World of Dytra

Zona Kritis vs. Zona Nyaman

8 Juni 2009 · 1 Komentar

42-20909830Dalam obrolan senggang suatu sore, teman saya bercerita tentang kakak perempuannya yang begitu santai dalam menjalani hidup. Begitu santainya sehingga sehari-hari pekerjaannya hanya menonton televisi dan berbelanja saja. Anak-anaknya diurus oleh sepasukan baby sitter, sedangkan untuk urusan masak-memasak ia memiliki juru masak yang handal. Gaya hidup seperti itu ditopang oleh karena ia menikah dengan seorang pengusaha yang perusahaannya sudah beroperasi lama dan stabil. Karena perusahaannya memiliki rutinitas produksi yang sama dengan konsumen yang tetap (sehingga semua produknya pasti terserap) dan bertahan jangka panjang tanpa pernah disentuh krisis, maka sang suami inipun sehari-hari juga hanya menekuni hobinya hunting foto dan berinternet, tanpa perlu terlalu serius mengurusi perusahaannya. Karena selain ia mewarisi perusahaan keluarga, para pegawainya pun sudah puluhan tahun mengelola perusahaannya, sehingga mereka sudah tahu tugas-tugas dan keputusan yang harus dijalankannya. Hanya beberapa rapat antara perusahaan dengan konsumennya yang perlu dihadiri oleh kakak ipar teman saya ini. Singkatnya, keluarga ini benar-benar menikmati time freedom financial freedom. Jelas, mereka sudah berada di zona nyaman selama bertahun-tahun.

Tentu bagi kita sungguh sangat menyenangkan, jika bisa berada dalam zona nyaman kebebasan waktu dan finansial selama mungkin, kalau bisa selama-lamanya. Setiap saat, kita bisa pergi ke manapun kita mau tanpa memusingkan soal biaya maupun pekerjaan yang ditinggalkan. Lalu mengapa teman saya mengeluhkan apa yang diimpikan oleh banyak orang, yang telah didapatkan oleh kakaknya? Keprihatinannya adalah, menurutnya jika seseorang sudah terlalu lama berada dalam zona nyaman, maka ia tidak akan siap jika terjadi perubahan mendadak dalam hidupnya. Bukankan di dunia ini tidak ada yang abadi? Apa yang dikhawatirkannya mungkin mirip dengan yang tergambar dalam buku Who Moved My Cheese yang ditulis oleh Spencer Johnson, MD.

Dalam kehidupan kita, setiap harinya kita menghadapi perubahan, kadang kala perubahan kecil, tetapi bisa juga terjadi peristiwa yang bisa membuat perubahan besar dalam hidup kita. Apabila kita tidak siap dengan perubahan yang terjadi, gagal dalam beradaptasi, biasanya orang akan akan terjerumus dalam sikap hidup apatis, atau malah menjadi stress dan depresi. Apalagi jika perubahan terjadi secara ekstrem. Seseorang yang berada dalam zona nyaman umumnya cenderung lupa menyiapkan diri untuk beradaptasi jika terjadi perubahan. Karena, dalam zona nyaman, kita lebih bersikap menghindari terhadap segala sesuatu yang mengganggu posisi kita. Sikap hidup santai dan hanya menikmati kesenangan saja akan melumpuhkan sensor-sensor kita terhadap perubahan.

Sebaliknya, orang-orang yang sedang berada dalam zona kritis umumnya lebih peka terhadap perubahan. Dalam situasi kritis, saat sedang dihadang masalah, saat terasa segala jalan tersumbat, bila kita optimis, maka setiap saat kita akan selalu berusaha mencari peluang untuk lepas dari beban yang ada di pundak kita. Secara naluriah, biasanya kita akan berusaha mencari jalan, seperti tikus dalam labirin, yang berusaha menemukan pintu keluar. Mungkin saat seperti itu, sensor-sensor kita terhadap peluang menjadi lebih sensitif. Seperti kata Tung Desem Waringin, kemana mata kita memandang, yang terlihat adalah peluang. Tetapi memang, banyak orang masih tetap berada dalam zona kritis, karena tidak adanya action. Peluang banyak terlihat, kesempatan datang dan pergi, tetapi kita masih duduk di tempat, tanpa pernah bergerak untuk melanjutkan upaya awal kita, yaitu menindaklanjuti peluang yang terlihat di depan mata. Inilah masalah bagi orang-orang yang terlalu mudah untuk menyerah pada nasib.

Bagi mereka yang sedang berada dalam zona kritis, janganlah hanya terkunci atau berputar di tempat saja. Seperti seorang teman lama yang mengeluhkan sulitnya untuk mencari peluang karena ketiadaan modal, padahal setiap hari ia sempat untuk browsing di internet. Bagi beberapa orang yang setiap harinya mengelola blog atau web sederhana untuk berbisnis, sambungan internet itulah modal mereka. Sedangkan bagi mereka yang merasa sedang berada dalam zona nyaman, sebaiknya juga jangan menghindari perubahan ataupun akibat-akibatnya. Barangkali juga perlu mencari tantangan, dengan sedikit memasuki zona kritis orang-orang di sekitarnya. Ada banyak peluang untuk mengasah diri agar tidak terlena. Masuklah ke dalam jaringan para pekerja sosial, atau bergiatlah dalam acara-acara yang diadakan rumah-rumah ibadah. Atau kalau bisa, membentuk sendiri kegiatan sosial bersama beberapa teman dan berkaryalah. Banyak dari mereka yang terlalu lama berada dalam zona kritis yang membutuhkan uluran tangan untuk bangkit kembali.

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , , ,

1 response so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar