World of Dytra

Ketoprak vs. Catering

14 Juli 2008 · 2 Komentar

Setahun sebelum saya masuk kuliah di STMIK BiNus, saya mulai mengenal dunia kerja. Waktu itu, tahun 1988, saya memang butuh uang untuk mendaftar kuliah lagi, setelah berhenti kuliah di UGM, Yogya karena kesulitan keuangan keluarga. Jadi kalau saya mau kuliah lagi, ya harus cari uang untuk mendaftar dan bayar uang semesternya. Saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor Hankam yang berlokasi di Tebet. Pekerjaan saya adalah operator computer, yang membantu membuat tabel-tabel yang isinya tidak saya mengerti. Para insinyur sipil disitu tinggal memberikan coret-coretannya dan saya harus mewujudkannya dalam bentuk tabel dengan perangkat lunak paling top saat itu: Lotus 123.

Atasan langsung saya seorang insinyur sipil yang baik tapi agak cuek. Namanya Pak Andre, asli Surabaya. Kalau dia datang, kita yang diruangan itu semua tahu, karena bunyi icring-icring seabreg kunci yang digantung di tali pinggangnya. Pak Andre sendiri jarang menggunakan jasa saya untuk bikin tabel. Yang sering justru Pak Achyar, seorang insinyur juga yang ramah dan baik hati. Dan seperti di semua kantor, pasti ada yang menjadi public enemy. Yang ini namanya Mas Edi. Meskipun tidak terlalu menyebalkan, tetapi dia agak-agak kesal dengan saya karena dalam melaksanakan tugas, saya sering bertanya padanya yang mantan guru STM itu. Dia mempermasalahkan hal itu karena dianggapnya cukup mengganggu tugasnya sebagai drafter. Tapi saya tidak perduli-perduli amat dengan kesebalannya pada saya. Selain tiga orang yang sebutkan, masih ada beberapa lagi yang cukup ramah dan helpful. Maklumlah, waktu itu umur saya belum genap 19 tahun. Ditambah lagi, di zaman itu, keterampilan berkomputer adalah asset yang cukup dihargai. Jadilah mereka agak-agak respek pada saya.

Big Boss di perusahaan itu adalah seorang galak bernama Pak Agus. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Pertama, karena dia jarang muncul di kantor, kedua, saya cuma pegawai rendahan yang tidak ada hubungan pekerjaan dengannya, ketiga, saya juga selalu takut mendengar suara galaknya memarahi stafnya. Selama bekerja disana, saya hanya sekali berpapasan dengannya ditangga. Ketika itu ia sedang turun dan saya mau naik. Saya buru-buru merapat ke dinding untuk memberinya jalan. Dan seperti bos-bos umumnya, jangankan tersenyum, melirik sayapun tidak. Selain itu, ada Pak Anton, sang manajer kantor. Modelnya khas bapak-bapak di era 80-an. Lingkup pekerjaan Pak Anton cukup luas, dari mengatur bagian umum (para sopir dan messenger), personalia, keuangan kantor dan pekerjaan lain-lain yang tidak mau disentuh oleh para insinyur di situ.

Salary saya setiap bulan sebesar seratus tujuh puluh lima ribu. Saya tidak tahu berapa nilai itu di zaman sekarang. Tetapi dengan uang sejumlah itu, saya bisa menabung untuk mempersiapkan uang kuliah, untuk ongkos dan sedikit saya sisihkan untuk keluarga. Untuk sarapan, cukup teh manis, makan malam seadanya di rumah. Nah, kendalanya adalah dana makan siang yang terbatas. Ketika hari pertama masuk dan belum punya gaji, saya cuma punya uang pas-pasan sisa-sisa tabungan saya dahulu waktu saya mengajar les privat untuk anak-anak SMP (dan SMA di sebuah bimbel). Setelah saya cek di warteg terdekat, budget saya tidak mencukupi. Akhirnya saya menemukan tukang ketoprak. Waktu itu, seporsi harganya tiga ratus rupiah. Pas dengan budget! Walhasil, setiap hari, menu makan siang saya sudah tetap. Pak! Ketoprak, cabe dua ya!

Suatu hari, seminggu kemudian, ketika saya duduk di bangku papan panjang sambil menikmati makanan terlezat di level harga tiga ratus rupiah, tiba-tiba Pak Anton sudah berdiri di sebelah saya. “Mari Pak, makan.” Sapa saya. Pak Anton mengangguk tersenyum, kemudian berlalu. Esoknya, jam yang sama, menu yang sama, “Mari Pak, makan.” Sama dengan kemarin, Pak Anton mengangguk, tersenyum, dan berlalu. Esoknya lagi demikian. Setelah empat hari, kelihatannya Pak Anton tertarik dengan menu saya.

“Ketoprak lagi, Rud?”

“Ya Pak.”

“Enak?” Pak Anton mengernyitkan alisnya.

“Iya…” Saya menjawab ragu-ragu.

Kelihatannya Pak Anton mengerti posisi saya. Dia tahu persis bahwa memang keuangan saya pas-pasan, bukannya saya doyan ketoprak. Setelah beberapa menit memandangi saya yang mulai kesulitan menelan, ia berkata, “Rud, mulai besok catering aja ya.”

Saya tercekat. Bagaimana membayarnya? Seakan mengetahui pertanyaan dalam pikiran saya, Pak Anton melanjutkan, “Nanti dibayarkan kantor.” Ah, leganya. Tak perlua digambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Yang pasti, gizi akan membaik, dan saya juga merasa bangga, karena yang dapat catering itu hanya para insinyur saja. Esoknya, Pak Anton benar-benar memesankan saya catering. Kotak plastik bundar di hadapan saya buka perlahan-lahan ketika hari itu saya duduk bersama staf senior di ruang makan. Saya sudah lupa isi kotak perdana itu. Tetapi, hal itu sangat membekas dalam pikiran saya sampai saat ini. Bahwa, saya merasa begitu berarti ketika dalam masa-masa sulit, ada seorang atasan yang punya perhatian pada saya.

Kategori: nostalgia
Tagged: , , ,

2 tanggapan so far ↓

  • Andry // 15 Juli 2008 pada 3:56 pm | Balas

    Terharu saya teman…:((
    Kamu masih ingat waktu kita di PT PxxL Asxraxxsx….; tapi karena itulah kita belajar banyak …..

  • Dytra // 15 Juli 2008 pada 5:49 pm | Balas

    Betul bro… Saya sedang mengumpulkan memori untuk menuliskan episode kehidupan kita saat itu. Atau kamu yang mau menuliskannya di blog ini? Silakan email ke japri untuk saya tayangkan nantinya.

Tinggalkan sebuah Komentar