Istilah hoki sangat kental dalam budaya Chinese. Kata itu menggambarkan keberuntungan seseorang dalam menjalani kehidupannya, dan umumnya dikaitkan dengan keberhasilan hidup. Ketika kita melihat seseorang yang taraf hidupnya lebih baik karena kesuksesan bisnisnya, kita bilang dia hokinya bagus, apa yang dipegangnya pasti berjalan baik. Atau saat seorang rekan yang mendapatkan kenaikan posisi dalam karirnya secara tak terduga, kita juga bilang, memang dia orang hoki, selalu bernasib baik.
Hoki atau keberuntungan selalu pilih-pilih orang. Bisa jatuh secara tak terduga. Tetapi, filosofi Barat secara umum tidak mengenal istilah ini. Keberuntungan, menurut pendapat banyak orang adalah saat kesempatan datang kita siap menerima dan menjalaninya. Jadi berdasarkan analisa, mengapa dua orang yang berbisnis sama dengan cara yang persis sama, tiba-tiba salah satu mendapatkan peluang besar yang bisa membuat bisnisnya berkembang jauh lebih besar dari bisnis rekannya yang persis sama. Jawabannya adalah, saat ia menerima peluang, ia siap mengelolanya dengan baik. Kesiapannya bisa berupa manajemen yang baik, memiliki sumberdaya yang bagus, cara pemasaran yang mengesankan dan sebagainya. Pokoknya yang berbau manajemen yang dianggap sebagai tools yang bisa membuat segalanya menjadi siap sedia untuk menerima hoki.
Istilah hoki lebih banyak menggambarkan kedatangan peluang itu sendiri, karena filosofi Barat tidak menjelaskannya. Mereka lebih banyak menjelaskan masalah kesiapan, soal antisipasinya saja. Bagaimana prosesnya sehingga bisa terjadi datangnya hoki, nah, tipsnya justru paling banyak ada dalam filosofi Timur, khususnya Chinese. Itulah sebabnya, setiap awal tahun, para ahli nujum, ahli feng shui, maupun ‘orang pintar’ laku keras. Orang-orang yang percaya datangnya hoki bisa diatur akan melakukan segala cara, termasuk melakukan berbagai ritual yang dianjurkan oleh para pakar itu. Buntutnya, meskipun mengaku orang beriman (dalam agama apapun) tetapi rela melakukan penyembahan terhadap segala yang diperintahkan oleh ahli nujum. Buat sebagian orang Kristiani, bahkan rutinitas melakukan ibadah mingguan di Gereja tetap dilakukan, tetapi setelah itu, berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap bisa memberikan jalan untuk memperoleh hoki juga dilakukannya.
Sungguh mengkhawatirkan jika kita sudah menggantungkan masa depan kita pada apa yang dikatakan oleh seorang peramal. Kristus sendiri tidak menyetujui orang-orang yang suka meramal ini. Bahkan dalam satu perikop, seorang budak yang mampu memberikan ramalan ternyata selama itu dirasuki oleh roh jahat. Bukankah Tuhan sudah mengatakan, permasalahan hari ini sudah cukup, karena esok mempunyai kesusahannya sendiri. Jadi tidak usahlah kita sibuk-sibuk mau melihat ramalan bulan ini, bulan depan atau satu tahun berikutnya.
Sedangkan untuk feng shui, secara pribadi saya anggap hal tersebut dalam beberapa hal memiliki alur logika. Sepanjang pandangan tersebut mengajarkan mengenai keselarasan dengan alam saya rasa hal itu masih baik untuk dilakukan. Misalnya penataan rumah agar aliran udara menjadi baik untuk kesehatan, keharmonisan dan keseimbangan. Dengan unsur-unsur tersebut, tentunya kita bisa berpikir lebih jernih, memelihara perdamaian maka bekerja pun akan lebih baik. Tetapi, untuk soal hoki atau keberuntungan, saya kira kita tidak usah mencari-cari kapan kita akan menerimanya atau bagaimana ia akan datang melalui pengaturan feng shui. Karena, jika kita sudah melakukan berbagai ikhtiar sesuai tuntunan feng shui, sang hoki tidak mau mampir juga, salah-salah kita bisa frustrasi karena terlalu berharap.
Sebetulnya ada lima cara agar kita bisa mendapatkan hoki. Lima cara ini yang sering dilupakan, karena butuh waktu untuk menanamkannya dalam hidup kita. Orang-orang cenderung lebih suka hal instan, seperti yang digambarkan di atas. Saya percaya, dengan melakukan hal-hal ini, kita akan menemukan hoki kita, dalam hari-hari hidup kita. Lima hal ini adalah:
- Selalu bersyukur atas apa yang kita peroleh, terlebih perolehan ini adalah berkat dari Tuhan melalui kerja kita.
- Melakukan apa yang kita cintai, karena dengan mencintai pekerjaan kita, kita akan memiliki gairah untuk menghasilkan yang terbaik dan juga memperoleh yang imbalan yang lebih baik.
- Menghasilkan lebih dari harapan, jangan hanya puas untuk menjalankan hal yang standar rata-rata saja. Naikkanlah standar kita, percayalah kita mampu untuk mencapainya.
- Jaga integritas, karena dengan integritas orang akan menghargai kita, membuat kita berharga di mata orang-orang di sekitar kita dan memberikan kepercayaan mereka pada kita.
- Berkomitmen penuh, apabila kita sudah menetapkan apa yang hendak kita lakukan atau capai, bertindaklah sepenuh hati, jangan menunggu sesuatu terjadi baru bertindak.
Suatu ketika ada dua orang kakak beradik petani, yang masing-masing memiliki seekor sapi. Sang kakak sangat rajin bekerja, karena ia bercita-cita untuk meluaskan sawahnya yang saat ini hanya ada sepetak. Sang adik juga seorang yang rajin, namun berbeda dengan kakaknya, ia tidak hanya ingin sawahnya meluas, tetapi juga memiliki usaha penggilingan padi lengkap dengan gudangnya. Maka bekerjalah mereka dengan rajinnya. Sang adik, untuk menambah penghasilannya, setiap pagi ia memerah susu dari sapinya yang hanya seekor, dengan hasil yang tak seberapa, lalu menjualnya ke tetangganya. Hasilnya ia tabung, agar suatu saat ia dapat menambah jumlah sapinya.
Kadang kala, ketika menengok kembali catatan sejarah lembar-lembar hidup kita sendiri, banyak yang bisa kita pakai sebagai pedoman hidup selanjutnya. Ini bukan berarti kita mengikat hidup ke masa lalu. Yang sudah berlalu, kita biarkan berlalu, tetapi saya pikir, pasti ada hikmah dalam setiap peristiwa hidup kita. Nah, hikmah inilah yang kadang kita lupakan saja, tidak perdulikan dan bisa membuat kita lebih bodoh dari keledai, terantuk pada batu yang sama untuk kesekian kalinya. Tidak mau belajar dari pengalaman, itulah masalahnya.
Apakah Anda pernah dilanda rasa bosan yang luar biasa? Pertanyaan retoris, tentu saja pernah, entah siapapun dia. Rasa bosan bisa saja terjadi di tengah-tengah jam kerja, waktu seminar, liburan maupun aktivitas lainnya. Bisa jadi rasa bosan timbul karena obyek yang sedang kita kerjakan, materi yang tidak menarik atau lingkungan yang itu-itu saja. Bisa jadi juga karena sebab lain. Kalau rasa bosan muncul saat-saat hari kerja, mungkin itu tandanya kita perlu liburan atau cuti beberapa hari. Kalau di tengah liburan, rasa bosan tiba-tiba melanda, pasti karena tidak ada kegiatan yang menarik untuk mengisinya.