World of Dytra

Masukan dari Juli 2008

Fokus dan Multiplikasi

24 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kadang-kadang, sebuah gagasan bisa muncul dari keadaan terpepet. Hal ini saya alami, ketika tahun 2006, bisnis kami terpuruk. Yang terjadi adalah karena produk jasa yang kami tawarkan terlalu luas. Ibarat kontraktor, kami bisa membangun mulai dari gedung pencakar langit, bangunal mall, rumah tinggal, ruko, pasar dan sebagainya. Di tahun 2005, cara ini luar biasa, mampu menaikkan omzet kami mencapai tiga kali lipat. Awalnya memang tampak hebat. Dengan beberapa proyek bernilai ratusan juta, maka dengan down payment nya saja, kami bisa menyusun team developer dan survive selama tiga bulan. Namun apa yang terjadi, ketika progress yang ada masih belum mencapai milestone sehingga bisa ditagih, persediaan cashflow sudah menipis. Disaat bersamaan, proyek baru masuk lagi, maka terpaksa penambahan resource harus dilakukan. Semakin waktu berjalan, semakin berat cashflow yang harus diatur. Ketika tiba di tahun 2006, sebagian proyek sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Akhirnya, dengan sangat berat hati, kami harus closing beberapa proyek. Pertama, karena milestone sudah meleset jauh, kedua, project management kami, harus diakui, juga berantakan.

Disaat genting seperti itu, kami melihat, bahwa salah satu client kami yang memiliki jaringan toko pakaian, hampir setiap bulan selalu melakukan pembelian license baru untuk tokonya. Walaupun nilainya relatif kecil, tetapi itu merupakan suatu suntikan dana yang cukup segar untuk keadaan kami saat itu. Kami perhatikan, bahwa tanpa repot dengan project management, tanpa budgeting, tanpa menunggu pencapaian milestone, kami selalu menerima uang tunai sesuai jumlah license yang dibeli. Saat itulah, saya memikirkan sebuah gagasan. Jika kita fokus dengan type client yang seperti ini, pasti keuangan tidak akan seberat ini jadinya.

Mulailah saya merumuskan fokus baru bisnis kami, yaitu pada memberikan solusi pada bisnis ritel dan resto. Setelah mendiskusikan hal ini dengan partner yang lain, dan mempertimbangkan produk kami untuk solusi tersebut, saya yakin konsep ini bisa jalan. Saya lalu sounding dengan team marketing. Hal ini disambut gembira, karena mempermudah mereka untuk memasarkan produk, karena range nya tidak terlalu luas lagi. Team technical support pun juga merasa lebih ringan bebannya. Dan dengan produk yang terarah, kami juga tidak perlu punya terlalu banyak resource untuk developer. Dengan kata lain, kami lebih bisa menghemat cashflow.

Perlahan, konsep ini mulai menunjukkan hasil. Tahun 2007 merupakan tahun pemulihan, saat itu kami sudah mulai bisa menutupi semua bolong-bolong yang terjadi di tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 ini merupakan tahun pengembangan. Semakin berkembangnya gagasan ini juga merupakan berkah tersendiri. Kami mulai dilirik oleh vendor-vendor besar (Epson, Intel dan IBM) untuk mesin POS yang merupakan tandem bagi solusi kami yang berfokus pada bisnis retail dan resto. IBM memberikan komitmen besar dengan menyediakan produk yang bisa dipaket (bundling) dengan produk kami. Intel juga memberikan dukungan hardware server dan mencetakkan brosur produk dan testimony untuk kami.

Dengan menggeser fokus bisnis kami, saya juga menyadari, bahwa kami juga menerapkan multiplikasi, suatu konsep yang menarik dan sering dibahas dari pakar ekonomi, fisika, biologi dan para penggagas bisnis. Efek multiplikasi ini sangat luar biasa. Kalau dari sudut pandang kami, yang terjadi adalah seperti ini: karena kami menjaual produk untuk toko ritel dan resto, maka jika bisnis client kami ini berkembang, maka tentu mereka akan membuka cabang di lokasi baru. Semakin banyak mereka membuka cabang maka tentu produk kami akan semakin banyak digunakan. Bahkan terkadang dalam satu deal kami langsung disodori untuk implementasi di banyak cabang sekaligus. Ini adalah efek multiplikasi ala kami.

Secara bercanda, kadang-kadang saya suka berkata, bahwa bisnis dengan fokus ini akan terberkati. Mengapa? Karena kita selalu mendoakan agar bisnis client kita semakin berkembang dan semakin banyak membuka cabang, sehingga mereka juga akan semakin banyak memakai produk kita. Jadi berkat bagi mereka juga akan menjadi berkat bagi kami.

Memang, fokus adalah sesuatu yang sangat penting dalam bisnis. Karena dengan fokus, kita akan semakin spesialis dan semakin ahli dalam bidang yang kita tekuni, sehingga lambat laun, kita menjadi identik dengan service yang menjadi produk yang kita jual ini. Dan fokus akan semakin kuat dengan memanfaatkan efek multiplikasi. Mudah-mudahan pengalaman ini bisa menjadi tips untuk rekan-rekan yang lain.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , ,

Dualisme Profesi

15 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pernahkah Anda terpikir untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara dualisme? Maksud saya adalah, mungkin setiap hari Anda menjalani rutinitas pekerja kantoran, tetapi pada waktu luang sore hari atau weekend, Anda menjalani profesi yang berbeda. Sebuah sitcom lama di RCTI, My Two Dads, memperlihatkan tokoh Judge, seorang ibu hakim pengadilan, yang juga mengelola sebuah rumah makan Judge Court. Atau salah satu episode Ally McBeal (pembelaan: saya bukan penggemar sitcom ini, tetapi hanya melihat selintas saja), dimana pernah diperkenalkan seorang District Attorney yang memiliki sebuah café sebagai bagian lain dari profesi utamanya. Sedangkan, dalam dunia nyata,  Tompi adalah seseorang yang sukses mengelola dua profesinya, sebagai dokter dan penyanyi.

Profesi ganda yang tidak saling berhubungan belakangan ini banyak dijalankan oleh para professional perkotaan. Ada yang setiap harinya bekerja sebagai eksekutif keuangan, saat weekend menjadi therapis spiritual. Ada juga seorang manajer logistik perusahaan multinasional, di malam hari menjadi pemain saxophone di sebuah lounge hotel. Bagi sebagian mereka yang menjalaninya, ini adalah semacam escape zone, sebuah wilayah tempat melepas semua rutinitas yang kadang kala menyebabkan rasa jenuh dan bahkan depresi. Ada pula yang menjalaninya karena memang butuh penghasilan tambahan. Sebuah artikel mengomentari mengenai dua profesi pada satu orang ini sebagai fenomena menarik, yang bahkan bila ditekuni, profesi sampingan malah bisa menjadi yang utama jika memang memberikan kepuasan batin dan penghasilan yang memadai.

Dualisme profesi berbeda dengan nyambi berbisnis yang mulai banyak juga dijalankan oleh karyawan kantoran. Kalau Anda cermati lingkungan kerja Anda, mungkin akan mudah menjumpai ibu-ibu kantor yang suka membawa setumpuk pakaian dalam kantong kresek yang ditawarkan ke teman-temannya, baik secara kredit maupun secara arisan. Atau, ada juga teman sejawat yang menjadi agen asuransi atau MLM yang hampir setiap waktu istirahat selalu sibuk menawarkan produknya. Profesi kedua tidak bersifat hanya mencari untung sesaat saja. Ia lebih bersifat sebagai sesuatu yang juga layak ditekuni, yang bisa memberikan feedback yang memuaskan. Dan yang penting, profesi ini dapat dikembangkan lebih baik lagi, karena ia bisa berbeda secara total dengan profesi utama yang mungkin sudah mencapai titik jenuhnya. Bandingkan antara seorang akuntan yang juga punya sampingan sebagai web designer, dengan seorang akuntan yang punya sampingan mengerjakan laporan keuangan perusahaan lainnya di waktu luang. Sang web designer punya kesempatan untuk mengembangkan lebih jauh kemampuan dan lingkup pekerjaannya. Sedangkan akuntan kedua, mungkin suatu saat akan menjadi muak dengan angka-angka yang harus dipelototinya setiap hari, setiap saat dari hari kerja sampai waktu liburnya.

Menariknya, jika Anda adalah seorang “E” dalam kuadran Kiyosaki, maka profesi kedua ini bisa digolongkan sebagai “S” (lihat tulisan Bisnis Sampingan). Dan barangkali bisa juga profesi “S” ini suatu saat akan membawa Anda ke posisi “B” atau bahkan “I”. Di posisi sebagai self employee ini, kita bebas untuk menentukan segala sesuatunya, tidak seperti dalam sebuah perusahaan formal. Kita mungkin akan menjadi lebih kreatif karena kebebasan berpikir tidak dikekang, sehingga lebih mudah untuk think out of the box. Mirip seperti proses menabur dan menuai, dengan profesi kedua ini, kita sudah mulai menabur dan bersiaplah, karena ketika saat menuai tiba, kepuasan yang kita peroleh akan terasa berbeda dengan pencapaian-pencapaian rutin. Kita juga telah meletakkan “telur” lainnya dalam “keranjang yang berbeda”. Sehingga jika suatu saat, ketika pekerjaan utama kita sudah tidak menjanjikan, atau mungkin karena suatu hal kita harus menerima kenyataan pahit, exit plan sudah tersedia dan tinggal dikembangkan.

(Tulisan ini telah diterbitkan di wikimu.com pada tanggal 17 September 2008)

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,

Ketoprak vs. Catering

14 Juli 2008 · & Komentar

Setahun sebelum saya masuk kuliah di STMIK BiNus, saya mulai mengenal dunia kerja. Waktu itu, tahun 1988, saya memang butuh uang untuk mendaftar kuliah lagi, setelah berhenti kuliah di UGM, Yogya karena kesulitan keuangan keluarga. Jadi kalau saya mau kuliah lagi, ya harus cari uang untuk mendaftar dan bayar uang semesternya. Saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor Hankam yang berlokasi di Tebet. Pekerjaan saya adalah operator computer, yang membantu membuat tabel-tabel yang isinya tidak saya mengerti. Para insinyur sipil disitu tinggal memberikan coret-coretannya dan saya harus mewujudkannya dalam bentuk tabel dengan perangkat lunak paling top saat itu: Lotus 123.

Atasan langsung saya seorang insinyur sipil yang baik tapi agak cuek. Namanya Pak Andre, asli Surabaya. Kalau dia datang, kita yang diruangan itu semua tahu, karena bunyi icring-icring seabreg kunci yang digantung di tali pinggangnya. Pak Andre sendiri jarang menggunakan jasa saya untuk bikin tabel. Yang sering justru Pak Achyar, seorang insinyur juga yang ramah dan baik hati. Dan seperti di semua kantor, pasti ada yang menjadi public enemy. Yang ini namanya Mas Edi. Meskipun tidak terlalu menyebalkan, tetapi dia agak-agak kesal dengan saya karena dalam melaksanakan tugas, saya sering bertanya padanya yang mantan guru STM itu. Dia mempermasalahkan hal itu karena dianggapnya cukup mengganggu tugasnya sebagai drafter. Tapi saya tidak perduli-perduli amat dengan kesebalannya pada saya. Selain tiga orang yang sebutkan, masih ada beberapa lagi yang cukup ramah dan helpful. Maklumlah, waktu itu umur saya belum genap 19 tahun. Ditambah lagi, di zaman itu, keterampilan berkomputer adalah asset yang cukup dihargai. Jadilah mereka agak-agak respek pada saya.

Big Boss di perusahaan itu adalah seorang galak bernama Pak Agus. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Pertama, karena dia jarang muncul di kantor, kedua, saya cuma pegawai rendahan yang tidak ada hubungan pekerjaan dengannya, ketiga, saya juga selalu takut mendengar suara galaknya memarahi stafnya. Selama bekerja disana, saya hanya sekali berpapasan dengannya ditangga. Ketika itu ia sedang turun dan saya mau naik. Saya buru-buru merapat ke dinding untuk memberinya jalan. Dan seperti bos-bos umumnya, jangankan tersenyum, melirik sayapun tidak. Selain itu, ada Pak Anton, sang manajer kantor. Modelnya khas bapak-bapak di era 80-an. Lingkup pekerjaan Pak Anton cukup luas, dari mengatur bagian umum (para sopir dan messenger), personalia, keuangan kantor dan pekerjaan lain-lain yang tidak mau disentuh oleh para insinyur di situ.

Salary saya setiap bulan sebesar seratus tujuh puluh lima ribu. Saya tidak tahu berapa nilai itu di zaman sekarang. Tetapi dengan uang sejumlah itu, saya bisa menabung untuk mempersiapkan uang kuliah, untuk ongkos dan sedikit saya sisihkan untuk keluarga. Untuk sarapan, cukup teh manis, makan malam seadanya di rumah. Nah, kendalanya adalah dana makan siang yang terbatas. Ketika hari pertama masuk dan belum punya gaji, saya cuma punya uang pas-pasan sisa-sisa tabungan saya dahulu waktu saya mengajar les privat untuk anak-anak SMP (dan SMA di sebuah bimbel). Setelah saya cek di warteg terdekat, budget saya tidak mencukupi. Akhirnya saya menemukan tukang ketoprak. Waktu itu, seporsi harganya tiga ratus rupiah. Pas dengan budget! Walhasil, setiap hari, menu makan siang saya sudah tetap. Pak! Ketoprak, cabe dua ya!

Suatu hari, seminggu kemudian, ketika saya duduk di bangku papan panjang sambil menikmati makanan terlezat di level harga tiga ratus rupiah, tiba-tiba Pak Anton sudah berdiri di sebelah saya. “Mari Pak, makan.” Sapa saya. Pak Anton mengangguk tersenyum, kemudian berlalu. Esoknya, jam yang sama, menu yang sama, “Mari Pak, makan.” Sama dengan kemarin, Pak Anton mengangguk, tersenyum, dan berlalu. Esoknya lagi demikian. Setelah empat hari, kelihatannya Pak Anton tertarik dengan menu saya.

“Ketoprak lagi, Rud?”

“Ya Pak.”

“Enak?” Pak Anton mengernyitkan alisnya.

“Iya…” Saya menjawab ragu-ragu.

Kelihatannya Pak Anton mengerti posisi saya. Dia tahu persis bahwa memang keuangan saya pas-pasan, bukannya saya doyan ketoprak. Setelah beberapa menit memandangi saya yang mulai kesulitan menelan, ia berkata, “Rud, mulai besok catering aja ya.”

Saya tercekat. Bagaimana membayarnya? Seakan mengetahui pertanyaan dalam pikiran saya, Pak Anton melanjutkan, “Nanti dibayarkan kantor.” Ah, leganya. Tak perlua digambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Yang pasti, gizi akan membaik, dan saya juga merasa bangga, karena yang dapat catering itu hanya para insinyur saja. Esoknya, Pak Anton benar-benar memesankan saya catering. Kotak plastik bundar di hadapan saya buka perlahan-lahan ketika hari itu saya duduk bersama staf senior di ruang makan. Saya sudah lupa isi kotak perdana itu. Tetapi, hal itu sangat membekas dalam pikiran saya sampai saat ini. Bahwa, saya merasa begitu berarti ketika dalam masa-masa sulit, ada seorang atasan yang punya perhatian pada saya.

Kategori: nostalgia
Ditandai: , , ,

Bisnis Sampingan

3 Juli 2008 · 1 Komentar

Kebanyakan dari kita, apabila bekerja sebagai pegawai kantoran, hampir pasti menjalankan rutinitas yang sama. Bekerja sebulan, terima gaji, sebagian habis untuk biaya, sebagian lagi tabungan. Kalaupun ada bonus, biasanya dihabiskan untuk sesuatu yang lama diimpikan, seperti pergi berlibur, mengganti mobil, renovasi rumah dan sebagainya. Sedangkan tabungan, biasanya akan dikeluarkan pada suatu saat untuk alasan yang sama, atau bisa jadi untuk sesuatu yang sifatnya darurat seperti menambah bayaran sekolah anak, atau bahkan untuk biaya berobat (makanya, jaga kesehatan itu penting sekali!). Namun, pernahkah ada yang berpikir, bahwa bonus atau tabungan, merupakan sebuah potensi yang bisa kita kembangkan menjadi investasi.

Saya yakin, banyak yang pernah mendengar nama Robert T. Kiyosaki. Bukunya tentang ayah kaya dan ayah miskinnya sempat menjadi best seller. Sebenarnya, secara pribadi, saya tidak terlalu tertarik dengan bukunya, tetapi karena penasaran, akhirnya saya beli juga. Hal penting yang saya tarik dari tulisannya adalah bagaimana kita harus berpindah kwadran sumber penghasilan kita. Apabila saat ini kita masih di posisi “E” (employee) sebagai karyawan, tahap berikutnya adalah pindah ke “S” (self employee) yaitu bekerja sendiri secara independent (jadi BO nya MLM mungkin termasuk di sini). Selanjutnya ada tahap “B” (businessman), dimana kita sudah punya usaha dan orang-orang yang bekerja di sana, tapi kita juga masih ikut terlibat. Yang terakhir adalah “I” (investor). Nah, menurut Pak Robert tadi, posisi inilah yang terbaik, dimana kita hanya menanam modal, lalu modal itu yang bekerja untuk kita memberi penghasilan pasif. Artinya, nganggur tapi duit datang terus sendiri. Untuk itu, kita harus memperbanyak asset yang dapat menghasilkan uang secara kontinyu dan stabil. Karena, menurut Pak Robert, kekayaan bukan dinilai dari value, tetapi dari waktu. Artinya, kalau kita bisa mencukupi hidup kita secara layak (menurut ukuran kita), selama mungkin, bekerja ataupun tidak, itu baru bisa disebut kaya.

Bagus memang pelajaran itu. Setidaknya filosofi encek-encek yang bilang lebih baik punya usaha sendiri meskipun kecil-kecilan daripada kerja sama orang lain, sedikit banyak klop dengan gagasan di atas. Hanya biasanya encek-encek suka lupa, sudah tua tetap mau pegang bisnisnya sendiri, jadi dia sampai almarhum tetap di posisi “B” saja.

Kalau bercermin pada diri sendiri, saat ini saya ada di poisi “B” juga. Masih ikut ramai-ramai di kantor, masih ikut pusing kalau jualan sepi, masih ikut prihatin kalau cashflow macet. Bahkan kadang-kadang, masih ikut coding. Tapi, benar kata Kiyosaki, bagaimanapun kita harus berpindah ke “I”. Pertimbangan saya, setelah capek-capek bekerja keras membangun usaha, tentunya harus ada waktu untuk menikmatinya. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita bisa mulai melepaskan usaha yang sudah jalan ini ke tangan professional, namun tetap bisa kita monitor. Selain itu, karena saya suka tidak percaya suatu usaha bisa terus menerus stabil memberi hasil, maka filosofi China kuno, yang bilang “jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang” selalu menjadi pedoman saya.

Di posisi “B” ini, usaha saya bersama tiga orang partner lainnya saat ini memang sudah cukup stabil, dalam artian bisa memberi gajian tepat waktu kepada karyawan, dan bisa kita ambil sedikit-sedikit untuk keperluan sendiri. Karena mengikuti prinsip telur tadi, saya secara pribadi juga mencari keranjang-keranjang lainnya. Jadi ada bisnis sampingan pribadi juga. Jadilah saya punya investasi di daerah asal istri saya, juga ada usaha supply snack ke beberapa toko, supply keperluan pesta ultah anak-anak dan sebagainya. Semuanya serba kecil-kecil. Tetapi, saya percaya, seperti benih, nantinya mungkin ada yang layu karena kurang air, tetapi ada juga yang tumbuh besar dan berbuah banyak.

Jadi, yang penting adalah jika ada peluang, tebarlah benih, meskipun sedikit dan kecil. Dan sekali kita menebar, seperti tanaman, tentu harus kita pelihara dengan baik. Maksud dari memelihara dengan baik adalah, kita harus belajar mengelola bisnis baru ini, kita mencari relasi agar ia semakin besar, kita harus menyuntikkan modal jika memang diperlukan, dan juga kita harus berani menghadapi resiko, jika memang bisnis ini pada akhirnya bisa saja tidak berkembang, bahkan merugi dan mati. Namun, percayalah, pada saatnya nanti, diantara yang kita tabur, tentu ada yang berkembang, bahkan mungkin bisa menjadi penghasilan utama kita, dan bahkan bisa membuat kita di posisi “I”.

Biasanya memang, ketakutan yang utama dari orang-orang yang terbiasa bekerja dan punya penghasilan rutin adalah keluar dari zona kenyamanan. Tiap bulan penghasilan sudah cukup, ngapain mesti susah-susah. Tetapi, tahukah saudara, bahwa itu bukan berarti aman. Salah seorang partner saya adalah mantan eksekutif sukses di sebuah perusahaan minyak. Entah karena sial atau apa, suatu saat di tahun 2003, dia dikeluarkan dengan tuduhan penggelapan yang tidak dilakukannya. Saya tahu persis karakternya, karena itu saya percaya bahwa dia memang tidak melakukan penggelapan itu. Dari sanalah saya dan dia belajar, bahwa zona kenyamanan itu semu, karena zona itu ada di wilayah orang lain. Dahulu, setiap bulan ia menerima total gaji dan bonus yang lebih dari cukup, sekarang dia harus berjuang bahwa kadang-kadang kita harus hidup pas-pasan jika jualan lagi jelek. Tetapi, saya dan dia juga menyadari, kalau dulu sekeras apapun kita bekerja, jika atasan hendak mengeluarkan (baca: memecat) kita, tak banyak yang bisa kita perbuat. Tetapi sekarang, semakin keras kita bekerja, kita bisa menyaksikan sendiri, bahwa benih usaha ini sekarang sudah mulai berbatang dan berdaun, dan suatu saat nanti akan berbunga dan berbuah.

Jadi, sudah siapkah saudara untuk berani berinvestasi, dan menahan diri untuk tidak menghabiskan bonus dan tabungan untuk sesuatu yang konsumtif?

PS. Beberapa teman sudah berani keluar dari zona nyaman orang lain dan setelah beberapa saat, sekarang sudah punya zona nyamannya sendiri. Congrats to Jacub, Yusak, Djoni, Rajesh dan lainnya yang belum saya sebutkan. Saya percaya, yang lain akan menyusul! Yang sudah punya “keranjang-keranjang” lain, saya harap juga mau berbagi cerita di sini.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,