Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca sepintas sebuah buku yang baru diluncurkan. Isinya adalah bahasan mengenai pertanyaan-pertanyaan penting dalam kehidupan manusia. Awalnya saya hanya membolak-balik daftar isi saja. Namun akhirnya saya tertarik pada satu judul yang kira-kira berbunyi: ‘Apakah setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama dalam meraih kesuksesan’. Di dalam jawabanya, sang penulis membagi dua kelompok pendapat. Pertama adalah jawaban dari para motivator, para mentor MLM dan pembicara seminar lain yang mengatakan bahwa setiap orang pasti punya kesempatan yang sama dalam meraih kesuksesan. Kedua, adalah kelompok orang yang menjawab sebaliknya.
Dengan tegas, penulis menyatakan dirinya termasuk kelompok kedua. Dengan argumentasi yang tampak meyakinkan, ia bahkan mengritik sebuah buku lainnya yang berisi pedoman bagaimana mendidik setiap anak untuk menjadi berkualitas. Penulis menyatakan setiap orang berbeda-beda dalam kesempatan untuk memperoleh kesuksesan. Intinya, seakan-akan setiaporang sudah ada gen bawaan yang menentukan hidupnya sukses atau tidak. Jadi kalau seseorang hanya bisa mencapai puncak karir sebagai seorang janitor (cleaning service), maka ia tidak akan bisa mencapai kesuksesan seorang multi-miliarder. Mungkin ia tidak pernah mengenal Anthony Robbins.
Berbeda dengan penulis, saya yakin bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk sukses. Saya sendiri tidak pernah ikut seminar motivasi ataupun MLM, jadi tidak tahu persis apa yang disampaikan di sana mengenai peluang untuk sukses. Menurut pemikiran saya, setiap orang selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan dalam setiap langkah hidupnya. Di dalam setiap pilihan selalu ada peluang untuk meraih kesuksesan mapun kegagalan.
Satu contoh, saya mengenal seorang teman yang dalam suatu titik hidupnya menghadapi pilihan yang cukup sulit untuk diputuskan, menikah atau menerima beasiswa. Kalau memilih menikah, maka ia harus menolak beasiswa S2 luar negeri yang telah lama diidam-idamkannya. Jika menerima, ia harus menunda pernikahannya, yang jelas akan menyulitkan banyak pihak. Pemikirannya saat itu, jika ia menerima beasiswa dan melanjutkan sekolah, sekembalinya ke tanah air, pasti karir hebat sudah menunggunya.
Akan tetapi, wanita calon istrinya sama sekali tidak tahu dilema yang dihadapinya, setiap saat menunjukkan sikap yang membuat teman saya ini jadi tidak tega. Seringkali sang calon istri suka menunjukkan sesuatu yang dibelinya untuk persiapan pernikahan. Bahkan suatu ketika, pernah pula ia tunjukkan jumlah tabungannya untuk menambah-nambah anggaran yang disiapkan untuk pesta. Setelah berpikir masak-masak, akhirnya teman saya itu memilih untuk menikah saja. Dengan posisinya di kantor hanya sebagai staf biasa, ia pasrah. Harapannya untuk naik posisi andaikata ia memperoleh gelar master, ia telan dalam-dalam.
Semula saya mengira, karirnya memang akan biasa-biasa saja, karena dengan birokrasi yang ada di kantornya, untuk naik posisi ia harus menyaingi sekian puluh staf lainnya yang tentu saja punya kemampuannya masing-masing, belum lagi termasuk para pengambil jalan pintas lewat ilmu kodok (tendang ke bawah dorong ke samping jilat ke atas). Nyatanya, selewat lima tahun, tanpa saya ketahui bagaimana ceritanya, ia sudah jadi wirausahawan yang penghasilannya mungkin jauh dari gaji yang ia incar di perusahaan sebelumnya. Nah, siapa bilang kesempatan untuk sukses tidak sama untuk setiap orang? Semuanya tergantung dari sikap orang tersebut, apakah mampu untuk melihat dan meraih kesempatan yang ada. Bukankah menurut orang bijak: Orang yang bernasib baik, yang tampak mudah sekali mendapatkan jalan untuk sukses sebetulnya hanyalah orang biasa yang melihat peluang dan menyiapkan diri dengan baik untuk meraihnya.
Lagipula, formula sukses setiap orang tidak sama. Ada pekerja sosial yang menempatkan suksesnya adalah dari jumlah anak jalanan yang berhasil ia didik di sekolah daruratnya. Ada broker yang titik suksesnya adalah jumlah ‘deal’ yang berhasil ia menangkan. Jadi, menurut saya, jangan terpengaruh formula sukses instan yang ditawarkan oleh buku-buku atau seminar-seminar. Tetapkan target kita sendiri dan yang paling penting: action (jangan cuma teori)!