World of Dytra

Masukan dari November 2008

Kekuatan Usaha Bermodal Kecil

26 November 2008 · & Komentar

Dalam dua minggu ini, saya bertemu dengan beberapa teman yang sesama pebisnis. Ada berbagai hal yang kami perbincangkan, dan utamanya pasti tentang krisis keuangan yang sedang melanda dunia. Menarik juga, karena pola pandang mereka yang menjalankan bisnis kecil ternyata berbeda dengan yang bergerak di bisnis skala besar. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang apa yang menjadi pemikiran mereka mengenai kondisi usaha saat ini.

Minggu lalu, pertama saya makan malam dengan seorang teman lama yang juga bergerak di bidang teknologi informasi yang berfokus pada infrastruktur dan perangkat lunak asuransi. Usahanya termasuk menengah kecil seperti saya, dengan karyawan tak sampai dua puluh orang, meskipun omzet nya mencapai milyaran rupiah. Ketika perbicangan kami mulai memasuki prediksi kondisi bisnis tahun yang akan datang, saya menangkap nada optimisnya. Menurutnya, krisis saat ini lebih pada mereka yang menanamkan uangnya pada instrumen investasi, dimana posisi harga anjlok tak terkendali. Sedangkan untuk bisnisnya sendiri dengan pasar yang sudah pasti dan produk yang unik, ia percaya bahwa tahun depan, perusahaannya masih bisa berjalan dengan baik. Saya kira, karena memang produknya unik dan spesifik untuk kliennya, ia bisa optimis. Hanya ada sedikit kekhawatiran, oleh karena kliennya bergerak di sektor finansial, kalau sampai terjadi guncangan pada usahanya, bisa-bisa kontrak kerja yang sudah ditandatangani di tunda, atau lebih parahnya dibatalkan, meskipun harus membayar denda yang tidak kecil nilainya. Bagi teman saya itu, ia tetap tidak terlalu khawatir, karena perusahaannya yang kecil. Kalaupun terjadi sesuatu, ia masih mudah untuk bergerak dan bertahan dengan cost yang mudah dikendalikan. Dengan kata lain, jika harus pindah bidangpun, ia siap.

Esoknya, saya janjian untuk makan siang dengan seorang teman lagi yang juga pebisnis yang menyalurkan barang-barang ke beberapa lembaga. Barang-barang itu ada yang diproduksinya sendiri secara home industry, ada pula yang bersifat trading. Dalam pembicaraan mengenai prospek bisnis ke depan, meskipun dengan nada rendah, ia menunjukkan sikap optimis pada bisnis yang ditekuninya. Baginya, tantangan mungkin lebih pada persaingan ketat yang sudah dialaminya dari awal bisnisnya. Sedangkan untuk pasar, kemungkinannya adalah penurunan permintaan. Namun karena biaya operasionalnya kecil, dengan karyawan dibawah sepuluh orang, ia tetap yakin bisa melanjutkan usahanya dalam masa krisis.

Memang, dua orang teman saya ini tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan pandangan pengusaha UKM, karena mungkin banyak yang berpandangan sebaliknya. Namun menurut saya, dengan produk unik dan pasar yang jelas serta biaya operasional yang relatif rendah, daya tahan UKM untuk melalui masa krisi cukup besar. Lain halnya dengan pertemuan dengan para eksekutif yang mengelola bisnis skala besar, dimana perbincangan juga menyentuh masalah krisis keuangan.

Direktur perusahaan konstruksi besar yang terkemuka ini memang sudah kenyang pengalaman. Namun dalam pertemuan sore hari di kantornya di wilayah Cikarang, ia tampak lelah. Sampai akhir tahun ini, ia baru mendapat satu klien baru untuk pengerjaan konstruksi baja. Sedangkan untuk proyek sipil pembangunan gedung bertingkat yang menjadi andalan perusahaannya, belum ada yang yang masuk. Meskipun ia hanya menjabat sebagai eksekutif saja, tetapi tentu saja ia harus bertanggung jawab untuk kelanjutan operasional perusahaannya yang melibatkan tidak kurang dari tiga ribu karyawan. Biaya besar yang harus ditanggung perusahaannya memang mengharuskan mereka untuk terus menerus mendapatkan proyek. Di sisi lain, kredit bank juga sudah tidak mudah didapatkan, dan bunganyapun tinggi sekali. Maka sore itu, obrolan kami lebih banyak hanya mendengarkan keluh kesahnya.

Malamnya, kebetulan juga saya ada janji makan malam dengan seorang presiden direktur perusahaan telepon genggam ternama. Meskipun pertemuan itu bukan membicarakan bisnis, tetapi untuk urusan aktifitas gereja, tak urung, setelah pembicaraan utama selesai, topik berikutnya tetap sama, masalah krisis finansial. Menurutnya, tahun mendatang bisnis akan menurun. Walaupun tidak menyebutkannya secara terang-terangan, tetapi saya menangkap kekhawatirannya, karena produk perusahaannya bukanlah kebutuhan primer, sehingga ada kemungkin terjadi penurunan permintaan yang besar, manakala orang-orang lebih mengutamakan kebutuhan utamanya yang harganya akan meningkat. Ketika saya mengutarakan bahwa fokus bisnis saya yang menyediakan kebutuhan usaha ritel, yang sampai saat ini masih tinggi permintaannya, menurutnya, saat ini memang ritel sebagai salah satu sektor riil terkuat, perlahan tapi pasti akan terimbas juga. Hanya saja, jika pemulihan bisa cepat, sebelum pengaruh krisis membesar, maka bisnis ritel bisa selamat. Konsumsi masyarakat masih akan menjadi pendorong utama pergerakan ekonomi tanah air.

Saya kira, memang terbukti selama krisis satu dekade sebelumnya, usaha dengan modal kecil lebih bisa bertahan. Kalau melihat ke dalam kondisi perusahaan saya sendiri, kekuatan itu ada pada bentuk perusahaan yang ramping, tanpa birokrasi, gesit dan fleksibel serta operasional yang berbiaya rendah. Maka saya harap untuk rekan-rekan yang bergerak di usaha UKM bisa tetap bersikap optimis dalam menyikapi kondisi perekonomian saat ini. Seperti kata teman saya, yang berbisnis sebagai penyalur, “Biar para pakar saja yang berdiskusi urusan krisis ekonomi, kita urusannya dagang sajalah…!”

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,

Kontroversi!

15 November 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Siang hari Sabtu ini, saya harus masuk kantor dan makan siang dengan prospek klien yang cukup penting. Tetapi sebetulnya, hati saya sedang mendongkol karena ada satu klien lainnya yang menunda pembayaran piutangnya pada kami. Kalau hanya menunda saja sih mungkin bisa ditolerir apabila mereka memberikan penjelasan yang cukup. Tetapi klien yang satu ini cukup unik, mereka yang berhutang pada kami, tapi mereka lebih galak karena sudah main kata-kata yang kasar dan sama sekali tidak mencerminkan bagaimana seharusnya etika berbisnis.

Maka sambil makan siang, saya mesti memasang wajah penuh senyum yang dipaksakan terus. Seperti yang saya jelaskan tadi, prospek klien ini cukup besar, yang apabila kami berhasil memenangkan deal, bisa membuat cashflow kami aman selama satu kuartal. Tetapi perjalanan masih panjang, dan hubungan awal bisnis yang cukup baik ini serasa sebagai kompensasi atas kekesalan saya terhadap klien preman yang satunya itu.

Saat sedang memilih menu, mata saya tertumbuk pada sesosok pria perlente yang baru masuk ke rumah makan itu. Saya mengenalinya, itu Dedi, teman kantor dulu waktu di suatu perusahaan telekomunikasi tahun sembilanpuluhan. Waktu itu saya di posisi logistic manager, sedangkan Dedi sales manager. Kami bersahabat selama bekerja di perusahaan itu. Dan satu hal yang saya selalu ingat, kami berdua benar-benar mampu memisahkan urusan pekerjaan dan pribadi. Maksudnya begini, pernah suatu ketika dalam suatu rapat, perdebatan antara saya dan Dedi cukup panas sehingga kami sudah benar-benar saling berteriak satu sama lain. Teriakan kami sampai-sampai membuat dua orang staf wanita yang ada di ruangan rapat menangis karena terkejut. Tepat jam dua belas siang, di tengah perdebatan panas kami, Dedi melihat ke arlojinya. “Waktu makan siang nih Rud, mau makan di mana?” Saya menjawab dengan santai, sama sekali tanpa nada keras, seperti juga ucapan Dedi tadi, “Di Hokben yuk…” Begitulah gambaran hubungan kerja kami berdua. Pertengkaran soal pekerjaan cukup sering diantara kami berdua. Tapi tak pernah ada satupun yang sampai masuk ke ranah pribadi.

Saya segera hampiri Dedi. Tetapi sebelum sempat saya menyapanya, saya lihat Dedi membawa seorang wanita tua masuk sambil menyuruhnya memilih makanan. Saya tertegun, wanita tua itu tadi berjongkok di depan pintu masuk rumah makan sambil menjajakan makanan yang tidak menarik. Sebegitu tidak menariknya maka orang-orang yang keluar masuk rumah makan itupun tidak memerdulikannya, termasuk saya. Saat tadi saya masuk, saya cuma melihat sepintas sambil mengeluh dalam hati,”…halah, bukan jualan kue, tapi jualan kasihan…” Saya mencibir sambil melangkah masuk, dalam hati merasa wanita tua itu merusak selera makan saja.

Ketika saya tepuk Dedi, dia terkejut, dan seperti gayanya dua belas tahun yang lalu, ia menyalami saya sambil berkat, “Wei…. Boss, gimana kabarnya nih, waduh udah sukses nih kelihatannya.” Tak usah heran, itu memang gaya standar Dedi yang tak pernah berubah. “Sama siapa Ded?” Tanya saya. “Sendirian sih, tapi itu gua kasihan lihat ibu tua itu, jadi gua ajak makan saja.” Saya tercekat, tak mampu berkata. Tiba-tiba rasanya saya merasa ditampar telak. Bukan ini bukan lirik lagu Another Day In Paradise, ini kejadian nyata di Sabtu siang yang panas. Saya rasa tak usah diceritakan lagi, bisa dilihat di sini betapa kontroversinya sikap saya dibanding kebaikan hati Dedi. Dan saya lebih merasa tertampar lagi, ketika saya lihat Dedi dengan santainya duduk semeja dengan wanita tua itu, dan mengajaknya mengobrol dengan penuh perhatian sambil makan siang. Detik itu juga saya menyadari, saya telah mengabaikan Tuhan yang hadir dalam diri wanita itu. “Ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makanan…” Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telinga saya sepanjang hari ini dan mungkin akan sepanjang hidup saya. Tuhan, semoga saya tidak mengabaikanMu lagi.

Ketika saya melangkat ke mobil untuk melanjutkan meeting dengan prospek klien saya, saya berpamitan dengan Dedi, seakrab dahulu. Namun hari ini, rasanya saya jadi mengenal Dedi lebih dalam, bahwa di balik sosok yang bergaya easy going begitu (di usia yang sama dengan saya, Dedi masih pakai kaos ketat dan celana jeans belel dan sepatu kets) ternyata ia memiliki kemuliaan hati. Saya sungguh berharap peristiwa hari ini bisa lebih membuka mata saya. Tiba-tiba rasa dongkol tadi di hati saya menghilang dan mendesak keluar lewat mata yang tiba-tiba terasa perih…

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,

Diversifikasi

13 November 2008 · 1 Komentar

Kata apa sih ini, mungkin begitu pertanyaan Anda yang tidak memahami bahasa asing yang dipaksakan jadi Bahasa Indonesia karena kalau diterjemahkan, jadi panjang dan kurang pas rasanya. Kalau dicari artinya mungkin ahli manajemen bisa menjelaskan panjang lebar. Tetapi dalam pengertian saya, ini lebih berarti sebagai bentuk pengembangan bisnis yang berbeda dari core yang kita tekuni selama ini. Mirip seperti pesan dalam perumpamaan tentang membagi telur dalam beberapa keranjang, sehingga kalau satu keranjang jatuh dan memecahkan telur-telur di dalamnya, kita masih punya telur-telur di keranjang lainnya.

Atau bagi yang pernah membaca buku ‘Who Move My Cheese?’ tentu tahu, bahwa suatu sumberdaya (usaha) yang memberikan hasil terus-menerus untuk mencukupi kebutuhan kita, suatu saat bisa saja hilang atau habis. Jika saat itu terjadi dan kita telah menemukan sumberdaya baru, pasti hal itu tidak akan berpengaruh banyak bagi penghasilan kita. Saya juga telah menggambarkannya dalam tulisan mengenai dualisme profesi. Tetapi kali ini saya akan menggambarkan dalam pengembangan bisnis.

Seperti juga dalam pekerjaan, usaha juga harus mengenal jalur alternatif, jika dilihat dari sudut pandang pebisnis. Jika kita hanya mengandalkan satu subyek saja dalam menciptakan sumber arus pendapatan, saat ini hal tersebut bisa dikatakan cukup riskan. Jelas, karena sekali sumber itu tersumbat, maka pendapatan pun akan tersendat. Hal ini bukan berarti kita selalu mengambil sikap pesimistis dalam menjalankan usaha, tetapi ini lebih berarti menciptakan lagi lebih banyak peluang untuk mendapatkan pendapatan. Pengembangan usaha dalam hal menciptakan sumber baru pendapatan bisa saja berada dalam bisnis inti yang sama tetapi dalam subyek (perusahaan) yang berbeda. Tetapi bila ada peluang untuk mengembangkan bisnis ke bidang yang berbeda, menurut saya hal ini akan lebih baik, selama kita mengerti juga bidang baru itu. Karena, bisa saja saat bidang utama yang kita tekuni selama ini dilanda krisis, maka usaha lain di bidang yang berbeda bisa tetap berjalan karena tidak berada dalam situasi yang sama.

Tetapi dalam diversifikasi, tentunya tidak dengan tergesa-gesa atau bahkan terlalu agresif. Kita bisa lihat contoh di era delapanpuluhan, banyak perusahaan yang tadinya biasa-biasa saja, atau bahkan perusahaan keluarga, tiba-tiba bisa menjadi konglomerat. Istilah yang banyak dipakai di era itu adalah ‘menggurita’. Sungguh mengerikan ketika kita melihat kenyataan saat krisis moneter terjadi, satu-persatu konglomerat itu runtuh meninggalkan hutang seabreg-abreg! Walaupun dalam diversifikasi kita bisa saja masuk ke bidang yang berbeda, tetapi jika bidang yang dimasuki ternyata tidak kita kuasai seluk beluknya, tentu hal itu akan menjadi sesuatu yang rapuh.

Di kelas UKM, diversifikasi juga bisa dilakukan, malahan lebih leluasa. Saya kenal seseorang yang menjalankan home industry dengan membuat permen jelly untuk anak-anak yang dititipkannya di beberapa swalayan mini. Ketika produknya sedang laris-larisnya, bahan bakunya mendadak sulit diperoleh. Akibatnya, ia kesulitan untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Ketika ia sedang mencari alternatif bahan untuk permennya, ia menemukan produk baru yang berbeda yang kemungkinan bisa dijual, kripik singkong balado. Mulailah ia mengemas kripik tersebut ke dalam kemasan yang lebih kecil dan menarik. Singkat cerita, produk keduanya itupun bisa menutupi penjualan produk pertamanya yang menurun karena kekurangan bahan baku.

Dari ilustrasi kecil di atas kita bisa melihat bahwa untuk diversifikasi, sebetulnya tidak perlu terlalu rumit. Kadang kala hal-hal sederhana di sekitar kita yang selama ini kurang diperhatikan, bisa saja menjadi sumber inspirasi baru sebagai alternatif usaha.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,

Kebiasaan

11 November 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mulanya, kita melakukan sesuatu secara rutin. Kita yang mengendalikannya, mulai dari waktu melakukannya, bagaimana caranya dan hasil yang kita harapkan. Setelah rutinitas berlangsung beberapa lama, aktivitas itu yang akhirnya “menguasai” kita, entah dari sisi waktu, cara maupun hasilnya. Hampir mirip seperti kecanduan, karena kadang-kadang suatu kebiasaan yang sudah bertahun-tahun kita lakukan, jika kita hentikan mendadak, pasti terjadi penolakan dari dalam diri kita, baik sadar maupun tidak.

Kebiasaan bisa baik bisa buruk juga. Kebiasaan baik tentulah harus kita pertahankan, malah kalau perlu dikembangkan. Sedangkan kebiasaan buruk, tak perlu kita bahas, karena sudah jelas, jika ingin hidup kita lebih baik, kebiasaan buruk harus kita buang jauh-jauh. Contohnya, kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, kebiasaan ngemil tidak sehat (mis. makan gorengan di sore hari).

Beberapa tahun lalu, ketika saya baru memulai usaha kecil kami, karena hanya memiliki modal terbatas, maka bentuk usaha yang kami kelolapun sangat terbatas. Oleh karena keadaan itu, uang hasil penjualan yang kami kelola juga dalam jumlah kecil. Seringkali uang hasil tersebut tidak cukup untuk menutupi kebutuhan operasional bulanan, sehingga terpaksa kami harus mencari pinjaman jangka pendek, yang dibayarkan pada bulan berikutnya. Jika bulan berikutnya kurang lagi, ya terpaksa pinjam lagi. Demikianlah, kami memulai kebiasaan gali lobang tutup lobang. Karena dijalankan dengan teratur setiap bulan, maka hal itu menjadi kebiasaan. Mengelola uang dalam jumlah kecil dan menutupi biaya dengan pinjaman jangka pendek.

Untuk mengubah kebiasaan, bisa melalui faktor eksternal maupun internal. Untuk kasus kebiasaan kami, faktor eksternal tidak berpengaruh banyak. Ketika memperoleh proyek yang cukup besar, jangka waktu pembayaran yang kami tawarkan ke pelangganpun mencerminkan kebiasaan pengelolaan uang kami. Sehingga proyek besar itupun tidak membuat kami serta merta bisa mengelola uang dalam jumlah besar. Tetap saja kebiasaan berlanjut, uang muka dalam jumlah yang lumayan kami habiskan untuk belanja keperluan yang selama itu dianggap tertunda. Sisanyapun tidak cukup untuk operasional lagi, dan pinjaman jangka pendek pun dipakai lagi.

Sampai akhirnya kami menyadari, diperlukan faktor internal untuk mengubah kebiasaan ini, yakni kesadaran dalam diri kami sebagai pengelola bisnis kami sendiri. Kami memulai dengan memerhatikan pengeluaran rutin dengan cermat. Pengeluaran yang tidak penting kami tutup, untuk dialihkan ke pelunasan hutang jangka pendek. Pengeluaran rutin yang cukup besar diusahakan lebih efisien, tentunya dengan memberi pengertian kepada para karyawan, bahwa beberapa kenyamanan akan ditiadakan, dalam rangka efisiensi demi kelanjutan operasional perusahaan. Setelah membenahi keuangan internal, di sisi luar, kami menjalankan beberapa strategi penjualan untuk memperoleh proyek yang bernilai cukup besar tetapi dengan biaya operasional yang lebih kecil. Perlahan-lahan, bagian keuangan memulai kebiasaan baru, yaitu mengelola uang dalam jumlah yang lebih besar setiap bulan dan sebisa mungkin menghindari hutang.

Setelah beberapa tahun, cara pengelolaan seperti ini kemudian menjadi kebiasaan baru. Mengelola uang dalam jumlah yang besar, jauh dari saat-saat awal, membuat perusahaan bergerak menjadi bentuknya yang baru, lebih sehat dan lebih besar dan lebih siap untuk tumbuh. Selaras dengan hal itu, kamipun lebih percaya diri untuk menerima proyek yang semakin besar dan semakin mampu juga untuk menjaga efisiensi yang sudah menjadi kebiasaan perusahaan. Kebiasaan yang baik dalam perusahaan, kedepannya kami percaya, bahwa hal ini akan menjadi salah satu budaya perusahaan kami.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,