Jing…

Kami biasa saling memanggil “Jing.” Mungkin ini tampak kasar dan tak berbudaya bagi banyak orang. Tapi saya dan Ign. Freddy Sastrawidjaja sudah sejak jaman kuliah saling memanggil seperti itu, kepanjangan dari kata “Anjing.” Ini bukan makian, tapi lebih kepada kedekatan persahabatan yang sudah seperti saudara. Kawan-kawan yang lain memanggilnya dengan sapaan akrab “Black” oleh karena dia memang hitam. Tidak bermaksud rasis, karena toh dia bukan keturunan Afro. Yang jelas, karena sudah melekat dengan nama Black, tand- tangannyapun merupakan anagram dari kata tersebut.

Black selalu menjadi tumpuan kami untuk titip absen semasa kuliah, karena ia yang paling rajin dan tepat waktu untuk mengikuti semua kelas. Kadang bahkan kami cuma duduk-duduk di koridor saja di depan kelas, sedangkan Black dengan rajinnya mengikuti kuliah. Black juga menjadi seperti maskot bagi kelompok kami, karena ia cocok dengan slogan “kalo gak ada loe gak rame!” Jokes nya selalu segar, bahkan suka keterlaluan kalo meledek orang lain, tapi ia juga tidak pernah marah kalo diledek balik.

Siang menjelang jam 12 tanggal 29/12/2015, saya dikejutkan oleh pesan WA dari Kardiyanto – teman ex Binus 89 juga –  , “Rud, teman kita Freddy sudah kembali ke Surga.” Berita itu sungguh mengejutkan, karena baru empat hari sebelumnya saat Natal seperti biasa, Black selalu broadcast ucapan selamat Natal dari dua account BBM nya. Bahkan beberapa hari sebelum Natal, pun ia masih mengomentari foto-foto Instagram istri saya. Saya segera mencari kabar sekaligus juga menyebarkan kabar itu ke semua teman ex Binus 89. Benar, Black berpulang saat liburan Natal dan Tahun Baru di Puncak bersama keluarganya.

Sore itu juga pukul 4, saya segera meluncur ke Rumah Duka Husada, mencari-cari diantara beberapa ruang, dan menemukannya saat baru saja jenazahnya selesai masuk ke dalam peti tempat istirahat terakhirnya. Bertemu istrinya yang sedang memeluk kedua putra kembarnya yang menangis begitu sedih, sayapun tak kuat menahan air mata. Saya terduduk di sebuah kursi lipat dengan air mata yang mengalir deras tak tertahankan. “Jing…. Kenapa begitu cepat elo pergi?”

Ada banyak malam minggu saya habiskan berdua dengannya. Nongkrong di Dunkin Donuts Hayam Wuruk sambil nonton balapan liar, lalu pulang, begadang di kamarnya yang sempit di rumah neneknya di kawasan gang Talib. Obrolan tidak pernah kehabisan bahan, bahkan sampai salah satu dari kami jatuh tertidur, biasanya menjelang jam 4 subuh. Kadang acara begadang bertambah pesertanya dengan Fredy Winata, kadang juga Foondas atau Djoni. Tetapi biasanya yang menginap cuma saya. Jika sedang bosan begadang, biasanya dari pagi hingga sore, kami menghabiskan waktu di Dunkin Petojo. Bukan karena kami penggemar fanatik donat, tetapi lebih karena tempatnya yang menurut kami sangat nyaman.

Ketika suatu kali karena masalah jantung – penyakit ini juga yang merenggut nyawanya – ia harus dirawat di rumah sakit Sumber Waras, kami sudah sangat kawatir, tetapi ia berhasil sembuh waktu itu. Lalu ketika hampir semua teman sudah menikah, Black masih lajang dan lebih banyak waktu dihabiskannya di Gereja BHK Kemakmuran bersama Mudika dan para Romo. Ketika akhirnya dia menikah, saya malah tidak bisa hadir karena tugas di Banjarmasih. Saya berusaha mengubah jadwal pesawat kembali ke Jakarta supaya bisa hadir di pestanya, tetapi tetap tidak terkejar. Akhirnya yang hadir istri dan ibu saya. Keduanya memang mengenal dekat Black. Setahun kemudian, putra kembarnya lahir, dan untungnya saya bisa hadir.

Suatu ketika, saat saya memutuskan untuk menjadi Katholik, Black adalah orang pertama yang mendukung saya dan bahkan bersedia menjadi Bapa Baptis saya, meskipun ia sedikit lebih muda. Ben, putra pertama sayapun ber-Bapa Baptis pada Om Black. Tetapi jangan mengira Black sebagai orang puritan dan fanatis. Ia memang seorang Katholik taat, tetapi tidak akan pernah memberikan wejangan-wejangan ataupun kutipan dari Alkitab. Kadang, saat misa, saya menemukannya duduk-duduk mengobrol dengan tukang parkir. Menurutnya, jika hatinya sedang tidak ingin mengikuti ibadah, ia tidak ingin menjadi munafik yang harus selalu hadir dalam Gereja. Untuk hal ini, ia tidak sepaham dengan saya.

Black adalah typical ordinary man yang tidak pernah berpikir terlalu rumit, berusaha mengejar berbagai prestasi. Baginya, setelah lulus kuliah, ia bisa bekerja kantoran, menerima gaji bulanan dan menghidupi keluarganya. Sudah itu saja. Tak pernah ia berambisi untuk menjadi seorang yang menonjol. Kuliahnyapun diselesaikannya dengan susah payah, bukan masalah nilai, tetapi lebih kepada kemampuannya untuk membayar kuliah. Seringkali kami harus urunan untuk membayar uang semesternya, yang kemudian dicicilnya kepada kami tiap bulan dari gajinya yang tidak seberapa. Akibatnya, ia harus mengorbankan makan siangnya hanya dengan teh celup.

Begitu banyak kenangan bersama Black. Itu yang membuat saya sulit untuk menahan air mata. Sekarang dia sudah kembali ke Rumah Bapa, menyusul ayah dan adiknya yang telah lebih dulu berpulang. Selamat jalan saudaraku, sahabatku dan Bapa Baptisku, Tuhan pasti menerimamu di Kerajaan-Nya.

Online

The-Innovators-Walter-Isaacson1Sebuah bab di buku The Innovator karya Walter Isaacson, berjudul ‘Online’ adalah salah satu bab paling menarik bagi saya. Setelah menceritakan sejarah berliku komputer, mulai dari Difference Engine karya  Charles Babbage sampai tentang berbagai gadget yang terhubung secara online, sebagaimana masa yang sedang kita jalani ini. Urutan sejarah komputer seakan memang telah dituntun menuju ke era online sekarang ini. Saya memandang bab ini sangat menarik karena merupakan buah  dari aliran sejarah komputer yang lebih ke arah desentralisasi, dan bukan sentralisasi dengan cara time-sharing ke komputer besar yang terpusat.

Tetapi, apakah benar yang kita lakukan adalah murni komputasi ter-desentralisasi? Memang semua device yang kita gunakan saat ini memiliki kemampuan komputasi individual yang jauh melebihi dari komputer-komputer yang digunakan bahkan dalam proyek Apollo 11. Tetapi jika kita lihat lebih jauh, sebagian besar penggunaan gadget justru malah mengarah ke sentralisasi. Kita lihat saja bahwa aplikasi cloud merupakan teknologi tersentralisasi, baik aplikasi maupun databasenya, sehingga hanya dengan device yang sederhana, pekerjaan kantor sehari-hari sudah bisa diselesaikan. Apakah hanya aplikasi kantoran yang berbasis cloud saja? Kenyataannya, kita menonton video, berbagi informasi, membaca berita dan sebagainya melalui  cara sentralisasi. Kita hanya memiliki alat pengaksesnya saja, layaknya terminal, dan semuanya disediakan dari komputer-komputer di pusat di suatu tempat entah dimana. Bahkan berbagi informasi secara peer-to-peer pun menjadi terkesan ketinggalan jaman.

Sejujurnya, saya tidak merasa aman dengan dunia online dengan komputasi terpusat seperti ini, dan saya yakin tidak cuma saya yang merasa demikian. Karena dengan sentralisasi, semua identitas dan aktivitas kita akan tersimpan secara kronologi dan sistematis oleh berbagai pihak, baik berupa korporasi penyedia layanan baik berbayar maupun gratis. Perilaku, kecenderungan, bahkan kepribadian kita akan dengan mudah dianalisis, baik secara kelompok maupun individual. Ini bisa dilakukan dengan teknologi analytics maupun big data, bukan sesuatu yang baru lagi. Tetapi, kita tidak akan mampu menolaknya, karena jika kita hindari, kita akan segera terhambat dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sosial. Itulah resiko kehidupan modern yang sulit terlepas dari berbagai produk teknologi, sebagai konsekuensi dari konsumerisme kita.

Pernah suatu saat, saya ‘terdampar’di sebuah kota kecil, dimana saya tidak bisa terhubung dengan jaringan seluler, internet maupun telepon biasa selama beberapa hari. Yang saya rasakan adalah perasaan was-was,karena tidak bisa menghubungi keluarga, tidak tahu perkembangan apa di luar sana, bahkan hanya untuk sekedar memberi kabar singkat mengenai keberadaan saya. Butuh beberapa saat untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya tidak apa-apa, karena saya masih bisa menginap di rumah penduduk dengan makanan dan minuman yang sangat mencukupi. Setelah kembali ke ‘peradaban’ online, saya baru bisa benar-benar merasa lega. Apakah ini suatu bentuk kecanduan? Atau hanya suatu bentuk ketergantungan? Saya tidak memusingkan lagi apakah data diri saya, aktivitas saya atau apapun juga terekam di berbagai tempat, yang penting saya bisa mengabarkan keberadaan saya kepada keluarga, cek pekerjaan di kantor melalui email, membaca berita terakhir dan memesan tiket pesawat untuk pulang.

Akhirnya, memang kita sulit untuk melepaskan diri dari teknologi, jika kenyataannya sehari-hari kita sangat tergantung daripadanya. Jadi jika dahulu kita menyebut kebutuhan primer kita pangan, sandang dan papan, mungkin perlu ditambah satu lagi, yaitu online.

The Bottom of the Pyramid

geometric-shapes-3-dimensional-stacked-pyramid-free-stock-vectorDalam bukunya,The Alchemist, Paolo Coelho menceritakan tentang pencarian oleh seorang anak gembala atas mimpinya mengenai harta terpendam di bawah piramid besar. Dalam perjalanannya, berbagai kejadian kemudian membentuk Santiago, si anak gembala itu, menjadi lebih dewasa dan memahami filosofi di balik pencariannya serta pertemuan yang mencerahkan dengan Sang Alchemist. Ada sebuah metafora dalam cerita yang disampaikan oleh Paolo Coelho, yang kemudian menjadi best seller dan rencana untuk mengfilmkannya. Pada tahun 2002, C.K. Prahalad dan Stuart L. Hart menerbitkan sebuah paper yang berjudul “The Fortune at the Bottom of the Pyramid.” Alm. Prahalad, Profesor Bisnis dari University of Michigan, yang juga pernah menerbitkan buku yang menjadi salah satu buku bisnis terbaik bersama Gary Hammel, yakni “Competing for the Future” memberikan pernyataan dalam paper tersebut bahwa: “Low-income markets present a prodigious opportunity for the world’s wealthiest companies – to seek their fortune and bring prosperity to the aspiring poor.”

Mengapa demikian? Dalam piramida mengenai komposisi penduduk secara ekonomi, maka akan terlihat di puncak piramida adalah kaum super kaya dan kaya yang hanya berjumlah sebagian kecil saja, tetapi bisa memiliki penguasaan ekonomi dan keuangan yang besar. Kemudian di bawahnya adalah kelompok menengah yang sedang tumbuh di berbagai Negara berkembang, salah satunya Indonesia. Kelomok ketiga adalah kaum menengah bawah yang daya belinya sangat lemah sehingga dianggap hampir-hampir tidak memiliki sumbangsih apapun dalam hal daya beli secara keseluruhan. Seperti  dalam pembagian kasta, umumnya produk-produk yang ditawarkan dalam berbagai pasar selalu lebih diarahkan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan kaum menengah yang sedang meningkat pesat daya belinya. Sedangkan sebagian kecil pasar khusus hanya ditujukan kepada kaum kaya, yakni pasar luxurious.  Namun belakangan ini, semakin banyak produsen yang menyadari potensi dari bagian bawah piramida.

Mereka yang digolongkan sebagai masyarakat ekonomi lembah, atau bagian terbawah dari piramida penduduk, bukan berarti tidak memiliki daya beli sama sekali. Kemampuan membeli tetap ada, tetapi dalam nilai yang sangat kecil, yang tidak mampu untuk menjangkau produk yang ditujukan kepada segmen kelas menengah. Untuk itu, maka banyak produsen yang kemudian mulai membuat produk dengan merek berbeda yang ditujukan pada segmen terbawah tersebut. Selain itu ada banyak produk lain yang meskipun menggunakan merek yang sama, tetapi dalam kemasan kecil. Tetapi tidak jarang juga selain mengecilkan kemasan, kualitas juga diturunkan. Maka, sekarang ini banyak kita temukan produk-produk yang dibuat demikian, kemasan kecil, harga murah dan tersebar di banyak warung-warung maupun minimarket yang semakin menjamur. Tidak hanya produk konsumsi saja, tetapi juga termasuk pulsa telepon seluler, obat generik, bahkan sampai ke asuransi. Seperti  yang disampaikan oleh Prahalad dan Hart, bahwa bagian bawah piramida ternyata memberikan keuntungan yang besar bahkan untuk perusahaan-perusahaan besar dan kaya.

Meskipun demikian, ada banyak perusahaan lain yang memang secara organik tidak secara mudah untuk  masuk ke segmen terbawah, karena produknya bukan merupakan produk consumer, atau dengan kata lain B2B bukan B2C. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan memperluas segmentasi, seperti UMKM dan sejenisnya. Contohnya, untuk perusahaan software aplikasi bisa mempertimbangkan untuk membuat aplikasi mobile. Mengapa mobile, karena saat ini penggunaan ponsel sudah semakin masuk ke segment terbawah dari piramida pelanggan. Hal ini terlihat dari makin tersedianya ponsel berharga murah, bahkan termasuk ponsel pintal (smartphone), juga paket pulsa yang tersedia semakin murah dan terjangkau. Aplikasi mobile bisa dibuat menjangkau ke “customer of our customer.” Artinya, jika perusahaan kita adalah B2B, makan kita bisa mencoba untuk menjangkau “C” dari B2C pelanggan kita, yang kemungkinan besar termasuk bagian dari piramida terbawah.

Ada banyak aplikasi yang bisa dibuat untuk menjangkau konsumen, tetapi yang harus didefinisikan dahulu adalah, apa yang kita harapkan untuk kita peroleh. Bagi saya adalah database konsumen, apalagi bisa sampai mendapatkan big data dari pola dan perilaku konsumen dalam berbelanja. Dengan adanya informasi big data, maka kemungkinan juga untuk memenuhi kebutuhan dari segmen piramida terbawah secara long tail, yaitu menyediakan varian produk yang semakin banyak. Mengfokuskan satu bagian dari perusahaan untuk mengisi segmen ini sekarang sudah bukan lagi bisnis yang hanya bersifat sosial, tetapi bahkan sudah bisa mendapatkan profit, meskipun tipis tetapi dalam volume yang besar.

Big Data

old-filesSaat ini, Big Data merupakan salah satu isu yang paling banyak dibicarakan baik di dunia teknologi informasi maupun berbagai bidang manajemen, seperti yang saya temukan dalam buku terbaru Hermawan Kartajaya, WOW Marketing (buku yang sangat bagus!). Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun bekerja di bidang teknologi informasi, tentunya yang paling menarik perhatian saya adalah sisi teknologinya. Berbagai buku, whitepapers maupun e-book saya buru untuk mendapatkan pengertian mendasar, apakah Big Data itu, apa bedanya dengan Data Warehousing yang sudah saya kenal selama ini?

Saya kira tidak perlu saya jabarkan definisi tentang Big Data, toh ini bukan text book yang teoritis. Singkatnya Big Data merupakan kumpulan data dari berbagai sumber (Variety) dalam jumlah besar (Volume) dan dalam waktu yang terus menerus secara cepat (Velocity). Tentunya pemain-pemain utama dari Big Data adalah mereka yang memiliki sumber daya tak terbatas untuk mendapatkan data dari berbagai sumber, dengan jumlah besar dan dalam waktu yang cepat seperti Google, pemain social media seperti Facebook, Twitter dan sebagainya, maupun perusahaan raksasa yang memiliki jaringan bisnis besar seperti WalMart. Sebenarnya masih banyak lagi pihak-pihak yang memiliki sumberdaya maupun kemampuan untuk mendapatkan maupun mengelola Big Data, tetapi karena belum memiliki visi yang jelas mengenai pemanfaatannya, akhirnya sementara ini data masih terkumpul di berbagai media penyimpan data menjadi semacam “kuburan data” (Mayer-Schönberger, Cukier, 2013).

Mengenai visi ini, sebenarnya di tahun-tahun sembilanpuluhan, saya sempat melontarkan mengenai pemanfaatan data selain hanya untuk pencatat transaksi dan laporan periodikal saja. Masa-masa itu, database desktop yang populer adalah dBase. Saya sempat menggagas tentang “ware” ke-empat setelah software, hardware, brainware adalah dataware. Tetapi karena berbagai keterbatasan, seperti sumberdaya dan kemampuan, maka “ware” ke-empat hanya menjadi wacana, tidak berkembang menjadi bahan riset maupun jurnal ilmiah. Keterbatas sumberdaya kala itu adalah masih langkanya server dengan harga yang selangit sehingga tidak terjangkau oleh mahasiswa pas-pasan seperti saya untuk meneliti. Selain itu keterbatasan software pengelola database dengan kapasitas “hanya” jutaan record saja, meskipun masa itu jutaan record transaksi tidak pernah tercapai oleh karena keterbatas hardware. Kapasitas media penyimpanan untuk desktop saat itu yang mampu saya beli adalah harddisk sebesar 20MB seharga beberapa ratus ribu rupiah (hasil nabung dari gaji saya selama berbulan-bulan). Padahal masa itu, saya memiliki sumber data yang sangat potensial karena bekerja sebagai operator komputer di sebuah perusahaan asuransi yang setiap harinya ada ratusan polis asuransi yang harus saya entry dengan hanya menggunakan PC rakitan dan software Lotus 123 di disket 5.25” berkapasitas 512KB.

Keterbatasan lainnya adalah kemampuan intelektual saya yang masih mahasiswa strata satu semester-semester awal yang tidak memahami bagaimana melakukan riset ataupun menulis karya ilmiah yang agak berat seperti database. Ketika itu, meskipun sudah mendapatkan kuliah tentang konsep database relationship dan SQL, tetapi pada prakteknya, kami masih menggunakan dBase sebagai database utama, sehingga konsep database modern kala itu yang kami dapatkan masih secara teoritis.

Sekarang, dengan sumber data yang tidak ada habis-habisnya baik melalui transaksi yang terjadi maupun sumber-sumber tidak terstruktur seperti social media dan output berbagai sensor, ada banyak hal yang bisa ditemukan, meskipun untuk itu dibutuhkan logika query khusus yang bebeda dengan bahasa program terstruktur konvensional. Hasilnya bukan untuk menemukan penyebab suatu isu, tetapi lebih kepada mendeteksi kecenderungan suatu peristiwa ataupun korelasi antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Jadi, andaikata pada masa itu saya bisa melakukan analisis big data terhadap data polis yang jika dikorelasikan dengan kondisi perioikal atau musiman, meskipun tanpa inputan dari social media yang belum ada, mungkin saat itu saya bisa memberikan informasi kepada manajemen, untuk menjual produk asuransi tertentu dalam satu periode.

Semoga untuk masa-masa mendatang, peluang untuk memanfaatkan gagasan dengan segala keterbatasan tidak menjadi alas an bagi generasi berikutnya untuk melakukan terobosan-terobosan teknologi.

Profesionalisme

Woman Working at Desk Using TelephoneApakah profesionalisme dibentuk oleh pengalaman, atau memang sudah merupakan karakter dari seseorang? Seringkali pertanyaan seperti itu hinggap dalam pemikiran mengenai pengembangan karir. Tentu saja, profesionalisme sangat menentukan dalam karir seseorang, terutama jika perusahaan tempatnya berkarya memahami dan menghargai profesionalisme.

Sebelum kita lebih jauh melihat tentang bagaimana profesionalisme seseorang terbentuk, lebih dahulu kita memahami, apakah yang dimaksud dengan profesionalisme itu. Saya tidak tertarik untuk menengok ke dalam kamus definisi mengenai kata, ataupun pembahasan semantisnya. Bagi saya, profesionalisme adalah bagaimana kita menyikapi profesi kita. Apapun profesi kita, selama itu halal, dan kita menghargainya, dan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya, serta menhantarkan nilai-nilai yang dihasilkan lebih daripada yang diharapkan. Seorang profesional harus tahu persis apa yang dituntut dari profesinya, dan berani memberikan hasil melebihi dari batasan yang ditentukan dalam job-desc nya. Bekerja profesional bukan sekedar memenuhi tenggat, meskipun itu adalah kemampuan minimal yang diharapkan. Bekerja juga bukan sekedar menyelesaikan pekerjaan, tetapi memahami nilai dari pekerjaan itu bagi pihak-pihak lain yang terkait.

Kadangkala ada orang yang merasa pekerjaannya adalah bagian dari rutinitas perusahaan, seperti mereka yang menangani administrasi, akuntansi, ataupun produksi. Namun jika rutinitas itu mampu memberikan nilai lebih, seperti memberikan laporan lebih cepat dan akurat dari ketentuan, atau memroduksi dengan efisiensi yang tinggi, maka mereka sebetulnya juga sudah melaksanakan profesionalisme dalam pekerjaannya.

Kembali kepada pertanyaan awal, bagaimana profesionalisme itu terbentuk? Dari pengalaman, saya lebih percaya pada karakter seseorang. Seseorang yang memiliki karakter profesionalisme yang kuat, dimanapun ia ditempatkan akan memberikan nilai terbaik dari yang diharapkan. Dalam sebuah perusahaan akan mudah terlihat, siapa yang hanya mengerjakan sebatas apa yang diminta, dengan hasil yang pas-pasan saja atau bahkan di bawah standar, sedangkan ada yang mampu mengerjakan pekerjaannya dengan hasil yang baik bahkan memberikan terobosan-terobosan baru. Bagi mereka yang memiliki karakter profesionalisme yang kuat, lingkungan yang buruk tidak akan memberikan banyak pengaruh bagi kinerjanya, bahkan ia mampu mengubah lingkungannya. Maka, seorang profesional dengan karakter kuat bisa menjadi agen perubahan bagi lingkungan tempatnya bekerja.

Karakter profesional bukan sebuah sifat sakral yang dimiliki seseorang dan tidak dapat dimiliki oleh yang lainnya. Karakter dapat dibentuk oleh kesadaran dan keberanian untuk berpegang teguh pada prinsip profesionalisme meskipun mendapat tantangan yang berat. Menjadi profesional yang mampu menghadirkan profesionalisme mumpuni bukan hanya milik segelintir orang saja. Semua orang akan mampu mewujudkannya asal memiliki komitmen yang tangguh.

Plan B

Plan BAda seorang sahabat lama yang baru-baru ini berdiskusi dengan saya soal rencananya untuk memulai usaha. Niatnya sudah bulat, segala persiapan sudah dilakukan, bahkan ia sudah bersiap mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya di sebuah perusahaan, sehingga ia bisa full time berbisnis. Namun tepat pada saat ia hendak ‘terjun’, timbul keragu-raguan dalam dirinya. Apakah langkahnya sudah tepat, apakah pilihan bidangnya sudah benar, bagaimana kalau ini tidak jalan, bagaimana kalau kehabisan modal. Pokoknya ada berbagai macam alasan baginya yang menunda dirinya untuk segera bergerak.

Menurut saya, kekhawatiran itu wajar saja, sama seperti setiap langkah pertama yang hendak kita lakukan. Selalu ada keragu-raguan, apakah semua yang direncanakan akan berjalan lancar. Percayalah, kemungkinan semuanya tidak sesuai dengan rencana besar sekali. Disitulah kita dituntut untuk berpikir dan bertindak cepat sebagai seorang pengusaha. Seorang pengusaha, apalagi yang baru memulai, akan menghadapi banyak ketidakpastian, termasuk ketidakpastian untuk mendapatkan penghasilan. Sedangkan bedanya dengan bekerja, setiap akhir atau awal bulan pasti menerima gaji. Untuk itu, berpikirlah cepat dan cermat, lalu ambil keputusan terbaik, termasuk menjalankan rencana cadangan atau Plan B.

Sebelum kita masuk ke cerita mengenai Plan B, kita perlu juga mengetahui bahwa ada beberapa orang yang memiliki tekad yang kuat, dengan menjalankan strategi bakar perahu. Konon kabarnya Julius Caesar saat menyerang Britania, menyuruh pasukannya membakar kapal yang digunakan untuk mencapai tanah Britania, agar tidak ada pilihan bagi prajuritnya untuk pulang, selain bertarung sampai mati atau menang. Seorang teman saya berani menggunakan cara ini. Ia terjun penuh ke bisnis asuransi dengan meninggalkan pekerjaan mapannya dan sepenuh waktu menjalankan profesi barunya. Sebagai agen asuransi, tentunya ketidakpastian penghasilan akan dihadapinya, tetapi dengan nada optimis ia mengatakan  bahwa memang penghasilannya tidak pasti, yaitu setiap bulan akan semakin tinggi. Kalau bekerja kantoran, penghasilannya sudah pasti, yaitu pasti pas-pasan. Saya bukan tipe orang yang seberani dia, oleh karena itu mari kita bahas tentang Plan B.

Sebetulnya sah-sah saja kita memiliki rencana cadangan. Apalagi jika kita punya tanggungan saat memasuki dunia usaha. Hasrat untuk menjadi pengusaha jangan sampai membuat kehidupan keluarga kita menjadi korban, saat tiba-tiba beban baru muncul. Salah satunya adalah dengan memiliki rencana cadangan dalam hal keuangan atau sumber keuangan. Sangat baik apabila kita memulai usaha dengan memiliki cadangan tabungan. Menurut pakar keuangan pribadi yang pernah saya dengar, cadangkan minimal untuk kebutuhan 3 bulan, lebih baik lagi 6 bulan atau bahkan 2 tahun, tergantung seberapa banyak tabungan kita. Namun yang terbaik adalah memiliki cadangan sumber penghasilan. Misalnya, bagi pasangan suami istri, saat sang suami terjun ke usaha, istri memiliki pekerjaan tetap lain. Contoh lain misalnya ada usaha lain yang sudah menghasilkan dan mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Plan B, kadang-kadang merupakan kondisi ideal yang tidak dimiliki oleh semua calon pengusaha. Kebanyakan bahkan merasa sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, tetapi saat terjadi kesulitan baru menyadari bahwa persiapan yang ada ternyata meleset.

Yang menarik justru pemikiran menjadikan bisnis yang kita rencanakan sebagai Plan B, sedangkan kita masih tetap bekerja. Artinya, bisnis kita jalankan sebagai sampingan dahulu. Saat hasilnya sudah mendekati nilai yang kita harapkan, barulah terjun sepenuhnya. Berapa besar nilai yang diharapkan untuk didapat dari bisnis sampingan ini? Menurut mantan dosen entrepreneurship saya, Pak Wahyu Saidi, jika nilai penghasilan dari bisnis sampingan sudah mencapai dua kali lipat dari penghasilan kita saat ini, maka itu artinya kita harus terjun sepenuhnya menjadikan bisnis sampingan itu sebagai yang utama. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana menjalankan bisnis secara sampingan sedangkan kita masih terjebak dalam pekerjaan rutin yang menyita waktu?

Sebuah pelajaran dari salah satu staf development dalam tim saya yang tidak saya sangka-sangka. Suatu hari ia menghadap saya untuk menyampaikan pengunduran dirinya karena hendak menjalankan bisnisnya secara penuh. Mengutip mantan dosen saya, sayapun menanyakan apakah penghasilan sampingannya sudah lebih dari salary yang didapatnya, mengingat sebagai seorang programmer senior, salary nya cukup lumayan. Saya sangat kagum waktu ia menjawab “Ya” dengan menyakinkan. Selama ini ia menjalankan bisnis online-nya secara part-time (dan itu memungkinkan). Penghasilan yang didapatkannya bahkan sudah mampu ia investasikan ke sebuah apartemen menengah. Seketika saya langsung menodongnya, “Kamu harus mengajari saya ya!”

Jadi cobalah berpikir sebaliknya, menjadikan bisnis sebagai Plan B dahulu sambil mengerjakan pekerjaan utama, dan bukan menjalankan bisnis sambil memikirkan Plan B.

Think Outside The Box

outsidethebox_fullpic_artworkKetika membuka-buka contact list pada aplikasi Whatsapp di ponsel android saya, saya tertawa sendiri melihat avatar sahabat saya, Dr. Hanadi. Di situ tertulis ‘think outside the box’ dengan gambar permainan tic tac toe yang ‘maksain banget’. Sebenarnya, jargon ini sudah menjadi semboyan banyak orang sejak lama, namun memraktekkannya bukanlah hal yang sederhana. Penyebabnya, karena kita sudah terbiasa hidup dalam pakem yang dibentuk oleh rutinitas sehari-hari.  Tengok saja, hampir setiap orang punya ritual pribadi saat bangun tidur pada pagi hari. Saya sendiri bahkan tidak menyadari ritual ini, karena sudah menjadi habit, kalau diingat urutannya, jadinya malah bingung sendiri. Pukul 6 pagi saya bangun, langsung lanjut ke toilet untuk melakukan ritual mandi, sikat gigi dan sebagainya. Pukul 6.45, saya sudah di meja sarapan, sambil membaca buku, dan pukul 8.15 saya sudah berkendara menuju ke kantor. Walaupun kadang-kadang berubah, seperti ketika istri saya bertugas ke luar negeri, maka di antara waktu tersebut harus saya selingi dengan mengantar anak-anak ke sekolah, tetapi pada akhirnya saya kembali ke rutinitas semula yang sudah saya jalani berpuluh tahun. Bahkan, bentuk sarapan saya, yaitu roti dan kopi instan sudah menjadi menu tetap sejak saya SD.

Kebiasaan memang menjadi pengikat bagi keinginan untuk berubah. Einstein konon pernah mengatakan, bahwa melakukan hal yang sama berulang-ulang dan berharap mendapatkan hasil berbeda adalah tanda ketidakwarasan. Benarkah demikian? Dengan teknik simulasi algoritma, kalimat itu dapat dibantah. Tetapi intinya dalam kehidupan bahwa jika kita terkunci dalam kebiasaaan yang sama terus menerus, maka semakin lama kita semakin anti terhadap perubahan. Akibatnya, jika terjadi perubahan mendadak, maka kita akan kelimpungan dalam usaha untuk beradaptasi. Dan seperti kata teori evolusi, bahwa mahluk hidup yang dapat bertahan bukanlah yang paling kuat atau paling pintar, tetapi yang mampu beradaptasi, maka kesulitan beradaptasi biasanya akan membawa pada kesulitan-kesulitan besar lainnya. Namun umumnya, perlahan-lahan setelah menjalani runitinas yang disesuaikan dengan perubahan tersebut, kitapun akan kembali tenang, dan menjalani kebiasaan baru seperti tidak ada yang berubah. Artinya, kita sadar tidak sadar sudah beradaptasi. Perubahan mendadak yang tadinya seperti bencana, akhirnya kita lupakan. Kita terkunci dalam kebiasaan lagi sampai bertemu dengan benturan perubahan lainnya. Inilah adaptasi reaktif.

Untuk mampu berpikir diluar kotak yang mengungkung kita, maka kita harus melakukan adaptasi proaktif. Ini bukan berarti kita anti kemapanan dan menjadi radikal, tetapi lebih membuat diri kita tidak menjadi mahluk pasif yang hanya menunggu terjadinya perubahan pada diri kita, tetapi kitalah yang menjadi agen ataupun provokator perubahan. Bukan berarti kita harus memancing-mancing masalah, tetapi lebih pada pendekatan positif. Contohnya adalah menggabungkan dua hal yang berbeda menjadi satu produk baru. Bioskop yang juga restoran, toko buku yang juga café, atau bahkan yang lebih cool seperti Google Glass yang sedang menjadi topik hangat saat ini. Semua itu merupakan bentuk think out of the box, yang tidak terjebak pada rutinitas atau aturan yang sudah berlaku. Lima tahun yang lalu, smartphone yang keseluruhannya merupakan layar sentuh masih aneh dan orang-orang masih mencela bagaimana cara menggunakannya. Namun sekarang, bahkan Blackberry yang terkenal dengan keypad qwerty nya yang nyaman menggunakan full touch screen saat meluncurkan produk pertaruhannya, Z10.

Lalu, bagaimana cara agar kita mampu membangkitkan pemikiran-pemikiran kreatif yang mampu menerobos garis batas kita, berpikir dan bekerja diluar kebiasaan yang mengikat? Situs lifehack memberikan 11 tips untuk memancing kita untuk think outside the box, seperti berikut ini (lengkapnya bisa dilihat di situsnya):

  1. Melakukan studi industri lain diluar pekerjaan kita
  2. Mempelajari kepercayaan lain
  3. Belajar lagi
  4. Membaca novel dengan genre yang tidak umum
  5. Menulis puisi
  6. Menggambar
  7. Memutar balik objek
  8. Bekerja dengan alur yang terbalik
  9. Mendapatkan pandangan dari anak kecil
  10. Menarik keacakan
  11. Mandi

Creator vs. Seller

Jika bcreatorderbisnis, Anda ingin menjadi apa? Seorang Creator-kah, atau cukup menjadi seorang Seller? Sebelum menjawab pertanyaan itu, tentunya kita perlu tahu dulu, apa itu Creator dan perbedaannya dengan Seller. Mudah kita terka, Creator adalah seseorang atau pihak yang menciptakan, membangun atau memroduksi suatu barang atau jasa, sedangkan Seller adalah para pedagang, termasuk juga perantara atau broker. Mana yang lebih baik? Tentunya kembali kepada pilihan kita masing-masing. Saya ingin mengulas hal ini dari sudut pandang saya sendiri.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, dengan latar belakang sebagai seorang programmer, tentunya tidak sulit bagi saya untuk menjadi seorang Creator. Setiap software yang saya kreasikan mendudukkan saya menjadi seorang Creator. Namun hal itu tidaklah lengkap, jika hasil kreasi saya tidak dapat digunakan oleh pihak lain sebagai pengguna. Makanya, saya lebih merasa menjadi seorang Creator sejati saat setelah saya menjadi programmer freelance di awal-awal masa merintis bisnis di bidang IT.  Menggarap satu per satu pesanan software, mengimplementasikannya, menyaksikannya digunakan oleh pengguna, dan yang paling mengasyikkan adalah saat menerima pembayaran atas kreasi yang saya jual. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, saya bergabung dengan beberapa rekan dengan latar belakang berbeda, bisnis sampingan sebagai freelancer ini akhirnya menjadi sebuah perusahaan yang berkembang pesat.

Saya juga pernah menjadi seorang Seller, yaitu hanya menjualkan produk yang sudah jadi ke pihak lain. Prosesnya jauh lebih mudah, karena saya hanya menjadi perantara saja, atau dalam bahasa bisnisnya, sebagai Broker saja. Menjadi Broker adalah jalan pintas untuk memulai bisnis sebagai seorang Seller, karena Broker hanya menjadi perantara yang mempertemukan pemilik produk dengan prospek pembeli, sehingga pada umumnya tidak memerlukan modal besar, apalagi persediaan barang. Bahkan, ada yang memberikan istilah untuk profesi ini, Brokerpreneur! Beberapa situs e-commerce juga melakukan fungsi yang sama dengan Broker ini, para pialang saham juga melakukan hal kurang lebih sama. Meskipun dalam bahasa kasarnya profesi ini disebut calo, tetapi sebetulnya selama dijalankan secara baik dan benar, tidak ada salahnya.

Baru-baru ini saya membaca rubrik Opini di Majalah Chip yang ditulis oleh S’To, salah satu pakar IT yang cukup terkemuka, yang bercerita mengenai bagaimana startup dapat berkembang dengan baik. Intinya adalah partnership. Dalam suatu partnership yang baik memiliki dua unsur tersebut, creator dan seller. Satu mitra menjadi teknologisnya, mengkreasikan produk, dan satu lagi menjadi pebisnisnya, yang mampu melihat peluang-peluang besar bagi produk yang dibuat oleh mitranya. Tengok saja Wozniak si teknologis dengan Jobs yang visioner di Apple, David Filo sang teknologis dan Jerry Yang sang pebisnis di Yahoo, duo teknologis Google, Larry Page dan Sergey Brin dengan Eric Schmidt sang CEO, serta masih banyak lagi contoh-contoh kemitraan strategis yang menghasilkan bisnis legendaries. Pengecualian bisa diberikan kepada Bill Gates, yang meskipun awalnya bermitra dengan Paul Allen, nyatanya ketikan sang partner keluar, Microsoft justru tetap Berjaya. Bill Gates menurut saya merupakan salah satu tokoh jenius yang seorang teknologis juga memiliki kemampuan visioner terhadap masa depan teknologi.

Meskipun saya pernah menjadi seorang Seller, tetapi nyatanya saya lebih cenderung sebagai Creator. Sebagai Seller, tidak hanya diharapkan kemampuan dalam menjual, tetapi mampu menetapkan visi sebagai arah perkembangan perusahaan. Dengan demikian, ia mampu mengarahkan produk yang dibuat oleh sang Creator untuk memenuhi apa yang dipercayainya sebagai sesuatu yang menjual. Tentu saja peran keduanya penting. Creator dapat membuat produk apapun juga yang cool, tetapi jika tidak dapat dijual, atau bukan menjadi keinginan konsumen, maka produknya akan sia-sia. Sebaliknya seorang Seller yang memiliki visi tentang produk yang menjual dan akan menjadi tren, tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada yang membantu mewujudkannya.

Syukurlah, sekarang ini, jika kita adalah seorang Seller, tidak akan sulit mewujudkan produk, terlebih jika produk tersebut berupa perangkat lunak. Ada banyak tawaran pembuat aplikasi freelance yang bertebaran di Internet. Sedangkan bagi seorang Creator, saat ini sudah tersedia berbagai fasilitas untuk menjual produk secara online, dan berbagai cara promosi dengan menggunakan sosial media yang relatif mudah diakses dan murah. Namun, kembali menurut saya, yang terbaik adalah kemitraan strategis, sehingga kemudian bisa berlangsung serta berkembang secara jangka panjang. Kuncinya adalah saling percaya dan saling mengisi.

Bekerja atau Berbisnis

happy_businessman_0515-1012-2300-1850_SMUTulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan, antara menjadi karyawan atau pengusaha, tetapi lebih melihat dari dalam diri seorang dalam menjalankan usahanya sehari-hari. Ya, ini mengenai kehidupan pengusaha. Seseorang akan disebut pengusaha apabila ia memiliki bisnis sendiri, terlepas dari skalanya, apakah ia hanya seorang pedagang bakso yang memiliki gerobak sendiri, membeli bahan, memasak dan menjualnya juga sendiri, ataupun seorang konglomerat property yang memiliki berbagai proyek property senilai triliunan. Sebaliknya seseorang tetaplah karyawan, terlepas dari apakah dia hanya seorang OB atau CEO. Jika ia memiliki saham perusahaan tersebut, maka mulailah ia bisa disebut pengusaha. Tentunya, kepemilikan ini berbeda jika kita hanya punya beberapa lot saham dari pasar sekunder yang dipergunakan hanya untuk mendapatkan penghasilan spekulatif bursa.

Saya tahu persis bagaimana hidup menjadi karyawan maupun pengusaha. Kalau jadi pengusaha, maka otomatis kita memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, apalagi jika kita memiliki banyak karyawan. Dahulu dosen bisnis saya pernah memberi wejangan, sesulit apapun keadaan bisnis kita, yang harus diutamakan adalah karyawan yang kita miliki. Jadi, karyawan harus tetap mendapatkan hak atas gajinya, meskipun keuangan perusahaan sedang berat. Kalau sudah tak tertahankan, lakukan proses pemutusan hubungan kerja dengan baik-baik dan penuhi hak-hak karyawan. Itu kalau bicara pahitnya. Kalau dalam keadaan jaya, tentunya pengusaha juga wajib berbagi dengan karyawannya, berupa bonus ataupun kenaikan gaji. Selain itu, pengusaha juga wajib memikirkan pengembangan bisnisnya. Setelah usahanya berjalan bertahun-tahun, selayaknya bisnis juga berkembang, misalnya berekpansi dengan menambah cabang, memperluas pasar, menambah kapasistas pabrik ataupun memasuki bisnis baru.

Namun, selain tanggung jawab, yang menggelitik saya untuk membahas hal ini adalah mengenai pekerjaan. Ya, pekerjaan sehari-hari pengusaha. Umumnya, seorang yang baru memulai usaha, biasanya terjun langsung menangani bisnisnya. Seorang tukang bakso sebelum mengembangkan bisnisnya menjadi puluhan gerobak, memulai dengan mendorong gerobaknya sendiri. Sorang pengusaha IT, memulai dengan menjadi programmer untuk produknya sendiri dahulu sebelum mengembangkan bisnisnya menjadi bernilai milyaran dollar. Seiring dengan perkembangan bisnis, pengusaha sudah harus mulai menarik diri dari pekerjaan groundwork seperti ini lagi. Tugasnya adalah menjaga visi perusahaan, dan memastikan pelaksanaan misi perusahaan, serta menjalankan fungsi kontrol. Dan seperti yang diajarkan oleh sekolah-sekolah bisnis, buatlah sistem agar kita memiliki exit plan. Sistem memungkinkan sebagian besar pekerjaan sehari-hari didelegasikan, dan kita sebagai pemilik perusahaan tetap dapat memonitor dan melakukan fungsi kontrol.

Sayangnya, banyak pengusaha yang justru melupakan hal ini. Mereka terlalu sibuk dan asyik dalam melakukan tugas-tugas yang justru merupakan groundwork yang seharusnya bisa didelegasikan. Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya menjadi konsultan untuk sebuah perusahaan yang memroduksi lampu-lampu hias. Sang pemilik tetap masih mengerjakan pekerjaan las yang menurutnya tidak akan mampu dikerjakan oleh orang lain sebaik dia. Seorang teman yang menjadi pebisnis IT juga masih mengerjakan pekerjaan pemrograman, dengan alasan takut kalau source programnya diambil oleh orang lain jika ia mendelegasikan pekerjaan itu. Ia lupa, bahwa ada banyak programmer handal di luar sana yang mampu membuat software yang jauh lebih bagus dari karyanya, tanpa perlu mencuri source nya. Ironisnya, ia selalu mengeluh tidak memiliki waktu untuk berlibur, dan bertanya-tanya mengapa usahanya tidak bisa berkembang seperti kompetitornya, meskipun ia sudah bekerja sekeras mungkin.

Terjebak dan tidak memiliki exit plan, sehingga tanggung jawab sebagai pebisnis yang seharusnya mengembangkan bisnis menjadi terabaikan. Beberapa diantaranya beralasa bahwa pekerjaan yang ditanganinya adalah merupakan passion nya sehingga tidak bisa ia tinggalkan. Ok, kalau begitu, jangan pernah mengeluh kalau bisnisnya begitu-begitu saja. Dalam kuadran Kiyosaki, sebetulnya mereka yang masih terikat dengan pekerjaan dalam perusahaannya sehingga jika ia meninggalkannya akan menyebabkan collapse, tidak ada bedanya dengan karyawan, hanya sebutannya lebih keren, Self Employee. Namun, Self Employee ini berbeda dengan pekerja profesional seperti dokter, pengacara maupun konsultan yang masih bisa mengambil cuti atau bahkan mendelegasikan pekerjaannya. Mereka ini lebih sebagai orang yang terjebak dan tidak mampu berpindah ke kuadran Businessman sebagaimana seharusnya.

Ketika kita lupa untuk belajar mempercayai orang lain, mendelegasikan pekerjaan dan membuat sistem kontrol dan monitor, maka artinya kita juga membahayakan bisnis kita sendiri. Bisnis ini menjadi kehilangan kepemimpinan untuk berkembang seperti yang seharusnya. Jika memang permasalahannya adalah ketidakmampuan untuk menjadi seorang pengusaha yang mampu memimpin dan melakukan kontrol dan monitor, maka carilah seorang mitra yang mampu melakukan itu, kemudia mulai lakukan pendelegasian, agar kita tidak menjadi hanya sekelas karyawan di perusahaan sendiri. Maka perlahan, kita akan berpindah kuadran menjadi seorang Businessman sejati, bahkan memungkinkan untuk menjadi seorang Investor, yakni kuadran berikutnya, dimana investasi kita yang bekerja dan menghasilkan untuk kita, sehingga kita tinggal menikmati hidup dan financial freedom menjadi bukan impian lagi.

Instan

Miris sekali rasanya menyaksikan deretan buku di bagian ‘Pengembangan Diri’ di sebuah toko buku terkemuka di Jakarta. Mengapa? Menurut saya, justru bukan topik pengembangan diri yang dominan, namun yang paling banyak adalah buku-buku tentang kesuksesan instan, ataupun cara bagaimana menjadi kaya secara cepat, pasti dan permanen. Bukan rahasia lagi, justru buku-buku tentang cara instan untuk sukses atau kaya yang menjadi buku best-sellers, sedangkan buku yang benar-benar membahas pengembangan diri seperti The 3rd Alternative dari Stephen Covey malah jarang disentuh. Mungkin karena dianggap terlalu berat dan tidak instan.

Saya sempat mencatat beberapa judul bombastis seperti berikut, yang sudah sedikit saya edit, seperti: Rahasia Mempercepat Kepastian Sukses, Sukses Itu Wajib, Rahasia Dahsyat Menggapai Kesuksesan Permanen, Cara Baru Memberdayakan Diri Untuk Lebih Cepat Bahagia, Sukses dan Sejahtera, Cara Gila Super Kaya, Mau Sukses Baca Buku Ini, Jalan Pintas Menjadi Kaya, Wealth Acceleration (percepatan kekayaan), Hal Gratis Yang Menentukan Kesuksesan Anda, Top Secrets Pembuka Pintu Rezeki, Belajar Goblok Dari …, Cara Cerdas Menjadi Kaya, Rahasia Kaya Raya, Ingin Sukses? Anda Harus Gila, Rahasia Sukses Dari Orang Super Sukses, Sifat-sifat Khusus yang Membuat Cepat Kaya.

Sebetulnya, para pengarang buku-buku seperti ini tidak bisa disalahkan. Yang justru harus dipertanyakan adalah minat baca para konsumen yang tertarik terhadap buku-buku kesuksesan instan seperti ini. Bukankah seharusnya sebelum tertarik untuk membeli dan membaca lebih jauh, calon pembaca harus bertanya dulu, apakah para pengarang itu sendiri merupakan sosok yang sukses atau dikenal luas sebagai orang kaya atau bahkan super kaya? Saya pribadi justru menemukan bahwa orang-orang yang benar-benar sukses dan kaya lebih suka menulis buku pembelajaran, ataupun biografi. Tengoklah buku biografi Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Jakob Oetama, Ciputra, TP. Rachmat, Steve Jobs semuanya adalah tentang perjalanan hidup yang penuh perjuangan, pembelajaran, syukur dan teladan. Tak ada satupun cerita tentang cara instan menjadi sukses dan kaya. Tak ada satupun juga tentang sukses secara permanen. Semuanya adalah tentang perjalanan yang masih terus ditempuh. Mereka juga tidak mengajarkan cara gila maupun goblok untuk mencapai posisi mereka sekarang ini. Semuanya ditempuh dengan cara wajar.

Ketika suatu sore, saya ngobrol sambil menikmati minuman jus bersama sahabat saya. Kami sedang membahas rencana penulisan buku kami. Obrolan kemudian berlanjut sampai satu topik, dimana saya tergelitik dengan satu buku yang menurut kami benar-benar aneh. Judul buku itu sangat unik, dan menurut saya tujuannya adalah demi alasan pemasaran semata. Judulnya mempertanyakan, bisnis kenapa harus mikir. Astaga! Tentu saja, berbisnis harus dipikirkan dengan matang, kecuali ini bisnis yang asal jalan dan tidak dimaksudkan untuk bertumbuh menjadi besar. Cukup, one time only atau kelas kaki lima. Saya ingat pernah berbincang dengan tukang bubur ayam langganan saya. Meskipun saat itu ia hanya memiliki satu gerobak bubur ayam yang mangkal di samping sebuah bank, ia memiliki rencana jangka panjang. Ia berpikir bagaimana ia bisa membuka usaha bubur yang kedua, ketiga dan seterusnya. Untuk itu, ia berusaha melatih dua orang anak buahnya dalam memasak bubur dan meraciknya, sehingga ketika keduanya sudah bisa menjalankannya sendiri, ia bisa membuka gerai keduanya. Ia tentu saja berpikir, karena ia memiliki jiwa entrepreneur. Itulah yang benar. Karena sekarang, setahu saya, tukang bubur ayam langganan saya itu sudah memiliki tiga gerai gerobak di tiga lokasi. Saya yakin, ia sudah menemukan formula pengembangan usahanya, sehingga ketika modal sudah terkumpul, ia tinggal meng-copy saja untuk lokasi gerai barunya. Semuanya adalah karena buah berpikir ketika berbisnis. Itu yang masih kelas kaki lima, jika mau berkembang. Pemikiran yang lebih dalam tentu harus dilakukan, apabila bisnis yang hendak dibangun berskala lebih besar.

Sekali lagi, sungguh sangat membahayakan bila kita menggampangkan segala sesuatunya, apalagi tentang pengembangan diri kita. Jika dalam mengembangkan bisnis, ada yang mengajarkan tentang tidak perlu mikir, maka dalam pengembangan diri, ada lagi yang mengajarkan membangun kesuksesan dan kekayaan dengan cara goblok, ataupun cara gila. Sebagai pembaca yang cerdas, saya yakin kita semua tidak akan tergoda untuk ikut-ikutan goblok ataupun gila untuk mengembangkan diri dalam mencapai kesuksesan dan kesejahteraan. Akan lebih berharga apabila kita belajar dari biografi mereka yang sudah terbukti dan teruji serta menjadi teladan. Karena, inti dari semuanya adalah sama, kerja keras, pembelajaran dan bersyukur. Tidak ada yang instan, tanpa mikir, goblok ataupun gila. Semuanya wajar.