Menjadi Peka

Setiap kali saya menempuh perjalanan di belantara jalanan Jakarta, pasti akan menemui pemandangan pengemis di perempatan jalan. Dari yang masih anak-anak yang tidak lagi sekadar mengamen, tetapi menadahkan tangan, kemudian wanita dewasa yang menggendong bayi sampai dengan kakek nenek yang duduk di trotoar. Menurut berita yang pernah saya baca, disinyalir bahwa mereka diorganisir dan sudah merupakan profesi terselubung. Selain itu juga, hampir setiap pagi, ketika saya berangkat ke kantor, selalu melihat pemulung-pemulung yang membawa karung-karung pengumpul sampah kertas maupun plastik. Mereka juga terdiri atas anak-anak sampai ke orang-orang tua.

Karena seringnya melihat pemandangan seperti itu, saya jadi bertanya dalam diri saya, apakah saya masih memiliki kepekaan? Bukankah musuh dari kepekaan adalah rutinitas. Ketika kita melakukan sesuatu secara rutin terus-menerus, maka kepekaan akan hilang, dan semuanya menjadi biasa-biasa saja. Secara jujur, saya harus mengatakan bahwa ketika melihat pemandangan para pengemis itu, saya sudah tidak merasa tersentuh lagi, selain karena terlalu sering, juga karena adanya informasi distorsif, yang membuat saya curiga bahwa mereka bukanlah pengemis yang benar-benar miskin. Lain halnya dengan  pemulung, karena saya masih menemukan beberapa peristiwa yang membuat kepekaan saya terusik.

Seperti suatu siang yang terik di bulan Juli, saat saya sedang melaju di jalan keluar dari kompleks perkantoran saya. Sesosok pemulung tua sedang tertatih membawa sekarung besar kertas karton, tampaknya ia habis panen pulungan. Saya tidak bisa menahan rasa tersentuh, karena tahu-tahu saya sudah menghentikan mobil di depan nenek pemulung itu. Saya berusaha sesopan mungkin bertanya, “Nek, itu berat amat, mau saya bantu bawakan pakai mobil sampai ke depan?” Sang nenek tertegun, mungkin agak kaget juga, siapa ini yang tidak jelas dari mana tiba-tiba menawarkan tumpangan. Akhirnya ia tersenyum, “Tidak usah pak, ini sudah biasa…” Sudah biasa? Ya ampun, kalau saya disuruh membawa karung besar itu sampai ke jalan raya di luar kompleks di siang terik ini, pasti akan kehabisan nafas. “Ya sudah Nek, ini ada sedikit buat ongkos ya…” Saya menyelipkan beberapa puluh ribu rupiah yang diterimanya sambil terpana. Bingung, kenapa ada orang yang tidak dikenalnya memberikan uang. Saya tidak bermaksud untuk membuatnya bingung atau melepaskan ego sejenak yang menunjukkan saya sudah berderma. Tidak. Saya benar-benar tersentuh, dan merasa nenek itu lebih membutuhkan uang di kantong saya daripada saya sendiri, dan bukan untuk mengumbar keinginan berbuat kebaikan yang mengharapkan buah pujian.

Rasa kepekaan terhadap kondisi orang lain juga terjadi saat suatu hari saya dan Ben, putra saya, yang waktu itu masih berusia tujuh tahun, berbelanja di mini market pada suatu malam. Saat memasuki pintu mini market, Ben melihat seorang anak kecil yang seumurnya, menggigil kedinginan, menutupi tubuhnya dengan sarung, hanya menyisakan matanya saja, duduk di samping ruko. Saya yang mengira Ben kurang memiliki kepekaan menjadi terharu, ketika ia minta dibelikan biskuit yang sama dengan yang ia pilih bagi dirinya, untuk kemudian ia serahkan ke anak gelandangan itu. Anak itu tidak sedang mengemis, sehingga ia agak terkejut saat Ben mengulurkan sebungkus biskuit untuknya. Saya tersenyum, saat tangan kurus Ben bertemu dengan tangan kurus anak itu. Mudah-mudahan ia tetap memiiki kepekaan dalam hidupnya kelak.

Memang kita harus membuat hidup kita tetap memiliki kepekaan terhadap sekitar. Hidup ini bukan hanya rutinitas, meskipun kita mengira demikian oleh karena terjebak dalam putaran urusan pekerjaan dan rumah setiap harinya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memecahkan kebiasaan yang membuat tumpul kepekaan dalam jiwa. Dengan adanya kepekaan, jiwa kita, diri kita akan terdorong untuk berbagi, sedikit atau banyak itu relatif. Setidaknya, kita sudah memecah kebiasaan masa bodoh, dan berbuat sesuatu. Dan sesuatu itu tentunya adalah kebaikan yang sebenarnya ada dalam hati setiap manusia, yang akhirnya bisa tumbuh juga menjadi kebiasaan baru. Bukankan kita akan menghadirkan kerajaan surga ketika kita menghadirkan kebaikan dengan berbagi, apalagi dengan menjadikannya rutin.

Ketika menjumpai kesempatan untuk melakukan tindakan sosial, ketika tiba-tiba rasa iba muncul dalam hati kita, jangan tutupi dengan rasa jengah, karena tak terbiasa, atau mengabaikannya karena gengsi. Karena suatu hari nanti, seperti kata Phil Collins dalam lagu Another Day in Paradise, kita semua akan berjumpa lagi kelak di gerbang surga, maka alangkah bahagianya jika bisa membawa bekal banyak berupa kebaikan yang pernah kita tebarkan dahulu.

Sebuah Tanggapan untuk Menjadi Peka

  1. benitius Agus mengatakan:

    ..barusan ada seorang ibu ‘peprimen’ minta sedhekah…sambil kuberikan sedikit rupiah yang kupunya sempat kulirik hape yang dipegang anak kecil dalam gendhongannya…weish..touchscreen model baru bo… weh daku cuma bisa mesem..hape yang kupunya saja super jadul dengan tombol yang mocat macet melulu pula…wkwkwkwk… (selamat jalan ya bu..hati-hati…)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.