Seorang teman lama mengirimkan tiket seminar Tung Desem Waringin ke saya, lengkap dengan buku dan bonus 5 CD. Tadinya, saya agak malas karena sudah beberapa kali saya ikut seminar motivasi dari beberapa pembicara terkenal di Indonesia. Tiket seminar seperti ini biasanya mahal, tetapi saya selalu mendapatkannya gratis. Saya pernah ikut seminar self motivation Krishnamurti di Gereja, lalu sales performace James Gwee di acara yang diadakan oleh AIG (saya diundang teman). Seminar tentang salesmanship oleh Tanadi Santoso juga pernah saya ikuti, sekali dibayarkan oleh istri (waktu itu dia baru saja dapat rezeki lebih), sekali lagi di acara IBM gathering.
Sebetulnya rasa malas saya timbul karena menurut saya, kurang lebih topik yang dibicarakan sama. Tentang perlunya motivasi, tentang perubahan mindset, tentang perlunya tindakan dan sebagainya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap para pembicara itu, bagi saya, seminar-seminar itu lebih berarti sebagai suatu bentuk penyegaran saja, atau entertainment dalam bentuk yang lebih mengarah ke pengembangan diri. Namun akhirnya saya memutuskan untuk hadir karena rasanya tidak enak, sudah dibayari tetapi tidak datang. Agak mengejutkan juga, setiba saya di tempat seminar, di suatu pertokoan sepi, ternyata sudah begitu ramai, meskipun masih setengah jam lagi acara dimulai.
Ketika acara dimulai, saya melihat bahwa para pesertanya begitu antusias, saling berebutan untuk duduk paling depan. Sang pembicara, Pak Tung, demikian menurutnya ia biasa dipanggil, memberikan salam dan mengajak untuk melakukan beberapa gerakan. Menurut saya, agak mirip-mirip seperti sebuah religion, semua orang menuruti gerakan-gerakannya, yang kalau sehari-hari mungkin terasa malu untuk dilakukan di publik. Namun demikianlah, para peserta tampak dari yang berpenampilan eksekutif sampai yang berwajah ‘pengangguran’, mengikuti dengan bersemangat, termasuk saya (ya, daripada diam sendirian). Maka berbagai tips disampaikan dengan suara keras, dipadu dengan pengulangan serta gerakan-gerakan, menurut Pak Tung, akan lebih mudah diingat.
Beberapa point yang saya anggap cukup berharga adalah pertama, jika hendak membuat iklan, haruslah yang heboh sehingga orang akan tertarik untuk membacanya. Karena bagi Pak Tung, iklan adalah penawaran dan penawaran adalah marketing. Tanpa penawaran tidak ada marketing. Memang benar, tanpa menawarkan maka tak seorangpun tahu apa produk kita. Pak Tung juga menggugat ilmu marketing yang menurutnya lebih banyak bicara tentang teori seperti branding, awareness dan sebagainya. Lalu pertanyaannya adalah, kapan jualannya? Baginya yang penting adalah kita bisa melakukan penjualan, dan itu harus dalam gebrakan peningkatan yang luar biasa, dengan bantuan tips-tips yang dikemukakannya.
Hal kedua yang menurut saya penting adalah mengenai hubungan kita dengan pelanggan. Kita harus membuat pelanggan merasa ‘menang’ (win) dahulu, baru kita menentukan posisi menang kita. Prinsip win-win situation. Karena menurut Pak Tung, apabila kita bisa memenuhi segala yang orang lain inginkan maka kita akan mendapatkan semua yang kita mau. Kalimat ini diulang beberapa kali bersama-sama agar tertanam dalam pikiran kita.
Pokok penting yang ketiga, adalah jika kita ingin menjadi kaya maka kita tidak boleh benci kepada orang kaya atau kekayaan. Kelihatannya bukan masalah, tetapi coba lihat, kadangkala kita agak-agak iri dengan keistimewaan yang didapatkan oleh orang kaya. Seperti misalnya di pesawat, mereka dapat duduk di kelas bisnis yang nyaman, lega dan hidangan yang berbeda, sedangkan kita berimpit-impitan di kelas ekonomi dengan makanan paket yang seragam rasanya. Rasa iri ini kalau berkembang menjadi kebencian, akan semakin menjauhkan kita dari kekayaan. Sebab, tidak mungkin kita bisa dan mau dekat dengan sesuatu yang kita benci. Menurut saya hal ini memang masuk akal.
Masih banyak lagi tips-tips yang bagus. Tetapi karena Pak Tung cukup berbaik hati, seminar yang seharusnya selesai pukul 21.00 malam masih berlanjut terus. Karena sudah cukup lelah, dan juga karena apa yang dibicarakannya terdapat dalam bukunya, maka saya putuskan untuk pulang. Selanjutnya memang benar, terserah apakah kita akan mengambil tindakan untuk melaksanakan tips-tips atau berlalu begitu saja seperti seminar-seminar lainnya.