World of Dytra

Masukan dari Februari 2009

Hoki

23 Februari 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

fukIstilah hoki sangat kental dalam budaya Chinese. Kata itu menggambarkan keberuntungan seseorang dalam menjalani kehidupannya, dan umumnya dikaitkan dengan keberhasilan hidup. Ketika kita melihat seseorang yang taraf hidupnya lebih baik karena kesuksesan bisnisnya, kita bilang dia hokinya bagus, apa yang dipegangnya pasti berjalan baik. Atau saat seorang rekan yang mendapatkan kenaikan posisi dalam karirnya secara tak terduga, kita juga bilang, memang dia orang hoki, selalu bernasib baik.

Hoki atau keberuntungan selalu pilih-pilih orang. Bisa jatuh secara tak terduga. Tetapi, filosofi Barat secara umum tidak mengenal istilah ini. Keberuntungan, menurut pendapat banyak orang adalah saat kesempatan datang kita siap menerima dan menjalaninya. Jadi berdasarkan analisa, mengapa dua orang yang berbisnis sama dengan cara yang persis sama, tiba-tiba salah satu mendapatkan peluang besar yang bisa membuat bisnisnya berkembang jauh lebih besar dari bisnis rekannya yang persis sama. Jawabannya adalah, saat ia menerima peluang, ia siap mengelolanya dengan baik. Kesiapannya bisa berupa manajemen yang baik, memiliki sumberdaya yang bagus, cara pemasaran yang mengesankan dan sebagainya. Pokoknya yang berbau manajemen yang dianggap sebagai tools yang bisa membuat segalanya menjadi siap sedia untuk menerima hoki.

Istilah hoki lebih banyak menggambarkan kedatangan peluang itu sendiri, karena filosofi Barat tidak menjelaskannya. Mereka lebih banyak menjelaskan masalah kesiapan, soal antisipasinya saja. Bagaimana prosesnya sehingga bisa terjadi datangnya hoki, nah, tipsnya justru paling banyak ada dalam filosofi Timur, khususnya Chinese. Itulah sebabnya, setiap awal tahun, para ahli nujum, ahli feng shui, maupun ‘orang pintar’ laku keras. Orang-orang yang percaya datangnya hoki bisa diatur akan melakukan segala cara, termasuk melakukan berbagai ritual yang dianjurkan oleh para pakar itu. Buntutnya, meskipun mengaku orang beriman (dalam agama apapun) tetapi rela melakukan penyembahan terhadap segala yang diperintahkan oleh ahli nujum. Buat sebagian orang Kristiani, bahkan rutinitas melakukan ibadah mingguan di Gereja tetap dilakukan, tetapi setelah itu, berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap bisa memberikan jalan untuk memperoleh hoki juga dilakukannya.

Sungguh mengkhawatirkan jika kita sudah menggantungkan masa depan kita pada apa yang dikatakan oleh seorang peramal. Kristus sendiri tidak menyetujui orang-orang yang suka meramal ini. Bahkan dalam satu perikop, seorang budak yang mampu memberikan ramalan ternyata selama itu dirasuki oleh roh jahat. Bukankah Tuhan sudah mengatakan, permasalahan hari ini sudah cukup, karena esok mempunyai kesusahannya sendiri. Jadi tidak usahlah kita sibuk-sibuk mau melihat ramalan bulan ini, bulan depan atau satu tahun berikutnya.

Sedangkan untuk feng shui, secara pribadi saya anggap hal tersebut dalam beberapa hal memiliki alur logika. Sepanjang pandangan tersebut mengajarkan mengenai keselarasan dengan alam saya rasa hal itu masih baik untuk dilakukan. Misalnya penataan rumah agar aliran udara menjadi baik untuk kesehatan, keharmonisan dan keseimbangan. Dengan unsur-unsur tersebut, tentunya kita bisa berpikir lebih jernih, memelihara perdamaian maka bekerja pun akan lebih baik. Tetapi, untuk soal hoki atau keberuntungan, saya kira kita tidak usah mencari-cari kapan kita akan menerimanya atau bagaimana ia akan datang melalui pengaturan feng shui. Karena, jika kita sudah melakukan berbagai ikhtiar sesuai tuntunan feng shui, sang hoki tidak mau mampir juga, salah-salah kita bisa frustrasi karena terlalu berharap.

Sebetulnya ada lima cara agar kita bisa mendapatkan hoki. Lima cara ini yang sering dilupakan, karena butuh waktu untuk menanamkannya dalam hidup kita. Orang-orang cenderung lebih suka hal instan, seperti yang digambarkan di atas. Saya percaya, dengan melakukan hal-hal ini, kita akan menemukan hoki kita, dalam hari-hari hidup kita. Lima hal ini adalah:

  1. Selalu bersyukur atas apa yang kita peroleh, terlebih perolehan ini adalah berkat dari Tuhan melalui kerja kita.
  2. Melakukan apa yang kita cintai, karena dengan mencintai pekerjaan kita, kita akan memiliki gairah untuk menghasilkan yang terbaik dan juga memperoleh yang imbalan yang lebih baik.
  3. Menghasilkan lebih dari harapan, jangan hanya puas untuk menjalankan hal yang standar rata-rata saja. Naikkanlah standar kita, percayalah kita mampu untuk mencapainya.
  4. Jaga integritas, karena dengan integritas orang akan menghargai kita, membuat kita berharga di mata orang-orang di sekitar kita dan memberikan kepercayaan mereka pada kita.
  5. Berkomitmen penuh, apabila kita sudah menetapkan apa yang hendak kita lakukan atau capai, bertindaklah sepenuh hati, jangan menunggu sesuatu terjadi baru bertindak.

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , , , ,

Sumber Penghasilan Alternatif

16 Februari 2009 · 1 Komentar

eggsSuatu ketika ada dua orang kakak beradik petani, yang masing-masing memiliki seekor sapi. Sang kakak sangat rajin bekerja, karena ia bercita-cita untuk meluaskan sawahnya yang saat ini hanya ada sepetak. Sang adik juga seorang yang rajin, namun berbeda dengan kakaknya, ia tidak hanya ingin sawahnya meluas, tetapi juga memiliki usaha penggilingan padi lengkap dengan gudangnya. Maka bekerjalah mereka dengan rajinnya. Sang adik, untuk menambah penghasilannya, setiap pagi ia memerah susu dari sapinya yang hanya seekor, dengan hasil yang tak seberapa, lalu menjualnya ke tetangganya. Hasilnya ia tabung, agar suatu saat ia dapat menambah jumlah sapinya.

Sang kakak yang ingin meluaskan sawahnya dengan tujuan mendapatkan hasil panen yang lebih besar menggunakan strategi lain. Ia memutuskan untuk menggunakan tenaga sapinya untuk membajak sawahnya. Karena setiap hari sang sapi selalu kelelahan, maka ia tidak mampu menghasilkan susu yang memadai, tetapi sang kakak tidak begitu perduli, karena dengan bantuan sapinya itu, pekerjaan membajak sawah menjadi lebih cepat daripada yang dilakukan adiknya.

Bulan berganti musim, dan dalam beberapa panen, jelas, hasil sang kakak lebih baik dari segi jumlah. Tetapi lambat laun, sang adik akhirnya berhasil memiliki sapi kedua, yang bisa disilangkan dengan sapi pertamanya, untuk menambah jumlah produksi susunya. Maka dalam waktu beberapa tahun, ia sudah memiliki beberapa ekor sapi dan menghasilkan susu yang cukup untuk dijual ke lebih banyak orang lagi. Ia telah memperoleh sumber penghasilan kedua yang bisa digunakan untuk membeli seekor kerbau guna membajak sawahnya dengan lebih bertenaga.

Akan halnya sang kakak, karena memaksa sapinya terlalu bekerja keras, akhirnya sapi itu terlalu lelah, menjadi sakit dan mati. Kini ia tidak memiliki sapi, dan ia sendiri yang harus bekerja keras menyangkul sawahnya sendirian agar dapat menghasilkan panenan yang cukup.

Saya terinspirasi cerita di atas ketika suatu saat seorang saudara dekat menghubungi saya mengenai tabungannya yang katanya ingin dia gunakan untuk investasi jangka panjang di saham. Menurutnya, ia hanya punya tabungan ini saja dari hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. Rencananya, ia ingin menginvestasikannya pada saham-saham bagus yang saat ini sedang turun harganya. Saya sendiri bukan investor saham dan tidak memiliki portofolio apapun. Bukan karena anti, tetapi saya berprinsip jika tidak mengerti lebih baik hindari dulu.

Terinspirasi cerita di atas, maka saya menganjurkannya untuk meletakkan investasinya pada sesuatu yang real dan relatif aman serta tidak berjangka panjang. Tujuannya adalah agar return yang ia peroleh dapat ia tabung lagi, sehingga ia memiliki tabungan kedua yang nantinya bisa ia gunakan untuk investasi jangka panjangnya. Maksud saya adalah, jangan menggunakan satu-satunya sumber untuk dipekerjakan penuh, sedangkan di sisi lain ia masih belum memiliki sumber penghasilan apalagi tabungan alternatif.

Tentu dari cerita di atas, sang adik lebih cerdik, karena ia berusaha menciptakan sumber penghasilan keduanya (produksi susu) dahulu baru menginvestasikannya pada hal lain (membeli kerbau). Kuncinya adalah kesabaran untuk menunggu. Demikian juga, prinsip saya adalah seperti yang pernah saya sampaikan berkali-kali, letakkan telur-telur Anda pada beberapa keranjang yang berbeda. Jadi, kita akan memiliki beberapa sumber penghasilan alternatif baik aktif maupun pasif, sehingga akan menciptakan keamanan finansial yang lebih besar.

Akhirnya dari moral cerita yang saya sampaikan pada saudara saya itu, ia memilih investasi real yang sederhana saja: kantin yang menyajikan makanan rumahan dengan pilihan lokasi yang dekat perkantoran. Maka perlahan tapi pasti, ia sudah punya penghasilan kedua yang mengalir terus, bukannya uang yang terkunci di investasi jangka panjang di saham. Mungkin suatu ketika ia sudah memiliki tabungan lagi, ia bisa melakukan investasi saham yang bisa saja dalam jangka panjang tiba-tiba booming. Namun yang jelas saat ini, selain bekerja di kantoran, ia sudah memiliki kantin yang dikelola istrinya yang memberinya keranjang kedua untuk telur-telurnya.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , ,

The Looser

13 Februari 2009 · 1 Komentar

basketball-playerKadang kala, ketika menengok kembali catatan sejarah lembar-lembar hidup kita sendiri, banyak yang bisa kita pakai sebagai pedoman hidup selanjutnya. Ini bukan berarti kita mengikat hidup ke masa lalu. Yang sudah berlalu, kita biarkan berlalu, tetapi saya pikir, pasti ada hikmah dalam setiap peristiwa hidup kita. Nah, hikmah inilah yang kadang kita lupakan saja, tidak perdulikan dan bisa membuat kita lebih bodoh dari keledai, terantuk pada batu yang sama untuk kesekian kalinya. Tidak mau belajar dari pengalaman, itulah masalahnya.

Siang ini, saya baru saja menyelesaikan suatu pembicaraan bisnis di sebuah café, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sendirian sampai sore untuk sekadar mengambil kesempatan merenungkan langkah-langkah saya. Saya merasa, ada beberapa perbaikan dalam hidup yang perlu segera saya lakukan, atau saya akan terjebak ke dalam masalah keterikatan terhadap kebiasaan. Diantaranya adalah, saya sering terlalu terbawa perasaan apabila menyaksikan sesuatu yang menggugah. Ini membawa saya jadi teringat lagi, zaman ketika di sekolah.

Sebutlah namanya Edi. Dia adik kelas dua angkatan di bawah saya ketika di SMA. Melihat penampilannya saja, semua sudah akan menebak, dialah the looser di sekolah ini. Dengan tubuh jangkung kurus, kacamata minus tebal, dia sama sekali tidak menarik, sehingga pergaulannya pun sangat terbatas. Kelihatannya memang ada kecenderungan untuk mereka yang merasa looser untuk bergabung dan berkelompok dengan teman-teman yang senasib. Tetapi memang mau bagaimana lagi, teman-teman lain agak enggan untuk berkumpul bersama mereka. Maka Edipun bergabung dengan dua-tiga teman yang lebih suka berkumpul bersama di pojokan kantin jika jam istirahat itu.

Saya mengenal Edi, karena kebetulan saya pernah memberi asistensi lab kimia untuk kelasnya. Edi cukup cerdas, karena ia bisa menyelesaikan semua tugas percobaan dengan baik. Dan ia ternyata juga teman diskusi yang cukup mengasyikan, karena rasa ingin tahunya yang cukup besar. Dari sana saya melihat potensinya. Maka mulailah saya banyak mendekatinya, untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah seorang looser meskipun ia menganggap dirinya demikian. Edi merasa demikian karena di kelasnya ia sering menjadi bulan-bulanan olok-olok temannya. Saya berharap dengan mengajaknya sering berdiskusi di bidang ia kuasai cukup baik, bisa membuatnya berubah pikiran. Saya juga mengajaknya untuk membuat tulisan di majalah sekolah untuk rubrik ilmiah.

Ternyata, usaha saya tampak tidak berkembang baik. Edi tetap tidak bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Saya tidak dapat menolong lebih jauh, karena ia bukan tipe orang yang bisa di dorong-dorong terus. Selain itu tugas saya menjelang ujian cukup banyak, sehingga saya tidak dapat meluangkan waktu lebih untuk Edi.

Beberapa waktu kemudian, ketika saya memberi asistensi untuk kelas lain, dari balik jendela yang berbatasan dengan lapangan basket, saya melihat Edi sedang melakukan shoot sendirian. Setelah jam asistensi selesai, saya menemuinya di lapangan. Edi tampak asyik, dan ia bisa bermain dengan bagus. Mungkin karena posturnya yang tinggi kurus, sehingga ia tidak kesulitan dengan bola basket. Saya tanya, kenapa ia tidak bergabung saja dengan tim bola basket. Ia menjawab bahwa selama ini tim basket tidak pernah mau menerimanya karena ia dianggap tidak mampu.

Saya tidak bisa berbuat banyak, karena yang saya tahu, memang tim basket diisi oleh mereka yang merasa superior secara fisik, sehingga posisi sayapun tidak bisa menembus eksklusifitas mereka. Saya hanya bisa berkata kepadanya untuk mencoba mencari klub lain di luar sekolah, karena sayang kemampuannya tidak diasah. Yang saya ingat waktu itu Edi tampak sangat antusias dengan usulan saya.

Selang beberapa tahun, sekembalinya saya dari Yogya, saya sempatkan untuk mampir ke eks sekolah saya, karena kabarnya ada pertandingan bola basket antar sekolah. Ketika itu saya tercengang, karena salah satu pemain intinya Edi. Ia bermain sangat bagus, meski harus menggunakan kacamata khusus yang diikat di kepalanya. Usai pertandingan, saya menyalaminya. Ia hanya membalas tanpa senyum, mungkin sudah agak lupa dengan saya. Dari obrolan dengan teman lain akhirnya saya tahu ceritanya bagaimana Edi bisa masuk tim inti bola basket.

Rupanya, ia mengikuti anjuran saya untuk bergabung dengan sebuah klub, yang mungkin tidak mengenyampingkannya sebagai looser. Dari sana ia berkembang pesat, dan kemampuannya akhirnya didengar oleh pihak tim sekolah. Akhirnya, Edi diterima bergabung dengan tim sekolah dan menjadi salah satu bintangnya.

Kembali ke renungan saya sore itu, saya rasa memang kadang-kadang kalau kita mencoba membantu seseorang, seringkali kita melihat dari sudut pandang kita sendiri. Seperti yang saya lakukan pertama, bahwa untuk mengajak Edi keluar dari siklus the looser nya, saya mengarahkannya ke pelajaran sekolah. Ketika akhirnya Edi berhasil menjadi bintang basket, saya menyadari, meskipun sambil lalu, nyatanya anjuran saya justru mengena di hati Edi, karena itulah sesungguhnya potensi di dalam dirinya yang selama itu tertutup.

Jadi, sebaiknya jika dalam pengembangan sumberdaya manusia, hendaklah kita tidak terbawa perasaan dan mencoba dengan sudut pandang kita sendiri. Arahkanlah mereka untuk menemukan potensi diri mereka sendiri, dan beri kesempatan untuk mereka agar mengembangkannya sendiri. Jangan selalu bersikap ‘menyuapi’ karena setiap manusia seharusnya punya kemampuan untuk berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,

Bosan!

10 Februari 2009 · 1 Komentar

1man112-medApakah Anda pernah dilanda rasa bosan yang luar biasa? Pertanyaan retoris, tentu saja pernah, entah siapapun dia. Rasa bosan bisa saja terjadi di tengah-tengah jam kerja, waktu seminar, liburan maupun aktivitas lainnya. Bisa jadi rasa bosan timbul karena obyek yang sedang kita kerjakan, materi yang tidak menarik atau lingkungan yang itu-itu saja. Bisa jadi juga karena sebab lain. Kalau rasa bosan muncul saat-saat hari kerja, mungkin itu tandanya kita perlu liburan atau cuti beberapa hari. Kalau di tengah liburan, rasa bosan tiba-tiba melanda, pasti karena tidak ada kegiatan yang menarik untuk mengisinya.

Ada kalanya rasa bosan itu terus menempel, meski kita sudah mencoba mengalihkan ke aktivitas lain. Dan ini bisa berlansung lama. Saya pernah mengalami hal ini ketika bekerja di sebuah perusahaan multinasional beberapa tahun lalu. Awalnya, pekerjaan itu sangat menarik, karena ada set up awal untuk datawarehousing yang harus saya lakukan. Sekitar setengah tahun saya mengembangkannya dengan bantuan teman-teman regional, dan itu merupakan waktu yang penuh tantangan dan saya tidak sempat berpikir untuk merasa bosan. Setelah proyek selesai, dan saya sudah mendapatkan asisten untuk mengerjakan tugas rutin sehari-hari, pekerjaan saya tinggal menjaga komunikasi dengan para stakeholder, baik melalui email maupun telepon. Dapat diterka, rasa bosan pun segera menyerang.

Atasan saya di regional kelihatannya mengerti kebosanan saya, maka ia menugaskan beberapa proyek kepada saya. Meskipun menarik, tetapi tidak terlalu menantang lagi, karena tugas itu lebih banyak membuat saya berkeliling ke beberapa negara hanya untuk melakukan meeting yang satu ke meeting yang lain. Untunglah, setelah setahun ‘menderita’ kebosanan, saya bertemu dengan beberapa teman yang kemudian bersama-sama merintis usaha yang kemudian berkembang menjadi seperti sekarang. Saat itu, ketika pekerjaan kantor tidak urgen dan tidak penting (Kuadran ke empat dari Kebiasaan 3 – first thing first – 7 Habits Of The Highly Effective People), saya bisa mengalihkan dengan aktivitas pengembangan bisnis. Kelanjutannya, seperti yang telah saya ceritakan dalam beberapa tulisan terdahulu.

Lalu mengapa saya membahas mengenai rasa bosan di tulisan ini? Ini sebetulnya lebih ke pelarian sendiri untuk kodisi yang saya alami akhir-akhir ini. Ketika bisnis sedang sepi (biasalah, efek dari dollar yang naik hampir 25%), aktivitas kantor menjadi berkurang. Hanya ada beberapa proyek kecil, dan di tangan saya hanya melanjutkan 2-3 contract maintenance saja. Memang ada beberapa rencana pemasaran yang sedang akan dieksekusi oleh partner saya, tetapi saya tidak terlalu antusias untuk ikut terlalu terlibat di dalamnya, meskipun ide dasarnya dari saya sendiri. Dengan keadaan seperti itu, sekitar 80% waktu saya sungguh tidak efektif, sebagian hanya dihabiskan untuk browsing saja. Benar-benar seperti yang digambarkan Richard Koch dalam The 80/20 Principle saja.

Karena efek dari rasa bosan yang semakin hari semakin terasa menekan, bahkan untuk meeting dengan klien yang merupakan suatu keharusan saja membuat saya enggan. Jika bisa, saya delegasikan saja. Dan rasa bosan ini menurut saya semakin berbahaya, karena saya mulai kehilangan minat untuk melakukan beberapa hal. Sebut saja penulisan buku yang sudah saya hindari sebulan terakhir ini. Saya juga sudah mengambil cuti untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga, sepanjang minggu Imlek kemarin, namun tetap merasa sama. Bahkan blog ini saja sempat terbengkalai 3 minggu lebih. Bentuk rasa bosan ini semakin melebar, selain kehilangan minat, perasaan yang tidak tenang karena merasa tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat atau produktif, serta malas melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Seperti kemarin, seharusnya ada jadwal untuk meeting dengan klien, tetapi karena dari sisi mereka ada penundaan, maka saya bermaksud mengalihkannya dengan mengunjungi sebuah pusat elektronik untuk membeli lampu. Pekerjaan sepele yang hanya untuk membuang rasa bosan. Rencananya saya mau ke sana jam dua atau tiga sore. Tetapi ternyata saya masih saja duduk di kantor sampai usai jam kantor, lalu pulang, membantu anak saya mengerjakan pe er, nonton film kartun bersama mereka, terus tidur.

Satu-satunya aktivitas yang masih saya lakukan dengan perasaan ‘penuh’ hanya membaca. Bahkan saya sempat membaca ulang sebuah buku yang sudah saya miliki sejak tahun 1995 (14 tahun lalu). Beberapa nasihat yang saya dapatkan dari buku untuk mengurangi rasa bosan ini telah saya terapkan akan tetapi tidak mengubah apapun perasaan saya. Saya tetap menjalankan aktivitas yang harus saya lakukan, tetapi dengan tanpa minat.

Jadi, hari ini, tulisan di blog ini, tidak memberikan tips apapun juga, hanya untuk menumpahkan perasaan bosan ini saja. Awalnya juga saya enggan untuk menulis tetapi saya paksakan juga. Karena, seperti kata Michael Jordan, ketika rasa bosan untuk berlatih datang, ia justru memaksakan diri untuk berlatih, karena itu satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh terbesar diri kita: ya, diri kita sendiri.

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: ,