World of Dytra

Masukan dari Agustus 2008

“Bu, telor asinnya setengah saja”

9 Agustus 2008 · & Komentar

Kehidupan memang serupa perjalanan. Tetapi yang ditempuh bukanlah jarak, melainkan waktu. Dan ketika kita melihat ke belakang, jejak kaki yang kita tinggalkan seringkali menjadi kenangan yang berkesan, meskipun waktu menjalaninya kita mungkin merasa pahit. Tetapi memang sebaiknya semuanya tetaplah sebuah nostalgia, karena yang harus kita jalani dan nikmati justru adalah hari ini, saat ini.

Seperti tulisan yang lalu, mengingatkan juga dengan urusan makan di tahun-tahun sesudahnya. Awal sembilanpuluhan, saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi di bilangan Jakarta Utara. Bekerja di sana sebagai data entry operator sebenarnya merupakan sebuah tantangan. Setiap hari, berpuluh-puluh lembar polis asuransi yang diketik manual harus kami masukkan ke dalam tabel Lotus 123, dengan komputer kelas XT yang memiliki dua buah disk drive 5 ¼ inci. Sebelah atas berisi program Lotus sendiri, sedangkan drive B di bagian bawah berisi disket data. Sesudah di urutkan, maka laporan bulanan akan dicetak di atas continuous form yang berlembar-lembar sambung menyambung. Lalu laporan akan diperiksa oleh bagian Re-as, yang jika menemukan kesalahan akan meminta kami untuk membuat laporan koreksi yang disebut ‘storno’ (entah apa artinya). Karena pekerjaan rutin setiap hari memang itu-itu saja, lama kelamaan kami menjadi ahli dan kreatif dalam melakukan seni memasukkan data tersebut. Mulailah kami masing-masing membuat program makro yang semakin hari semakin canggih, sehingga pekerjaan itu menjadi sesuatu yang tidak terlalu membosankan lagi. Pelajaran moral yang bisa ditarik dari sini yaitu, jika menghadapi pekerjaan rutin yang membosankan, pandai-pandailah berkreasi untuk menciptakan variasi yang menarik agar kita bisa tetap waras bertahan melakukannya.

Salah satu poin menarik ketika bekerja di sana juga adalah karena rekan-rekan kerja yang seumur dan beberapa diantaranya berasal dari kampus yang sama. Adalah Damianus (Ated), Sumita, Leo (di bagian keuangan), Andry, dan belakangan disusul Jacub, Herry (Abang), Indri, Hawatie (Tie’) yang sama-sama dari BiNus. Hanya Bambang Setiawan dan Basuki Effendy yang dari kampus lain (lupa, dari kampus mana ya mereka?). Jadilah setiap hari, ketika kebosanan melanda, bercanda mengenai berbagai hal, diselingi lagu-lagu pemberontakan dari Iwan Fals.

Selain itu, acara makan siang juga merupakan salah satu waktu favorit kami (ya iyalah!). Di zaman itu, daerah kami masih belum menjadi surga makanan. Yang tersedia hanya beberapa warteg atau jajanan anak sekolah di dekat kami (sekolah KPS). Yang paling keren adalah Restoran Ayam Kalasan dan A&W (bukan American Warteg lho!) yang ada di kompleks ruko. Dengan salary bersih senilai seratus tujuh puluh lima ribu sebulan (jika tidak dipotong perusahaan karena alasan terlambat), kembali, dana makan siang menjadi urusan hitung-hitungan yang cukup rumit. Jumlah sebesar itu harus dihemat untuk tabungan bayaran SKS dan BP3 setiap semester, disamping untuk ongkos bis dan makan malam di kampus. Beruntung, dengan status mahasiswa, cukup membayar seratus rupiah (iya, benar-benar cepek doang!) untuk ongkos bis. Maka ketika tanggal tua menjelang, yang pertama dikorbankan adalah makan malam, yang kebanyakan ditunaikan di American warteg di depan kampus. Makan siang pun diarahkan ke warteg-warteg yang bertebaran di sekitar kantor. Salah satu yang jadi favorit oleh karyawan kantor adalah ‘terowongan mina’. Kala itu, terowongan tersebut sepi sekali, hanya ada satu warung makan yang mejanya terbatas. Sekarang tempat itu telah begitu ramai dengan rumah-rumah makan khas Medan, dan sebagian diantaranya penuh dengan pedagang-pedagang tumpahan dari pasar di dekatnya.

Suatu ketika, siang bolong yang panas, Andry dan saya berburu makan siang termurah yang bisa kami dapatkan dengan sisa gaji di kantong. Ada sebuah warung makan kecil di daerah Blok 6, dekat bangunan-bangunan rumah yang belum jadi. Warung itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pedagang keliling. Lauk yang tersedia tidak banyak, yang saya ingat hanya ada sebaskom (benar-benar baskom dari logam) besar berisi berbagai jeroan ayam yang dimasak kuah gulai, sebaskom sop berisi berbagai potongan sayur, telor asin dan lauk wajib (tempe-tahu goreng, orak-arik tempe dan sambal). Kami mengambil tempat dan memesan.

Ketika kami mulai makan, ada dua orang gadis yang datang ke warung yang sama untuk makan siang juga. Seingat saya, mereka bekerja di toko bunga di salah satu dari deretan ruko-ruko di tepi jalan raya utama. Menarik juga, karena biasanya jarang sekali ada cewek yang mau berkunjung ke warteg itu, termasuk karyawan kantor kami. Saya dan Andry bergeser memberi mereka duduk. Salah satu dari gadis itu memesan makanan dan berkata pada ibu warung, “Bu, telor asinnya setengah saja, sisanya titip ya buat besok.” Saya dan Andry saling berpandangan dengan isi pikiran yang sama di kepala kami masing-masing. “…lha, gua aja udah susah, ternyata masih ada yang lebih susah lagi…

Malamnya, biasanya saat jam istirahat kuliah, tempat favorit kami adalah American warteg, julukan kami untuk warteg yang ada di sudut deretan tempat makan depan kampus. Selain itu ada Depot 17, yang tantenya baik sekali. Waktu pertama makan di sana, anak tante itu baru SD, saat saya lulus, anak itu sudah SMA. Ada juga Nusa Indah dan Sola Gratia, yang om-om nya hobi ngobrol. Pertimbangan lokasi umumnya atas dua faktor: keadaan keuangan dan tempat untuk ngumpul. Masa itu memang masa-masa dimana kami semua, teman-teman kuliah, menghadapi posisi keuangan yang sangat pas-pasan. Hampir semua dari kami bekerja pada siang hari, dan malamnya kuliah. Harapannya hanya satu, dengan kuliah, kami berharap bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik, yang pada akhirnya punya gaji yang lebih besar sehingga kami bisa punya kehidupan lebih layak. Saya ingat betul, setiap kali mendapatkan kenaikan gaji, saya selalu merasa bisa membeli dunia! Sedikit demi sedikit, karir dan penghasilan kami meningkat, seiring dengan pengalaman dan kemampuan kami. Dan kini, saya gembira karena bisa menyaksikan semua teman-teman zaman susah itu telah mapan.

Kategori: nostalgia
Ditandai: , , , , ,