Ada sesuatu yang menarik pagi ini di radio yang biasa saya dengar setiap pagi di mobil. Di situ, sang penyiar mengajak pendengar untuk mengingat teman lama, misalnya teman sekolah waktu SD, yang paling ingin kita temui. Saya tersenyum, karena agak sulit juga mengingat teman-teman SD dulu. Hampir semuanya sudah punah dari memori saya. Paling-paling yang masih saya ingat adalah Adrianto Gani, pimpinan Intimedia dan Wikimu. Dia teman sebangku waktu kelas dua SD, lalu pindah. Saya ingat kembali dia, karena istrinya teman SMA saya, dan kami tergabung dalam milis alumni SMA. Yang lainnya… hmm… memang susah untuk mengingat kembali.
Pikiran saya lalu melayang mundur lebih jauh lagi, ke jaman saya TK dulu. Saya hanya sekolah di TK selama setengah tahun, lalu dipindahkan ke kelas satu oleh orangtua saya. Sehingga, walaupun saya sudah bisa membaca sedikit sedikit (saya lupa bagaimana proses saya bisa membaca dalam waktu setengah tahun itu), saya sangat kesulitan waktu menulis. Saya coba untuk mengingat-ingat bentuk bangunan TK itu. Saya tidak mendapatkan gambaran penuh, mungkin karena masa itu adalah tahun tujuhpuluhan. Sudah lebih dari tiga puluh tahun lalu.
Yang saya ingat, kelas saya tidak berpintu. Ibu guru akan menggeser papan tulis untuk menutup bagian depan kelas, apabila semua murid sudah masuk. Papan tulis itu diletakkan di atas meja, sehingga bagian bawahnya dengan mudah bisa dilalui oleh kami, jika ingin ke toilet. Jika teman SD saja saya sudah hampir lupa semuanya, apalagi TK, yang cuma saya lalui setengah tahun. Ah tapi, pikiran saya terbentur pada sesosok anak laki-laki, yang rasanya waktu itu duduk tidak jauh dari saya.
Saya teringat pada anak itu, karena ada peristiwa yang membekas pada pikiran saya sampai saat ini. Saya sudah lupa total pada namanya, tapi wajahnya masih jelas. Ia anak yang sangat diam. Saya lupa, apakah dia pernah bicara atau tidak. Yang saya ingat persis adalah, di pelipis dekat telinganya tumbuh semacam daging kecil seperti kutil, sebesar kelingking anak kecil. Bajunya sangat kumal. Kami yang bersekolah di situ memang hampir semuanya anak miskin. Sekolah yang dikelola oleh sebuah yayasan agama Buddha itu terletak dalam gang dan memang termasuk sekolah menengah bawah sekali. Tetapi, meskipun demikian, semua murid berpakaian cukup rapi. Kecuali anak itu. Bajunya kumal, tipis seperti kelambu dengan warna yang bukan putih lagi. Rambutnya dicukur model pacul.
Ia selalu datang paling pagi. Saya tahu itu, karena suatu saat saya datang kepagian, ketika sekolah belum ada orang. Di kelas, anak itu sudah duduk sendirian tak bergerak di kursinya. Ia hanya tersenyum, satu-satunya senyum yang pernah terlihat di wajahnya. Aneh, saya tetap masih bisa mengingat wajahnya saat senyum itu mengembang, ketika ia melihat saya masuk kelas. Tetapi bukan senyum itu yang membuat sosoknya tertanam dalam pikiran saya.
Dalam kelas TK itu, ada cukup banyak murid. Barangkali ada tigapuluhan anak. Seingat saya, saya duduk diposisi yang agak di bagian belakang. Anak pendiam itu duduk agak ketengah di lajur sebelah kanan saya. Setiap hari, hampir semua anak yang duduk di sekitar dia selalu berteriak, “Bau!” Disertai dengan tonjokan pada punggungnya. Dimulai dari satu orang, lalu dilanjutkan oleh anak-anak lainnya. “Bak…! Buk…!” Suara pukulan bertubi-tubi yang mendarat dipunggungnya. Anak itu hanya diam, menundukkan kepala dan tak bersuara, tak meringis, tak menangis. Seakan memang dia pantas mendapat pukulan itu. Hampir setiap pagi, ia dipukuli. Yang paling menyakitkan buat saya adalah, saya tidak pernah bisa mengingat apakah saya pernah ikut memukulinya atau tidak.
Saya bukan termasuk anak yang agresif. Mengingat peristiwa yang terjadi hampir tiap hari di masa TK itu saja, membuat hati saya miris. Tetapi, waktu itu saya anak yang mudah ikut-ikutan. Ketika melihat anak-anak lain memukulinya, bisa jadi saya terbawa untuk ikut memukulinya. Ya Tuhan, saya sangat sedih memikirkannya. Ia yang dipukuli tanpa melawan, dan tak mengeluh, seakan seperti Kristus. Dan ada kemungkinan saya termasuk anak yang memukulinya juga. Dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya selalu berdoa dalam diam, semoga Tuhan, semoga waktu itu saya tidak memukulinya.
Hanya, ada satu hal yang saya ingat saat peristiwa itu terjadi. Suatu hari saya tidak tahan melihat dia dipukuli. Saya lalu berseru, “Kenapa sih dia dipukulin?” Lalu seorang anak perempuan menjawab, “Abis… dia bau!” Kalimat itulah yang setidaknya menjadi penghibur. Jika saya pernah membelanya, setidaknya itu berarti waktu itu saya tidak setuju dia dipukuli, jadi bisa berarti juga, saya tidak pernah ikut memukulinya. Tapi, ketika itu, protes saya tenggelam saja. Ia tetap dipukuli, ia tetap tidak melawan. Sampai saya keluar dari TK itu, pindah ke sekolah lain dan masuk kelas satu SD.
Mengingat peristiwa itu, saya seperti melihat ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke Pilatus. Lalu pagi-pagi itu, Pilatus membawa Yesus ke Gabata, di hadapan orang-orang Yahudi. Saat itu, semua orang yang hadir berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Jika saja saya hadir di situ, sebagai orang yang suka terbawa arus, saya rasa, saya akan ikut-ikutan berteriak. Atau, seperti peristiwa saat saya TK, saya berteriak memrotes, tetapi ketika tak ada tanggapan, saya lalu diam. Dan Yesus tetap di seret ke Golgota untuk disalibkan, untuk menggenapkan penebusanNya.
Ah, anak kecil, teman saya di TK yang teraniaya. Engkau mengingatkan saya pada Yesus. Kau tabah dipukuli, karena mungkin, sekolah sangat berarti bagimu. Engkau tetap masuk setiap hari. Engkau tetap datang paling pagi. Karena kau berkeyakinan untuk menggenapkan tugasmu di kelas TK itu. Entah dimana engkau sekarang, semoga Tuhan melindungimu dan engkau telah menjadi ‘seseorang’. Karena engkaulah, nurani saya tetap mengingatkan saya untuk memberi perhatian pada mereka yang teraniaya.