World of Dytra

Dualisme Profesi

15 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pernahkah Anda terpikir untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara dualisme? Maksud saya adalah, mungkin setiap hari Anda menjalani rutinitas pekerja kantoran, tetapi pada waktu luang sore hari atau weekend, Anda menjalani profesi yang berbeda. Sebuah sitcom lama di RCTI, My Two Dads, memperlihatkan tokoh Judge, seorang ibu hakim pengadilan, yang juga mengelola sebuah rumah makan Judge Court. Atau salah satu episode Ally McBeal (pembelaan: saya bukan penggemar sitcom ini, tetapi hanya melihat selintas saja), dimana pernah diperkenalkan seorang District Attorney yang memiliki sebuah café sebagai bagian lain dari profesi utamanya. Sedangkan, dalam dunia nyata,  Tompi adalah seseorang yang sukses mengelola dua profesinya, sebagai dokter dan penyanyi.

Profesi ganda yang tidak saling berhubungan belakangan ini banyak dijalankan oleh para professional perkotaan. Ada yang setiap harinya bekerja sebagai eksekutif keuangan, saat weekend menjadi therapis spiritual. Ada juga seorang manajer logistik perusahaan multinasional, di malam hari menjadi pemain saxophone di sebuah lounge hotel. Bagi sebagian mereka yang menjalaninya, ini adalah semacam escape zone, sebuah wilayah tempat melepas semua rutinitas yang kadang kala menyebabkan rasa jenuh dan bahkan depresi. Ada pula yang menjalaninya karena memang butuh penghasilan tambahan. Sebuah artikel mengomentari mengenai dua profesi pada satu orang ini sebagai fenomena menarik, yang bahkan bila ditekuni, profesi sampingan malah bisa menjadi yang utama jika memang memberikan kepuasan batin dan penghasilan yang memadai.

Dualisme profesi berbeda dengan nyambi berbisnis yang mulai banyak juga dijalankan oleh karyawan kantoran. Kalau Anda cermati lingkungan kerja Anda, mungkin akan mudah menjumpai ibu-ibu kantor yang suka membawa setumpuk pakaian dalam kantong kresek yang ditawarkan ke teman-temannya, baik secara kredit maupun secara arisan. Atau, ada juga teman sejawat yang menjadi agen asuransi atau MLM yang hampir setiap waktu istirahat selalu sibuk menawarkan produknya. Profesi kedua tidak bersifat hanya mencari untung sesaat saja. Ia lebih bersifat sebagai sesuatu yang juga layak ditekuni, yang bisa memberikan feedback yang memuaskan. Dan yang penting, profesi ini dapat dikembangkan lebih baik lagi, karena ia bisa berbeda secara total dengan profesi utama yang mungkin sudah mencapai titik jenuhnya. Bandingkan antara seorang akuntan yang juga punya sampingan sebagai web designer, dengan seorang akuntan yang punya sampingan mengerjakan laporan keuangan perusahaan lainnya di waktu luang. Sang web designer punya kesempatan untuk mengembangkan lebih jauh kemampuan dan lingkup pekerjaannya. Sedangkan akuntan kedua, mungkin suatu saat akan menjadi muak dengan angka-angka yang harus dipelototinya setiap hari, setiap saat dari hari kerja sampai waktu liburnya.

Menariknya, jika Anda adalah seorang “E” dalam kuadran Kiyosaki, maka profesi kedua ini bisa digolongkan sebagai “S” (lihat tulisan Bisnis Sampingan). Dan barangkali bisa juga profesi “S” ini suatu saat akan membawa Anda ke posisi “B” atau bahkan “I”. Di posisi sebagai self employee ini, kita bebas untuk menentukan segala sesuatunya, tidak seperti dalam sebuah perusahaan formal. Kita mungkin akan menjadi lebih kreatif karena kebebasan berpikir tidak dikekang, sehingga lebih mudah untuk think out of the box. Mirip seperti proses menabur dan menuai, dengan profesi kedua ini, kita sudah mulai menabur dan bersiaplah, karena ketika saat menuai tiba, kepuasan yang kita peroleh akan terasa berbeda dengan pencapaian-pencapaian rutin. Kita juga telah meletakkan “telur” lainnya dalam “keranjang yang berbeda”. Sehingga jika suatu saat, ketika pekerjaan utama kita sudah tidak menjanjikan, atau mungkin karena suatu hal kita harus menerima kenyataan pahit, exit plan sudah tersedia dan tinggal dikembangkan.

(Tulisan ini telah diterbitkan di wikimu.com pada tanggal 17 September 2008)

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,