Langkah Pertama

Mengapa langkah pertama selalu menjadi yang paling sulit untuk dilakukan? Sadar atau tidak pertanyaan ini selalu menggangu saat suatu proyek akan saya mulai. Saya juga ingat, dulu, setiap saya mendapatkan pekerjaan baru, biasanya hari pertama, meskipun penuh antusias, terasa sangat berat. Selalu ada bayang-bayang, apakah saya bisa menangani pekerjaan baru ini, apakah saya bisa berinteraksi dengan baik dalam lingkungan kerja baru saya, apakah rekan-rekan kerja saya suportif, dan sebagainya, yang seringkali membuat langkah saya memasuki pintu kantor baru terasa sangat berat. Padahal, beratnya hari pertama itu akan terlupakan begitu saja, setelah beberapa bulan sibuk menangani pekerjaan di kantor itu.

Seperti dalam pepatah Tiongkok kuno, perjalanan 1000 li selalu dimulai dari 1 langkah pertama, demikian setiap perjalanan hidup manusia, mulai dari langkah pertama yang tertatih ketika belajar berjalan, langkah pertama memasuki sekolah, dunia kerja, bahkan termasuk saat memutuskan untuk melangkah dalam kehidupan berkeluarga. Semua pasti selalu akan ada saat pertama. Yang menjadi masalah adalah apabila langkah pertama ini menjadi sesuatu yang menakutkan sehingga menghalangi kita untuk mengambil tindakan. Setelah melalui perencanaan yang panjang dan matang, tetapi saat hendak melangkah, tiba-tiba datanglah kekhawatiran. Ketakutan akan langkah pertama membuat kita mengurungkan niat untuk melaksanakan rencana. Akhirnya, rencana tinggal rencana dan tidak ada kelanjutannya lagi. Lalu kita menyamarkannya dengan menyalahkan situasi yang tidak mendukung, atau rencana yang tidak memadai dan berbagai alasan lainnya.

Tindakan merupakan wujud nyata dari langkah pertama, karena jika tanpa tindakan maka semuanya hanya akan berhenti pada rencana. Tetapi tentu saja, saya tetap berpegang pada perencanaan yang baik sebelum melakukan tindakan. Berani melakukan langkah pertama bukan berarti secara membabi buta terjun langsung ke jurang, tetapi meperkirakan kedalaman jurang, melakukan perhitungan yang cermat dan turun ke jurang tersebut secara berhati-hati. Lalu bagaimana kiatnya agar kita dapat megambil langkah pertama dengan berani seperti itu?

Pertama, kita harus melakukan perhitungan dengan cermat. Waktu pertama kali saya memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja dan terjun sepenuhnya membangun perusahaan saya sendiri, saya berusaha melakukan perhitungan dengan hati-hati, mulai dari rencana keuangan pribadi, jaring pengaman, sampai ke plan B. Namun, ada teman saya yang mengambil cara lain, ia memakai strategi bakar kapal, mengikuti legenda tentang sepasukan penakluk yang ketika mendarat di pantai lawan, mereka membakar kapal-kapalnya, sehingga satu-satunya opsi agar bisa pulang hidup-hidup adalah menang dalam pertempuran. Saya salut padanya, karena meskipun mempersiapkan diri dengan baik, ia juga membuat keputusan pantang mundur.

Kedua, adanya dukungan dari pasangan. Ketika di masa-masa awal usaha, penghasilan masih belum menentu, sementara cadangan keuangan juga semakin menipis, sehingga harus benar-benar dikelola dengan sangat hati-hati. Saat itulah kita akan merasakan dukungan dari pasangan kita sebagai partner dalam mengelola keuangan keluarga. Dukungan yang diperlukan tidak hanya dalam hal tersebut, tetapi juga dalam hal member semangat. Ya, kadang dalam masa-masa berat, dukungan semangat agar tetap terus maju adalah energi pendorong terbesar.

Yang ketiga adalah lingkungan. Tahukah anda bahwa yang paling berbahaya saat kita melakukan langkah pertama adalah lingkungan negatif. Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berpikiran negatif dan pesimistis, maka kitapun cenderung akan tertular dengan pola pikir seperti itu. Ciri khas orang-orang seperti itu adalah sebelum melakukan langkah apapun sudah sibuk mengumpulkan hambatan-hambatannya, malah sudah memikirkan kondisi terburuk. Akhirnya, orang-orang negatif akan selalu jalan di tempat dan sibuk membicarakan keberhasilan orang lain, tetapi tidak pernah mengambil tindakan untuk bergeser dari tempatnya. Bukankah ada pepatah mengatakan, orang-orang besar membicarakan gagasan-gagasan, orang-orang yang biasa-biasa saja membahas mengenai berbagai peristiwa yang terjadi, sedangkan orang-orang kecil sibuk membicarakan orang lain, menggosipkannya atau berhenti sebatas mengagumi keberhasilan orang lain. Jadi, bergaullah dalam lingkungan yang mendukung kita, dengan orang-orang positif, dengan orang-orang bijak yang dengan berani telah mengambil tindakan dalam hidupnya.

Langkah pertama memang sulit untuk dilakukan, tetapi langkah itu yang akan membawa kita melalui gerbang yang menjadi penentu apakah kita berani melakukan tindakan untuk perubahan dalam hidup kita sendiri, tanpa dipusingkan oleh berbagai pertimbangan negatif dari sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.