhatian saya tertarik pada salah satu staf saya yang justru bukan di divisi sales. Ia tampak begitu bersemangat untuk melakukan follow-up hasil presentasi yang saya lakukan bersamanya di minggu tersebut. Padahal, jika saya mendapatkan proyek itu, sesuai peraturan perusahaan, ia tidak mendapatkan insentif apa-apa. Beberapa hari kemudian, saat kami berdua dalam perjalanan ke suatu proyek, saya mencoba menggali, apa yang menjadi pendorong motivasinya untuk mendapatkan proyek itu. Agak malu-malu ia bercerita, bahwa ia dalam rangka pendekatan dengan seorang wanita. Sebagai seorang lajang, ia memang memiliki banyak teman wanita, tetapi ada satu yang baginya saat istimewa. Nah, ceritanya, sehabis pulang dari prospective client tersebut, ia bertemu dengan sang idola. Rupanya ada kata-kata yang begitu inspiratif yang diberikan oleh teman wanitanya itu. Itulah yang menyentuh emosinya, ia menjadi begitu bersemangat seakan-akan ingin menunjukkan pada sang idola, bahwa ia akan mampu membantu saya untuk mendapatkan proyek itu. Seakan-akan, ia hendak mempersembahkan prestasinya pada tambatan hatinya. Saya sungguh terkesan, ah, andaikan bisa merasakan apa yang ia rasakan, mungkin saya akan memiliki semangat seperti yang sedang dialaminya saat ini juga.

PS. Thanks for saying, ‘Elo hebat!’

→ Tinggalkan KomentarKategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,

Informal

28 Mei 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

42-17368158Saya terkesan saat membaca data statistik mengenai penyerapan tenaga kerja Indonesia. Dari berita yang saya ikuti, sekitar 60-70% dari tenaga kerja diserap oleh sektor informal, sisanya bekerja di sektor formal. Sektor formal yang dimaksud adalah bekerja sebagai karyawan upahan dari sebuah perusahaan. Sedangkan untuk mereka yang tidak bekerja secara resmi pada satu perusahaan, dikategorikan sebagai tenaga kerja informal. Ini termasuk dari buruh tani, kuli angkut, pedagang asongan, pedagang keliling, warteg, penulis lepas maupun konsultan freelance. Lalu ada beberapa ‘pengamat’ yang justru meributkan soal rasio antara tenaga kerja formal dengan informal. Bagi mereka, amatlah riskan jika persentase tenaga kerja informal lebih tinggi dari yang formal.

Saya tidak memahami ‘textbook’ tentang rasio ini yang mungkin dikaitkan dengan posisi negara kita yang masih dikategorikan belum maju. Dalam pengertian saya, justru yang lebih mengkhawatirkan adalah jika yang bekerja di sektor formal lebih tinggi rasionya. Karena sewaktu-waktu, sebagai pekerja, bisa saja terkena pemutusan hubungan kerja. PHK ini tidak saja terjadi pada level buruh, tetapi jika situasi memburuk, para eksekutif pun bisa kehilangan pekerjaan. Dan jika itu terjadi, sedangkan pekerjaan baru belum diperoleh, banyak para mantan karyawan beralih ke berbagai usaha informal. Bagi mereka yang saat bekerja sudah memiliki usaha sampingan mungkin bisa langsung berpindah dengan membesarkan usahanya. Sedangkan yang tidak, bisa bergabung dengan teman lain yang sudah punya usaha, untuk kemudian bersama-sama mengembangkannya.

Kalau melihat ilustrasi di atas, peningkatan sektor informal memang bisa menjadi indikator krisis yang meningkat. Pekerja kena PHK, lalu pindah ke sektor informal sehingga angka rasionya meningkat. Tetapi jika dalam keadaan normal, rasio informal yang lebih tinggi, dengan logika di atas justru menunjukkan peningkatan pada sektor wirausaha. Ya, memang untuk tahap awal, bisa terjadi penurunan tingkat penghasilan, dari yang semula sebagai pekerja memiliki penghasilan tetap di atas UMR, tetapi setelah (dengan terpaksa) berpindah ke sektor informal, penghasilannya menurun. Tetapi dengan ketekunan, saya melihat banyak contoh para wirausahawan yang ada di sektor informal ini usahanya berkembang, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Beberapa waktu lalu, saat krisis ekonomi global menghantam beberapa bidang usaha, seorang teman yang sudah duduk di posisi manajemen menengah mengeluh pada saya bahwa cepat atau lambat ia pasti kehilangan pekerjaannya. Hal ini karena perusahaan tempatnya bernaung sudah tidak produktif lagi, dan para karyawannya sudah diciutkan dengan PHK bertahap. Sepengetahuan saya, teman saya ini memiliki keahlian dan jaringan yang cukup baik yang diperoleh dari pengalaman kerja dalam bidangnya selama bertahun-tahun. Saya mengusulkan, mengapa tidak menggunakan keahliannya itu untuk mengembangkan usaha sendiri. Alasan klasik yang diberikannya adalah tidak berani mengambil resiko, karena ia mempunyai tanggungan keluarga, istri dan anak-anaknya. Seperti dugaan saya, ia lebih memilih mencari pekerjaan lain, dengan penghasilan yang lebih kecil dan ia rela bekerja di bawah tekanan lagi untuk selanjutnya.

Di pihak lain, saya mendengar cerita, ada seorang IT manager yang memiliki karir bagus akhirnya harus berhenti bekerja. Penyebabnya adalah karena ia menjalankan usaha MLM dengan terlalu bersemangat, sehingga memberikan presentasinya di lingkungan kantor tempatnya bekerja. Meskipun ia melakukannya di luar jam kerja, tetap saja bagi atasannya, kegiatannya itu tidak dapat ditolerir. Setelah keluar, ia mencoba membesarkan usaha MLM nya, namun tidak mudah. Setelah mentok dan merasa hampir putus asa, dengan sisa tabungan yang dimilikinya, ia mengambil lisensi pelatihan motivasi dari sebuah negara tetangga. Berbulan-bulan ia menekuni profesi sebagai motivator, kadang bahkan menjalankannya di lingkungan sosial yang notabene pembayarannya di bawah standar. Tak apa, baginya yang penting ia cepat populer. Saat ini, ia adalah seorang pembicara motivasi yang bisa dikategorikan papan atas. Apakah ia termasuk dalam sektor formal? Jelas tidak, karena ia tidak bekerja pada sebuah perusahaan.

Saya juga pernah membaca tentang seorang penulis lepas untuk skenario sinetron kejar tayang yang per-episode-nya mencapai sepuluh juta rupiah. Atau seorang agen asuransi freelance yang komisi per bulan sebesar tiga puluh juta rupiah. Seorang pemilik usaha independen MLM bisa memamerkan mobil sedan terbarunya yang didapatkan sebagai bonus selain penghasilannya yang sangat besar. Seorang konsultan pajak freelance baru-baru ini juga panen besar saat program sunset policy dari Ditjen Pajak mendekati deadline, ia membantu banyak orang yang awam untuk mengisi dan melengkapi berbagai formulir pajak. Lalu ada pengusaha warteg yang sudah memiliki banyak cabang dan sudah naik haji beberapa kali. Belum lagi, seorang pemuda mantan pedagang asongan, kini mengorganisir teman-temannya yang lain, memberikan mereka modal dan mengatur wilayah dagang mereka agar tidak terjadi benturan. Jika mendengar kisah sukses seperti ini, sektor informal bukanlah wilayah gelap yang menakutkan untuk dimasuki.

Menurut saya, sebetulnya jika ada pihak yang bertekad membantu mengembangkan sektor informal menjadi bidang yang bisa memberikan rasa aman dalam hal ketenangan menjalankannya, saya kira rasio-rasio yang digambarkan dalam ‘textbook’ itu tak perlu di khawatirkan. Masalahnya, kadangkala banyak pihak yang hanya menunggu pemerintah untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, pemerintah mungkin juga tidak memberi banyak perhatian untuk sektor ini. Lihat saja di perempatan jalan, tepikan para pengemis, maka kita akan melihat sepasukan pekerja informal ini, tukang majalah dan koran, asongan rokok, tahu, mangga, penjaja mainan anak-anak, patung dan sebagainya. Mereka ini selalu dianggap sebagai bagian dari ketidaktertiban sehingga sering harus digusur-gusur. Selain itu, coba perhatikan di setiap sudut jalan, baik di perumahan maupun kompleks ruko, ada saja pedagang kaki lima yang menjual berbagai keperluan sehari-hari. Hal-hal seperti ini yang membuat sektor informal tampak tidak menarik, mengkhawatirkan dan tidak layak untuk dimasuki, kecuali oleh mereka yang terpaksa memasukinya, itupun disertai perasaan was-was dan tidak aman. Mungkin persepsi seperti inilah yang harus kita hilangkan. Sudah saatnya kita membuka pikiran, bahwa hidup yang layak tidak harus hanya mejadi pekerja, tetapi dengan usaha kecilpun, jika tekun, kita dapat menjalaninya dengan layak.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Opini Dytra
Ditandai: , ,

Jatuh Cinta

3 April 2009 · 1 Komentar

2_love-letterMungkin Anda masih ingat suasana hati ketika sedang jatuh cinta? Yang terjadi biasanya adalah semangat yang luar biasa, hati yang begitu menggebu dan pikiran yang sangat terfokus. Ya, jatuh cinta adalah salah satu penyemangat dalam hidup. Ketika itu, apapun yang kita kerjakan rasanya ingin kita lakukan dengan hasil yang sebaik mungkin, seakan hendak dipersembahkan kepada kekasih tercinta. Hati pun menggebu, menandakan motivasi dan gairah yang begitu besar. Pikiran terfokus hanya pada orang yang kita kasihi.

Ada kalanya juga, jatuh cinta itu bisa terjadi pada hal lain, misalnya pekerjaan. Jika itu terjadi, maka sama halnya dengan jatuh cinta pada kekasih, hal terbaik ingin kita persembahkan. Saya mengenal seorang teman baik yang begitu mencintai pekerjaannya meskipun menyita banyak sekali waktunya, karena ia harus banyak melakukan perjalanan. Sayangnya, tidak ada keseimbangan dalam hidupnya. Ia lupa, ia masih memiliki keluarga yang harus dibagikan kasih setiap saat. Dalam satu bulan, ia hanya berada di rumah kurang dari satu minggu. Akibatnya, anak satu-satunya pun tidak dekat dengannya. Di kala usia putranya itu beranjak remaja, maka pemberontakan demi pemberontakan terjadi dalam dirinya, karena kelihatan ia sangat kehilangan figur ayah. Dan yang menanggung akibatnya adalah sang ibu.

Berbagai buku mengenai motivasi selalu menyebutkan bahwa jika kita melakukan pekerjaan yang kita cintai, maka kita akan melakukannya dengan begitu bergairah dan sepenuh hati. Tetapi gairah itu bukan untuk mengunci kita, terfokus seratus persen hanya pada yang kita cintai. Sama seperti ketika kita jatuh cinta pada kekasih, kita harus menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri. Masih ada keluarga, sahabat dan lain-lain dimana kita harus belajar berbagai secara seimbang. Keseimbangan, itulah kunci dari kedewasaan diri.

Dengan kedewasaan diri, keseimbangan dalam hidup bisa kita pelihara dan kita dapat mengatur kekuatan dari energi jatuh cinta yang luar biasa dan tidak menjadi beban. Karena dengan keseimbangan, kita juga menyiapkan diri untuk menyambut segala kemungkinan.yang bisa terjadi. Ya, kala kita jatuh cinta, selalu ada kemungkinan kita mendapatkan cinta itu, ataupun penolakan. Nah, semua orang tahu, ketika menghadapi penolakan, suasana hati akan berbanding terbalik. Kita bisa kehilangan semua motivasi, semangat dan gairah. Seperti grafik parabolik, ketika telah mencapai titik kulminasi, maka bisa terjadi penurunan amplitudo yang mendadak.

Atau juga, setelah kita mendapatkan cinta yang kita dambakan, lalu kebosanan pun melanda. Saya kira ini jauh lebih berbahaya, karena menunjukkan jiwa petualang, jiwa yang tak pernah bersyukur. Persoalan cinta tidaklah sederhana, karena menyangkut dua jiwa, dua pikiran yang menyatu. Jika terjadi perpisahan, pasti akan terjadi luka, pada satu atau kedua pihak. Bukan hanya pada sepasang kekasih saja, tetapi juga bisa pada pekerjaan dan karir yang kita cintai, pada saat yang tidak kita duga sama sekali, selembar surat PHK bisa saja ada di dalam genggaman tangan kita.

Maka, ketika kita jatuh cinta, pada kekasih, pada keluarga, pada pekerjaan dan karir, segeralah temukan titik keseimbangan. Bukan berarti kita membatasi energi yang luar biasa ini, tetapi mengendalikannya dengan lebih terarah dan positif serta siap terhadap segala kemungkinan.

→ 1 CommentKategori: Opini Dytra
Ditandai: , ,

Menjadi Diri Sendiri

27 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

peranSelama ini pernahkah Anda membayangkan menjadi orang lain? Jadilah diri sendiri, demikian sebuah kata mutiara. Karena jika kita selalu berpura-pura menjadi orang lain, suatu saat kita akan lelah dengan berbagai kebohongan dan penipuan terhadap diri sendiri. Karena kita bukanlah orang yang kita perankan, maka kita juga tak akan sepenuhnya bisa menjadi seperti dirinya atau mencapai prestasi sepertinya.

Kalau dalam konteks kepura-puraan, saya setuju. Memang benar, dengan berpura-pura, kita tidak akan pernah seratus persen menyerupai orang yang kita tiru. Tetapi jika kita membayangkan menjadi orang yang kita kagumi, bagaimana ia bertindak, bagaimana ia bereaksi terhadap suatu situasi dan bagaimana ia merencanakan strategi hidupnya, saya kira hal ini justru akan membuat kita lebih termotivasi. Seperti dalam tulisan Memandang ke Atas, akan lebih mudah bagi kita untuk menetapkan tujuan jika kita melihat contoh nyata seseorang yang sudah mencapai posisi yang kita inginkan. Apalagi jika kita bisa belajar darinya untuk berencana, bertindak dan bereaksi.

Jika menjadi diri sendiri diartikan seakan bahwa kita hanya berpuas dengan keadaan kita, maka perlahan kita bisa saja terjerumus pada keadaan stagnan, tidak berupaya untuk menggapai kemajuan. Tentu ini berbahaya. Menjadi diri sendiri adalah positif jika kita dalam kesadaran, mengerti dan mengetahui situasi diri kita saat ini, dan bisa mengambil keputusan yang akan kita pertanggungjawabkan sendiri sepenuhnya. Janganlah menjadi diri sendiri yang lemah, yang tidak mau berubah demi kemajuan.

Sedangkan membayangkan menjadi orang lain, bisa menjadi negatif, jika kita terjebak dalam situasi selalu menbandingkan diri kita dengan orang lain, yang membuat kita terobsesi atas keseluruhan hidup orang yang ingin kita perankan, dan pada akhirnya menjadi membenci keadaan diri sendiri. Tetapi jika kita mampu mempelajari keteladanan orang lain, dan bisa menerapkannya pada diri sendiri, itu bukanlah berarti kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Justru, dengan demikian kita mengembangkan diri kita menjadi seseorang yang sesuai dengan gambaran dan cita-cita kita.

Yang diperlukan adalah keseimbangan. Menjadi diri sendiri, tetapi tidak berpuas pada kondisi saat ini, terlebih jika kondisinya saat ini tidak menguntungkan dan membuat kita dan orang-orang yang kita cintai menderita. Menjadi orang lain adalah belajar dan mengambil yang terbaik dari orang-orang yang kita kagumi dan bisa menjadi teladan bagi kita. Dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang terbaik.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Renungan Bisnis
Ditandai: ,

Memandang Ke Atas

20 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

lookupAda pepatah yang mengatakan bahwa jangan membandingkan keadaan kita dengan orang lain terlebih mereka yang berada pada posisi yang lebih di atas kita. Misalnya jika kita melihat teman yang memiliki aset yang jauh melebihi kita dan kemudian membandingkannya dengan keadaan kita. Sebaiknya kita melihat orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita, dari sana kita bisa bersyukur bahwa keadaan kita masih lebih baik. Jika ini dikaitkan dengan rasa iri, saya setuju. Tetapi jika hanya untuk mencari excuse, hal ini akan membuat kita terdemotivasi. Mengapa?

Misalnya soal keadaan ekonomi seseorang. Jika kita selalu melihat orang lain yang posisinya di bawah kita dan lalu kita bersyukur bahwa keadaan kita lebih baik, kita tidak menyadari bahwa suatu saat orang tersebut bisa melejit melebihi kita, karena kita seakan terhenti pada posisi sekarang lalu berpuas diri. Bukankah masih ada orang lain yang penghasilannya di bawah saya? Bukankah, ia juga banyak hutangnya? Tiba-tiba suatu ketika, orang yang kita bandingkan itu bisnisnya meningkat, dan dalam sekejap keadaan ekonominya membaik jauh daripada posisi sebelumnya. Maka karena kehilangan perbandingan, kita lalu mencari lagi orang lain untuk dibandingkan tanpa mau melihat kenyataan bahwa kita sudah tertinggal.

Bisa jadi ketika membaca paragraf di atas, Anda akan tertawa, tak mungkin terjadi pada diri kita. Tapi kenyataannya banyak yang punya pola pikir seperti itu, tanpa disadari bahwa selama ini, kita selalu mencari excuse dan membandingkan dengan orang yang berada pada posisi di bawah kita. Sedangkan, memandang ke atas, melihat orang-orang yang berlatar belakang kurang lebih sama dengan kita, tetapi pencapaiannya jauh di atas kita. Kalau kita memandang ke atas, bukan berarti kita iri, tetapi kita bercermin dan belajar. Apa menjadi strateginya, perencanaannya, jalur yang ditempuhnya sehingga ia mencapai posisi sekarang ini.

Memang benar, kalau menurut filosofi Timur, setiap orang memiliki peruntungannya sendiri-sendiri. Kenyataan hidup juga menunjukkan bahwa setiap orang tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama, meskipun berdiri pada posisi yang sama. Namun, setiap orang juga bisa menetapkan tujuan, menyusun strategi, membuat perencanaan dan mengambil tindakan. Jadi tidak hanya menunggu saja hingga peruntungan kita membaik, tetapi berbuatlah sesuatu. Memandang ke atas bisa membuat kita lebih mudah dalam menetapkan tujuan. Memandang ke atas juga bisa memacu motivasi kita sehingga kita lebih terdorong untuk memikirkan cara mencapai posisi seperti mereka yang di atas kita.

Kebanyakan orang memang berhenti pada sekadar mengagumi saja, saat kita melihat posisi seseorang yang mencapai posisi yang mungkin kita impikan. Kemudian, karena dalam pikiran bawah sadar bahwa posisi tersebut tak mungkin dicapai (karena cuma mimpi), akhirnya kita lebih memilih melihat ke bawah. Sebetulnya, saat kita memandang ke atas itulah, seharusnya kita bisa menjadikan posisi itu sebagai tujuan yang kita tetapkan. Bukankah tujuan yang terlihat jelas lebih mudah kita tetapkan daripada sekadar tujuan yang mengawang seperti “saya harus sukses”. Setelah menetapkan tujuan yang pasti, kita bisa mulai menyusun strategi. Apabila Anda mengenal orang yang akan dijadikan sebagai posisi tujuan, akan lebih mudah lagi bila bisa menyempatkan untuk berbincang mengenai strateginya dan perencanaannya dahulu dalam mencapai posisinya sekarang. Setahu saya, jarang sekali orang-orang yang berhasil tetapi tidak punya rencana dalam hidupnya.

Strategi mencapai posisinya itu tidak harus kita copy-paste begitu saja. Ayolah, kita sudah cukup matang untuk mulai menyusun sendiri strategi dan rencana kita sendiri. Setelah tersusun, ambillah tindakan. Strategi dan rencana dapat berubah dengan dinamis sesuai dengan situasi yang kita temui dalam perjalanan menuju tujuan kita itu.

Menurut saya, ada baiknya juga tidak langsung membuat strategi menuju ke posisi yang mungkin terukur cukup jauh dari posisi kita sekarang. Buatlah beberapa tingkatan tujuan, dan buat beberapa rencana sesuai masing-masing tingkatan yang hendak kita capai. Misalnya, saya mengagumi dan ingin seperti manajer saya, yang penghasilannya mapan dan dekat dengan keluarga. Berikutnya, saya ingin seperti teman kecil saya dulu, yang sekarang sudah punya usaha bengkel sendiri yang laris dan memberi penghasilan yang cukup besar. Selanjutnya, saya ingin seperti seorang tokoh yang pernah dimuat di majalah, yang memiliki berbagai investasi yang menguntungkan, sehingga uangnya yang bekerja untuknya, dan ia tinggal mengembangkannya lebih luas lagi. Nah jika saya mengenal orang-orang tersebut, tentu saya akan lebih mudah mempelajari kiat-kiatnya. Saya yakin semua orang yang pencapaiannya baik pasti bersedia berbagi, karena mereka juga bahagia jika melihat orang lain berhasil. Jika Anda menemukan orang yang tak mau berbagi, mungkin ia mempunyai rahasia yang tak layak dibagikan dalam usahanya mencapai posisinya sekarang ini.

Saya kira memandang ke atas tidaklah buruk. Apalagi jika kita termasuk orang yang sulit untuk menemukan tujuan yang yang hendak kita capai. Dengan memandang ke atas, kitapun pasti tergerak untuk melompat dan terbang mencapai tujuan kita, bukan hanya berjalan dalam garis lurus saja.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,

Kecil Tapi Banyak

17 Maret 2009 · 1 Komentar

smallthingsTulisan ini berhubungan dengan The Power of Small Things, tentang kekuatan hal-hal kecil dalam bisnis. Saya tertarik untuk membagikan cerita tentang hal ini, ketika membaca sebuah artikel di koran Kompas edisi Minggu. Artikelnya bukan tentang investasi tetapi tentang kuliner, yaitu sebuah rumah makan di wilayah Pantura yang menyajikan ikan bakar yang khas. Yang menarik adalah sang pemilik rumah makan, yang selain memiliki beberapa rumah makan serupa juga memiliki peternakan sapi dan ayam, kebun kangkung serta beberapa minimarket waralaba. Semua usaha yang dijalaninya itu adalah jenis UKM, tetapi banyak.

Sang pemilik adalah investor yang cerdas, selain karena menginvestasikannya pada aset riil yang menghasilkan, juga ‘meletakkan telur pada beberapa keranjang berbeda’. Apalagi ketika saya ikuti lebih lanjut, produk dari peternakannya juga menyuplai minimarket waralaba yang diambilnya. Sungguh luar biasa. Artinya, ia bisa menggunakan berbagai usahanya itu untuk bisa saling mendukung juga. Saya yakin ia juga tidak akan berhenti di sini, mungkin ia masih akan berekspansi lagi, tapi tetap dalam bentuk bisnis UKM.

Saya juga melihat contoh yang sama dengan tetangga toko kami di bilangan Sunter. Pada masa-masa awal pasar tradisional itu, kami juga baru memulai dengan satu toko seukuran dua kali dua meter. Saat yang bersamaan seorang pemuda juga membuka toko di bagian agak dalam, menjual berbagai peralatan rumah tangga seperti ember, sapu, sikat, pengki dan lain sebagainya. Yang mengesankan, si pemuda pemilik toko kecil itu sangat cekatan dan tampak rajin. Setiap pagi ia melayani pelanggan, setelah agak siang ia pergi berbelanja tambahan barang dagangannya dan sore-sore ia kembali dengan bajaj yang penuh barang-barang yang akan dijualnya. Dengan semangat tinggi, barang yang lengkap dan pelayanan yang ramah maka tak heran, tokonya selalu ramai, sehingga ia pun makin sibuk bolak balik membeli tambahan barang dagangan. Kelihatannya modalnya memang terbatas sehingga setiap mendapat uang cukup ia selalu berusaha berbelanja lagi.

Beberapa tahun kemudian, tampak nyata usahanya berkembang. Tokonya sudah bertambah menjadi tiga. Istrinyapun sekarang turun tangan membantu. Selang beberapa saat lagi, tokonya semakin bertambah, total menjadi enam buah. Barang dagangannyapun terdiri dari bermacam-macam jenis. Ada toko yang menjual keperluan dapur. Ada yang menjual peralatan listrik. Ada pula yang menjual peralatan rumah tangga. Sekarang, beberapa kerabatnya ikut membantu. Bahkan ia juga membuka toko di pasar tradisional lainnya. Tetapi pemuda itu, yang sekarang sudah jadi bapak, masih tetap sama. Ia tetap menjaga tokonya dan juga masih berbelanja barang-barang dagangannya.

Satu lagi contoh nyata adalah seorang ibu yang sering menitipkan kue di toko kami. Sejak muda ia sudah menjadi orang tua tunggal untuk dua putrinya, karena suaminya meninggal. Untuk mencukupi hidupnya, ia membuat kue kering dan menitipkannya di beberapa toko. Karena kue buatannya enak, maka titipannya selalu laris. Sedikit demi sedikit ia menabung untuk menambah modalnya. Beberapa tahun yang lalu ia pindah ke Cikarang. Ia sempat beberapa kali mengunjungi toko kami, terakhir minggu lalu ia datang. Satu hal yang menarik, saya tidak pernah mendengar ibu ini mengeluh. Ceritanya selalu penuh hal-hal positif dan bernada optimis. Minggu lalu itu, ia bercerita mengenai anaknya yang telah lulus kuliah dan bekerja dengan penghasilan yang bagus. Selama kuliah, putri pertamanya itu mendapat beasiswa sehingga sangat meringankan dia. Putrinya yang kedua pun selalu juara kelas, dan akan segera kuliah. Ia percaya, si bungsu akan mendapat beasiswa juga. Tentang bisnisnya ia bercerita bahwa sudah sejak beberapa tahun ia memasok kue ke pabrik-pabrik di sekitar tempat tinggalnya dalam jumlah besar, termasuk juga catering. Bahkan, ia juga memiliki dua rumah lainnya yang ia sewakan. Sungguh luar biasa perjuangan ibu ini. Saya sangat menghormati dan mengaguminya.

Dari beberapa contoh di atas, saya bisa melihat bahwa ada beberapa yang bisa dijadikan kunci untuk keberhasilan usaha, yakni:

  1. Memulai usaha meskipun kecil, tetapi sudah melakukan tindakan untuk memulainya, dan mengembangkannya dengan ulet dan bersemangat. Seperti tetangga toko kami yang begitu bersemangat mengelola tokonya yang meskipun kecil tetapi tetap ditangani dengan baik.
  2. Melakukan diversifikasi, yaitu selalu mencari dan mencoba peluang usaha baru dengan cara yang cerdas, sehingga usaha-usaha kecil bisa saling mendukung tetapi tidak saling tergantung. Seperti pemilik rumah makan yang mengembangkan usahanya menjadi banyak meskipun kecil, dan bisa saling mendukung. Kalaupun salah satu usahanya tidak berjalan baik, ia masih punya banyak sumber penghasilan.
  3. Selalu berpikir positif dan optimis. Meskipun kita banyak menemukan halangan, tapi fokuskan pikiran pada tujuan kita. Seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal dapat berjuang demikian hebatnya sehingga mempunyai beberapa aset yang memberikan penghasilan yang layak baginya, meskipun ia harus memulainya sendirian dengan penuh perjuangan.

Jadi jika kita masih mengeluh mengenai kekurangan kita, lihatlah ibu ini. Sebuah usaha, meskipun kecil bisa jadi adalah awal dari bisnis yang berkelanjutan. Jika kita sulit untuk menetapkan tujuan agar usaha ini berkembang menjadi perusahaan besar berskala nasional bahkan internasional (vertikal), kita bisa mencoba strategi untuk mengembangkan usaha-usaha lainnya dengan skala lebih kecil tetapi dalam jumlah banyak dan terdiversifikasi dengan baik (horisontal).

→ 1 CommentKategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , , ,

Hero

13 Maret 2009 · 1 Komentar

heroBayangan kita tentang hero adalah seorang yang melakukan hal-hal hebat dan menakjubkan. Seperti memandang seorang pemadam kebakaran yang menggendong bayi keluar dari rumah yang terbakar. Atau saat menyaksikan seorang juru runding hebat yang berhasil mencapai kata damai antara dua pihak yang bertikai di suatu negara. Atau seorang tokoh kemanusiaan yang berhasil menyelamatkan banyak orang-orang miskin hanya dengan kasih tanpa pamrih. Pokoknya, mereka adalah orang-orang besar yang melakukan hal-hal di luar jangkauan kita. Bahkan, kadang-kadang gambaran pahlawan di pelajaran sekolah dasar masih melekat, sosok gagah yang membawa bambu runcing, berikat kepala warna bendera sambil berteriak ‘Merdeka!’

Ada cerita di mana seseorang menjadi begitu terobsesinya menjadi pahlawan, sehingga ia selalu berusaha menyenangkan semua orang, memenuhi segala permintaan, sambil mencari-cari peluang, siapa tahu ada bencana, dan ia bisa melakukan aksi penyelamatan yang heroik. Menurut saya, hal itu sangat melelahkan. Menjadi pahlawan tidak bisa diskenariokan dan tidak bisa diatur semau kita. Momen ‘menjadi pahlawan’ itu justru ada dalam kehidupan sehari-hari, dan dilakukan tanpa maksud di belakangnya (ingin disanjung sebagai pahlawan). Juga tidak perlu harus selalu menyenangkan orang, salah-salah kita akan menjadi seorang pesuruh yang mudah sekali diperbudak.

Momen itu bisa saja kita temukan, saat membantu anak mengerjakan pe er nya yang sulit. Saat kita hadir pada seorang teman yang sedang membutuhkan, hanya untuk mendengar saja. Saat mendengarkan istri ketika ia ingin berbagi cerita, karena selama ini hanya ia saja yang menjadi pendengar. Atau mengunjungi orang tua yang tinggal jauh, karena selama ini kita hanya meneleponnya sesekali sebagai basa-basi saja. Juga ada banyak sekali contoh-contoh bagus yang bisa kita baca dari Chicken Soup for the Soul, tentang momen-momen kepahlawanan sehari-hari.

Bisakah kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, selain berpikir untuk melakukannya pada orang lain? Saat sesuatu yang negatif terjadi, seringkali kita menyalahkan atau membenci diri sendiri, dan bahkan tak mampu memaafkan diri. Jangankan menolong orang lain, sebaliknya diri kita sendiri dalam kondisi demikian sangat butuh pertolongan. Parahnya, keadaan seperti ini sering tidak kita sadari. Tetapi coba kita perhatikan kondisi sehari-hari, adakah tanda-tanda bahwa selama ini kita menyalahkan diri untuk hal-hal yang tidak perlu?

Mungkin, dalam situasi krisis global seperti saat ini, beberapa usaha tidak berjalan lancar. Yang menjadi pegawai rentan untuk di PHK, sedangkan yang berwiraswasta terjadi penurunan dalam nilai penjualannya. Ada juga yang bekerja, namun tidak bisa berharap ada kenaikan gaji untuk tahun ini, karena perusahaan tempatnya bekerjapun sedang berjuang untuk bertahan hidup. Ada seorang teman yang mengirimkan email pada saya, katanya ia butuh penghasilan tambahan, karena pekerjaannya sekarang tidak memberikan gaji yang cukup untuk kebutuhan minimal keluarganya. Maka pembicaraanpun berlanjut, karena saya penasaran, mengapa ia seakan ‘berhenti di tempat’ setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi.

Menurut ceritanya, karirnya tak mungkin lagi berkembang. Ada banyak alasan yang ia berikan, diantaranya adalah, bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan besar, sehingga ia sulit untuk naik posisi, karena persaingan karir cukup tajam. Selain itu, ia juga sudah masuk usia kepala empat, sehingga sudah sulit baginya untuk bersaing dengan yang lebih muda, yang berpendidikan dan memiliki knowledge yang lebih tinggi, serta bersedia digaji lebih murah karena tidak ada tanggungan keluarga. Ia juga sudah berusaha mencari peluang usaha sampingan, tetapi terbentur tidak punya modal.

Saya tidak ingin berbicara sesuatu yang kesannya menggurui. Jadi saya hanya menganalisa saja, bahwa teman saya ini sudah cukup kronis memandang dirinya sebagai seorang yang serba kekurangan. Ia merasa tak mampu bersaing, merasa umurnya terlalu tua untuk belajar lagi dan untuk bersemangat menunjukkan the best of himself, dan tak punya apa-apa untuk dijadikan modal. Sebetulnya soal modal ini yang berat, karena ia identikkan modal dengan uang saja. Padahal ada banyak modal di sekitar kita yang tidak disadarinya. Maka saya mencoba menganalisa satu persatu, yang mungkin bisa menjadi pelajaran buat diri saya sendiri dan teman-teman lain yang membaca tulisan ini.

Ketika merasa tak mampu bersaing, betapa kita melihat diri kita bagai seonggok karung beras yang sudah tak ada isinya. Mengapa tak mencoba mencari sesuatu untuk menegakkan karung itu? Jangan berharap ada orang lain yang memberikan kayu untuk menopang diri kita, tapi cobalah untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Keluarlah dari diri kita yang bagai karung teronggok itu, lalu tegakkanlah. Hanya dengan keluar dari kungkungan diri yang merasa lemah, barulah kita dapat menolong diri sendiri. Jika sehari-hari kita hanya duduk di pojokan kubikal kita, menenggelamkan kepala di balik monitor komputer, maka tak seorangpun akan melihat keberadaan diri kita. Bangunlah, keluarlah dari diri yang bersembunyi di pojokan itu, dan sapalah orang-orang di sekitar kita, ikut melibatkan diri dalam beberapa pembicaraan menarik, dan arahkan ke pemikiran positif.

Usia kepala empat justru adalah puncak produktivitas seseorang. Banyak yang justru bangkit di usia ini. Bahkan ada pepatah yang mengatakan life begin at forty. Saya selalu yakin bahwa pada diri setiap orang pasti memiliki satu keahlian yang sangat ia kuasai, yang orang lain tak mampu melampauinya. Mungkin saja selama ini kita tak menyadari bahw mi instan masakan kita sangat lezat. Mungkin kita telaten menyulam kristik. Mungkin juga selama ini kita suka corat-coret gambar kartun. Apa saja potensi tersembunyi itu, temukan komunitasnya di internet (apapun ada di sana) dan kembangkanlah. Walaupun mungkin tidak bisa menjadi mata pencaharian baru, tapi itu akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga bisa menjadi yang terbaik dalam beberapa hal. Ini akan membuat semangat dan kepahlawanan terhadap diri sendiri akan meningkat. Cobalah temukan, dan Anda akan merasa lebih bersemangat untuk menunjukkan potensi diri sendiri dan tidak membandingkannya dengan orang lain yang juga punya kemampuan hebat di bidang lain. Tak ada batasan umur untuk memulainya, tidak empat puluh, tiga puluh atau lima puluh.

Dan jika kita merasa tak punya modal, lihatlah, sesudah mencari potensi dalam diri. Modal itu ada. Jika belum juga, lihat berapa jumlah teman kita, berapa luas koneksi kita. Jika Anda bisa membaca blog ini, berarti Anda juga punya satu modal, yaitu akses internet. Selain itu, ada satu modal lagi yang luar biasa potensial, yaitu informasi. Tanyakan pada para makelar atau calo. Itu modal terbesar mereka. Jangan melihat calo itu hanya ada di terminal-terminal saja. Para perantara itu bisa menjembatani antara produsen dan konsumen yang saling tidak kenal, dan mereka mendapatkan fee dari sana, yang jumlahnya dari beberapa ratus ribu sampai milyaran rupiah. Informasi sebagai modal bisa macam-macam, mulai dari bisnis teman-teman, rumah dijual, mobil, batu bara, kapal dan sebagainya. Itulah modal bagi mereka yang tidak merasa punya modal. Semuanya itu lebih dipermudah lagi dengan adanya internet dan ponsel, yang saat sekarang siapapun punya.

Semua itu adalah potensi diri. Jika kita berani menggalinya dengan cara yang sederhana saja akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga punya kekuatan. Dan dengan kekuatan itu, kita bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri, sebelum menjadi pahlawan bagi orang lain.

→ 1 CommentKategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,