World of Dytra

Masukan dari Februari 2008

Formula Sukses

25 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca sepintas sebuah buku yang baru diluncurkan. Isinya adalah bahasan mengenai pertanyaan-pertanyaan penting dalam kehidupan manusia. Awalnya saya hanya membolak-balik daftar isi saja. Namun akhirnya saya tertarik pada satu judul yang kira-kira berbunyi: ‘Apakah setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama dalam meraih kesuksesan’. Di dalam jawabanya, sang penulis membagi dua kelompok pendapat. Pertama adalah jawaban dari para motivator, para mentor MLM dan pembicara seminar lain yang mengatakan bahwa setiap orang pasti punya kesempatan yang sama dalam meraih kesuksesan. Kedua, adalah kelompok orang yang menjawab sebaliknya.

 

Dengan tegas, penulis menyatakan dirinya termasuk kelompok kedua. Dengan argumentasi yang tampak meyakinkan, ia bahkan mengritik sebuah buku lainnya yang berisi pedoman bagaimana mendidik setiap anak untuk menjadi berkualitas. Penulis menyatakan setiap orang berbeda-beda dalam kesempatan untuk memperoleh kesuksesan. Intinya, seakan-akan setiaporang sudah ada gen bawaan yang menentukan hidupnya sukses atau tidak. Jadi kalau seseorang hanya bisa mencapai puncak karir sebagai seorang janitor (cleaning service), maka ia tidak akan bisa mencapai kesuksesan seorang multi-miliarder. Mungkin ia tidak pernah mengenal Anthony Robbins.

 

Berbeda dengan penulis, saya yakin bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk sukses. Saya sendiri tidak pernah ikut seminar motivasi ataupun MLM, jadi tidak tahu persis apa yang disampaikan di sana mengenai peluang untuk sukses. Menurut pemikiran saya, setiap orang selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan dalam setiap langkah hidupnya. Di dalam setiap pilihan selalu ada peluang untuk meraih kesuksesan mapun kegagalan.

 

Satu contoh, saya mengenal seorang teman yang dalam suatu titik hidupnya menghadapi pilihan yang cukup sulit untuk diputuskan, menikah atau menerima beasiswa. Kalau memilih menikah, maka ia harus menolak beasiswa S2 luar negeri yang telah lama diidam-idamkannya. Jika menerima, ia harus menunda pernikahannya, yang jelas akan menyulitkan banyak pihak. Pemikirannya saat itu, jika ia menerima beasiswa dan melanjutkan sekolah, sekembalinya ke tanah air, pasti karir hebat sudah menunggunya.

 

Akan tetapi, wanita calon istrinya sama sekali tidak tahu dilema yang dihadapinya, setiap saat menunjukkan sikap yang membuat teman saya ini jadi tidak tega. Seringkali sang calon istri suka menunjukkan sesuatu yang dibelinya untuk persiapan pernikahan. Bahkan suatu ketika, pernah pula ia tunjukkan jumlah tabungannya untuk menambah-nambah anggaran yang disiapkan untuk pesta. Setelah berpikir masak-masak, akhirnya teman saya itu memilih untuk menikah saja. Dengan posisinya di kantor hanya sebagai staf biasa, ia pasrah. Harapannya untuk naik posisi andaikata ia memperoleh gelar master, ia telan dalam-dalam.

 

Semula saya mengira, karirnya memang akan biasa-biasa saja, karena dengan birokrasi yang ada di kantornya, untuk naik posisi ia harus menyaingi sekian puluh staf lainnya yang tentu saja punya kemampuannya masing-masing, belum lagi termasuk para pengambil jalan pintas lewat ilmu kodok (tendang ke bawah dorong ke samping jilat ke atas). Nyatanya, selewat lima tahun, tanpa saya ketahui bagaimana ceritanya, ia sudah jadi wirausahawan yang penghasilannya mungkin jauh dari gaji yang ia incar di perusahaan sebelumnya. Nah, siapa bilang kesempatan untuk sukses tidak sama untuk setiap orang? Semuanya tergantung dari sikap orang tersebut, apakah mampu untuk melihat dan meraih kesempatan yang ada. Bukankah menurut orang bijak: Orang yang bernasib baik, yang tampak mudah sekali mendapatkan jalan untuk sukses sebetulnya hanyalah orang biasa yang melihat peluang dan menyiapkan diri dengan baik untuk meraihnya.

 

 Lagipula, formula sukses setiap orang tidak sama. Ada pekerja sosial yang menempatkan suksesnya adalah dari jumlah anak jalanan yang berhasil ia didik di sekolah daruratnya. Ada broker yang titik suksesnya adalah jumlah ‘deal’ yang berhasil ia menangkan. Jadi, menurut saya, jangan terpengaruh formula sukses instan yang ditawarkan oleh buku-buku atau seminar-seminar. Tetapkan target kita sendiri dan yang paling penting: action (jangan cuma teori)!

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: ,

Dicari: Modal Usaha

21 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya suka sekali membaca biografi orang sukses mapun menonton biopic nya. Dari situ saya bisa mendapatkan begitu banyak manfaat, termasuk dalam hal mencari excuse ketika terbentur dalam mewujudkan rencana wirausaha saya.

Manfaat utama, tentunya adalah saya bisa mempelajari bagaimana perjalan hidup sang tokoh yang umumnya merayap dari bawah sampai mencapai posisi suksesnya sekarang ini (tentu saja biografi umumnya bercerita mengenai orang yang merangkak dari susah sampai kemudian sukses, atau kemudian berlanjut sampai kejatuhannya. Jarang yang bercerita dari posisi tertinggi lalu jatuh dan tidak bangkit-bangkit lagi). Berbagai buku mengenai kisah sukses sudah banyak saya baca di perpustakaan, terlebih yang bercerita mengenai keajaiban Silicon Valley yang berkaitan erat dengan American Dream. Sebut saja Fire in the Valley, Microsoft First Generation, The Google Story, The Silicon Boys, Under the Radar, The iCon dan sebagainya. Sedangkan untuk biopic, salah satunya adalah Pursuit of Happynes. Manfaatnya tentu saja adalah kita bisa menarik hikmah dari perjalanan bagaimana sebuah usaha dirintis, jatuh bangun sampai mencapai sukses besar. Dari semua yang saya baca, selalu ada bab yang menceritakan keuletan sang tokoh yang harus memulai dari nyaris tanpa modal

Beberapa buku menggambarkan bagaimana sang tokoh mendapatkan bantuan permodalan dalam usahanya. Yang banyak saya temui adalah kehadiran venture capitalist yang seakan dewa penolong dalam memperoleh bantuan permodalan untuk usaha yang dimulai bahkan di dalam garasi. Selebihnya, adalah bantuan dari pihak universitas, pengusaha besar yang tertarik membantu dan mungkin menjual aset yang tidak seberapa (kalulator scientific ataupun VW combi butut). Bahkan ada yang tidak menceritakan sumber modal, tahu-tahu ia sudah bisa memutar uang dan punya kantor kecil, padahal sebelumnya diceritakan sang tokoh hampir menjadi gelandangan.

Lalu, sayapun sibuk mencari excuse setelah mengetahui sumber modal mereka untuk memulai wirausaha. Kesempatan yang mereka dapatkan jelas berbeda dengan kondisi saya yang hendak memulai wirausaha kecil. Venture capitalist? Boro-boro, mencarinya dimanapun saya tidak tahu. Pihak universitas pun tak mungkin, karena mereka juga selalu butuh uang, yang tampak jelas saat memungut dana pembangunan setiap penerimaan mahasiswa baru. Bantuan pengusaha besar? Yah, kalau mereka melihat usaha kecil yang dirintis di dapur, mana mau mereka turun tangan. Jual aset pun tidak mungkin karena memang tidak seberapa, hanya menyusahkan saja (kalau saya jual sepeda motor saya, bagaimana caranya saya keliling menawarkan produk saya). Mencari di bank? Kalau tidak punya aset untuk diagunkan, jangan coba-coba. Akhirnya dengan segudang argumen tersebut, sayapun kembali menikmati zona kenyamanan saya di balik partisi di kantor sambil browsing internet dan melupakan impian untuk memulai usaha kripik bayam resep istri saya.

Suatu hari, saya dipinjamkan buku oleh sepupu saya, terbitan Kompas, judulnya Menjual Matahari. Isinya adalah kisah sukses usaha-usaha kecil yang dirintis oleh orang-orang yang sederhana dan tidak semuluk Silicon Boys. Mata saya menjadi terbuka. Ternyata di tanah air sendiri ada sekian banyak orang yang tidak manja. Mereka benar-benar memulai usaha dari nol dengan bermodal keuletan dan pantang menyerah oleh keadaan yang kadang-kadang sangat memberatkan. Apalagi, beberapa waktu kemudian, saya mendapatkan buku mengenai sejarah perusahaan rokok Sampoerna. Buku ini bagus sekali, menunjukkan bagaimana jatuh bangun perintis Sampoerna dalam mendirikan raksasa industri rokok yang akhirnya laku dijual dalam bilangan triliun rupiah.

Memang, usaha apapun pasti memerlukan modal, termasuk modal dengkul (seperti penjual sayuran yang selalu keliling kompleks perumahan dengan gerobak yang dikayuh pakai kekuatan dengkul). Saat kita punya gagasan untuk memulai usaha, lalu merasa terbentur pada kata ‘modal’, ada baiknya kita lihat berkeliling. Ada banyak orang-orang sederhana disekitar kita berani memulai usaha, meski dengan modal ngutang kanan kiri (asal ingat bayar). Contohnya tukang sayur yang keliling kompleks tadi. Ketika saya sempat-sempatkan untuk interview dia di pagi hari Sabtu, ia menjelaskan bahwa modalnya berasal dari kiriman istrinya yang kerja jadi TKI di Hongkong. Sebelum itu, bahkan ia berencana untuk berhutang pada mertuanya, yang penting bisa usaha. Dari perbicangan dengannya, saya tersadar, bahwa kalau memang mau berusaha, modal bisa didapatkan dengan berbagai cara. Artinya, jangan terpaku pada sumber-sumber yang kita lihat di iklan atau buku-buku bisnis.

Ketika kemudian saya membaca tentang kiprah Dr. Muhammad Yunus, saya lebih terperangah. Dr. Yunus bahkan menempatkan posisi sebagai pemberi modal, bukan pencari modal. Nilainya pun sungguh fantastis saat dia memulai Grameen Bank, 30 Dollar saja dari kantongnya sendiri, dan ia sudah merubah dunia! Jadi itulah, kalau memang kita mau berusaha, berapapun modalnya dan darimanapun sumbernya tidak akan jadi soal lagi, yang tersisa adalah niat luhur kita untuk melakukan yang terbaik dalam merintis wirausaha.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: ,

Kesempatan Kedua

21 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pernahkah Anda menyaksikan film Butterfly Effect yang dibintangi Ashton Kutcher, atau Sliding Door yang tokoh utamanya diperankan oleh Gwyneth Paltrow? Dalam film-film itu digambarkan bagaimana seseorang akan mengalami jalan hidup yang berbeda setiap ia mengambil keputusan yang berlainan pada suatu titik hidupnya. Saya sudah agak-agak lupa cerita film Sliding Door, tetapi untuk Butterfly Effect, sedikit banyak saya masih ingat ceritanya. Pada film itu, digambarkan bahwa sang tokoh utama yang diperankan Ashton Kutcher harus mengulang-ulang jalan hidupnya di masa depan, dengan cara kembali ke titik di manapun yang dia inginkan. Cara kembalinya pun unik, yaitu dengan cara membaca catatan harian yang pernah dia tuliskan dahulu. Jadi tidak menggunakan mesin waktu. Setelah ia kembali di titik yang ia inginkan, ia akan mengambil tindakan berbeda dari yang pernah ia lakukan sebelumnya. Selanjutnya, ia akan terlempar kembali ke masa depan, yang memberikan kehidupan yang berbeda, yang bahkan mengejutkan. Pernah, dari suatu tindakannya, ia kembali ke masa depan dan menemukan dirinya cacat, kehilangan kakinya. Zaman saya SMA, film favorit saya adalah Back To The Future, bintangnya Michael J. Fox. Mirip juga ceritanya, karena situasi yang memaksa, sang tokoh terlempar ke masa lalu, bertemu dengan ayah ibunya yang masih belum menikah. Dari tindakan-tindakan insidental, ketika ia kembali ke masa depan, kehidupan keluarganya yang kurang begitu menyenangkan sebelumnya, secara mengejutkan telah berubah drastis.

 

Menyaksikan film-film ini, yang terpikir oleh saya bukanlah sisi ilmiahnya, apakah mungkin mesin waktu dibuat, atau tentang rentang waktu yang menurut Einstein tidaklah absolut. Atau tentang butterfly effect yang catatan ilmiahnya berkaitan dengan chaos theory. Saya tertarik tentang second chance atau kesempatan kedua yang diperoleh para tokoh khayal dalam film ini. Apa yang akan saya lakukan jika saya memperoleh kesempatan kedua dalam beberapa titik penting hidup saya? Ketika saya memilih sekolah, ketika saya pacaran dan menikah, ketika saya memilih tawaran pekerjaan, dan banyak lagi ketika-ketika yang lainnya.

 

Tentu, meskipun teori ilmiah mengatakan waktu tidak absolut, tetapi kenyataan yang kita jalani adalah berjalan secara serial. Apapun keputusan yang telah kita ambil harus kita terima konsekuensinya, dan kita tidak bisa mundur mengulang dan memilih keputusan alternatif. Kalaupun kita terus berpikir tentang memutar balik waktu, kita tidak akan punya waktu lagi untuk menjalani kehidupan di depan kita. Saya kira masih banyak yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki sesuatu yang terjadi di masa lalu dengan melakukan perubahan saat ini. Dan seperti sebuah kata bijak yang menyatakan, bahwa jika kita ingin mengubah dunia, mulailah dengan mengubah diri kita dahulu sedikit demi sedikit.

 

Jadi, apapun situasi kehidupan kita saat ini adalah hasil dari berbagai keputusan kecil-kecil yang saling berkaitan di waktu-waktu sebelumnya. Jika keadaan saat ini mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dahulu, janganlah berpikir untuk menciptakan sebuah tombol ‘Undo’ dalam diri kita. Jika kita mau buka mata, ada banyak kesempatan baru yang membentang (bukan kesempatan kedua). Buka buku alamat lama, dan coba kontak teman-teman lama. Bagi Anda yang rajin membuat catatan harian, membacanya kembali sering memberikan ide-ide baru yang segar. Bahkan mungkin ada beberapa catatan mengenai beberapa ide lama yang tertunda atau belum sempat diwujudkan. Siapa tahu, sekarang saat yang tepat untuk memulainya. Who knows?

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: ,

Di Balik Secangkir Kopi

21 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kopi adalah sarana kebersamaan yang paling efektif untuk masyarakat kita. Mulai dari warung kopi kaki lima di pelosok kampung sampai dengan cafe di hotel berbintang metropolitan. Pada saat minum kopi, segala pembicaraan akrab selalu terjadi. Perbincangan warung kopi antar rakyat kebanyakan, sampai deal-deal dan lobby-lobby tingkat tinggi di cafe seringkali diselingi minum kopi. Sehingga kopipun bisa dianggap sebagai pengikat hubungan yang unik, meskipun tampil dalam wadah yang berbeda dengan range harga yang sangat besar perbedaannya.

Secangkir kopi tubruk di warung kopi kaki lima harganya sangat jauh bila dibandingkan dengan kopi yang sama yang di jual di cafe. Kopi tubruk di warung hanya seharga seribu lima ratus rupiah, sedangkan untuk kopi yang benama sama di sebuah cafe yang pernah dinikmati teman saya, harganya sembilan belas ribu rupiah tidak termasuk pajak. Tetapi nilai yang disandangnya sama. Teman saya waktu menghirup kopi tersebut sedang berbincang seru mengenai liga Inggris. Pak Amat, tukang yang bekerja membetulkan atap bocor di rumah saya juga membicarakan topik yang sama sore itu di warung kopi langganannya. Tapi Pak Amat pasti bingung kalau melihat nama-nama jenis minuman berkafein itu di daftar menu cafe (kalau ia sempat ke sana), apalagi kalau sampai tahu harganya.

Tapi saya tidak bermaksud membahas tentang sisi sosial kopi, ataupun sejarah keberadaannya. Yang saya lihat bahwa minuman kopi mempunyai kedalaman arti yang bisa kita hayati. Pertama, karena kopi bisa menjadi teman dari berbagai kalangan, kitapun bisa menghayati peran yang sama. Bergaul dengan berbagai kalangan, berbicara tentang topik sederhana bersama tukang siomay yang sering lewat depan rumah, atau diruang meeting yang dingin dengan board of director yang sedang kita yakinkan dengan presentasi kita. Kita gunakan bahasa ‘kopi tubruk’ jika kita ngobrol dengan Bang Udin sang tukang siomay. Sedangkan dengan Pak Eric, kita pakai bahasa ‘cafe-latte’. Deal dengan Bang Udin akan senilai dua ribu lima ratus, sedangkan dengan Pak Eric dua ratus lima puluh juta.

Kedua, kenikmatan kopi akan tumbuh bersama dengan strata sosial kita. Saat masih bekerja sebagai staff lapangan, setiap pagi, saya selalu sarapan dengan kopi yang dibuatkan ibu warung depan kantor dan sepotong roti bakar. Ketika menanjak menjadi supervisor yang duduk dibelakang meja, sarapan saya jadi kopi instan three in one satu sachet dan roti keju. Saat itu, kopi ibu warung mulai terasa agak pahit. Meningkat lagi, ketika saya sudah mampu masuk ke cafe (walaupun jarang-jarang), kopi instan sekarang jadi terlalu manis rasanya. Kesimpulannya, semakin strata sosial kita meningkat, kenikmatan akan semakin mahal harganya.

Dengan klien, saya juga sering memberi istilah ‘nikmati secangkir kopi’ untuk menggambarkan, bahwa jika ia menggunakan jasa saya, maka ia akan punya waktu untuk bersantai. Seperti saat ini, saat saya sedang menangani klien saya, seorang Bapak yang memiliki bisnis percetakan yang cukup besar tetapi masih tidak dapat meninggalkan pekerjaannya untuk menikmati hari tuanya. Saya katakan padanya ‘Bapak, nikmatilah secangkir kopi setiap pagi, dan biarkan staff Bapak bekerja dengan kepercayaan dan aturan yang jelas.’ Jawaban yang saya peroleh, ‘Pak, saya tidak bisa menikmati kopi sejak beberapa tahun silam, saya diabetes….’

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,