World of Dytra

Masukan dari Maret 2009

Menjadi Diri Sendiri

27 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

peranSelama ini pernahkah Anda membayangkan menjadi orang lain? Jadilah diri sendiri, demikian sebuah kata mutiara. Karena jika kita selalu berpura-pura menjadi orang lain, suatu saat kita akan lelah dengan berbagai kebohongan dan penipuan terhadap diri sendiri. Karena kita bukanlah orang yang kita perankan, maka kita juga tak akan sepenuhnya bisa menjadi seperti dirinya atau mencapai prestasi sepertinya.

Kalau dalam konteks kepura-puraan, saya setuju. Memang benar, dengan berpura-pura, kita tidak akan pernah seratus persen menyerupai orang yang kita tiru. Tetapi jika kita membayangkan menjadi orang yang kita kagumi, bagaimana ia bertindak, bagaimana ia bereaksi terhadap suatu situasi dan bagaimana ia merencanakan strategi hidupnya, saya kira hal ini justru akan membuat kita lebih termotivasi. Seperti dalam tulisan Memandang ke Atas, akan lebih mudah bagi kita untuk menetapkan tujuan jika kita melihat contoh nyata seseorang yang sudah mencapai posisi yang kita inginkan. Apalagi jika kita bisa belajar darinya untuk berencana, bertindak dan bereaksi.

Jika menjadi diri sendiri diartikan seakan bahwa kita hanya berpuas dengan keadaan kita, maka perlahan kita bisa saja terjerumus pada keadaan stagnan, tidak berupaya untuk menggapai kemajuan. Tentu ini berbahaya. Menjadi diri sendiri adalah positif jika kita dalam kesadaran, mengerti dan mengetahui situasi diri kita saat ini, dan bisa mengambil keputusan yang akan kita pertanggungjawabkan sendiri sepenuhnya. Janganlah menjadi diri sendiri yang lemah, yang tidak mau berubah demi kemajuan.

Sedangkan membayangkan menjadi orang lain, bisa menjadi negatif, jika kita terjebak dalam situasi selalu menbandingkan diri kita dengan orang lain, yang membuat kita terobsesi atas keseluruhan hidup orang yang ingin kita perankan, dan pada akhirnya menjadi membenci keadaan diri sendiri. Tetapi jika kita mampu mempelajari keteladanan orang lain, dan bisa menerapkannya pada diri sendiri, itu bukanlah berarti kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Justru, dengan demikian kita mengembangkan diri kita menjadi seseorang yang sesuai dengan gambaran dan cita-cita kita.

Yang diperlukan adalah keseimbangan. Menjadi diri sendiri, tetapi tidak berpuas pada kondisi saat ini, terlebih jika kondisinya saat ini tidak menguntungkan dan membuat kita dan orang-orang yang kita cintai menderita. Menjadi orang lain adalah belajar dan mengambil yang terbaik dari orang-orang yang kita kagumi dan bisa menjadi teladan bagi kita. Dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang terbaik.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: ,

Memandang Ke Atas

20 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

lookupAda pepatah yang mengatakan bahwa jangan membandingkan keadaan kita dengan orang lain terlebih mereka yang berada pada posisi yang lebih di atas kita. Misalnya jika kita melihat teman yang memiliki aset yang jauh melebihi kita dan kemudian membandingkannya dengan keadaan kita. Sebaiknya kita melihat orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita, dari sana kita bisa bersyukur bahwa keadaan kita masih lebih baik. Jika ini dikaitkan dengan rasa iri, saya setuju. Tetapi jika hanya untuk mencari excuse, hal ini akan membuat kita terdemotivasi. Mengapa?

Misalnya soal keadaan ekonomi seseorang. Jika kita selalu melihat orang lain yang posisinya di bawah kita dan lalu kita bersyukur bahwa keadaan kita lebih baik, kita tidak menyadari bahwa suatu saat orang tersebut bisa melejit melebihi kita, karena kita seakan terhenti pada posisi sekarang lalu berpuas diri. Bukankah masih ada orang lain yang penghasilannya di bawah saya? Bukankah, ia juga banyak hutangnya? Tiba-tiba suatu ketika, orang yang kita bandingkan itu bisnisnya meningkat, dan dalam sekejap keadaan ekonominya membaik jauh daripada posisi sebelumnya. Maka karena kehilangan perbandingan, kita lalu mencari lagi orang lain untuk dibandingkan tanpa mau melihat kenyataan bahwa kita sudah tertinggal.

Bisa jadi ketika membaca paragraf di atas, Anda akan tertawa, tak mungkin terjadi pada diri kita. Tapi kenyataannya banyak yang punya pola pikir seperti itu, tanpa disadari bahwa selama ini, kita selalu mencari excuse dan membandingkan dengan orang yang berada pada posisi di bawah kita. Sedangkan, memandang ke atas, melihat orang-orang yang berlatar belakang kurang lebih sama dengan kita, tetapi pencapaiannya jauh di atas kita. Kalau kita memandang ke atas, bukan berarti kita iri, tetapi kita bercermin dan belajar. Apa menjadi strateginya, perencanaannya, jalur yang ditempuhnya sehingga ia mencapai posisi sekarang ini.

Memang benar, kalau menurut filosofi Timur, setiap orang memiliki peruntungannya sendiri-sendiri. Kenyataan hidup juga menunjukkan bahwa setiap orang tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama, meskipun berdiri pada posisi yang sama. Namun, setiap orang juga bisa menetapkan tujuan, menyusun strategi, membuat perencanaan dan mengambil tindakan. Jadi tidak hanya menunggu saja hingga peruntungan kita membaik, tetapi berbuatlah sesuatu. Memandang ke atas bisa membuat kita lebih mudah dalam menetapkan tujuan. Memandang ke atas juga bisa memacu motivasi kita sehingga kita lebih terdorong untuk memikirkan cara mencapai posisi seperti mereka yang di atas kita.

Kebanyakan orang memang berhenti pada sekadar mengagumi saja, saat kita melihat posisi seseorang yang mencapai posisi yang mungkin kita impikan. Kemudian, karena dalam pikiran bawah sadar bahwa posisi tersebut tak mungkin dicapai (karena cuma mimpi), akhirnya kita lebih memilih melihat ke bawah. Sebetulnya, saat kita memandang ke atas itulah, seharusnya kita bisa menjadikan posisi itu sebagai tujuan yang kita tetapkan. Bukankah tujuan yang terlihat jelas lebih mudah kita tetapkan daripada sekadar tujuan yang mengawang seperti “saya harus sukses”. Setelah menetapkan tujuan yang pasti, kita bisa mulai menyusun strategi. Apabila Anda mengenal orang yang akan dijadikan sebagai posisi tujuan, akan lebih mudah lagi bila bisa menyempatkan untuk berbincang mengenai strateginya dan perencanaannya dahulu dalam mencapai posisinya sekarang. Setahu saya, jarang sekali orang-orang yang berhasil tetapi tidak punya rencana dalam hidupnya.

Strategi mencapai posisinya itu tidak harus kita copy-paste begitu saja. Ayolah, kita sudah cukup matang untuk mulai menyusun sendiri strategi dan rencana kita sendiri. Setelah tersusun, ambillah tindakan. Strategi dan rencana dapat berubah dengan dinamis sesuai dengan situasi yang kita temui dalam perjalanan menuju tujuan kita itu.

Menurut saya, ada baiknya juga tidak langsung membuat strategi menuju ke posisi yang mungkin terukur cukup jauh dari posisi kita sekarang. Buatlah beberapa tingkatan tujuan, dan buat beberapa rencana sesuai masing-masing tingkatan yang hendak kita capai. Misalnya, saya mengagumi dan ingin seperti manajer saya, yang penghasilannya mapan dan dekat dengan keluarga. Berikutnya, saya ingin seperti teman kecil saya dulu, yang sekarang sudah punya usaha bengkel sendiri yang laris dan memberi penghasilan yang cukup besar. Selanjutnya, saya ingin seperti seorang tokoh yang pernah dimuat di majalah, yang memiliki berbagai investasi yang menguntungkan, sehingga uangnya yang bekerja untuknya, dan ia tinggal mengembangkannya lebih luas lagi. Nah jika saya mengenal orang-orang tersebut, tentu saya akan lebih mudah mempelajari kiat-kiatnya. Saya yakin semua orang yang pencapaiannya baik pasti bersedia berbagi, karena mereka juga bahagia jika melihat orang lain berhasil. Jika Anda menemukan orang yang tak mau berbagi, mungkin ia mempunyai rahasia yang tak layak dibagikan dalam usahanya mencapai posisinya sekarang ini.

Saya kira memandang ke atas tidaklah buruk. Apalagi jika kita termasuk orang yang sulit untuk menemukan tujuan yang yang hendak kita capai. Dengan memandang ke atas, kitapun pasti tergerak untuk melompat dan terbang mencapai tujuan kita, bukan hanya berjalan dalam garis lurus saja.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , ,

Kecil Tapi Banyak

17 Maret 2009 · 1 Komentar

smallthingsTulisan ini berhubungan dengan The Power of Small Things, tentang kekuatan hal-hal kecil dalam bisnis. Saya tertarik untuk membagikan cerita tentang hal ini, ketika membaca sebuah artikel di koran Kompas edisi Minggu. Artikelnya bukan tentang investasi tetapi tentang kuliner, yaitu sebuah rumah makan di wilayah Pantura yang menyajikan ikan bakar yang khas. Yang menarik adalah sang pemilik rumah makan, yang selain memiliki beberapa rumah makan serupa juga memiliki peternakan sapi dan ayam, kebun kangkung serta beberapa minimarket waralaba. Semua usaha yang dijalaninya itu adalah jenis UKM, tetapi banyak.

Sang pemilik adalah investor yang cerdas, selain karena menginvestasikannya pada aset riil yang menghasilkan, juga ‘meletakkan telur pada beberapa keranjang berbeda’. Apalagi ketika saya ikuti lebih lanjut, produk dari peternakannya juga menyuplai minimarket waralaba yang diambilnya. Sungguh luar biasa. Artinya, ia bisa menggunakan berbagai usahanya itu untuk bisa saling mendukung juga. Saya yakin ia juga tidak akan berhenti di sini, mungkin ia masih akan berekspansi lagi, tapi tetap dalam bentuk bisnis UKM.

Saya juga melihat contoh yang sama dengan tetangga toko kami di bilangan Sunter. Pada masa-masa awal pasar tradisional itu, kami juga baru memulai dengan satu toko seukuran dua kali dua meter. Saat yang bersamaan seorang pemuda juga membuka toko di bagian agak dalam, menjual berbagai peralatan rumah tangga seperti ember, sapu, sikat, pengki dan lain sebagainya. Yang mengesankan, si pemuda pemilik toko kecil itu sangat cekatan dan tampak rajin. Setiap pagi ia melayani pelanggan, setelah agak siang ia pergi berbelanja tambahan barang dagangannya dan sore-sore ia kembali dengan bajaj yang penuh barang-barang yang akan dijualnya. Dengan semangat tinggi, barang yang lengkap dan pelayanan yang ramah maka tak heran, tokonya selalu ramai, sehingga ia pun makin sibuk bolak balik membeli tambahan barang dagangan. Kelihatannya modalnya memang terbatas sehingga setiap mendapat uang cukup ia selalu berusaha berbelanja lagi.

Beberapa tahun kemudian, tampak nyata usahanya berkembang. Tokonya sudah bertambah menjadi tiga. Istrinyapun sekarang turun tangan membantu. Selang beberapa saat lagi, tokonya semakin bertambah, total menjadi enam buah. Barang dagangannyapun terdiri dari bermacam-macam jenis. Ada toko yang menjual keperluan dapur. Ada yang menjual peralatan listrik. Ada pula yang menjual peralatan rumah tangga. Sekarang, beberapa kerabatnya ikut membantu. Bahkan ia juga membuka toko di pasar tradisional lainnya. Tetapi pemuda itu, yang sekarang sudah jadi bapak, masih tetap sama. Ia tetap menjaga tokonya dan juga masih berbelanja barang-barang dagangannya.

Satu lagi contoh nyata adalah seorang ibu yang sering menitipkan kue di toko kami. Sejak muda ia sudah menjadi orang tua tunggal untuk dua putrinya, karena suaminya meninggal. Untuk mencukupi hidupnya, ia membuat kue kering dan menitipkannya di beberapa toko. Karena kue buatannya enak, maka titipannya selalu laris. Sedikit demi sedikit ia menabung untuk menambah modalnya. Beberapa tahun yang lalu ia pindah ke Cikarang. Ia sempat beberapa kali mengunjungi toko kami, terakhir minggu lalu ia datang. Satu hal yang menarik, saya tidak pernah mendengar ibu ini mengeluh. Ceritanya selalu penuh hal-hal positif dan bernada optimis. Minggu lalu itu, ia bercerita mengenai anaknya yang telah lulus kuliah dan bekerja dengan penghasilan yang bagus. Selama kuliah, putri pertamanya itu mendapat beasiswa sehingga sangat meringankan dia. Putrinya yang kedua pun selalu juara kelas, dan akan segera kuliah. Ia percaya, si bungsu akan mendapat beasiswa juga. Tentang bisnisnya ia bercerita bahwa sudah sejak beberapa tahun ia memasok kue ke pabrik-pabrik di sekitar tempat tinggalnya dalam jumlah besar, termasuk juga catering. Bahkan, ia juga memiliki dua rumah lainnya yang ia sewakan. Sungguh luar biasa perjuangan ibu ini. Saya sangat menghormati dan mengaguminya.

Dari beberapa contoh di atas, saya bisa melihat bahwa ada beberapa yang bisa dijadikan kunci untuk keberhasilan usaha, yakni:

  1. Memulai usaha meskipun kecil, tetapi sudah melakukan tindakan untuk memulainya, dan mengembangkannya dengan ulet dan bersemangat. Seperti tetangga toko kami yang begitu bersemangat mengelola tokonya yang meskipun kecil tetapi tetap ditangani dengan baik.
  2. Melakukan diversifikasi, yaitu selalu mencari dan mencoba peluang usaha baru dengan cara yang cerdas, sehingga usaha-usaha kecil bisa saling mendukung tetapi tidak saling tergantung. Seperti pemilik rumah makan yang mengembangkan usahanya menjadi banyak meskipun kecil, dan bisa saling mendukung. Kalaupun salah satu usahanya tidak berjalan baik, ia masih punya banyak sumber penghasilan.
  3. Selalu berpikir positif dan optimis. Meskipun kita banyak menemukan halangan, tapi fokuskan pikiran pada tujuan kita. Seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal dapat berjuang demikian hebatnya sehingga mempunyai beberapa aset yang memberikan penghasilan yang layak baginya, meskipun ia harus memulainya sendirian dengan penuh perjuangan.

Jadi jika kita masih mengeluh mengenai kekurangan kita, lihatlah ibu ini. Sebuah usaha, meskipun kecil bisa jadi adalah awal dari bisnis yang berkelanjutan. Jika kita sulit untuk menetapkan tujuan agar usaha ini berkembang menjadi perusahaan besar berskala nasional bahkan internasional (vertikal), kita bisa mencoba strategi untuk mengembangkan usaha-usaha lainnya dengan skala lebih kecil tetapi dalam jumlah banyak dan terdiversifikasi dengan baik (horisontal).

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , , ,

Hero

13 Maret 2009 · 1 Komentar

heroBayangan kita tentang hero adalah seorang yang melakukan hal-hal hebat dan menakjubkan. Seperti memandang seorang pemadam kebakaran yang menggendong bayi keluar dari rumah yang terbakar. Atau saat menyaksikan seorang juru runding hebat yang berhasil mencapai kata damai antara dua pihak yang bertikai di suatu negara. Atau seorang tokoh kemanusiaan yang berhasil menyelamatkan banyak orang-orang miskin hanya dengan kasih tanpa pamrih. Pokoknya, mereka adalah orang-orang besar yang melakukan hal-hal di luar jangkauan kita. Bahkan, kadang-kadang gambaran pahlawan di pelajaran sekolah dasar masih melekat, sosok gagah yang membawa bambu runcing, berikat kepala warna bendera sambil berteriak ‘Merdeka!’

Ada cerita di mana seseorang menjadi begitu terobsesinya menjadi pahlawan, sehingga ia selalu berusaha menyenangkan semua orang, memenuhi segala permintaan, sambil mencari-cari peluang, siapa tahu ada bencana, dan ia bisa melakukan aksi penyelamatan yang heroik. Menurut saya, hal itu sangat melelahkan. Menjadi pahlawan tidak bisa diskenariokan dan tidak bisa diatur semau kita. Momen ‘menjadi pahlawan’ itu justru ada dalam kehidupan sehari-hari, dan dilakukan tanpa maksud di belakangnya (ingin disanjung sebagai pahlawan). Juga tidak perlu harus selalu menyenangkan orang, salah-salah kita akan menjadi seorang pesuruh yang mudah sekali diperbudak.

Momen itu bisa saja kita temukan, saat membantu anak mengerjakan pe er nya yang sulit. Saat kita hadir pada seorang teman yang sedang membutuhkan, hanya untuk mendengar saja. Saat mendengarkan istri ketika ia ingin berbagi cerita, karena selama ini hanya ia saja yang menjadi pendengar. Atau mengunjungi orang tua yang tinggal jauh, karena selama ini kita hanya meneleponnya sesekali sebagai basa-basi saja. Juga ada banyak sekali contoh-contoh bagus yang bisa kita baca dari Chicken Soup for the Soul, tentang momen-momen kepahlawanan sehari-hari.

Bisakah kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, selain berpikir untuk melakukannya pada orang lain? Saat sesuatu yang negatif terjadi, seringkali kita menyalahkan atau membenci diri sendiri, dan bahkan tak mampu memaafkan diri. Jangankan menolong orang lain, sebaliknya diri kita sendiri dalam kondisi demikian sangat butuh pertolongan. Parahnya, keadaan seperti ini sering tidak kita sadari. Tetapi coba kita perhatikan kondisi sehari-hari, adakah tanda-tanda bahwa selama ini kita menyalahkan diri untuk hal-hal yang tidak perlu?

Mungkin, dalam situasi krisis global seperti saat ini, beberapa usaha tidak berjalan lancar. Yang menjadi pegawai rentan untuk di PHK, sedangkan yang berwiraswasta terjadi penurunan dalam nilai penjualannya. Ada juga yang bekerja, namun tidak bisa berharap ada kenaikan gaji untuk tahun ini, karena perusahaan tempatnya bekerjapun sedang berjuang untuk bertahan hidup. Ada seorang teman yang mengirimkan email pada saya, katanya ia butuh penghasilan tambahan, karena pekerjaannya sekarang tidak memberikan gaji yang cukup untuk kebutuhan minimal keluarganya. Maka pembicaraanpun berlanjut, karena saya penasaran, mengapa ia seakan ‘berhenti di tempat’ setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi.

Menurut ceritanya, karirnya tak mungkin lagi berkembang. Ada banyak alasan yang ia berikan, diantaranya adalah, bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan besar, sehingga ia sulit untuk naik posisi, karena persaingan karir cukup tajam. Selain itu, ia juga sudah masuk usia kepala empat, sehingga sudah sulit baginya untuk bersaing dengan yang lebih muda, yang berpendidikan dan memiliki knowledge yang lebih tinggi, serta bersedia digaji lebih murah karena tidak ada tanggungan keluarga. Ia juga sudah berusaha mencari peluang usaha sampingan, tetapi terbentur tidak punya modal.

Saya tidak ingin berbicara sesuatu yang kesannya menggurui. Jadi saya hanya menganalisa saja, bahwa teman saya ini sudah cukup kronis memandang dirinya sebagai seorang yang serba kekurangan. Ia merasa tak mampu bersaing, merasa umurnya terlalu tua untuk belajar lagi dan untuk bersemangat menunjukkan the best of himself, dan tak punya apa-apa untuk dijadikan modal. Sebetulnya soal modal ini yang berat, karena ia identikkan modal dengan uang saja. Padahal ada banyak modal di sekitar kita yang tidak disadarinya. Maka saya mencoba menganalisa satu persatu, yang mungkin bisa menjadi pelajaran buat diri saya sendiri dan teman-teman lain yang membaca tulisan ini.

Ketika merasa tak mampu bersaing, betapa kita melihat diri kita bagai seonggok karung beras yang sudah tak ada isinya. Mengapa tak mencoba mencari sesuatu untuk menegakkan karung itu? Jangan berharap ada orang lain yang memberikan kayu untuk menopang diri kita, tapi cobalah untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Keluarlah dari diri kita yang bagai karung teronggok itu, lalu tegakkanlah. Hanya dengan keluar dari kungkungan diri yang merasa lemah, barulah kita dapat menolong diri sendiri. Jika sehari-hari kita hanya duduk di pojokan kubikal kita, menenggelamkan kepala di balik monitor komputer, maka tak seorangpun akan melihat keberadaan diri kita. Bangunlah, keluarlah dari diri yang bersembunyi di pojokan itu, dan sapalah orang-orang di sekitar kita, ikut melibatkan diri dalam beberapa pembicaraan menarik, dan arahkan ke pemikiran positif.

Usia kepala empat justru adalah puncak produktivitas seseorang. Banyak yang justru bangkit di usia ini. Bahkan ada pepatah yang mengatakan life begin at forty. Saya selalu yakin bahwa pada diri setiap orang pasti memiliki satu keahlian yang sangat ia kuasai, yang orang lain tak mampu melampauinya. Mungkin saja selama ini kita tak menyadari bahw mi instan masakan kita sangat lezat. Mungkin kita telaten menyulam kristik. Mungkin juga selama ini kita suka corat-coret gambar kartun. Apa saja potensi tersembunyi itu, temukan komunitasnya di internet (apapun ada di sana) dan kembangkanlah. Walaupun mungkin tidak bisa menjadi mata pencaharian baru, tapi itu akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga bisa menjadi yang terbaik dalam beberapa hal. Ini akan membuat semangat dan kepahlawanan terhadap diri sendiri akan meningkat. Cobalah temukan, dan Anda akan merasa lebih bersemangat untuk menunjukkan potensi diri sendiri dan tidak membandingkannya dengan orang lain yang juga punya kemampuan hebat di bidang lain. Tak ada batasan umur untuk memulainya, tidak empat puluh, tiga puluh atau lima puluh.

Dan jika kita merasa tak punya modal, lihatlah, sesudah mencari potensi dalam diri. Modal itu ada. Jika belum juga, lihat berapa jumlah teman kita, berapa luas koneksi kita. Jika Anda bisa membaca blog ini, berarti Anda juga punya satu modal, yaitu akses internet. Selain itu, ada satu modal lagi yang luar biasa potensial, yaitu informasi. Tanyakan pada para makelar atau calo. Itu modal terbesar mereka. Jangan melihat calo itu hanya ada di terminal-terminal saja. Para perantara itu bisa menjembatani antara produsen dan konsumen yang saling tidak kenal, dan mereka mendapatkan fee dari sana, yang jumlahnya dari beberapa ratus ribu sampai milyaran rupiah. Informasi sebagai modal bisa macam-macam, mulai dari bisnis teman-teman, rumah dijual, mobil, batu bara, kapal dan sebagainya. Itulah modal bagi mereka yang tidak merasa punya modal. Semuanya itu lebih dipermudah lagi dengan adanya internet dan ponsel, yang saat sekarang siapapun punya.

Semua itu adalah potensi diri. Jika kita berani menggalinya dengan cara yang sederhana saja akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga punya kekuatan. Dan dengan kekuatan itu, kita bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri, sebelum menjadi pahlawan bagi orang lain.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,

The Power of Simplicity

11 Maret 2009 · 1 Komentar

simpleKesederhanaan, banyak yang mengartikannya sebagai tanda rendah hati, Tetapi ada juga yang mengatakan untuk menyembunyikan rasa rendah diri. Jika rendah hati, kita bisa mengatakan bahwa itu adalah bentuk pencapaian manusia untuk mengendalikan diri, tidak berlebihan menunjukkan kelebihannya, mampu untuk menunjukkan ketidakmampuannya. Sedangkan rendah diri, justru menunjukkan level paling rendah dari intelejensi manusia. Jika kita mengidap masalah ini, tidak akan mampu lagi mengenali jati diri kita dan akan meletakkan orang-orang di luar diri kita menjadi sesuatu yang asing dan jauh. Dalam situasi yang parah orang lain malah tampak menguasai kita. Kesederhanaan bukan seperti itu, tetapi lebih kepada perwujudan rendah hati.

Saat kita belajar di tingkat dasar, kita hampir-hampir tidak punya kemampuan awal untuk membaca, menulis dan berhitung. Tetapi dengan cara yang sederhana, guru SD kita menanamkan perlahan-lahan kemampuan yang menjadi dasar segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya sering takjub dengan orang yang menciptakan metoda untuk mengajar anak-anak SD menjadi bisa membaca, menulis dan berhitung dari nol. Dan lebih takjub lagi dengan para guru yang dengan segala kemampuannya menahan sabar untuk mengajari dan mendidik kita dari awal. Maka ketika melihat anak saya sendiri mulai bisa melafalkan abjad, lalu membaca kata sederhana, dan akhirnya kalimat dalam buku-buku, rasanya sangat luar biasa. Kalau kita mau mengamati, kita seakan melihat mukjizat setiap hari.

Sedangkan saat kita sekolah pada tingkat yang lebih tinggi, pada saat SMU ataupun kuliah, dimana diperlukan nalar yang lebih tinggi, maka kemampuan sang guru dalam menyederhanakan penjelasannya menjadi kunci bagi para murid untuk mengerti lebih dalam. Saya senang dengan beberapa guru yang bisa menjelaskan kalkulus demikian indahnya, atau saat mempelajari mathematic for engineer secara otodidak, buku Schaum’s Outline series seakan menjadi semacam guru yang duduk di sebelah saya, menjelaskan dengan penuh kesabaran. Dari sana saya melihat bahwa kemampuan untuk menyederhanakan hal-hal rumit tanpa kehilangan esensinya adalah puncak dari prestasi seorang guru. Maka akan menjadi lebih baik, jika kita juga mampu mengajari kembali apa yang sudah pernah kita pelajari, dengan cara sederhana juga.

Kesederhanaan akan menuntun kita untuk mau belajar, mencerna dengan tanpa beban, dan menghembuskannya dengan penuh kebijaksanaan. Kesederhanaan juga akan membuat kita mampu untuk melihat hal-hal kecil yang sering diabaikan oleh orang-orang yang cenderung lebih suka hal-hal rumit agar dianggap pintar. Pemikirannya sungguh terbalik: jika berbicara dengan kalimat yang tidak bisa dimengerti orang lain, maka berarti pemikiran kita mempunyai tingkatan yang lebih tinggi. Bayangkan saja kalau hal ini terjadi pada para guru TK atau SD kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan banyak menemukan pilihan hidup, hendak menjadi rumit atau sederhana. Seringkali kita merasa khawatir, jika kita memilih menjadi sederhana, apakah kita akan tampak bodoh di depan orang lain. Kita khawatir dengan menceritakan hal sederhana dengan cara sederhana akan tampak tak berpendidikan. Kita khawatir, jika menjalankan bisnis UKM yang sederhana, akan merugikan pendidikan sarjana yang sudah kita jalani bertahun-tahun. Kita bekerja bersama orang-orang sederhana akan kehilangan pengalaman dan kemampuan kita sebagai profesional. Apakah memang begitu?

Kenyataan menunjukkan justru banyak orang-orang yang setelah mencapai puncak tetap sederhana. Banyak bisnis besar yang berkembang dari ide sederhana. Bahkan banyak bisnis yang tetap bertahan pada visi yang sederhana meskipun dengan turnover yang sangat besar. Ada pula mantan profesional yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam suatu korporasi rela turun ke bawah untuk memulai bisnisnya sendiri, memulai dengan bekerja bersama orang-orang sederhana yang biasa melakukan pekerjaan ground work. Baginya tidak apa-apa, karena dia tahu, ini adalah awal dia mandiri dengan usahanya sendiri, dan tidak bergantung pada pekerjaannya lagi.

Ketika kita tiba pada suatu pilihan, ketika berhadapan dengan tembok saat mengarungi hidup sehari-hari, ketika kita mencari-cari penghasilan tambahan karena penghasilan tetap sudah tak memadai, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menelaah ide-ide sederhana? Karena, jika kita tidak pernah berhenti dan hidup dalam ketergesa-gesaan, yang kita temukan adalah kerumitan. Perasaan ingin menjerit, ingin mencari terobosan dalam kebuntuan, tetapi seakan semuanya buntu. Kita terkunci dalam rutinitas sehari-hari dan tidak berdaya untuk lepas dari gaji bulanan yang nilai sejatinya semakin kecil. Saatnya mencoba jalan keluar sederhana.

Saya pernah mengalami kebuntuan seperti ini. Rasanya sama, seperti menabrak tembok. Semakin berkutat dengan kebuntuan, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar. Yang saya lakukan ketika itu adalah mencoba menghubungi beberapa teman lama, hanya untuk mengobrol dan menanyakan kabar mereka, bagaimana pekerjaan, bisnis apa mereka sekarang. Kadang-kadang bisa menemukan sesuatu, kadang-kadang juga tidak. Yang penting saya berhenti sejenak. Saya juga mencoba mengamati hal-hal sederhana dan kecil. Saya akhirnya menemukan sebuah ide bisnis rumahan yang bisa dimulai dengan modal terbatas dan marjin laba yang lumayan, saat sore hari berbincang dengan istri saya. Tanpa menunggu lagi, waktu itu kami langsung melaksanakannya dan perhitungan kami benar. Hasil yang kami peroleh lumayan, untuk menjadi penghasilan tambahan.

Kita tak perlu mencari solusi yang terlalu rumit ketika terbentur. Juga jangan berharap dengan mengikuti berbagai seminar “menjadi kaya secara cepat” akan menjadi solusi instan. Cobalah untuk singkirkan segala kerumitan itu dan coba lihat hal-hal kecil yang sederhana di sekitar kita. Sangat mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang baru, yang selama ini luput dari perhatian Anda. Barangkali itu akan menjadi awal untuk memulai langkah baru yang akan memecahkan masalah.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , , , , , , ,

The Power of Small Things

6 Maret 2009 · & Komentar

powerKadang kala kita tidak menyadari arti penting dari sebuah benda kecil sampai kita memerlukannya. Demikian juga, usaha kecil dan uang kecil, sering tidak menjadi perhatian orang. Padahal, jika hal-hal kecil ini dijalani dengan tekun, bisa saja hasilnya tidak kalah dengan yang memiliki sumberdaya besar. Contohnya dalam bisnis, suatu produk dengan harga murah dan ukuran yang tidak berarti, tetapi menjadi kebutuhan yang rutin dengan wilayah pasar yang luas, bisa saja secara total, revenue yang dihasilkan sama dengan penjualan mobil sport supermewah, yang ditargetkan setahun tidak lebih dari 10 unit saja.

Saya tertarik dengan kekuatan hal-hal kecil ini, ketika suatu siang saya mengunjungi klien lama, sebuah perusahaan yang memproduksi makanan kaleng. Produk ini umum dijual dari pasar tradisional hingga modern. Bagi banyak orang di seluruh penjuru tanah air, produk makanan ini biasa menjadi alternatif lauk yang umum. Di samping itu, mereka juga melakukan ekspor dengan standar yang berbeda, meskipun berbahan baku sama. Karena perusahaan ini sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun, maka mereknyapun sudah ‘merakyat’, mudah dijumpai di mana saja, dan dikenal oleh semua lapisan masyarakat.

Dari sisi harga, karena produk ini untuk semua kalangan, cukup terjangkau. Sedangkan untuk ukurannya, umumnya, jika kita membeli satu kaleng, pasti cukup untuk lauk makan sehari. Maka, dapat disimpulkan bahwa ini adalah produk yang relatif murah dan kecil. Tetapi saya sangat terkesan, ketika dalam pembicaraan sambil makan siang, salah satu eksekutifnya menyampaikan bahwa penjualannya mencapai di atas angka seratus milyar untuk tahun 2008! Sebuah jumlah yang cukup fantastis, mengingat produk mereka yang relatif sederhana, murah dan kecil. Tetapi dengan penyebaran yang luas dan menjadi produk pilihan segala lapisan masyarakat, tidaklah mengherankan, mereka mencapai jumlah penjualan sebesar itu. Bahkan, mereka masih tetap optimis memandang tahun ini yang diwarnai dengan krisis perekonomian. Karena harga yang relatif terjangkau, produk mereka sangat mungkin menjadi alternatif lauk ketika daya beli kita semakin berkurang.

Saya juga pernah mendapat cerita yang sama dari seorang teman lama. Setelah sekian tahun, kami bertemu lagi di Banjarmasin. Ketika itu ia menjabat sebagai kepala cabang perusahaannya di kota itu, sedangkan saya sedang menangani proyek sebuah perusahaan dealer otomotif terbesar di sana. Perusahaannya adalah produsen sekaligus distributor produk tepung terigu untuk bahan kue. Dalam obrolan di sela makan malam di sebuah kafe dalam hotel, ia mengungkapkan berbagai isu bisnis yang dijalankannya di kota ini. Ia sedang akan dipromosikan untuk memegang kendali cabang yang lebih besar di Surabaya karena prestasi penjualannya. Saya juga sangat terkesan dengan angka penjualan yang diungkapkannya. Untuk ukuran sebuah kota yang tidak terlalu besar, nilai penjualannya sangat mengesankan. Saya kira, untuk angka seluruh Indonesia, pasti akan sama luar biasanya dengan klien yang saya sampaikan sebelumnya.

Sebenarnya, logikanya sederhana. Dalam level harga maupun ukuran apapun, kuncinya adalah multiplikasi. Suatu produk jika terdistribusi secara luas dan mampu diserap pasar, pasti akan menghasilkan revenue yang besar. Jangankan yang skala pabrikan, skala industri rumah tanggapun bisa meraup angka penjualan dan keuntungan yang tidak kecil. Yang diperlukan adalah ketekunan untuk menjalankannya saja, karena selain modal yang relatif tidak terlalu besar, produknyapun umumnya mudah untuk didistribusikan. Seperti seorang pemasok yang menitipkan produknya untuk dijual di toko yang dikelola orang tua saya. Produk titipannya adalah kacang mede goreng yang gurih. Sebenarnya, jumlah yang dititipkannya tidak banyak, hanya sekitar dua lusin saja. Tetapi, karena ia selalu menjaga kualitas barangnya, maka produknya menjadi terkenal, dan selalu habis dalam waktu satu minggu. Tentu saja, ia tidak hanya menitipkannya pada toko kami, tapi di banyak tempat lagi, yang membuatnya memperoleh penghasilan yang lumayan.

Kalau saya perhatikan lagi, ternyata tidak hanya si pemasok kacang mede itu saja, tetapi juga mereka yang menitipkan emping manis, kripik pisang, dan berbagai cemilan lainnya. Jadi, seperti yang telah saya katakan tadi, tidak hanya untuk skala besar, tetapi usaha rumahanpun bisa dikembangkan dengan baik jika kita bisa memanfaatkan efek multiplikasi dalam melakukan pemasarannya. Ini bisa menjadi alternatif sumber penghasilan yang relatif mudah untuk dimulai, dengan modal yang tidak terlalu besar. Karena, sesuatu hal, walaupun kecil, tetapi jika dalam jumlah besar, kekuatan yang dimilikinya akan luar biasa. Inilah the power of small things.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , ,

Melebihi Harapan

2 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

weldingSaya mengenalnya ketika menjadi programmer freelance di perusahaan tempatnya bekerja, sebuah industri kecil yang memproduksi lampu-lampu hias. Di penghujung tahun delapanpuluhan, Benitius Agus masih berprofesi menjadi seorang tukang las, yang setiap harinya memakai celana jeans belel, kaos buntung yang dua-duanya dekil.Waktu itu tugas saya adalah membuat sebuah program untuk mengelola keuangan dari proyek-proyek yang dijalankan oleh perusahaan itu.

Agus berperawakan kurus tinggi, asli Yogya, dan seorang yang humoris. Ia teman yang enak diajak bicara. Ia ditunjuk oleh bosnya untuk menjadi operator bagi program yang saya bangun. Sejak setahun lalu, ia memang sudah tidak lagi jadi tukang las. Bosnya percaya kepadanya karena ia memang pernah menunjukkan kemampuannya. Meskipun ia tukang las, tapi ia tetap bersemangat untuk maju, maka ia menyempatkan dirinya untuk kursus komputer, mempelajari penggunaan Lotus 1-2-3, program spreadsheet paling populer saat itu. Suatu hari, bagian keuangan kerepotan ketika hendak menghitung gaji karyawan harian yang berjumlah ratusan orang itu. Kesulitannya adalah menghitung kebutuhan pecahan uang, agar pembayaran gaji bisa pas untuk setiap orang. Agus yang melihat keadaan itu kemudian nekat mengajukan diri untuk membuat rumus dalam program Lotus untuk mempermudah perhitungan itu, sekaligus membuat semacam aplikasi penggajian kecil-kecilan, lengkap dengan pencetakan slip gaji.

Tentu saja, bosnya terkesan. Maka sejak itu, Agus diperbantukan di bagian administrasi keuangan. Kepindahannya tak mudah, karena seperti umumnya di perusahaan padat karya, selalu ada intrik-intrik internal yang senangnya mengganjal karir seseorang. Tapi Agus jalan terus, dan akhirnya ia membantu saya dalam menyelesaikan tugas saya. Sejak saat itu, kami bersahabat.

Beberapa tahun kemudian, ada tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan yang baru berdiri. Saya menerimanya dan bekerja dengan posisi awal sebagai koordinator logistik. Agus, melalui informasi mulut kemulut juga akhinya bekerja di sana. Tidak tanggung-tanggung, ia mendapat posisi sebagai koordinator keuangan. Rupanya ia menggunakan pengalaman kerjanya di perusahaan sebelumnya dan dengan ijazah ‘bisa-bisanya’, ia mendapatkan pekerjaan itu. Saya sangat terkesan dengan keberaniannya. Kami kemudian bersama-sama menyusun sistem prosedur untuk perusahaan baru itu.

Namun, karena tidak memiliki latar belakang akuntansi, Agus agak kesulitan dalam menjalankan tugas-tugas hariannya. Akhirnya, perusahaan merekrut seorang manajer akuntansi untuk mengelola pekerjaan itu, dan Agus bekerja di bawahnya. ‘Kesempatan besar’ pikirnya, ia lalu belajar banyak dari atasannya itu. Sempat beberapa kali atasannya mempertanyakan kemampuannya pada saya, tapi saya selalu menjelaskan bahwa Agus lulusan Manajemen, jadi harap maklum kalau kemampuan akuntansinya kurang.

Tahun demi tahun berlalu, suatu ketika, karena guncangan krisis ekonomi, perusahaan tempat kami bekerja pailit. Kami di-phk secara baik-baik, lengkap dengan pesangon. Ketika memperlihatkan surat referensi yang diterimanya pada saya, kami tertawa bersama. Agus, yang mantan tukang las, posisi terakhirnya adalah Finance Supervisor. Tapi ia bilang tidak akan melanjutkan karir hebatnya ke perusahaan lain. Dengan uang pesangon yang diterimanya, ia memilih untuk memulai usaha, menjadi agen telur dan minyak goreng.

Melihat semangat yang selalu penuh dalam dirinya, maka saya tidak heran ketika beberapa tahun kemudian ia sudah menjadi juragan kecil, sudah bekeluarga dan memiliki beberapa aset. Sayang, saya kehilangan nomor teleponnya ketika ha pe saya rusak. Saya kehilangan jejak seorang sahabat yang begitu inspiratif. Melalui perjalanan hidupnya beberapa tahun saat kami bersama-sama bekerja, saya melihat satu hal yang paling penting yang membuatnya bisa melepaskan diri dari belenggu pekerjaan kasar. Agus selalu bekerja melebihi harapan.

Adam Khoo, dalam bukunya selalu menekankan sembilan kebiasaan jutawan. Meskipun kebiasaan ini dinamakan demikian, tetapi nilai-nilai di dalamnya universal, dan sangat bagus untuk diterapkan dalam hidup kita. Kebiasaan-kebiasaan ini selaras dengan Seven Habits-nya Stephen R. Covey. Dan kebiasaan pertama yang disebutkan oleh Adam Khoo adalah ‘Selalu Melebihi Harapan’. Kebiasaan inilah yang saya saksikan sendiri, menjadi landasan Agus untuk selalu menapak maju. Agus mungkin tidak pernah kenal Adam Khoo, tetapi ia sudah menerapkannya sepanjang hidupnya.

Kategori: Renungan Bisnis
Ditandai: , , , , ,