World of Dytra

Masukan dari April 2008

Teman kecil yang teraniaya

25 April 2008 · 1 Komentar

Ada sesuatu yang menarik pagi ini di radio yang biasa saya dengar setiap pagi di mobil. Di situ, sang penyiar mengajak pendengar untuk mengingat teman lama, misalnya teman sekolah waktu SD, yang paling ingin kita temui. Saya tersenyum, karena agak sulit juga mengingat teman-teman SD dulu. Hampir semuanya sudah punah dari memori saya. Paling-paling yang masih saya ingat adalah Adrianto Gani, pimpinan Intimedia dan Wikimu. Dia teman sebangku waktu kelas dua SD, lalu pindah. Saya ingat kembali dia, karena istrinya teman SMA saya, dan kami tergabung dalam milis alumni SMA. Yang lainnya… hmm… memang susah untuk mengingat kembali.

Pikiran saya lalu melayang mundur lebih jauh lagi, ke jaman saya TK dulu. Saya hanya sekolah di TK selama setengah tahun, lalu dipindahkan ke kelas satu oleh orangtua saya. Sehingga, walaupun saya sudah bisa membaca sedikit sedikit (saya lupa bagaimana proses saya bisa membaca dalam waktu setengah tahun itu), saya sangat kesulitan waktu menulis. Saya coba untuk mengingat-ingat bentuk bangunan TK itu. Saya tidak mendapatkan gambaran penuh, mungkin karena masa itu adalah tahun tujuhpuluhan. Sudah lebih dari tiga puluh tahun lalu.

Yang saya ingat, kelas saya tidak berpintu. Ibu guru akan menggeser papan tulis untuk menutup bagian depan kelas, apabila semua murid sudah masuk. Papan tulis itu diletakkan di atas meja, sehingga bagian bawahnya dengan mudah bisa dilalui oleh kami, jika ingin ke toilet. Jika teman SD saja saya sudah hampir lupa semuanya, apalagi TK, yang cuma saya lalui setengah tahun. Ah tapi, pikiran saya terbentur pada sesosok anak laki-laki, yang rasanya waktu itu duduk tidak jauh dari saya.

Saya teringat pada anak itu, karena ada peristiwa yang membekas pada pikiran saya sampai saat ini. Saya sudah lupa total pada namanya, tapi wajahnya masih jelas. Ia anak yang sangat diam. Saya lupa, apakah dia pernah bicara atau tidak. Yang saya ingat persis adalah, di pelipis dekat telinganya tumbuh semacam daging kecil seperti kutil, sebesar kelingking anak kecil. Bajunya sangat kumal. Kami yang bersekolah di situ memang hampir semuanya anak miskin. Sekolah yang dikelola oleh sebuah yayasan agama Buddha itu terletak dalam gang dan memang termasuk sekolah menengah bawah sekali. Tetapi, meskipun demikian, semua murid berpakaian cukup rapi. Kecuali anak itu. Bajunya kumal, tipis seperti kelambu dengan warna yang bukan putih lagi. Rambutnya dicukur model pacul.

Ia selalu datang paling pagi. Saya tahu itu, karena suatu saat saya datang kepagian, ketika sekolah belum ada orang. Di kelas, anak itu sudah duduk sendirian tak bergerak di kursinya. Ia hanya tersenyum, satu-satunya senyum yang pernah terlihat di wajahnya. Aneh, saya tetap masih bisa mengingat wajahnya saat senyum itu mengembang, ketika ia melihat saya masuk kelas. Tetapi bukan senyum itu yang membuat sosoknya tertanam dalam pikiran saya.

Dalam kelas TK itu, ada cukup banyak murid. Barangkali ada tigapuluhan anak. Seingat saya, saya duduk diposisi yang agak di bagian belakang. Anak pendiam itu duduk agak ketengah di lajur sebelah kanan saya. Setiap hari, hampir semua anak yang duduk di sekitar dia selalu berteriak, “Bau!” Disertai dengan tonjokan pada punggungnya. Dimulai dari satu orang, lalu dilanjutkan oleh anak-anak lainnya. “Bak…! Buk…!” Suara pukulan bertubi-tubi yang mendarat dipunggungnya. Anak itu hanya diam, menundukkan kepala dan tak bersuara, tak meringis, tak menangis. Seakan memang dia pantas mendapat pukulan itu. Hampir setiap pagi, ia dipukuli. Yang paling menyakitkan buat saya adalah, saya tidak pernah bisa mengingat apakah saya pernah ikut memukulinya atau tidak.

Saya bukan termasuk anak yang agresif. Mengingat peristiwa yang terjadi hampir tiap hari di masa TK itu saja, membuat hati saya miris. Tetapi, waktu itu saya anak yang mudah ikut-ikutan. Ketika melihat anak-anak lain memukulinya, bisa jadi saya terbawa untuk ikut memukulinya. Ya Tuhan, saya sangat sedih memikirkannya. Ia yang dipukuli tanpa melawan, dan tak mengeluh, seakan seperti Kristus. Dan ada kemungkinan saya termasuk anak yang memukulinya juga. Dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya selalu berdoa dalam diam, semoga Tuhan, semoga waktu itu saya tidak memukulinya.

Hanya, ada satu hal yang saya ingat saat peristiwa itu terjadi. Suatu hari saya tidak tahan melihat dia dipukuli. Saya lalu berseru, “Kenapa sih dia dipukulin?” Lalu seorang anak perempuan menjawab, “Abis… dia bau!” Kalimat itulah yang setidaknya menjadi penghibur. Jika saya pernah membelanya, setidaknya itu berarti waktu itu saya tidak setuju dia dipukuli, jadi bisa berarti juga, saya tidak pernah ikut memukulinya. Tapi, ketika itu, protes saya tenggelam saja. Ia tetap dipukuli, ia tetap tidak melawan. Sampai saya keluar dari TK itu, pindah ke sekolah lain dan masuk kelas satu SD.

Mengingat peristiwa itu, saya seperti melihat ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke Pilatus. Lalu pagi-pagi itu, Pilatus membawa Yesus ke Gabata, di hadapan orang-orang Yahudi. Saat itu, semua orang yang hadir berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Jika saja saya hadir di situ, sebagai orang yang suka terbawa arus, saya rasa, saya akan ikut-ikutan berteriak. Atau, seperti peristiwa saat saya TK, saya berteriak memrotes, tetapi ketika tak ada tanggapan, saya lalu diam. Dan Yesus tetap di seret ke Golgota untuk disalibkan, untuk menggenapkan penebusanNya.

Ah, anak kecil, teman saya di TK yang teraniaya. Engkau mengingatkan saya pada Yesus. Kau tabah dipukuli, karena mungkin, sekolah sangat berarti bagimu. Engkau tetap masuk setiap hari. Engkau tetap datang paling pagi. Karena kau berkeyakinan untuk menggenapkan tugasmu di kelas TK itu. Entah dimana engkau sekarang, semoga Tuhan melindungimu dan engkau telah menjadi ‘seseorang’. Karena engkaulah, nurani saya tetap mengingatkan saya untuk memberi perhatian pada mereka yang teraniaya.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , ,

Keputusan

22 April 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Minggu ini adalah minggu yang sulit. Saya menghadapi beberapa masalah yang sungguh-sungguh tidak saja membebani pikiran, tetapi sudah menjalar ke perasaan. Persoalan tidak saja terjadi dalam pekerjaan tetapi juga bisnis yang sedang saya rintis. Dalam pekerjaan, yang cukup membebani saat ini adalah urusan implementasi pada satu client yang cukup menyulitkan. Ya, menyulitkan, karena ia selalu merasa sistem terpasangnya tidak beres-beres dan tidak ada kemajuan sama sekali. Padahal, ia tidak menyadari bahwa data yang diinput oleh stafnya yang sering tidak beres. Bahwa aplikasi yang ia pesan sudah selesai dibuat. Bahwa data yang dikejar mulai Januari sudah mencapai posisi sama dengan bulan berjalan. Tetapi memang karena pada dasarnya ia orang yang sulit, maka dimatanya segala sesuatu tidak beres. Parahnya, ia juga terhitung teman pribadi sehingga hubungan bisnis ini menjadi tidak enak suasananya, dan itu sangat membebani pikiran saya. Namun, keputusan saya tetap, harus memberikan pelayanan yang terbaik apapun yang terjadi.

Kedua adalah urusan nasib orang. Ada satu pegawai masa percobaan yang sudah bekerja selama hampir dua bulan. Tetapi sampai saat ini tidak ada kemajuan berarti dan kelihatannya ia kesulitan untuk mengikuti irama kerja perusahaan kami yang sebetulnya tidak berat-berat amat. Akibatnya, rekan saya yang lain meminta saya untuk ambil keputusan agar ia diberhentikan dalam kapasitasnya sebagai karyawan masa percobaan. Saya bukan tipe orang yang mudah saja untuk membelokkan nasib seseorang dari yang punya pekerjaan menjadi pengangguran. Terlebih, ia sebenarnya orang yang baik dan santun. Tetapi keputusan manajemen memang harus diambil. Dan itu sah. Saya tak tega, saya yang menerimanya, maka saya yang harus bertanggungjawab untuk berbicara dengannya. Tetapi sebelum saya menyampaikan kabar buruk kepadanya, saya berusaha mencarikan pekerjaan ditempat lain. Untunglah, ada dua tempat yang memberi kesempatan padanya untuk melamar.

Hal ketiga adalah urusan bisnis yang sedang saya rintis. Sebetulnya, bisnis ini saya siapkan agar dalam hitungan waktu tertentu saya akan mencapai kebebasan finansial. Di atas kertas, ini valid. Tetapi ketika saya sudah mulai memetik hasil yang ternyata lebih besar dari penghasilan tetap saya di perusahaan ini, keadaan berubah. Banyak masalah yang menyebabkan buah yang seharusnya saya petik, ternyata terhambat. Karena bisnis ini dijalankan di luar kota, maka terpaksalah istri saya harus berangkat ke sana untuk membereskan masalah itu. Dan sungguh, ketika kemudian kami ketahui bahwa terjadi mismanajemen pada orang yang menjalankan investasi kami, sebuah keputusan berat terpaksa harus dilakukan. Investasi akan kami pindahkan ke orang yang lebih mampu mengelolanya. Artinya, kami harus memulai kembali proses investasi ini untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit lagi perputaran modal di sana. Namun, yang menyulitkan juga, pengelola bisnis ini adalah saudara kami, dan bisnis ini juga akan dialihkan ke dalam lingkup keluarga juga.

Kadangkala saya berpikir bahwa saya bukan orang yang cukup tegas dalam mengambil keputusan, karena kerap tercampuri oleh urusan perasaan. Saya pikir, mungkin para pengambil keputusan puncak di perusahaan-perusahaan raksasa tentu sangat efisien, tidak bertele-tele seperti saya apabila hendak memutuskan sesuatu, apalagi dalam hal yang menyangkut kelangsungan perusahaan. Tetapi, saya juga bertanya-tanya, jika dalam mengambil keputusan yang menyangkut nasib orang, hati nurani saya menjerit-jerit, apakah itu berarti bahwa saya lebih berpegang pada hal ihwal kemanusiaan dan tidak pada urusan pragmatis? Kelihatannya memang saya lebih bisa mengemudikan sebuah kapal ikan daripada menjadi nahkoda sebuah tanker raksasa.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , ,