DYTRA, singkatan dari nama lengkap saya (diambil dari suku kata belakang nama saya).
Setelah hampir 20 tahun bekerja di berbagai perusahaan, akhirnya pada tahun 2003, saya bergabung bersama 3 orang partner lain membentuk usaha di bidang IT yang berfokus pada solusi Retail dan Resto-Cafe (http://www.datadigi.com). Banyak suka dukanya, tetapi 5 tahun terakhir ini saya anggap lebih dari sekedar perjuangan memajukan usaha yang benar-benar dimulai dari modal yang tak seberapa. Saya belajar, lebih dari sekadar kuliah S2 di bidang Manajemen Organisasi, Pemasaran, Produksi, Operasi dan Human Resources. Dan saya juga akhirnya menyadari, mengapa di Silicon Valley, sebuah perusahaan IT yang dimulai dari garasi bisa menjadi perusahaan raksasa dengan nilai milyaran dollar dalam waktu 5 tahun, sedangkan di sini untuk jangka waktu yang sama kita harus tetap masih dalam masa masa perjuangan. Jawabannya sederhana: akses ke penyedia dana dan jaringan usaha yang tidak alergi didekati oleh perusahaan kelas UKM.
Di tanah air, kita akan belajar perjuangan untuk mendapatkan berbagai izin lewat birokrasi yang cukup melelahkan. Kita juga belajar memutar uang dari modal dan profit yang tak seberapa untuk membesarkan perusahaan, tanpa berhutang sedikitpun dari penyedia kredit (Bank dan kawan2nya). Kita belajar untuk memasuki belantara dunia usaha tanpa ada sedikitpun petunjuk dan bimbingan yang jelas oleh mereka yang berpengalaman dan mau berbagi. Kita juga belajar untuk menaati berbagai peraturan yang kadang2 tidak kita sadari bahwa peraturan itu memang ada. Tidak ada yang perlu disalahkan, toh akhirnya saya menjadi belajar banyak dan lebih siap untuk mengembangkan lebih jauh lagi usaha ini.
Saya juga bukan type orang yang banyak bersosialisasi. Saya hanya ikut menjadi member milis 80-an, milis alumni sekolah dan kegiatan Lingkungan Paroki Gereja Salib Suci. Saya punya koleksi mug keramik yang lumayan banyak, sedang saya susun untuk ditampilkan di halaman Koleksi. Saya juga pembaca berat. Dan saya adalah orang yang berbahagia karena selalu berada di tengah-tengah keluarga yang terdiri dari istri saya, Lili dan the two bandits, Benjamin Jason Tantra dan Emmanuel Nicholas Tantra.
Terakhir, cita-cita saya adalah membuat ‘Rumah Gembira’ yaitu sebuah tempat yang berisi perpustakaan, taman bermain dan ruang belajar untuk anak-anak kaum marjinal. Ide ini bukan berasal dari saya, tetapi putra pertama saya, Ben yang lahir tahun 2002. Semoga Tuhan memberkati cita-cita ini, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman yang sepemikiran.







7 tanggapan so far ↓
@ndry // 17 Juni 2008 pada 11:38 am |
Good job brother!!
Roy Thaniago // 31 Oktober 2008 pada 11:28 pm |
Halo! Terima kasih sudah mampir di blog saya. Salam kenal…
aji // 19 November 2008 pada 2:24 pm |
Semoga cita-citanya segera terwujud Rud..
Dan selamat, kalo flashback ke jaman Pancamarga I, sekarang sepertinya udah jauh lebih sukses..
dytra // 1 Desember 2008 pada 4:28 pm |
Hi Ji, sama-sama lah, pasti Anda juga sudah jauh lebih sukses. Setiap orang yang tekun pasti berkembang koq…
Lichay // 10 Februari 2009 pada 9:43 am |
Hallo pa rudi pa kabar ? salam buat temen2 di datadigi.. semoga datadigi makin sukses .. ^_^
Fatra // 1 Maret 2009 pada 11:39 pm |
Senang membaca tulisan anda. Menurutku Anda memiliki bakat menulis. Lugas dan terbuka. Omong soal Bisnis IT kita sama, bedanya 1 tahun. Suksesnya bisnis software dan dagang di Indonesia, terbalik dengan di Luar Negeri.
Semoga suatu hari bisnis IT di Indonesia lebih berjaya dibandingkan usaha Dagang.
Dan semoga cita2x anda tercapai…
Sukses Selalu….
Tie // 14 Maret 2009 pada 5:19 am |
Semoga cita-cita luhur anda membentuk “rumah gembira” lekas tercapai….cia yiu