Singapore
5 Januari 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Setiap kali saya mengunjungi negara tetangga ini saya selalu kagum, karena selalu ada saja yang baru dan berubah. Negara kecil ini begitu hebat dalam mengembangkan kemampuannya sehingga meskipun terletak di kawasan yang berkembang, mereka sudah menyejajarkan diri dengan negara maju. Ketika selama seminggu saya berkunjung, menjelajah ke berbagai sudut dengan menggunakan transportasi massalnya, bahkan sampai ke daerah pemukiman di Jurong saya juga terpesona dengan berbagai fasilitas umum yang saya temukan. Hampir di setiap lokasi kompleks pemukiman yang terdiri atas flat-flat subsidi, tersedia tempat berbelanja, makanan (hawker) dan akses yang mudah ke transportasi massal, baik bus maupun kereta (MRT).
Transportasi massal Singapura merupakan salah satu yang saya kagumi. Negara pulau kecil ini hampir setiap sudutnya bisa dijangkau dengan MRT maupun bus. Saat kunjungan terakhir ini, saya mencoba menempuh jarak yang agak lumayan jauh, menuju daerah pemukiman di Jurong dengan bus. Saya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan yang terhitung sederhana untuk ukuran Singapura, karena lebih ditujukan untuk kebutuhan warga lokal, namun cukup lumayan bagus. Setelah makan siang dan berkeliling sebentar, saya melanjutkan perjalanan dengan MRT setelah sebelumnya menggunakan sarana shuttle bus gratis yang disediakan pusat perbelanjaan tersebut. Nah, di stasiun MRT yang ‘jauh dari mana-mana’ inilah yang pertama membuat saya kagum, karena sungguh bersih meskipun tidak tampak satu orang petugaspun. Tiket cukup dibeli di mesin otomatis, selanjutnya tinggal menunggu kedatangan MRT yang estimasinyapun ditampilkan di layar monitor yang jelas. Jika tidak tahu arah, cukup melihat ke peta yang tersedia. Bersih, teratur, mudah dan informatif.
Di sepanjang perjalanan dengan MRT yang cukup lama, tampak pemandangan perumahan susun yang berjajar rapi dan teratatur, dengan diselingi taman, jalan yang menampakkan marka yang jelas dan serta tempat perbelanjaan. Inilah tempat tinggal warga menengah bawah. Saya sempat mendengar keluhan sopir taksi yang mengantar saya dari bandara, bahwa biaya hidup di Singapura cukup tinggi dan memberatkan. Belum lagi masalah perumahan yang cukup sulit untuk diperoleh. Dan meskipun fasilitas umum bagus, tetapi bisa terjadi juga kerusakan, seperti yang saya baca di Koran Strait Times, bahwa salah satu jurusan MRT terjadi kemogokan pada bulan Desember kemarin yang mengakibatkan banyak penumpang tak terangkut. Selain itu juga ada masalah banjir di pusat perbelanjaan paling terkenal, Orchard Road, oleh karena ketidakmampuan saluran air menampung anomali curah hujan. Namun, di atas segala hal itu, satu yang menurut saya patut dikagumi adalah kemampuan negara kecil ini untuk memakmurkan diri meskipun memiliki sumberdaya yang sangat terbatas.
Adam Khoo, salah satu pengusaha muda Singapura mengungkapkan dalam bukunya ‘Winning The Game of Life!’ bahwa meskipun Singapura tidak memiliki sumberdaya alam yang memadai, namun dalam 30 tahun mampu melompat dari negara dunia ketiga menjadi sejajar dengan negara maju dengan pendapatan perkapita ketiga terbesar di dunia. Menurutnya, founding father Singapura, Lee Kuan Yew menggunakan role model negara Swiss yang juga negara maju tanpa memiliki sumberdaya alam. Sistem hukum dan pendidikan meniru Inggris, membuatnya menjadi salah satu tujuan utama pendidikan bagi negara-negara kawasan. Untuk sistem ekonomi dan perdagangan, yang menjadi pedoman adalah Jepang dan Amerika (tentu pada saat masa jaya kedua negara itu). Dan yang kita lihat sekarang, seperti saat menaiki Singapore Flyer, kemajuan negara tersebut tampak dari banyaknya pencakar langit dan berbagai fasilitas baru yang menakjubkan. Singapura pun menjadi lokasi kantor regional perusahaan-perusahaan multinasional.
Seperti yang diungkapkan oleh Adam Khoo, perjalanan menempuh kesuksesan dapat menjadi contoh, seperti yang dilakukan oleh Lee Kuan Yew dalam memajukan Singapura. Cara yang sama juga dapat dilakukan oleh negara lain, bahkan oleh perusahaan dan pribadi. Saya sangat mengagumi bagaimana dengan tanpa sumberdaya, tetapi dengan memberikan layanan terbaik dan posisi strategisnya, Singapura dapat sejajar dengan negara maju. Saya setuju dengan cara pembelajaran melalui role model ini. Oleh karena itu, tanpa ragu, saya membeli buku memoir Lee Kuan Yew, ‘From Third World to First: The Singapore Story’ dan ‘Singapore: A Biography’. Saya yakin, ada banyak hal yang bisa saya pelajari dan terapkan untuk pengembangan pribadi maupun perusahaan saya.
Komentar Terakhir