Dalam dua minggu ini, saya bertemu dengan beberapa teman yang sesama pebisnis. Ada berbagai hal yang kami perbincangkan, dan utamanya pasti tentang krisis keuangan yang sedang melanda dunia. Menarik juga, karena pola pandang mereka yang menjalankan bisnis kecil ternyata berbeda dengan yang bergerak di bisnis skala besar. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang apa yang menjadi pemikiran mereka mengenai kondisi usaha saat ini.
Minggu lalu, pertama saya makan malam dengan seorang teman lama yang juga bergerak di bidang teknologi informasi yang berfokus pada infrastruktur dan perangkat lunak asuransi. Usahanya termasuk menengah kecil seperti saya, dengan karyawan tak sampai dua puluh orang, meskipun omzet nya mencapai milyaran rupiah. Ketika perbicangan kami mulai memasuki prediksi kondisi bisnis tahun yang akan datang, saya menangkap nada optimisnya. Menurutnya, krisis saat ini lebih pada mereka yang menanamkan uangnya pada instrumen investasi, dimana posisi harga anjlok tak terkendali. Sedangkan untuk bisnisnya sendiri dengan pasar yang sudah pasti dan produk yang unik, ia percaya bahwa tahun depan, perusahaannya masih bisa berjalan dengan baik. Saya kira, karena memang produknya unik dan spesifik untuk kliennya, ia bisa optimis. Hanya ada sedikit kekhawatiran, oleh karena kliennya bergerak di sektor finansial, kalau sampai terjadi guncangan pada usahanya, bisa-bisa kontrak kerja yang sudah ditandatangani di tunda, atau lebih parahnya dibatalkan, meskipun harus membayar denda yang tidak kecil nilainya. Bagi teman saya itu, ia tetap tidak terlalu khawatir, karena perusahaannya yang kecil. Kalaupun terjadi sesuatu, ia masih mudah untuk bergerak dan bertahan dengan cost yang mudah dikendalikan. Dengan kata lain, jika harus pindah bidangpun, ia siap.
Esoknya, saya janjian untuk makan siang dengan seorang teman lagi yang juga pebisnis yang menyalurkan barang-barang ke beberapa lembaga. Barang-barang itu ada yang diproduksinya sendiri secara home industry, ada pula yang bersifat trading. Dalam pembicaraan mengenai prospek bisnis ke depan, meskipun dengan nada rendah, ia menunjukkan sikap optimis pada bisnis yang ditekuninya. Baginya, tantangan mungkin lebih pada persaingan ketat yang sudah dialaminya dari awal bisnisnya. Sedangkan untuk pasar, kemungkinannya adalah penurunan permintaan. Namun karena biaya operasionalnya kecil, dengan karyawan dibawah sepuluh orang, ia tetap yakin bisa melanjutkan usahanya dalam masa krisis.
Memang, dua orang teman saya ini tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan pandangan pengusaha UKM, karena mungkin banyak yang berpandangan sebaliknya. Namun menurut saya, dengan produk unik dan pasar yang jelas serta biaya operasional yang relatif rendah, daya tahan UKM untuk melalui masa krisi cukup besar. Lain halnya dengan pertemuan dengan para eksekutif yang mengelola bisnis skala besar, dimana perbincangan juga menyentuh masalah krisis keuangan.
Direktur perusahaan konstruksi besar yang terkemuka ini memang sudah kenyang pengalaman. Namun dalam pertemuan sore hari di kantornya di wilayah Cikarang, ia tampak lelah. Sampai akhir tahun ini, ia baru mendapat satu klien baru untuk pengerjaan konstruksi baja. Sedangkan untuk proyek sipil pembangunan gedung bertingkat yang menjadi andalan perusahaannya, belum ada yang yang masuk. Meskipun ia hanya menjabat sebagai eksekutif saja, tetapi tentu saja ia harus bertanggung jawab untuk kelanjutan operasional perusahaannya yang melibatkan tidak kurang dari tiga ribu karyawan. Biaya besar yang harus ditanggung perusahaannya memang mengharuskan mereka untuk terus menerus mendapatkan proyek. Di sisi lain, kredit bank juga sudah tidak mudah didapatkan, dan bunganyapun tinggi sekali. Maka sore itu, obrolan kami lebih banyak hanya mendengarkan keluh kesahnya.
Malamnya, kebetulan juga saya ada janji makan malam dengan seorang presiden direktur perusahaan telepon genggam ternama. Meskipun pertemuan itu bukan membicarakan bisnis, tetapi untuk urusan aktifitas gereja, tak urung, setelah pembicaraan utama selesai, topik berikutnya tetap sama, masalah krisis finansial. Menurutnya, tahun mendatang bisnis akan menurun. Walaupun tidak menyebutkannya secara terang-terangan, tetapi saya menangkap kekhawatirannya, karena produk perusahaannya bukanlah kebutuhan primer, sehingga ada kemungkin terjadi penurunan permintaan yang besar, manakala orang-orang lebih mengutamakan kebutuhan utamanya yang harganya akan meningkat. Ketika saya mengutarakan bahwa fokus bisnis saya yang menyediakan kebutuhan usaha ritel, yang sampai saat ini masih tinggi permintaannya, menurutnya, saat ini memang ritel sebagai salah satu sektor riil terkuat, perlahan tapi pasti akan terimbas juga. Hanya saja, jika pemulihan bisa cepat, sebelum pengaruh krisis membesar, maka bisnis ritel bisa selamat. Konsumsi masyarakat masih akan menjadi pendorong utama pergerakan ekonomi tanah air.
Saya kira, memang terbukti selama krisis satu dekade sebelumnya, usaha dengan modal kecil lebih bisa bertahan. Kalau melihat ke dalam kondisi perusahaan saya sendiri, kekuatan itu ada pada bentuk perusahaan yang ramping, tanpa birokrasi, gesit dan fleksibel serta operasional yang berbiaya rendah. Maka saya harap untuk rekan-rekan yang bergerak di usaha UKM bisa tetap bersikap optimis dalam menyikapi kondisi perekonomian saat ini. Seperti kata teman saya, yang berbisnis sebagai penyalur, “Biar para pakar saja yang berdiskusi urusan krisis ekonomi, kita urusannya dagang sajalah…!”
5 tanggapan so far ↓
eshape // 29 November 2008 pada 6:50 pm |
Krisis global ini diprediksi memang akan cukup lama.
Belum ada ahli yang mampu meramalkan kapan selesainya krisis ini, sehingga semua lapis masyarakat, semua unit usaha sebaiknya selalu waspada dan berpikir lebih panjang sebelum bertindak.
Sektor riil perlu digenjot, meskipun untuk menggenjotnya tidak semudah ucapannya.
Saat ini adalah saat kita mulai melihat kekuatan Tuhan.
Marilah kita berbuat sebaik mungkin dan selalu berserah diri pada keputusan Tuhan, karena keputusan Tuhan adalah keputusan terbaik kita.
Salam
djayus // 1 Desember 2008 pada 3:59 pm |
Salam kenal.. sebelumnya saya mohon maaf kalau keluar dari jalur pembicaraan. Saya adalah seorang karyawan swasta yang ingin memulai usaha warnet, yang mau saya tanyakan pada anda sekalian adalah apakah bisnis warnet masih berpotensi menguntungkan ? karena sekilas saya lihat 5 tahun yang lalu bisnis WARTEL begitu menjanjikan, namun sekarang 1 persatu mulai gulung tikar karena kemudahan individu untuk mendapatkan HP ataupun no kartu perdana. Apakah bisnis warnet pun akan demikian ? karena sekarangpun untuk mendapatkan laptop atau notebook yang dilengkapi wi-fi untuk area hospot begitu mudah dan murah, apakah warnet bernasib serupa di kemudian hari ?
Trima Kasih
dytra // 1 Desember 2008 pada 4:25 pm |
Tidak keluar jalur koq Bung Djayus/Anto
Saat ini memang bisnis wartel tidak menguntungkan lagi karena alasan yang Anda kemukakan benar. Demikian juga warnet-warnet di kota-kota besar, jika hanya menyediakan fasilitas untuk browsing saja. Beberapa warnet yang beralih menjadi Game Center berkembang cukup baik, tetapi ada pula yang gulung tikar juga, karena persaingan harga yang tidak sehat.
Untuk warnet di kota-kota kecil di daerah, masih cukup bisa bertahan, karena akses internet yang masih langka dan mahal. Perlahan tapi pasti, trennya memang akan bergeser ke pemakaian perangkat laptop/notebook pribadi.
derrykr // 17 Oktober 2009 pada 6:13 pm |
tapi apa usaha warnet sangat menjanjikan di daerah tangerang, mengingat modal yang di keluarkan cukup besar.
maaf jika Saya juga ikut kLuar topik.
dytra // 19 Oktober 2009 pada 7:56 am |
Bung Derry, seperti yang saya ulas, jika modal usaha yang dikeluarkan cukup besar, yang menjadi pertimbangan bukan hanya tren usaha yang menjanjikan saja, tetapi juga resiko. Saat ini usaha warnet yang dilengkapi dengan game online memang marak di Jabodetabek, tetapi Anda juga harus siap menghadapi resiko biaya bulanan yang tinggi untuk listrik dan maintenance. Bicara mengenai listrik sendiri, saat ini juga menjadi resiko yang cukup besar untuk usaha sejenis, karena kondisi pasokan yang sering “byar-pet”.