World of Dytra

Masukan dari September 2008

Work hard or work smart

19 September 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagai orang ‘Timur’ yang banyak memegang adat istiadat, saya rasa hampir setiap dari kita pernah mendengar nasihat orang tua: “Bekerja yang keras, agar kamu bisa sukses!” Ya, bagi orang tua (orang-orang yang generasinya di atas kita), untuk mencapai sukses memang harus bekerja keras, memupuk segala sesuatunya yang dimulai dari nol. Bagi ayah saya, jerih payahnya sewaktu tiba di Jakarta awal 70-an hingga sekarang telah membuahkan hasil yang luar biasa. Dari modal nol besar, hanya sebuah tas kecil, alamat teman untuk numpang tinggal, dan ‘kabarnya’ ada pekerjaan di Jakarta, ia berangkat dari pedalaman Sumatra, mendarat di Tanjung Priok. Tiga puluh tahun lebih kemudian, setidaknya ia telah punya cucu, beberapa asset dan hidup yang tenang. Ia bekerja sangat keras, karena memang tidak punya apa-apa, selain juga menghadapi point of no return, karena tidak punya ongkos pulang lagi. Sewaktu kehidupan keluarga kami masih sangat di bawah standar, ia berkali-kali menasihati seperti di atas, “Bekerja keraslah!” Bahkan sampai sekarang.

Filosofi kerja keras memang khas belahan dunia ‘Timur’. Mungkin karena kultur, mungkin juga karena memang lingkungan alam yang membuat orang-orangnya ulet. Keinginan untuk menimba pengalaman di tempat kerja, dorongan untuk membentuk usaha sendiri membuat orang-orang hampir-hampir tidak memperdulikan hal lain, kecuali kerja keras agar bisa survive dan berkembang. Umumnya, hampir segala sesuatu dikerjakan sendiri, karena bagi mereka, hasil terbaik hanyalah dari tangan pertama. Di belahan dunia lainnya, berkembang juga suatu pemikiran, “Bekerja dengan cerdas!” Atau work smart. Artinya kurang lebih, bagaimana bekerja dengan menggunakan berbagai fasilitas atau dukungan untuk meringankan beban kerja. Oleh karena itu, maka berkembanglah ilmu manajemen, dan juga berbagai teknologi yang memudahkah pekerjaan. Tiga revolusi besar dimulai di Barat, revolusi industri, komputer dan Internet, yang kesemuanya adalah untuk meningkatkan kinerja.

Lalu, manakah yang terbaik, bekerja keras atau bekerja cerdas? Bagi kita yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, bahkan bekerja secara professional di berbagai perusahaan, tentu bekerja cerdas adalah yang terbaik. Karena, dengan bekerja cerdas, tentu lebih efisien. Menggunakan teknik manajemen, pengaturan dan pengendalian serta memanfaatkan alat bantu, pekerjaan akan terselesaikan lebih mudah. Bekerja cerdas juga berarti efektif dalam mengatur waktu. Kalau saya perhatikan sesama kolega orang bule, mereka sangat efektif. Ketika jam kerja mulai, mereka langsung melaksanakan tugas mereka dengan serius, bahkan untuk hal-hal yang kecil akan diperhatikan sedetilnya. Dan ketika jam kerja usai, mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan menikmati waktu luangnya. Bandingkan dengan mereka yang pekerja keras. Sebelum jam kerja kantor mulai, mereka telah memulai pekerjaan. Perhatian terhadap hal detil juga sama, dan saat jam kerja usai, meskipun tidak disuruh lembur, mereka masih berkutat dengan pekerjaannya. Tuduhan workaholic pun sering dilontarkan pada mereka. Malah, sering tampak para pekerja keras ini sepertinya tidak mampu mengelola waktu kerja mereka. Bahkan dulu atasan saya, seorang Englishman, setiap jam lima sore sudah ‘mengusir’ kami untuk pulang. Teman saya bilang, pekerjaan tidak akan habis, kalaupun kita paksa kerjakan sampai malam.

Saya kira, ini adalah masalah scheduling. Jika kita bekerja dengan cerdas, pasti pertama kita akan mengatur jadwal dahulu, kapan waktu meeting, kapan deadline dari suatu tugas, kapan pula kita memulai suatu proyek dan memperhitungkan milestone nya. Tetapi, filosofi kerja keras bukan terletak pada kesalahan ataupun ketidakmampuan mengatur waktu. Prinsipnya adalah mengerjakan ‘sedikit lebih’ dari target yang harus diselesaikan hari itu sesuai jadwal. Apalagi jika waktu yang tersedia cukup banyak, bahkan bisa mengerjakan lebih banyak lagi. Tetapi, kerja keras seperti ini, meskipun bisa membuat seseorang lebih cepat dan melampaui target, akan membuat kita mungkin kehilangan waktu luang. Bahkan kadangkala tidak ada waktu pribadi untuk sekadar menjalankan hobi. Seluruh waktu yang ada hanya difokuskan pada pekerjaan.

Kalau ditanyakan, manakah yang memberikan hasil terbaik? Semuanya relatif, tergantung dari kualitas pekerjaan kita. Jika kita bekerja sekeras mungkin, tetapi kualitasnya rendah, efeknya tidak akan lebih baik dari orang-orang yang bekerja dengan waktu yang tetap dan terjadwal yang mungkin bisa menghasilkan kualitas yang lebih baik. Tetapi menurut ayah saya, yang tetap percaya bahwa untuk sukses harus bekerja keras, filosofi ‘Barat’ yang mengajarkan kerja cerdas itu cenderung berbiaya tinggi. Lihatlah, bagaimana mereka membayar para eksekutifnya, yang bekerja secara terjadwal, dan menikmati waktu santainya secara ‘mahal’. Makanya, kata ayah saya, sekarang ekonomi mereka terpuruk.

Dari kedua pendapat ini, bagi saya, yang penting adalah satu kata: efisien. Buat apa kita bekerja berlama-lama jika sesuatu bisa diselesaikan dengan cara singkat dengan berbagai alat bantu. Tetapi, jika suatu pekerjaan bisa kita selesaikan hari ini, meskipun jadwalnya minggu depan, ya lebih baik kita selesaikan saja, meskipun harus menambah satu dua jam kerja saja. Dan meskipun jam kerja saya termasuk panjang, saya masih punya waktu untuk bersantai, main dengan anak-anak saya dan menjalankan hobi baca saya. Satu hal yang masih belum mampu saya lakukan adalah traveling dalam waktu panjang. Hal ini lebih karena sementara ini saya belum bisa mengatur ketergantungan perusahaan pada diri saya, meskipun ini bukan karena one man show. Tetapi, saya telah merencanakan untuk mengurangi ketergantungan tersebut, karena hal ini menyebabkan inefisiensi.

Jadi, semua kembali kepada anda, mau menjadi seorang pekerja keras atau pekerja cerdas?

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , , ,

Apakah Bahagia Itu?

17 September 2008 · 1 Komentar

Jawaban untuk pertanyaan pada judul di atas tentu beragam bagi setiap orang. Ada yang mengaitkannya dengan waktu dan situasi. Misalnya, saat mencapai suatu prestasi, atau ketika suatu keinginan tercapai. Bagi saya, bahagia itu adalah saat saya bisa mengucap syukur. Saya ingin menggarisbawahi kata ‘bisa’. Karena, dalam hidup sehari-hari, sering kita tidak bisa mengucap syukur. Bahkan kalau mau jujur, persentase saya mengucap syukur lebih kecil dari tidaknya. Mengapa? Indikatornya adalah saya masih sering merasa stress, ketika sesuatu terjadi diluar rencana saya.

Mungkin, bagi sebagian kita, yang belum menikmati financial freedom and time freedom, waktu terbanyak setiap hari kita habiskan untuk bekerja. Saya sendiri seringkali bekerja sampai 12 jam bahkan lebih dalam satu hari. Hal itu bukan karena saya seorang workaholic. Tetapi, lebih karena alasan jadwal. Pagi-pagi, jam 7 saya sudah di kantor, karena sebelumnya saya harus mengantar anak sekolah sebelum jam 7. Praktis, karena jarak sekolah dan kantor dekat, jadi sekitar jam tesebut saya sudah ngantor. Setelah itu, saya bisa menghabiskan waktu seharian di lokasi client, atau kalau seharian di kantor, kadang kala, solving problem bisa memakan waktu sampai sore bahkan malam, karena saya lebih suka segala sesuatunya beres pada hari yang sama, jangan ditunda sampai besok. Nah, dalam situasi begitu, tentu yang saya harapkan adalah segala sesuatunya akan sesuai rencana, selesai pada waktunya. Kenyataannya, ada saja interupsinya. Telepon dari client, rapat mendadak, membantu memecahkan masalah kolega saya, client yang lebih suka menyampaikan complaint kecil-kecil tapi banyak, daripada melihat keseluruhan proyek yang sudah berjalan, atau staff yang salah mengartikan instruksi. Lebih ramai lagi, kadang ditambah dengan staff kunci mengajukan pengunduran diri. Melelahkan memang!

Kadangkala, urusannya tidak cuma satu atau dua hal, tapi bisa merembet ke beberapa hal lain, seperti janji yang tak terpenuhi, jadwal yang sudah melenceng jauh, dan proyek yang mulai amburadul karena terlalu banyak request of change, lalu ada kolega yang selalu saja memandang segala sesuatu dari sudut pesimisme, juga pembayaran dari client yang macet. Jujur saja, dalam situasi begitu, saya tidak mampu melihat apa yang bisa saya syukuri. Yang ada adalah perasaan tertekan dan ujung-ujungnya stress. Kalau begitu, biasanya saya cari pelarian, berjalan-jalan sebentar di mal dekat kantor atau di dekat lokasi client. Kemudian, dalam doa pribadi, yang terucapkan adalah permohonan-permohonan agar pekerjaan ini-itu jadi beres. Mungkin, Tuhan menunggu-nunggu ucapan syukur untuk hari itu, tapi yang didengar-Nya hanya keluh kesah. Tak apalah, bukankah kata-Nya,”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat11:28).

Nah, sesudah berkutat seharian, ketika kita tutup kesibukan satu hari, apakah beban itu masih kita bawa? Saya rasa, saat kita berhasil melewati satu hari, tutuplah dengan mengucap syukur. Walaupun beban masih ada, tetapi kita tinggalkan sejenak. Saya sedang mencoba untuk mengambil waktu 5 sampai 10 menit, saat shutdown computer saya, untuk merenungkan hari itu. Sedari pagi, pasti ada yang patut kita syukuri, seperti tiba di kantor dengan selamat, masih bisa membeli makan siang, masih bisa bekerja dengan mata terbuka dan sebagainya. Kalau ada tambahan, misalnya problem yang ada sudah solve, pembayaran yang macet akhirnya cair juga, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk tidak sekedar berkata, “Terima kasih, Tuhan, aku bersyukur untuk hari ini.” Biasanya, ada juga pekerjaan yang masih belum selesai, problem yang masih belum terpecahkan, atau ada beban, bahwa besok mesti meeting dengan client yang sulit, kita letakkan sejenak, 5 sampai 10 menit saja. Percayalah, sesudah kita mampu mengucap syukur dengan ikhlas (artinya, apa adanya, tidak dipaksakan, atau tidak dibuat-buat), sedikit kebahagiaan pasti menyusup ke dalam hati. Dan kebahagian itu akan lebih terasa, kalau kita menemukan begitu banyak hal yang patut disyukuri.

Jadi, menurut saya, tidak perlu muluk-muluk dalam mengejar kebahagiaan. Begitu kita mampu mengucap syukur, kita akan menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dan saat bersamaan, kita juga tahu bahwa kita tidak sendirian dalam menanggung beban berat (dalam bahasa Kristianinya: “memanggul salib”). Dan sungguh sangat membahagiakan, ketika kita tahu, bahwa Tuhan beserta kita. Seorang sahabat mungkin tidak dapat setiap saat menyertai kita, seorang teman mungkin memiliki seribu alasan untuk disamping kita ketika kita membutuhkan. Tetapi, Tuhan tetap hadir, tanpa perlu alasan, bahkan ketika kita mencoba menghindari Nya. Karena Ia tetap mencintai dan selalu menunggu kebersamaan dengan anak-anak Nya, betapun tidak layaknya kita di hadapan Nya. Jadi mulai hari ini, mari kita sama-sama bersyukur dan mendapatkan kebahagiaan.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkannya kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat6:33-34).

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , , , , , ,

The Almighty

17 September 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah lelah dalam implementasi sebuah proyek cukup besar secara non-stop beberapa minggu, hari Minggu kemarin, saya berencana untuk istirahat saja seharian di rumah. Tapi karena tidak biasa tidur siang, jadinya saya malah nonton televisi kabel. Salah satu channel menayangkan film yang sudah berjalan setengah, Evan Almighty yang merupakan sequel dari Bruce Almighty. Film ini cukup menarik bagi saya, karena ada beberapa hal yang bisa saya tarik sebagai moral of the story, terlepas dari kontroversi tidaknya penggambaran “Tuhan” dalam film ini.

Pelajaran moral pertama adalah ketika adegan dimana istri Evan meninggalkannya saat kehebohan terjadi karena semua orang menganggap Evan sudah tidak waras dengan mempersonifikasikan Nabi Nuh. Di sebuah restoran cepat saji, “Tuhan” yang diperankan oleh aktor kawakan Morgan Freeman memberikan suatu penjelasan yang sangat menyentuh mengenai apa yang diminta dalam doa dan apa yang dikabulkan. ‘Jika engkau minta keberanian,’ katanya, ’maka Dia bukan memberikan keberanian, tetapi kesempatan untuk menunjukkan keberanianmu.’ Kalimat berikutnya, ‘Demikian juga, jika engkau meminta keharmonisan dalam rumahmu, yang kau dapatkan adalah kesempatan untuk mewujudkan keharmonisan itu.’

Buat saya, kalimat-kalimat “Tuhan” dalam film itu sangat luar biasa. Biasanya memang dalam doa, segala hal pasti kita mintakan kepada Tuhan, karena, seperti yang kita tahu, bahwa Ia sendiri yang mengatakan, ‘Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Mintalah, maka kepadamu akan diberikan.’ Jadi kita asal meminta saja, lalu menunggu-nunggu kapan permintaan itu akan ‘dikirimkan’ kepada kita. Mungkin benar, apa yang disampaikan oleh Morgan, kadang kita tidak tahu, bahwa apa yang kita minta sudah tersedia, namun bahkan kita malah menyalahkan Tuhan, mengapa doa kita tidak atau belum dikabulkan-Nya. Sedangkan kesempatan untuk mewujudkannya mondar-mandir di depan mata kita.

Pelajaran moral kedua adalah ketika adegan penutup, dimana digambarkan bahwa sang tokoh, Evan bertemu dengan “Tuhan’ di sebuah tempat yang indah dengan rerumputan, dan sebatang pohon besar. “Tuhan”, yang sedang berteduh dibawah pohon itu berkata bahwa dia sedang menghabiskan waktu bersama sahabat lamanya, sang pohon tersebut. Setelah perbincangan yang akrab dengan Evan, “Tuhan” lalu mengajaknya untuk menari. Menari bersama “Tuhan”, bayangkan, betapa indahnya, jika memang kita punya kesempatan yang sama, menari bersama Tuhan kita, begitu dekat, begitu akrab. Barangkali itulah yang dirasakan oleh murid-murid Yesus, ketika mereka sudah terbiasa selama 3 tahun bersama dengan Gurunya, dimana mereka menemukan hal-hal yang menakjubkan setiap hari, dan bagaimana ajaran-ajaran-Nya disampaikan. Maka Petrus sungguh tak rela, ketika suatu waktu, Yesus menyampaikan kepadanya tentang nubuat akan kematian-Nya.

Sungguh suatu kesempatan berharga, jika kita bisa menghabiskan waktu dengan sahabat kita juga. Seperti Maria, saudara Marta dan Lazarus, yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan Yesus, daripada menyibukkan diri dengan urusan lain. Maka, benar jika kita tak perlu memusingkan tentang apa yang sudah berlalu, atau khawatir tentang apa yang akan terjadi besok. Hidup dan nikmati hari ini, ketika kita punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat, bersama keluarga, bersama dengan ‘oase’ kita.

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , , ,