World of Dytra

Ketika Rasa Kehilangan Terjadi

2 Juli 2009 · & Komentar

brokenheartSaya tidak menyangka ketika bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak saling berhubungan. Posturnya tampak lebih kurus dan wajahnya begitu kuyu, kelihatan bahwa ia sedang menderita. Apa yang terjadi?

Siang itu kami mengunjungi rumah makan yang menyediakan bakmi favorit kami, di bilangan Kota. Sajian yang seharusnya membangkitkan kenangan lama dan menghadirkan kegembiraan masa-masa muda kami menjadi terasa hambar. Ia tampak tidak berselera meskipun mencoba tersenyum setiap saya melemparkan lelucon-lelucon dari cerita-cerita lama kami. Akhirnya saya menyadari, ia memang benar-benar sedang dalam masalah, saat ia berkata, “Bro, boleh kita beralih sebentar, saya ingin menceritakan sedikit masalah pribadi…”

Sahabat saya ini telah menikah hampir sepuluh tahun dan telah memiliki dua putra yang umurnya hampir sama dengan anak-anak saya. Setahu saya pasangan mereka selama ini baik-baik saja, bahkan beberapa kali kami sempat makan bersama antar keluarga. Tetapi yang diceritakannya sungguh-sungguh membuat saya terkejut. Ternyata pernikahannya telah kandas sejak setahun lebih dan anak-anaknya ikut dia. Penyebabnya samar, karena ia tidak menceritakan secara detail, tetapi kelihatannya adalah karena masalah ekonomi. Sejak terakhir saya bertemu dengannya tiga tahun lalu, usahanya sedang dalam masalah karena hutang bisnis yang cukup besar, sehingga dengan penghasilannya ia tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Akibatnya pertengkaran demi pertengkaran terjadi yang akhirnya berbuah perceraian.

Tetapi ternyata bukan perceraian itu yang membuatnya begitu berduka. Ia memang sangat menyesali perpecahan keluarganya dan sangat mengkhawatirkan perkembangan kedua putranya yang sekarang ia titipkan ke orang tuanya. Justru yang membuatnya bersedih adalah kenyataan yang ditemuinya beberapa minggu lalu. Ia bertemu dengan mantan istrinya di sebuah pusat perbelanjaan. Ia menceritakan cukup detail peristiwa yang menyakitkan hatinya itu.

Siang itu ia berjalan-jalan di mal yang berada di sekitar Jakarta Barat itu sekadar untuk melepaskan diri dari rasa tertekan, karena kondisi bisnisnya sama sekali belum pulih, sedangkan di sisi lain, ia harus membayar hutang-hutangnya yang semakin menumpuk. Di salah satu toko tanpa diduganya, ia bertemu dengan mantan istrinya yang sudah tidak bertemu dengannya sejak perpisahan mereka. Setelah bertegur sapa dengan kaku, mantan istrinya mengatakan ia sedang berbelanja untuk beberapa barang dalam mempersiapkan pernikahannya. Teman saya terhenyak. Wanita yang ada di hadapannya bukanlah seorang wanita yang berpenampilan sederhana seperti saat mendampinginya dulu. Yang ia temukan adalah seorang wanita berpenampilan anggun dan mempesona. Sebelum ia bertanya lebih jauh tentang calon suaminya, seorang pria tinggi atletis dan tampan menghampiri dan menggenggam tangan mantan istrinya dengan mesra. “Kenalkan, ini calon suamiku.” Pria itu mengulurkan tangan dengan hangat, dan teman saya menyadari, yang di hadapannya ini adalah seorang pengusaha muda yang cukup terkenal dan sering diliput di berbagai majalah bisnis. Saat mereka berlalu, teman saya melihat bahwa mantan istrinya tampak begitu bahagia, menyandarkan kepalanya ke bahu calon suaminya.

Begitu kontras penampilan dan keadaan mantan istrinya saat ini dibandingkan dengan saat terakhir bersamanya. Setahun yang lalu, ia adalah ibu rumah tangga yang putus asa dengan keadaan ekonomi keluarganya, yang berusaha menutupi kebutuhan rumah tangganya dengan berbagai akal dan upaya. Kini wajahnyapun tak menyiratkan sisa-sisa penderitaan masa lalunya dan ia tampak siap untuk memulai hidup barunya. Perbandingan itulah yang membuat teman saya merasa dirinya bagai pecundang, ditambah kenyataan posisi dirinya yang masih tak membaik. Dan meskipun ia memiliki hak asuh sementara untuk kedua anaknya, kini ia khawatir, karena secara ekonomi ia hampir tak mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya yang kini harus ditopang oleh orang tuanya. Hak asuh nantinya bisa saja pindah ke pihak ibunya apabila ia lebih mampu menghidupi mereka dengan keluarga barunya.

Matanya berkaca-kaca manakala ia bercerita tentang kekhawatirannya kalau terjadi perpisahan dengan anak-anaknya. “Saya sudah semakin tidak punya apa-apa lagi, Rud…” Ujarnya, “Kemungkinan saya akan pindah ke kota lain untuk memulai segalanya dari awal lagi.” Saya tak mampu berkata apapun selain mendengarkan semua ceritanya.  Saya menyadari sepenuhnya, untuk seorang pria, mengalami ‘kekalahan’ dan kehilangan semua miliknya adalah hal yang paling menyakitkan. Dan kenyataannya, sesama pria seakan tak mampu untuk memberi perhatian atau nasihat apapun selain hanya menjadi pendengar yang baik saja.

Ketika kami saling berpamitan setelah makan siang yang terasa tidak enak itu, ia mengatakan bahwa ia akan datang untuk menghadiri undangan pernikahan mantan istrinya dan ia juga bersiap merelakan kedua anaknya untuk kembali ke ibunya. Setidaknya ia ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki sisa ketegaran dan berani menghadapi kenyataan meskipun menyakitkan. Pada akhirnya ia menyadari bahwa ia memang harus memulai segalanya dari awal dan bangkit lagi. Ia bahkan berjanji, pada pertemuan berikutnya dengan saya, ia akan menjadi orang yang berbeda, yang lebih cerah. Benar, sahabat, jangan berhenti dengan mengasihani diri. Bangkit dan tunjukkan bahwa engkau memang seorang pria yang tangguh. Saya tak mampu menasihatinya seperti ini, tetapi ketegarannya itu lebih dari motivasi yang bisa diberikan oleh orang lain kepadanya. Ketika ia berlalu, saya memandangi punggungnya yang kurus berjalan menjauh. Saya percaya, ia pasti mampu melalui cobaan beratnya itu. Mungkin hal itulah yang terbaik yang bisa dilakukan seorang sahabat, mempercayainya.

Kategori: Opini Dytra
Ditandai: , ,

3 tanggapan so far ↓

  • Rindu // 16 Agustus 2009 pada 4:33 am | Balas

    Saya terharu membaca cerita ini, sungguh ALLAH menguji setiap ketegaran ya mas :( ternyata memang jiwa itu adalah samudera yang luarnya nampak tenang namun didalamnya bergejolak liar …

    • dytra // 19 Agustus 2009 pada 8:20 am | Balas

      Benar sekali mbak Iis… TUHAN pasti akan memberikan berkat yang besar untuk ummatnya yang tegar dan sabar dibalik segala ujian yang diberikan-Nya.

  • unang // 16 Oktober 2009 pada 11:10 am | Balas

    tuhan akan memberikan cobaan pada umatnya, salah satunya dengan kehilangan suatu yg kita miliki dan senangi……………….pada dasarnya semua cobaan itu sama,tinggal besar besar dan kecilnya suatu cobaan itu sendiri, dan bagaimana kita menyikapinya

Tinggalkan sebuah Komentar