World of Dytra

Masukan dari Oktober 2008

Semua harus menang

27 Oktober 2008 · & Komentar

Seorang teman lama mengirimkan tiket seminar Tung Desem Waringin ke saya, lengkap dengan buku dan bonus 5 CD. Tadinya, saya agak malas karena sudah beberapa kali saya ikut seminar motivasi dari beberapa pembicara terkenal di Indonesia. Tiket seminar seperti ini biasanya mahal, tetapi saya selalu mendapatkannya gratis. Saya pernah ikut seminar self motivation Krishnamurti di Gereja, lalu sales performace James Gwee di acara yang diadakan oleh AIG (saya diundang teman). Seminar tentang salesmanship oleh Tanadi Santoso juga pernah saya ikuti, sekali dibayarkan oleh istri (waktu itu dia baru saja dapat rezeki lebih), sekali lagi di acara IBM gathering.

Sebetulnya rasa malas saya timbul karena menurut saya, kurang lebih topik yang dibicarakan sama. Tentang perlunya motivasi, tentang perubahan mindset, tentang perlunya tindakan dan sebagainya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap para pembicara itu, bagi saya, seminar-seminar itu lebih berarti sebagai suatu bentuk penyegaran saja, atau entertainment dalam bentuk yang lebih mengarah ke pengembangan diri. Namun akhirnya saya memutuskan untuk hadir karena rasanya tidak enak, sudah dibayari tetapi tidak datang. Agak mengejutkan juga, setiba saya di tempat seminar, di suatu pertokoan sepi, ternyata sudah begitu ramai, meskipun masih setengah jam lagi acara dimulai.

Ketika acara dimulai, saya melihat bahwa para pesertanya begitu antusias, saling berebutan untuk duduk paling depan. Sang pembicara, Pak Tung, demikian menurutnya ia biasa dipanggil, memberikan salam dan mengajak untuk melakukan beberapa gerakan. Menurut saya, agak mirip-mirip seperti sebuah religion, semua orang menuruti gerakan-gerakannya, yang kalau sehari-hari mungkin terasa malu untuk dilakukan di publik. Namun demikianlah, para peserta tampak dari yang berpenampilan eksekutif sampai yang berwajah ‘pengangguran’, mengikuti dengan bersemangat, termasuk saya (ya, daripada diam sendirian). Maka berbagai tips disampaikan dengan suara keras, dipadu dengan pengulangan serta gerakan-gerakan, menurut Pak Tung, akan lebih mudah diingat.

Beberapa point yang saya anggap cukup berharga adalah pertama, jika hendak membuat iklan, haruslah yang heboh sehingga orang akan tertarik untuk membacanya. Karena bagi Pak Tung, iklan adalah penawaran dan penawaran adalah marketing. Tanpa penawaran tidak ada marketing. Memang benar, tanpa menawarkan maka tak seorangpun tahu apa produk kita. Pak Tung juga menggugat ilmu marketing yang menurutnya lebih banyak bicara tentang teori seperti branding, awareness dan sebagainya. Lalu pertanyaannya adalah, kapan jualannya? Baginya yang penting adalah kita bisa melakukan penjualan, dan itu harus dalam gebrakan peningkatan yang luar biasa, dengan bantuan tips-tips yang dikemukakannya.

Hal kedua yang menurut saya penting adalah mengenai hubungan kita dengan pelanggan. Kita harus membuat pelanggan merasa ‘menang’ (win) dahulu, baru kita menentukan posisi menang kita. Prinsip win-win situation. Karena menurut Pak Tung, apabila kita bisa memenuhi segala yang orang lain inginkan maka kita akan mendapatkan semua yang kita mau. Kalimat ini diulang beberapa kali bersama-sama agar tertanam dalam pikiran kita.

Pokok penting yang ketiga, adalah jika kita ingin menjadi kaya maka kita tidak boleh benci kepada orang kaya atau kekayaan. Kelihatannya bukan masalah, tetapi coba lihat, kadangkala kita agak-agak iri dengan keistimewaan yang didapatkan oleh orang kaya. Seperti misalnya di pesawat, mereka dapat duduk di kelas bisnis yang nyaman, lega dan hidangan yang berbeda, sedangkan kita berimpit-impitan di kelas ekonomi dengan makanan paket yang seragam rasanya. Rasa iri ini kalau berkembang menjadi kebencian, akan semakin menjauhkan kita dari kekayaan. Sebab, tidak mungkin kita bisa dan mau dekat dengan sesuatu yang kita benci. Menurut saya hal ini memang masuk akal.

Masih banyak lagi tips-tips yang bagus. Tetapi karena Pak Tung cukup berbaik hati, seminar yang seharusnya selesai pukul 21.00 malam masih berlanjut terus. Karena sudah cukup lelah, dan juga karena apa yang dibicarakannya terdapat dalam bukunya, maka saya putuskan untuk pulang. Selanjutnya memang benar, terserah apakah kita akan mengambil tindakan untuk melaksanakan tips-tips atau berlalu begitu saja seperti seminar-seminar lainnya.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , , , ,

Doesn’t matter!

23 Oktober 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalimat di atas diucapkan oleh salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates kepada Steve Jobs, saat Jobs marah kepadanya karena ia menuduh Gates mencuri ide user graphical interface untuk sistem operasinya, Windows. Jobs marah karena ia merasa Apple-lah yang pertama menerapkan antar-muka grafis pada mesin Lisa dan kemudian Macintosh. Tapi Gates yang memang pandai berdebat, mengatakan bahwa mereka berdua memang sama-sama pencuri. Jobs mencuri ide tersebut dari pusat riset Xerox di Palo Alto (PARC), dan Gates mencurinya dari Jobs, ketika mengunjunginya di markas besar Apple. Yang dicuri memang cuma ide, bukan teknologinya, karena mereka berdua memiliki engineer yang mumpuni untuk mewujudkan mimpi-mimpi kedua visioner kelas dunia itu.

Karena merasa kalah berdebat, Jobs berkata dengan suara lemah, “Punya kami lebih bagus!” Gates yang baru saja hendak berlalu, kembali lagi dan berkata, “Don’t you understand Steve, it doesn’t matter!” Saya tidak tahu, apakah kenyataannya memang benar-benar seperti itu, tetapi seluruh adegan ini saya lihat dari film Pirates of the Silicon Valley yang dibuat berdasarkan buku Fire in the Valley karya Paul Freiberger dan Michael Swaine (© 2000, McGraw Hil). Tetapi, yang diucapkan oleh tokoh Gates tersebut memang benar. Jobs memiliki team yang terdiri dari ahli-ahli teknologi informasi dan juga disainer yang paling berbakat. Tengok saja karya-karya monumentalnya sejak awal ia mendirikan Apple, didepak, lalu masuk lagi. Bahkan Pixar, perusahaan yang didirikannya setelah keluar dari Apple menjadi perusahaan animasi besar. Jobs memang ahli dalam memadukan seni disain dan teknologi.

Sedangkan Gates, jika Anda pernah melihat sistem operasi besutan Apple, akan sangat terasa beda touch nya jika dibandingkan produk Microsoft, yakni Windows. Tetapi, kenyataannya, indah, cantik, bagus tidak selalu berarti laku dijual. Windows sangat merajalela, baik original maupun bajakannya. Menurut web w3schools, per September 2008, Windows XP menguasai pangsa pasar sebesar 73.3%, Vista merayap naik ke 13.2% (masih ada lagi Windows 98, 2000 dan 2003), total 90.7%. Bandingkan dengan Mac yang berkisar di 5.2% dan Linux (yang digadang-gadang bisa menghadapi ekspansi Windows karena gratis) sebesar 3.8%. Angka yang sama juga saya dapatkan dari Wikipedia. Apa rahasianya sehingga produk ini laku keras meski sering bikin kesal, karena mudah diserang virus, banyak celah keamanan, banyak bug sehingga butuh service pack, dan jika hang tidak memberikan informasi yang dimengerti manusia.

Banyak ahli-ahli pemasaran yang gemar membahas fenomena laku kerasnya produk Microsoft yang notabene bukan produk terbaik di kategorinya. Banyak alasan dibalik diterimanya sebuah produk di masyarakat. Untuk Windows, sederetan alasan tersedia. Tetapi yang jelas, seperti yang pernah dikatakan oleh Gates, doesn’t matter itulah yang menarik. Gates memang brilian, bukan di sisi teknologi, karena sebagian besar ide dan pengerjaannya dilakukan oleh team yang terdiri dari orang-orang hebat, lulusan terbaik dari universitas terbaik. Ia brilian justru di bidang manajemen. Kemampuannya untuk manajemen organisasi (ia mampu mengorganisir dengan baik individu-individu jenius) dan pemasaran luar biasa. Bahkan konon Warren Buffet, yang gonta ganti posisi terkaya nomor satu dengan Bill Gates, mengatakan bahwa jika Gates tidak berjualan produk IT, tetapi hamburger, ia tetap akan menjadi nomor satu. Kalimat sederhananya, Bill Gates memang jago jualan, doesn’t matter barangnya apa saja, bagus maupun tidak.

Disamping itu, tampaknya Microsoft juga memanfaatkan promosi gratis. Banyak kehebohan yang dilakukannya sehubungan dengan produknya itu. Secara pribadi, Bill Gates juga banyak dibicarakan. Bahkan produknya mungkin juga menjadi salah satu software yang paling banyak dibajak. Akibatnya jelas, karena sudah terbiasa menggunakannya, bajakannya ada dimana-mana, maka ketika harus membeli produk aslinya, tentu Windows yang akan dipilih. Linux yang sedari awal menjadi produk gratisanpun tak mampu tumbuh cepat. Mungkin karena persepsi pengguna yang menganggap bahwa Linux lebih cocok digunakan oleh orang-orang yang mengerti benar soal computer. Ya, Windows memang bisa diaplikasikan baik oleh orang awam yang agak-agak gaptek maupun para professional. Seorang teman yang awam soal komputer mengatakan bahwa untuk menginstalasi salah satu distro Linux, ia harus mengulang beberapa kali sampai frustrasi. Setelah terinstalpun, ia kebingungan mencari cara untuk menyambung printer, berbagi file, bahkan mengakses internet. Sedangkan untuk Windows, menurutnya, tinggal klik ‘Nex-next’ saja (maksudnya mungkin wizard). Bahkan di suatu seminar mengenai teknologi informasi, ketika ada seorang peserta yang menunjukan sikap antipati terhadap Microsoft dan begitu mendukung geraka open source yang mengedepankan Linux, sang pembicara yang merupakah salah satu pakar yang cukup disegani di lingkungan IT, mengoreksinya. Ia mengatakan bahwa Bill Gates adalah tokoh yang patut dihormati, karena dari pemikirannyalah dunia IT memperoleh bentuknya seperti sekarang ini. Windows tetap menjadi salah satu produk terpopuler dan lebih banyak orang yang menyukainya daripada membencinya.

Sebagai refleksi, seringkali dalam mengerjakan suatu produk, kami juga barangkali mengambil sikap ingin membuat segala sesuatunya sempurna. Sehingga, banyak waktu dihabiskan untuk menyempurnakan dan memoles. Akibatnya, ketika meluncurkan produk, kami menjadi bukan yang pertama, meski dengan produk yang lebih baik. Dan karena biayanya menjadi lebih tinggi, harga kami juga menjadi tidak kompetitif. Jadi tampaknya strategi penjualan harus digeser sedikit. Kami harus membuat produk yang layak dan mudah dijual, mudah digunakan, dan dipadukan dengan sedikit kehebohan seperti di atas. Bagaimanapun juga, tetapi Microsoft memang sangat menarik, tumbuh dari perusahaan kelas garasi oleh dua sahabat (Bill Gates dan Paul Allen) plus satu teman ‘kos’ (Steve Ballmer), ia menjadi perusahaan dunia dan membuat pemiliknya kaya raya. Meskipun kadangkala mereka kontroversi, tetapi doesn’t matter, yang penting harus diakui, bahwa mereka hebat.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , ,

Terbang seperti elang

10 Oktober 2008 · & Komentar

Alkisah, ada seseorang yang meletakkan sebutir telur elang di sarang ayam. Telur itu kemudian menetas, dan sang anak elang tumbuh bersama dengan anak-anak ayam lainnya. Ia mencari makan dengan cara ayam, yakni mematuk-matuk beras dan kadang-kadang cacing. Iapun hanya mampu terbang rendah layaknya seekor ayam. Tahun demi tahun berlalu, elang itupun mulai menua, sebagaimana ayam-ayam lain sebayanya. Suatu hari, ia melihat ke angkasa dan di sana tampak seekor elang lain yang terbang dengan gagahnya. Elang tua terpesona, “Alangkah hebatnya burung itu, terbang tinggi menentang angin dengan gagahnya.” Ayam temannya ikut melihat dan berkata, “Oh, itu adalah elang, raja segala burung. Ia memang luar biasa.” Sang elang tua makin kagum, “Andai saja kita bisa seperti dia juga, terbang tinggi dengan gagah seperti itu.” Ayam temannya hanya tersenyum sambil menggeleng,”Yah, memang hebat kalau kita bisa seperti itu. Tapi sadarilah, kita ini cuma ayam yang hidup seperti sekarang ini.” Sang elang tua menghentikan lamunannya, dan meneruskan kehidupan sehari-harinya, tetap sebagai seekor ayam sampai akhir hayatnya.

Cerita di atas mungkin sering kita dengar atau baca. Saya sendiri mendapatkan cerita ini dari buku Burung Berkicau karya Anthony de Mello, SJ. Dan cerita di atas adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Ada banyak hal penting yang bisa kita petik dari cerita ini, tergantung dari sudut pandang kita. Karena tokohnya adalah seekor elang, mungkin kita bisa personifikasikan sebagai diri kita. Jika kita seekor elang yang hidup di antara ayam-ayam, maka kita akan menjadi ayam juga. Atau bisa juga bahwa kita mempunyai potensi elang, tetapi tidak pernah menyadarinya, kita hanya berhenti pada kekaguman terhadap elang lainnya, tanpa mampu beranjak dari kondisi sebagai ayam.

Baru-baru ini dalam percakapan dengan seorang teman, ia membahas mengenai seorang teman lamanya yang berkiprah di Amerika, sebagai seorang ahli kimia. Posisi temannya itu sekarang adalah Director of Engineering dari sebuah perusahaan multinasional, diantara direktur lainnya yang orang-orang asing. Lalu kami sibuk membahas tentang kehebatan teman lamanya itu, dan mengagumi bahwa di umur yang sama dengan kami, pencapaian prestasinya sungguh luar biasa. Sore harinya, dalam perjalanan pulang, saya jadi teringat dengan cerita Anthony de Mello. Ya, saya dan teman saya itulah elang-elang yang tumbuh di antara ayam-ayam. Bukankah kitapun bisa mencapai prestasi tinggi jika kita mau mengusahakannya?

Sang elang tua dalam cerita di atas, sampai akhir hayatnya tetap mengira dirinya seekor ayam. Tetapi apakah dia tidak bahagia? Saya kira, ia tetap bahagia, ia tetap berkecukupan, dan tidak menyesali bahwa dia bukan elang yang sedang terbang di angkasa. Lain halnya, jika ia menyadari, bahwa ia benar-benar seekor elang, tetapi telah kehilangan hakekatnya sebagai seekor burung gagah dan menjadi seekor ayam, pasti ia akan frustrasi dan mungkin mati lebih cepat. Jadi, bukanlah masalah bahwa setiap elang harus menjadi elang, tetapi kemampuan untuk menerima kondisinya. Hidup setiap orang setiap saat pasti menghadapi kondisi-kondisi tertentu, dan perjalanan hidupnya ditentukan oleh keputusan yang diambil saat menghadapi kondisi tersebut. Ketika keputusan yang diambil mengarahkan seseorang lebih mendekati posisi puncak, hal itu sepenuhnya tergantung pada dirinya. Jadi, hidup ini tidak mengalir begitu saja seperti sebuah sungai. Setiap saat aliran itu bisa berbelok, tergantung keputusan yang kita ambil.

Kemampuan pengambilan keputusan memang akan mempengaruhi perjalanan hidup. Kadang kita merasa tidak memiliki petunjuk apapun dalam memutuskan sesuatu, kadang kala juga kita bisa salah, kadang bisa benar-benar tepat. Di tahun 1989, ketika memutuskan untuk kuliah di STMIK BiNus, saya sama sekali tidak memiliki petunjuk akan menjadi apa nantinya, apa profesi saya, dan apakah jadi pekerja atau pengusaha. Satu-satunya pemikiran adalah agar saya bisa bekerja di posisi yang lebih baik dengan gaji yang lebih memadai, disamping memang ada pertimbangan biaya juga, bahwa saat itu kampus BiNus lah yang paling terjangkau. Tetapi di sisi lain, ada juga teman lain yang punya banyak pilihan tempat kuliah, dalam maupun luar negeri. Dengan kemampuan otak yang memadai, dan dana yang cukup, mungkin ia memiliki petunjuk yang lebih jelas, akan kemana ia nantinya akan melangkah.

Perubahan aliran kehidupan juga terjadi ketika kesempatan-kesempatan selanjutnya bermunculan. Seperti tawaran beasiswa, tawaran pekerjaan di luar negeri dan sebagainya. Keputusan-keputusan yang kita ambil jelas akan membawa kita ketempat kita berada sekarang ini. Dan saat ini, masih ada banyak lagi kesempatan, kondisi, tantangan dan sebagainya yang membutuhkan keputusan bijak kita, kemana kita akan menuju.

Menjadi elang, atau tetap sebagai ayam, kedua-duanya tidaklah buruk, tergantung apakah kita bisa menerima posisi kita, berbahagia dan bisa bersyukur.

(Tulisan ini telah diterbitkan di wikimu.com pada tanggal 10 Oktober 2008)

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , , ,