World of Dytra

Di Balik Secangkir Kopi

21 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kopi adalah sarana kebersamaan yang paling efektif untuk masyarakat kita. Mulai dari warung kopi kaki lima di pelosok kampung sampai dengan cafe di hotel berbintang metropolitan. Pada saat minum kopi, segala pembicaraan akrab selalu terjadi. Perbincangan warung kopi antar rakyat kebanyakan, sampai deal-deal dan lobby-lobby tingkat tinggi di cafe seringkali diselingi minum kopi. Sehingga kopipun bisa dianggap sebagai pengikat hubungan yang unik, meskipun tampil dalam wadah yang berbeda dengan range harga yang sangat besar perbedaannya.

Secangkir kopi tubruk di warung kopi kaki lima harganya sangat jauh bila dibandingkan dengan kopi yang sama yang di jual di cafe. Kopi tubruk di warung hanya seharga seribu lima ratus rupiah, sedangkan untuk kopi yang benama sama di sebuah cafe yang pernah dinikmati teman saya, harganya sembilan belas ribu rupiah tidak termasuk pajak. Tetapi nilai yang disandangnya sama. Teman saya waktu menghirup kopi tersebut sedang berbincang seru mengenai liga Inggris. Pak Amat, tukang yang bekerja membetulkan atap bocor di rumah saya juga membicarakan topik yang sama sore itu di warung kopi langganannya. Tapi Pak Amat pasti bingung kalau melihat nama-nama jenis minuman berkafein itu di daftar menu cafe (kalau ia sempat ke sana), apalagi kalau sampai tahu harganya.

Tapi saya tidak bermaksud membahas tentang sisi sosial kopi, ataupun sejarah keberadaannya. Yang saya lihat bahwa minuman kopi mempunyai kedalaman arti yang bisa kita hayati. Pertama, karena kopi bisa menjadi teman dari berbagai kalangan, kitapun bisa menghayati peran yang sama. Bergaul dengan berbagai kalangan, berbicara tentang topik sederhana bersama tukang siomay yang sering lewat depan rumah, atau diruang meeting yang dingin dengan board of director yang sedang kita yakinkan dengan presentasi kita. Kita gunakan bahasa ‘kopi tubruk’ jika kita ngobrol dengan Bang Udin sang tukang siomay. Sedangkan dengan Pak Eric, kita pakai bahasa ‘cafe-latte’. Deal dengan Bang Udin akan senilai dua ribu lima ratus, sedangkan dengan Pak Eric dua ratus lima puluh juta.

Kedua, kenikmatan kopi akan tumbuh bersama dengan strata sosial kita. Saat masih bekerja sebagai staff lapangan, setiap pagi, saya selalu sarapan dengan kopi yang dibuatkan ibu warung depan kantor dan sepotong roti bakar. Ketika menanjak menjadi supervisor yang duduk dibelakang meja, sarapan saya jadi kopi instan three in one satu sachet dan roti keju. Saat itu, kopi ibu warung mulai terasa agak pahit. Meningkat lagi, ketika saya sudah mampu masuk ke cafe (walaupun jarang-jarang), kopi instan sekarang jadi terlalu manis rasanya. Kesimpulannya, semakin strata sosial kita meningkat, kenikmatan akan semakin mahal harganya.

Dengan klien, saya juga sering memberi istilah ‘nikmati secangkir kopi’ untuk menggambarkan, bahwa jika ia menggunakan jasa saya, maka ia akan punya waktu untuk bersantai. Seperti saat ini, saat saya sedang menangani klien saya, seorang Bapak yang memiliki bisnis percetakan yang cukup besar tetapi masih tidak dapat meninggalkan pekerjaannya untuk menikmati hari tuanya. Saya katakan padanya ‘Bapak, nikmatilah secangkir kopi setiap pagi, dan biarkan staff Bapak bekerja dengan kepercayaan dan aturan yang jelas.’ Jawaban yang saya peroleh, ‘Pak, saya tidak bisa menikmati kopi sejak beberapa tahun silam, saya diabetes….’

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar