Jing…


Kami biasa saling memanggil “Jing.” Mungkin ini tampak kasar dan tak berbudaya bagi banyak orang. Tapi saya dan Ign. Freddy Sastrawidjaja sudah sejak jaman kuliah saling memanggil seperti itu, kepanjangan dari kata “Anjing.” Ini bukan makian, tapi lebih kepada kedekatan persahabatan yang sudah seperti saudara. Kawan-kawan yang lain memanggilnya dengan sapaan akrab “Black” oleh karena dia memang hitam. Tidak bermaksud rasis, karena toh dia bukan keturunan Afro. Yang jelas, karena sudah melekat dengan nama Black, tand- tangannyapun merupakan anagram dari kata tersebut.

Black selalu menjadi tumpuan kami untuk titip absen semasa kuliah, karena ia yang paling rajin dan tepat waktu untuk mengikuti semua kelas. Kadang bahkan kami cuma duduk-duduk di koridor saja di depan kelas, sedangkan Black dengan rajinnya mengikuti kuliah. Black juga menjadi seperti maskot bagi kelompok kami, karena ia cocok dengan slogan “kalo gak ada loe gak rame!” Jokes nya selalu segar, bahkan suka keterlaluan kalo meledek orang lain, tapi ia juga tidak pernah marah kalo diledek balik.

Siang menjelang jam 12 tanggal 29/12/2015, saya dikejutkan oleh pesan WA dari Kardiyanto – teman ex Binus 89 juga –  , “Rud, teman kita Freddy sudah kembali ke Surga.” Berita itu sungguh mengejutkan, karena baru empat hari sebelumnya saat Natal seperti biasa, Black selalu broadcast ucapan selamat Natal dari dua account BBM nya. Bahkan beberapa hari sebelum Natal, pun ia masih mengomentari foto-foto Instagram istri saya. Saya segera mencari kabar sekaligus juga menyebarkan kabar itu ke semua teman ex Binus 89. Benar, Black berpulang saat liburan Natal dan Tahun Baru di Puncak bersama keluarganya.

Sore itu juga pukul 4, saya segera meluncur ke Rumah Duka Husada, mencari-cari diantara beberapa ruang, dan menemukannya saat baru saja jenazahnya selesai masuk ke dalam peti tempat istirahat terakhirnya. Bertemu istrinya yang sedang memeluk kedua putra kembarnya yang menangis begitu sedih, sayapun tak kuat menahan air mata. Saya terduduk di sebuah kursi lipat dengan air mata yang mengalir deras tak tertahankan. “Jing…. Kenapa begitu cepat elo pergi?”

Ada banyak malam minggu saya habiskan berdua dengannya. Nongkrong di Dunkin Donuts Hayam Wuruk sambil nonton balapan liar, lalu pulang, begadang di kamarnya yang sempit di rumah neneknya di kawasan gang Talib. Obrolan tidak pernah kehabisan bahan, bahkan sampai salah satu dari kami jatuh tertidur, biasanya menjelang jam 4 subuh. Kadang acara begadang bertambah pesertanya dengan Fredy Winata, kadang juga Foondas atau Djoni. Tetapi biasanya yang menginap cuma saya. Jika sedang bosan begadang, biasanya dari pagi hingga sore, kami menghabiskan waktu di Dunkin Petojo. Bukan karena kami penggemar fanatik donat, tetapi lebih karena tempatnya yang menurut kami sangat nyaman.

Ketika suatu kali karena masalah jantung – penyakit ini juga yang merenggut nyawanya – ia harus dirawat di rumah sakit Sumber Waras, kami sudah sangat kawatir, tetapi ia berhasil sembuh waktu itu. Lalu ketika hampir semua teman sudah menikah, Black masih lajang dan lebih banyak waktu dihabiskannya di Gereja BHK Kemakmuran bersama Mudika dan para Romo. Ketika akhirnya dia menikah, saya malah tidak bisa hadir karena tugas di Banjarmasih. Saya berusaha mengubah jadwal pesawat kembali ke Jakarta supaya bisa hadir di pestanya, tetapi tetap tidak terkejar. Akhirnya yang hadir istri dan ibu saya. Keduanya memang mengenal dekat Black. Setahun kemudian, putra kembarnya lahir, dan untungnya saya bisa hadir.

Suatu ketika, saat saya memutuskan untuk menjadi Katholik, Black adalah orang pertama yang mendukung saya dan bahkan bersedia menjadi Bapa Baptis saya, meskipun ia sedikit lebih muda. Ben, putra pertama sayapun ber-Bapa Baptis pada Om Black. Tetapi jangan mengira Black sebagai orang puritan dan fanatis. Ia memang seorang Katholik taat, tetapi tidak akan pernah memberikan wejangan-wejangan ataupun kutipan dari Alkitab. Kadang, saat misa, saya menemukannya duduk-duduk mengobrol dengan tukang parkir. Menurutnya, jika hatinya sedang tidak ingin mengikuti ibadah, ia tidak ingin menjadi munafik yang harus selalu hadir dalam Gereja. Untuk hal ini, ia tidak sepaham dengan saya.

Black adalah typical ordinary man yang tidak pernah berpikir terlalu rumit, berusaha mengejar berbagai prestasi. Baginya, setelah lulus kuliah, ia bisa bekerja kantoran, menerima gaji bulanan dan menghidupi keluarganya. Sudah itu saja. Tak pernah ia berambisi untuk menjadi seorang yang menonjol. Kuliahnyapun diselesaikannya dengan susah payah, bukan masalah nilai, tetapi lebih kepada kemampuannya untuk membayar kuliah. Seringkali kami harus urunan untuk membayar uang semesternya, yang kemudian dicicilnya kepada kami tiap bulan dari gajinya yang tidak seberapa. Akibatnya, ia harus mengorbankan makan siangnya hanya dengan teh celup.

Begitu banyak kenangan bersama Black. Itu yang membuat saya sulit untuk menahan air mata. Sekarang dia sudah kembali ke Rumah Bapa, menyusul ayah dan adiknya yang telah lebih dulu berpulang. Selamat jalan saudaraku, sahabatku dan Bapa Baptisku, Tuhan pasti menerimamu di Kerajaan-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: