Sebagai orang ‘Timur’ yang banyak memegang adat istiadat, saya rasa hampir setiap dari kita pernah mendengar nasihat orang tua: “Bekerja yang keras, agar kamu bisa sukses!” Ya, bagi orang tua (orang-orang yang generasinya di atas kita), untuk mencapai sukses memang harus bekerja keras, memupuk segala sesuatunya yang dimulai dari nol. Bagi ayah saya, jerih payahnya sewaktu tiba di Jakarta awal 70-an hingga sekarang telah membuahkan hasil yang luar biasa. Dari modal nol besar, hanya sebuah tas kecil, alamat teman untuk numpang tinggal, dan ‘kabarnya’ ada pekerjaan di Jakarta, ia berangkat dari pedalaman Sumatra, mendarat di Tanjung Priok. Tiga puluh tahun lebih kemudian, setidaknya ia telah punya cucu, beberapa asset dan hidup yang tenang. Ia bekerja sangat keras, karena memang tidak punya apa-apa, selain juga menghadapi point of no return, karena tidak punya ongkos pulang lagi. Sewaktu kehidupan keluarga kami masih sangat di bawah standar, ia berkali-kali menasihati seperti di atas, “Bekerja keraslah!” Bahkan sampai sekarang.
Filosofi kerja keras memang khas belahan dunia ‘Timur’. Mungkin karena kultur, mungkin juga karena memang lingkungan alam yang membuat orang-orangnya ulet. Keinginan untuk menimba pengalaman di tempat kerja, dorongan untuk membentuk usaha sendiri membuat orang-orang hampir-hampir tidak memperdulikan hal lain, kecuali kerja keras agar bisa survive dan berkembang. Umumnya, hampir segala sesuatu dikerjakan sendiri, karena bagi mereka, hasil terbaik hanyalah dari tangan pertama. Di belahan dunia lainnya, berkembang juga suatu pemikiran, “Bekerja dengan cerdas!” Atau work smart. Artinya kurang lebih, bagaimana bekerja dengan menggunakan berbagai fasilitas atau dukungan untuk meringankan beban kerja. Oleh karena itu, maka berkembanglah ilmu manajemen, dan juga berbagai teknologi yang memudahkah pekerjaan. Tiga revolusi besar dimulai di Barat, revolusi industri, komputer dan Internet, yang kesemuanya adalah untuk meningkatkan kinerja.
Lalu, manakah yang terbaik, bekerja keras atau bekerja cerdas? Bagi kita yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, bahkan bekerja secara professional di berbagai perusahaan, tentu bekerja cerdas adalah yang terbaik. Karena, dengan bekerja cerdas, tentu lebih efisien. Menggunakan teknik manajemen, pengaturan dan pengendalian serta memanfaatkan alat bantu, pekerjaan akan terselesaikan lebih mudah. Bekerja cerdas juga berarti efektif dalam mengatur waktu. Kalau saya perhatikan sesama kolega orang bule, mereka sangat efektif. Ketika jam kerja mulai, mereka langsung melaksanakan tugas mereka dengan serius, bahkan untuk hal-hal yang kecil akan diperhatikan sedetilnya. Dan ketika jam kerja usai, mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan menikmati waktu luangnya. Bandingkan dengan mereka yang pekerja keras. Sebelum jam kerja kantor mulai, mereka telah memulai pekerjaan. Perhatian terhadap hal detil juga sama, dan saat jam kerja usai, meskipun tidak disuruh lembur, mereka masih berkutat dengan pekerjaannya. Tuduhan workaholic pun sering dilontarkan pada mereka. Malah, sering tampak para pekerja keras ini sepertinya tidak mampu mengelola waktu kerja mereka. Bahkan dulu atasan saya, seorang Englishman, setiap jam lima sore sudah ‘mengusir’ kami untuk pulang. Teman saya bilang, pekerjaan tidak akan habis, kalaupun kita paksa kerjakan sampai malam.
Saya kira, ini adalah masalah scheduling. Jika kita bekerja dengan cerdas, pasti pertama kita akan mengatur jadwal dahulu, kapan waktu meeting, kapan deadline dari suatu tugas, kapan pula kita memulai suatu proyek dan memperhitungkan milestone nya. Tetapi, filosofi kerja keras bukan terletak pada kesalahan ataupun ketidakmampuan mengatur waktu. Prinsipnya adalah mengerjakan ‘sedikit lebih’ dari target yang harus diselesaikan hari itu sesuai jadwal. Apalagi jika waktu yang tersedia cukup banyak, bahkan bisa mengerjakan lebih banyak lagi. Tetapi, kerja keras seperti ini, meskipun bisa membuat seseorang lebih cepat dan melampaui target, akan membuat kita mungkin kehilangan waktu luang. Bahkan kadangkala tidak ada waktu pribadi untuk sekadar menjalankan hobi. Seluruh waktu yang ada hanya difokuskan pada pekerjaan.
Kalau ditanyakan, manakah yang memberikan hasil terbaik? Semuanya relatif, tergantung dari kualitas pekerjaan kita. Jika kita bekerja sekeras mungkin, tetapi kualitasnya rendah, efeknya tidak akan lebih baik dari orang-orang yang bekerja dengan waktu yang tetap dan terjadwal yang mungkin bisa menghasilkan kualitas yang lebih baik. Tetapi menurut ayah saya, yang tetap percaya bahwa untuk sukses harus bekerja keras, filosofi ‘Barat’ yang mengajarkan kerja cerdas itu cenderung berbiaya tinggi. Lihatlah, bagaimana mereka membayar para eksekutifnya, yang bekerja secara terjadwal, dan menikmati waktu santainya secara ‘mahal’. Makanya, kata ayah saya, sekarang ekonomi mereka terpuruk.
Dari kedua pendapat ini, bagi saya, yang penting adalah satu kata: efisien. Buat apa kita bekerja berlama-lama jika sesuatu bisa diselesaikan dengan cara singkat dengan berbagai alat bantu. Tetapi, jika suatu pekerjaan bisa kita selesaikan hari ini, meskipun jadwalnya minggu depan, ya lebih baik kita selesaikan saja, meskipun harus menambah satu dua jam kerja saja. Dan meskipun jam kerja saya termasuk panjang, saya masih punya waktu untuk bersantai, main dengan anak-anak saya dan menjalankan hobi baca saya. Satu hal yang masih belum mampu saya lakukan adalah traveling dalam waktu panjang. Hal ini lebih karena sementara ini saya belum bisa mengatur ketergantungan perusahaan pada diri saya, meskipun ini bukan karena one man show. Tetapi, saya telah merencanakan untuk mengurangi ketergantungan tersebut, karena hal ini menyebabkan inefisiensi.
Jadi, semua kembali kepada anda, mau menjadi seorang pekerja keras atau pekerja cerdas?