Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun menjalani bidang pekerjaan atau usaha, menjadikannya sebagai rutinitas. Jika sudah menjadi rutinitas, maka mungkin kita tidak merasakannya sebagai sesuatu yang menggairahkan lagi. Sekadar menjalankannya, mencapai hasil sebagaimana yang direncanakan dan melanjutkan tugas berikutnya. Terus begitu sebagai siklus yang berkesinambungan. Kadang kita bisa menyelesaikannya tepat waktu, kadang terlambat, kadang juga bisa lebih cepat dari jadwal. Karena rutin, kita tidak merasa mencapai prestasi manakala bisa menyelesaikannya lebih dari yang diharapkan. Bahkan mungkin tidak bergairah untuk mencapai lebih. Karena untuk tepat pada sasaran saja, sudah membuat kita siang malam berada dalam tekanan. Dan jika selesai, kita tidak sempat berlama-lama menikmatinya. Paling hanya merasa lega sebentar, dan tugas berikutnya sudah menanti untuk diselesaikan dengan jadwal yang sangat ketat.
Beberapa perusahaan berusaha menjaga agar tidak membuat team kerjanya menjalankan tugas tidak sebagai rutinitas saja. Karena hal ini akan menyebabkan penurunan kinerja secara bertahap tanpa disadari oleh mereka yang menjalankannya. Penyebabnya adalah karena sebagai rutinitas, akhirnya tidak ada tolok ukur yang bisa menyatakan selesainya suatu tugas sebagai prestasi, yang ada justru jika tidak selesai berarti kegagalan. Ada peruahaan yang memberikan pelatihan motivasi in-house. Ada yang mengirimkan team kerjanya untuk mengikuti outbound atau kelas-kelas training lainnya. Salah satu klien saya secara rutin melakukan rolling para karyawan dari satu outlet ke outlet lainnya. Intinya adalah berusaha menjaga semangat dan gairah kerja team.
Sebenarnya, kalau diperhatikan, faktor yang memberi semangat pada manusia bersifat emosional. Sebagai pemimpin, jika mampu menyentuh emosi team kerja, baik secara individu maupun kelompok, akan lebih mudah memberi motivasinya. Tengok saja team olah raga, bagaimana sang pelatih memberi semangat pada teamnya saat akan bertanding. Sang pelatih akan memberi sentuhan-sentuhan emosional lalu membakar semangat tempur mereka. Nah, dalam suatu team kerja, misalnya saat akan melaksanakan suatu proyek, situasi yang akan dialami sang manajer proyek sama seperti yang diraskan oleh pelatih saat akan memasuki arena pertandingan. Saat proyek mulai kick-off, maka segala tanggung jawab ada di pundah manajer proyek. Ia harus menjaga segala aspek, dan terutama menjaga semangat, motivasi dan kekompakan team yang dipimpinnya.
Dari pengalaman yang saya alami, biasanya jika team sudah termotivasi, maka anggota individual akan mengalami suasana termotivasi yang relatif sama satu dengan lainnya. Saat kami baru selesai pameran, hampir seluruh karyawan, baik di divisi sales, support, developer maupun proyek semuanya begitu bersemangat. Tanpa perlu kata-kata pembakar semangat, semuanya termotivasi oleh karena begitu banyak prospek positif yang kami terima. Tetapi, kira-kira satu bulan sesudahnya, tingkat motivasi mulai menurun, karena semuanya kembali ke pekerjaan rutin lagi. Salah satu partner saya lalu memberikan sebuah stimulus, yaitu reward berupa sejumlah uang bagi siapa yang mendapatkan deal pertama dari hasil pameran. Dengan suntikan seperti itu, maka tingkat kompetisi antar karyawan meningkat, yang pada akhirnya kembali meningkatkan motivasi baik kelompok maupun individual. Semuanya semangat ingin mendapatkan deal.
Jika saya perhatikan, reward uang hanyalah salah satu unsur penyemangat saja. Yang menjadi pendorong utama semangat mereka justru alasan emosional. Ya, rasa bangga jika bisa memenangkan kompetisi. Itulah yang justru dikejar mereka, selain karena hadiah uangnya yang lumayan.
Suatu ketika, di tengah-tengah rutinitas dalam minggu-minggu yang penuh kesibukan, perhatian saya tertarik pada salah satu staf saya yang justru bukan di divisi sales. Ia tampak begitu bersemangat untuk melakukan follow-up hasil presentasi yang saya lakukan bersamanya di minggu tersebut. Padahal, jika saya mendapatkan proyek itu, sesuai peraturan perusahaan, ia tidak mendapatkan insentif apa-apa. Beberapa hari kemudian, saat kami berdua dalam perjalanan ke suatu proyek, saya mencoba menggali, apa yang menjadi pendorong motivasinya untuk mendapatkan proyek itu. Agak malu-malu ia bercerita, bahwa ia dalam rangka pendekatan dengan seorang wanita. Sebagai seorang lajang, ia memang memiliki banyak teman wanita, tetapi ada satu yang baginya saat istimewa. Nah, ceritanya, sehabis pulang dari prospective client tersebut, ia bertemu dengan sang idola. Rupanya ada kata-kata yang begitu inspiratif yang diberikan oleh teman wanitanya itu. Itulah yang menyentuh emosinya, ia menjadi begitu bersemangat seakan-akan ingin menunjukkan pada sang idola, bahwa ia akan mampu membantu saya untuk mendapatkan proyek itu. Seakan-akan, ia hendak mempersembahkan prestasinya pada tambatan hatinya. Saya sungguh terkesan, ah, andaikan bisa merasakan apa yang ia rasakan, mungkin saya akan memiliki semangat seperti yang sedang dialaminya saat ini juga.
PS. Thanks for saying, ‘Elo hebat!’
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.