Mungkin Anda masih ingat suasana hati ketika sedang jatuh cinta? Yang terjadi biasanya adalah semangat yang luar biasa, hati yang begitu menggebu dan pikiran yang sangat terfokus. Ya, jatuh cinta adalah salah satu penyemangat dalam hidup. Ketika itu, apapun yang kita kerjakan rasanya ingin kita lakukan dengan hasil yang sebaik mungkin, seakan hendak dipersembahkan kepada kekasih tercinta. Hati pun menggebu, menandakan motivasi dan gairah yang begitu besar. Pikiran terfokus hanya pada orang yang kita kasihi.
Ada kalanya juga, jatuh cinta itu bisa terjadi pada hal lain, misalnya pekerjaan. Jika itu terjadi, maka sama halnya dengan jatuh cinta pada kekasih, hal terbaik ingin kita persembahkan. Saya mengenal seorang teman baik yang begitu mencintai pekerjaannya meskipun menyita banyak sekali waktunya, karena ia harus banyak melakukan perjalanan. Sayangnya, tidak ada keseimbangan dalam hidupnya. Ia lupa, ia masih memiliki keluarga yang harus dibagikan kasih setiap saat. Dalam satu bulan, ia hanya berada di rumah kurang dari satu minggu. Akibatnya, anak satu-satunya pun tidak dekat dengannya. Di kala usia putranya itu beranjak remaja, maka pemberontakan demi pemberontakan terjadi dalam dirinya, karena kelihatan ia sangat kehilangan figur ayah. Dan yang menanggung akibatnya adalah sang ibu.
Berbagai buku mengenai motivasi selalu menyebutkan bahwa jika kita melakukan pekerjaan yang kita cintai, maka kita akan melakukannya dengan begitu bergairah dan sepenuh hati. Tetapi gairah itu bukan untuk mengunci kita, terfokus seratus persen hanya pada yang kita cintai. Sama seperti ketika kita jatuh cinta pada kekasih, kita harus menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri. Masih ada keluarga, sahabat dan lain-lain dimana kita harus belajar berbagai secara seimbang. Keseimbangan, itulah kunci dari kedewasaan diri.
Dengan kedewasaan diri, keseimbangan dalam hidup bisa kita pelihara dan kita dapat mengatur kekuatan dari energi jatuh cinta yang luar biasa dan tidak menjadi beban. Karena dengan keseimbangan, kita juga menyiapkan diri untuk menyambut segala kemungkinan.yang bisa terjadi. Ya, kala kita jatuh cinta, selalu ada kemungkinan kita mendapatkan cinta itu, ataupun penolakan. Nah, semua orang tahu, ketika menghadapi penolakan, suasana hati akan berbanding terbalik. Kita bisa kehilangan semua motivasi, semangat dan gairah. Seperti grafik parabolik, ketika telah mencapai titik kulminasi, maka bisa terjadi penurunan amplitudo yang mendadak.
Atau juga, setelah kita mendapatkan cinta yang kita dambakan, lalu kebosanan pun melanda. Saya kira ini jauh lebih berbahaya, karena menunjukkan jiwa petualang, jiwa yang tak pernah bersyukur. Persoalan cinta tidaklah sederhana, karena menyangkut dua jiwa, dua pikiran yang menyatu. Jika terjadi perpisahan, pasti akan terjadi luka, pada satu atau kedua pihak. Bukan hanya pada sepasang kekasih saja, tetapi juga bisa pada pekerjaan dan karir yang kita cintai, pada saat yang tidak kita duga sama sekali, selembar surat PHK bisa saja ada di dalam genggaman tangan kita.
Maka, ketika kita jatuh cinta, pada kekasih, pada keluarga, pada pekerjaan dan karir, segeralah temukan titik keseimbangan. Bukan berarti kita membatasi energi yang luar biasa ini, tetapi mengendalikannya dengan lebih terarah dan positif serta siap terhadap segala kemungkinan.