Bayangan kita tentang hero adalah seorang yang melakukan hal-hal hebat dan menakjubkan. Seperti memandang seorang pemadam kebakaran yang menggendong bayi keluar dari rumah yang terbakar. Atau saat menyaksikan seorang juru runding hebat yang berhasil mencapai kata damai antara dua pihak yang bertikai di suatu negara. Atau seorang tokoh kemanusiaan yang berhasil menyelamatkan banyak orang-orang miskin hanya dengan kasih tanpa pamrih. Pokoknya, mereka adalah orang-orang besar yang melakukan hal-hal di luar jangkauan kita. Bahkan, kadang-kadang gambaran pahlawan di pelajaran sekolah dasar masih melekat, sosok gagah yang membawa bambu runcing, berikat kepala warna bendera sambil berteriak ‘Merdeka!’
Ada cerita di mana seseorang menjadi begitu terobsesinya menjadi pahlawan, sehingga ia selalu berusaha menyenangkan semua orang, memenuhi segala permintaan, sambil mencari-cari peluang, siapa tahu ada bencana, dan ia bisa melakukan aksi penyelamatan yang heroik. Menurut saya, hal itu sangat melelahkan. Menjadi pahlawan tidak bisa diskenariokan dan tidak bisa diatur semau kita. Momen ‘menjadi pahlawan’ itu justru ada dalam kehidupan sehari-hari, dan dilakukan tanpa maksud di belakangnya (ingin disanjung sebagai pahlawan). Juga tidak perlu harus selalu menyenangkan orang, salah-salah kita akan menjadi seorang pesuruh yang mudah sekali diperbudak.
Momen itu bisa saja kita temukan, saat membantu anak mengerjakan pe er nya yang sulit. Saat kita hadir pada seorang teman yang sedang membutuhkan, hanya untuk mendengar saja. Saat mendengarkan istri ketika ia ingin berbagi cerita, karena selama ini hanya ia saja yang menjadi pendengar. Atau mengunjungi orang tua yang tinggal jauh, karena selama ini kita hanya meneleponnya sesekali sebagai basa-basi saja. Juga ada banyak sekali contoh-contoh bagus yang bisa kita baca dari Chicken Soup for the Soul, tentang momen-momen kepahlawanan sehari-hari.
Bisakah kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, selain berpikir untuk melakukannya pada orang lain? Saat sesuatu yang negatif terjadi, seringkali kita menyalahkan atau membenci diri sendiri, dan bahkan tak mampu memaafkan diri. Jangankan menolong orang lain, sebaliknya diri kita sendiri dalam kondisi demikian sangat butuh pertolongan. Parahnya, keadaan seperti ini sering tidak kita sadari. Tetapi coba kita perhatikan kondisi sehari-hari, adakah tanda-tanda bahwa selama ini kita menyalahkan diri untuk hal-hal yang tidak perlu?
Mungkin, dalam situasi krisis global seperti saat ini, beberapa usaha tidak berjalan lancar. Yang menjadi pegawai rentan untuk di PHK, sedangkan yang berwiraswasta terjadi penurunan dalam nilai penjualannya. Ada juga yang bekerja, namun tidak bisa berharap ada kenaikan gaji untuk tahun ini, karena perusahaan tempatnya bekerjapun sedang berjuang untuk bertahan hidup. Ada seorang teman yang mengirimkan email pada saya, katanya ia butuh penghasilan tambahan, karena pekerjaannya sekarang tidak memberikan gaji yang cukup untuk kebutuhan minimal keluarganya. Maka pembicaraanpun berlanjut, karena saya penasaran, mengapa ia seakan ‘berhenti di tempat’ setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi.
Menurut ceritanya, karirnya tak mungkin lagi berkembang. Ada banyak alasan yang ia berikan, diantaranya adalah, bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan besar, sehingga ia sulit untuk naik posisi, karena persaingan karir cukup tajam. Selain itu, ia juga sudah masuk usia kepala empat, sehingga sudah sulit baginya untuk bersaing dengan yang lebih muda, yang berpendidikan dan memiliki knowledge yang lebih tinggi, serta bersedia digaji lebih murah karena tidak ada tanggungan keluarga. Ia juga sudah berusaha mencari peluang usaha sampingan, tetapi terbentur tidak punya modal.
Saya tidak ingin berbicara sesuatu yang kesannya menggurui. Jadi saya hanya menganalisa saja, bahwa teman saya ini sudah cukup kronis memandang dirinya sebagai seorang yang serba kekurangan. Ia merasa tak mampu bersaing, merasa umurnya terlalu tua untuk belajar lagi dan untuk bersemangat menunjukkan the best of himself, dan tak punya apa-apa untuk dijadikan modal. Sebetulnya soal modal ini yang berat, karena ia identikkan modal dengan uang saja. Padahal ada banyak modal di sekitar kita yang tidak disadarinya. Maka saya mencoba menganalisa satu persatu, yang mungkin bisa menjadi pelajaran buat diri saya sendiri dan teman-teman lain yang membaca tulisan ini.
Ketika merasa tak mampu bersaing, betapa kita melihat diri kita bagai seonggok karung beras yang sudah tak ada isinya. Mengapa tak mencoba mencari sesuatu untuk menegakkan karung itu? Jangan berharap ada orang lain yang memberikan kayu untuk menopang diri kita, tapi cobalah untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Keluarlah dari diri kita yang bagai karung teronggok itu, lalu tegakkanlah. Hanya dengan keluar dari kungkungan diri yang merasa lemah, barulah kita dapat menolong diri sendiri. Jika sehari-hari kita hanya duduk di pojokan kubikal kita, menenggelamkan kepala di balik monitor komputer, maka tak seorangpun akan melihat keberadaan diri kita. Bangunlah, keluarlah dari diri yang bersembunyi di pojokan itu, dan sapalah orang-orang di sekitar kita, ikut melibatkan diri dalam beberapa pembicaraan menarik, dan arahkan ke pemikiran positif.
Usia kepala empat justru adalah puncak produktivitas seseorang. Banyak yang justru bangkit di usia ini. Bahkan ada pepatah yang mengatakan life begin at forty. Saya selalu yakin bahwa pada diri setiap orang pasti memiliki satu keahlian yang sangat ia kuasai, yang orang lain tak mampu melampauinya. Mungkin saja selama ini kita tak menyadari bahw mi instan masakan kita sangat lezat. Mungkin kita telaten menyulam kristik. Mungkin juga selama ini kita suka corat-coret gambar kartun. Apa saja potensi tersembunyi itu, temukan komunitasnya di internet (apapun ada di sana) dan kembangkanlah. Walaupun mungkin tidak bisa menjadi mata pencaharian baru, tapi itu akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga bisa menjadi yang terbaik dalam beberapa hal. Ini akan membuat semangat dan kepahlawanan terhadap diri sendiri akan meningkat. Cobalah temukan, dan Anda akan merasa lebih bersemangat untuk menunjukkan potensi diri sendiri dan tidak membandingkannya dengan orang lain yang juga punya kemampuan hebat di bidang lain. Tak ada batasan umur untuk memulainya, tidak empat puluh, tiga puluh atau lima puluh.
Dan jika kita merasa tak punya modal, lihatlah, sesudah mencari potensi dalam diri. Modal itu ada. Jika belum juga, lihat berapa jumlah teman kita, berapa luas koneksi kita. Jika Anda bisa membaca blog ini, berarti Anda juga punya satu modal, yaitu akses internet. Selain itu, ada satu modal lagi yang luar biasa potensial, yaitu informasi. Tanyakan pada para makelar atau calo. Itu modal terbesar mereka. Jangan melihat calo itu hanya ada di terminal-terminal saja. Para perantara itu bisa menjembatani antara produsen dan konsumen yang saling tidak kenal, dan mereka mendapatkan fee dari sana, yang jumlahnya dari beberapa ratus ribu sampai milyaran rupiah. Informasi sebagai modal bisa macam-macam, mulai dari bisnis teman-teman, rumah dijual, mobil, batu bara, kapal dan sebagainya. Itulah modal bagi mereka yang tidak merasa punya modal. Semuanya itu lebih dipermudah lagi dengan adanya internet dan ponsel, yang saat sekarang siapapun punya.
Semua itu adalah potensi diri. Jika kita berani menggalinya dengan cara yang sederhana saja akan membuat kita menyadari, bahwa kita juga punya kekuatan. Dan dengan kekuatan itu, kita bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri, sebelum menjadi pahlawan bagi orang lain.